Guntur Abimanyu, seorang CEO muda yang hampir berumur 30 tahun dipaksa untuk menikah tapi tidak ingin menikah.
"JIKA AKU MENIKAH HANYA UNTUK MENGHASILKAN ANAK, AKU BISA LAKUKAN SEKALI TEMBAK KEPADA WANITA MANAPUN! JADI TIDAK PERLU MENIKAH" serunya kepada kakek serta ayah ibunya.
Rustam sang kakek yang memegang kendali perusahaan ingin cucu laki laki satu satunya ini segera menikah. Begitupun Randi dan Ela, orang tua Guntur juga ingin segera menikahkan putra sulungnya itu.
"Baiklah kalau begitu, buktikan kemampuan menembak benihmu kepada wanita yang kakek dan orang tuamu pilih" ucap sang kakek.
"OKE SIAPA TAKUT!!" seru Guntur menerima tantangan.
Tapi ternyata takdir berkata lain, setelah kesepakatan ini dibuat, Guntur bertemu dengan wanita yang meninggalkannya dengan cinta terdalam.
Jadi siapa yang menang dalam taruhan keluarga ini? Apakah wanita yang kembali datang atau wanita yang dipilihkan kakek serta orang tuanya, mampu membuat Guntur membuktikan keperkasaannya? Baca novel ini dan dukung terus yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SLEEP CALL BEDA NEGARA
Guntur memilih tinggal di hotel sedangkan ibunya menginap dirumah Yulanda bersama Dora.
Tadinya Ela diajak diajak menginap dihotel oleh putranya tapi tidak mau. Ela memilih menginap bersama sohibnya, Jeng Dora.
Guntur pun tidak memaksa. Serah serah mami deh, batinnya.
Sesampainya di kamar hotel, Guntur langsung menelepon sang kekasih yang sudah 4 hari tidak bertemu.
Meskipun selisih waktu Batam dan Paris sekitar 5 jam, lebih cepat jam Batam, Ratih menerima panggilan itu dimana waktu Batam menunjukkan jam 4 pagi karena di Paris jam 11 malam.
"Halo sayaang.. maaf yaa telepon kamu pagi pagi banget begini waktu Batam" sapa Guntur.
"Gapapa mas, aku juga udah bangun kok karena jam 6 pagi nanti aku berangkat ke Pekan Baru sama Gina" sahut Ratih.
"Oh udah mulai gerilya yaa kelilingnya? Mau penawaran berapa panel surya disana?" tanya Guntur.
"Sekitar 10 ribu karena perusahaan besar minyak sawit. Lumayan lah kalau deal" jawab Ratih.
"Ah i see. Lumayan banget lah itu. Aku selalu percaya kamu pasti bakal bisa taklukkan tantangan kakek, malah sebenarnya terlalu mudah gak sih jual 100 ribu panel surya buat kamu?" goda Guntur.
"Hmmm ini memuji apa gimana ini? Ya doakan saja ya, Mas. Aku banyak belajar dari Gina juga, dia sangat kompeten di bidangnya. Keren banget loh dia masih muda tapi sudah bisa menguasai pemasaran panel surya dalam negeri dan Asia" ujar Ratih.
"Hahaha iyalah, Gina itu udah kuanggap adikku sendiri. Kita dulu sering diskusi soal perkembangan perusahaan batam tapi sekarang udah dihandle sama asistenku" sahut Guntur.
"Oh gitu ya? Adik apa adik nih? Masa kamu gak ada naksir sama sekali ke anak Pak Martin ini? Sayang sekali loh" pancing Ratih.
"Lo lo lo, ini kamu cemburu apa gimana sayang? Hahahahaa gak usah khawatir, aku tidak akan berpaling hati meskipun kamu ninggalin aku. Sekarang buktinya kita balik bareng lagi" ucap Guntur.
"Hahaha bercanda sayang. Aku gak akan meragukan kesetianmu, Mas" sahut Ratih.
