Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.
Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.
Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.
Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.
Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Diamnya Mas Afwan
Aku terdiam—menatap penuh takut sosok Mas Afwan yang kini mematung dengan tatapan tajamnya saat menatapku. Untuk pertama kalinya ia menatapku setajam itu. Hingga oksigen di paru-paruku seolah berlarian pergi keluar dari paru-paru. Dadaku, kini sesak. Tak tahu lagi harus berbuat apa selain diam yang menyakitkan.
“Jadi kamu selama ini berbohong, Adelin?!”
“A … aku—”
“Apa? Sudah!” Ia berlalu pergi tanpa mendengar pernyataanku terlebih dahulu. Suara mobil terdengar mengaum di luar sana. Hamzah yang saat itu tengah tertidur lantas terbangun dari tidurnya. Malam ini, adalah malam yang menjadi puncak kehancuran rumah tangga kami.
Aku terduduk di atas ubin yang dingin ini. Menatap nanar pintu yang terbuka lebar. Tangisan seolah tertahan di tenggorokan. Tanganku gemetar menyaksikan nasibku saat ini. Yang tertinggal kini, hanya penyesalan yang tiada berkesudahan. Sebuah tangan menyentuh bahuku. Tangan kecil Hamzah.
“Umi … kenapa? Kok, diam?” tanya Hamzah seraya memegang wajahku. Tatapan lugu dan lembutnya justru kini mengundang tangis di pelupuk mataku. Hingga hujan yang kutahan sedari tadi, kini tumpah sudah.
“Umi sedih? Karena Abaty pergi, ya Umi?” pertanyaan itu membuatku kembali memejamkan mata rapat-rapat. Tak kuasa jika harus mengingat semua kejadian barusan lagi. Aku memilih diam, tak menjawab pertanyaan demi pertanyaan Hamzah. Aku tak ingin ia tahu tentang permasalahanku dengan Mas Afwan.
“Hamzah kebangun ya, Nak? Umi bobokin lagi, yuk!” tawarku berusaha mengajaknya kembali tidur. Ia mengangguk lantas berjalan menuju pintu dan menutup rapat pintunya.
“Abaty nggak pulang lagi ya, Umi?” tanyanya sekali lagi. Sebuah pertanyaan yang kini sukses membuatku mencurahkan air mata. Hamzah lekas memelukku. Menahan gemuruh yang sedari tadi betah berlama-lama hinggap di dada.
“Umi, Abaty jahatin Umi, ya?” Aku lekas mendongak mendengar pertanyaannya. Kemudian menggeleng cepat.
“Enggak, Sayang. Abaty nggak salah apa-apa, Nak. Umi yang salah,” jelasku berusaha membuatnya tenang. Namun, anak ini begitu kritis. Ia terus menanyaiku sesuatu yang membuatku tak mampu lagi bersuara.
“Umi salah apa? Kok Abaty pelgi Umi?”
“Nggak kok, Sayang. Ini, Umi udah senyum lagi. Tandanya Umi udah nggak sedih lagi. Yuk, tidur!” Aku menuai senyuman padanya. Berharap ia tak lagi mengkhawatirkanku dan menanyakan persoalan Mas Afwan dan aku lagi.
Kubelai lembut rambutnya. Kulantunkan ayat suci Al Quran sebagai pengantar tidurnya. Sesekali kutahan sesak yang terus menghujam jantungku. Untuk pertama kalinya, Mas Afwan semarah itu padaku. Ia, adalah sosok yang sangat tidak suka dengan kebohongan walau sekecil apa pun. Inilah yang semakin membuatku takut jujur atas permasalahan hidupku.
Aku takut jika dia tahu setelah pernikahan yang cukup lama ini, ia akan semakin kehilangan respect denganku. Aku tak lagi tahu cara apa yang harus kutempuh kini. Tak ada satu pun manusia yang tahu rahasia kelamku. Bahkan, diriku sendiri enggan mengingatnya lagi. Namun, bayang-bayang masa lalu itu selalu muncul di setiap hela napasku.
Apakah semua orang dengan yang menjadi korban kekerasan seksual akan mengalami hal yang sama denganku saat ini? Sulit untuk move on dari kejadian lalu yang menyakitkan. Apa semua korban akan diam sepertiku? Dan menyimpan luka itu sendirian? Aku tahu, kepahitan ini sejatinya layak diutarakan. Tapi, siapa yang akan percaya dan mau mendengarnya?
Aku tak punya bukti yang cukup kuat. Yang aku bisa kini hanyalah, diam dan menerima. Walau dengan segala kepahitan dan peristiwa-peristiwa ganjil yang menimpaku selama ini. Aku lelah hidup seperti ini. Kalimat perintah yang setiap malam kudengar seolah menjadi bom waktu suatu saat nanti. Di mana aku harus berhadapan dengan maut di tanganku sendiri.
***
Hari-hari berjalan secepat itu. Dua hari berlalu. Mas Afwan hanya pulang saat malam tiba. Ia bahkan memilih tidur bersama Hamzah dibandingkan aku. Diamnya, bagaikan pisau bermata dua yang menyakitkan. Ia tak menyapa, tak menyentuh. Hanya sekadar tanya mengenai keadaan Hamzah hari demi hari. Ia bahkan tak memakan masakanku. Aku, pasrah.
“Mas,” sapaku ketika siang itu. Saat di mana ia terlihat begitu antusias mengajarkan Hamzah mengaji.
Ia menatapku sekilas. Namun, kali ini ia menuai sedikit senyuman. Aku tahu alasan di balik senyuman itu adalah agar Hamzah tak khawatir dengan hubungan kami.
Bibirku kelu ketika hendak menyampaikan maaf padanya. Hingga aku, untuk kesekian kalinya memilih bungkam. Aku … ingin sekali mengajaknya berbicara. Tapi, Mas Afwan seolah selalu menghindar. Entah apa lagi caraku untuk membujuknya.
“Makanannya sudah mau dingin. Apa … Mas beneran nggak lapar?” tanyaku memastikan.
Ia menggeleng. Lantas menjawab.
“Mas udah makan tadi di luar.”
Amarah memuncak di dada. Seolah tak lagi mampu menahan gejolaknya. Aku berjalan menuju dapur. Lantas membuang sepiring makanan yang telah kusajikan untuknya ke tong sampah. Aku terduduk di atas lantai dapur. Menekuk lututku sambil menenggelamkan wajahku ke dalam lipatan tangan. Aku … benar-benar telah gila saat ini.
“Aku lebih baik mati daripada harus didiamkan berhari-hari begini.” Tangisku pecah. Namun, hanya air mata yang keluar. Sementara suara tangis itu bagai tertelan.
“Umi? Umi nangis lagi?” tanya Hamzah padaku. Seraya menyentuh lenganku. Kuseka air mata sebelum ia benar-benar melihatnya. Kutuai seuntai senyuman padanya berharap ia tak lagi khawatir saat ini.
“Enggak kok, Sayang. Umi, cuma lagi capek aja,” balasku seraya membelai lembut pipinya. Wajah itu tampak seperti bertanya. Namun, aku membiarkannya terus larut dalam pertanyaan yang mungkin masih sama seperti semalam.
Malam kini hadir. Aku kini tengah berada di depan kaca. Memerhatikan diriku yang kini berbalut selembar pakaian tipis di pantulan cermin itu. Kutarik napas dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. Aku tahu, pakaian ini adalah ketakutan terbesarku. Namun, ketakutan akan kehilangan cinta dari Mas Afwan kini jauh lebih besar.
Aku berjalan keluar kamar. Berusaha mencari keberadaan Mas Afwan yang malam ini memilih menetap di rumah. Kulihat, ia tengah berada di dekat tong sampah. Entah apa yang tengah ia selidiki. Yang aku tahu, mungkin ia tengah mencari sesuatu yang berharga atau ….
“Mas.” Panggilanku seketika membuatnya menghentikan aksinya menggeledah tong sampah. “Kamu lagi cari apa, Mas?” tanyaku kembali memastikan apa yang tengah ia cari.
Ia menggeleng perlahan. Kemudian, saat ia membalikkan badan, ia seolah terkejut dengan kehadiranku. Mungkin, penampilanku yang membuat ia kaget. Ia hanya diam. Lalu pergi melewatiku seolah tak berhasrat sama sekali.
“Sini dulu!” panggil Mas Afwan kemudian. Ia menyuruhku duduk di kasur kamar.
Kami saling diam di dalam kamar. Tak ada yang benar-benar berani memulai percakapan lebih dulu. Hingga tiba-tiba Mas Afwan bertanya.
“Apa yang bikin kamu bohongin aku? Kenapa kamu nggak minum obatnya?” tanyanya serius seraya menatapku dengan tatapan sendunya.
“Aku minta maaf, Mas. Itu sudah berlalu. Apa dengan aku minta maaf itu masih kurang?”
“Aku nanya kamu belum jawab.”
Aku terdiam. Menarik napas pelan lalu mengembuskannya perlahan.
“Apa alasan kamu buang obat itu? Jawab!”
“Udah, Mas! Stop! Stop! Aku capek ditanya-tanya terus. Aku stres kamu desak dengan pertanyaan itu terus, Mas. Udah cukup kamu diamkan aku dua hari ini. Jangan bikin aku stres lagi. Aku capek, Mas! Capek!” Tamparan melesat bertubi-tubi di wajahku. Aku, lagi-lagi menjadi tersangkanya.
Mas Afwan lantas memelukku erat. Mencoba menahanku agar tak lagi melakukan hal yang sama. Kemudian satu suara tegas darinya membuatku berhenti bertindak kekanak-kanakan.
“Diam! Jangan teriak-teriak! Nanti anak kita dengar.”
“Habis Mas diamkan aku selama dua hari, Mas. Mas paham agama. Kenapa harus mendiamkan?”
“Jadi sekarang kamu maunya apa? Aku sentuh kamu nolak. Giliran aku marah, kamu baru mengerti. Jadi aku harus marah dulu biar kamu paham?” Ia mengusap wajahnya. Seolah menunjukkan bahwa saat ini bebannya sedang menumpuk.
“Sentuh! Sentuh aku sekarang, Mas! Aku akan tahan semua itu.”
“Apa? Apa yang ditahan? Kamu yang selalu teriak saat kita melakukannya? Itu yang ditahan?”
Aku menjawab dengan anggukkan. Lantas Mas Afwan kembali mengutarakan sesuatu.
“Baik. Aku kasih satu kesempatan lagi. Kalau masih juga, sebaiknya kamu pulang ke rumah ibumu dulu.”
Aku lekas mengangguk. Menyetujui semua syarat darinya. Walau aku tahu, ini semua akan berdampak serius bagiku.
Malam itu, kami kembali hanyut dalam kenikmatan yang hanya Mas Afwan yang dapat merasakan hal itu. Sementara aku? Kini diam mematung. Lagi, aku tak sanggup bereaksi apa pun selain pasrah diperlakukan bagaimana pun olehnya. Mas Afwan terlihat penuh gairah menyentuh seluruh bagian diriku. Hingga di puncak klimaks, ia menjeda semuanya.
Sebuah kecupan ringan ia daratkan ke keningku. Lalu ia keluar entah ke mana. Setelah kembali, ia justru melanjutkan tidur tanpa sepatah kata pun untukku di malam ini. Tak ada ucapan terima kasih. Tak ada cerita sebelum tidur. Tak ada ungkapan sayang lagi.
"Ia tak lagi seperti dulu. Mungkin ia telah bosan denganku."
Aku berlalu menuju keluar kamar dengan dada yang diliputi sesak. Aku tak lagi membiarkan hujan itu turun. Kuredam semuanya malam ini. Aku, tak lagi ingin terlihat lemah. Saat aku mengambil minum di dapur, tiba-tiba bisikan misterius itu datang lagi.
"Pisau."
Mataku terkunci pada benda logam yang berkilau di meja dapur. Kilauannya seolah menggodaku untuk segera menyakiti diri dengannya. Segera kuraih pisau itu. Kurasakan dinginnya ujung pisau itu menempel di pergelangan tanganku.
“Setelah ini, semua rasa sakit itu akan berakhir, Adelin.”
Krieeet.
jangan mau!
.
Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣
Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