"Video call boleh nggak? Kangen banget loh aku sama kamu sayang" ajak Guntur manja.
"Hmmm..jangan dulu deh, Mas. Nanti aku yang malah kangen sama kamu.. kita teleponan gini ajaa dulu" sahut Ratih.
Terdengar suara nafas berat berhembus dari Guntur.
"Oke oke...ini beneran dipinggit namanya. Lihat wajah dari hp aja gak boleh" ucap Guntur.
"Hahaha sabar sayaang.. 4 hari udah jalan kan tinggal 26 hari lagi" bujuk Ratih.
"Yaaa bener sih tapi kakek kan gak ngelarang kita vc-an? Kenapa kamu gak mau sih?" rajuk Guntur.
"Bukannya gak mau, Mas. Cuma emang aku menghindari melihatmu yang bikin kangen dan gagal konsentrasi. Mau kalau aku kangen terus maksa ketemu kamu lalu kita gagal memenuhi tantangan kakek?" balas Ratih.
"Kita kabur aja yuk, kawin lari" celetuk Guntur.
"Kalau kawin lari mah kita udah lakuin kan, Mas" sahut Ratih membuat Guntur panas dingin jika mengingat malam panas mereka.
"Aduuh sayaaang..pake diingetin segala..badanku langsung panas loh" ucap Guntur.
"Hahahahhaa maaf maaf...udah dinginin pake air dingin sana" ujar Ratih.
"Memang dasar wanita yang gemesin banget. Makin cinta deh" gombal Guntur.
"Kamu makin pinter ngerayu aja ya Mas. Dulu kamu gak begini, sok cool dan jarang romantis" ucap Ratih.
"Ya kan manusia berubah apalagi saat pernah patah hati. Pokoknya kalau kamu membuat hatiku patah lagi, mungkin dunia ku bisa kuruntuhkan dalam sekejab" balas Guntur.
"Jangan mikir aneh aneh begitu. Aku tidak akan mematahkan hatimu lagi, Mas. Yang ada kamu nih mau balas dendam sama aku biar satu sama" goda Ratih.
"Hust! Gak ada niatan aku buat matahin hatimu, sayaang" ujar Guntur.
"Hahahaha iyaa sayaang...paling kamu bikin tubuhku encok aja sampek gak bisa jalan normal" sindir Ratih.
"Omg, diingetin lagi!! Please, jangan ingetin aku malam itu, bisa berdiri lagi nih punyaku" sahut Guntur.
"Aaah!! Jangan sebut sebut itu, Mas! Giliran aku yang bayangin punyamu malam itu sekarang" balas Ratih.
"Eh bentar tapi aku kok jadi inget hari itu jalanmu gapapa gitu? Emang seharusnya gak bisa jalan normal?" tanya Guntur penasaran.
Ratih menghela nafas panjang karena mendengar kepolosan sang kekasih.
"Ya karena aku tahan. Mana bisa aku memperlihatkan kesakitan ku waktu itu didepan ibu dan keluargamu? Aku tahan banget itu sampai di apartemenmu masih nyeri" jawabnya.
"Hmmm...aku kira nyerinya udah hilang saat kubawa kau kedalam kepuasan hahaha" canda Guntur.
"Ih Mas Guntur pasti sekarang pikirannya aneh aneh. Udah ya aku tutup teleponnya kalau gitu" ucap Ratih.
"Hehe maaf maaf, canda sayang. Maafkan aku ya untuk malam itu, jika aku tau kamu benar benar masih ga..." belum juga selesai mengucapkan apa yang ingin diucapkan, Ratih sudah memotong.
"Sudah jangan dibahas lagi, Mas. Sudah terjadi dan saat ini kita fokus memperjuangkan masa depan" sahut Ratih.
"Benar katamu, sayang. Kita harus sama sama berjuang" ujar Guntur.
"Oh ya sampai lupa mau cerita soal Yulanda, ternyata dia juga sudah punya kekasih. Aku udah kerjasama untuk membantunya. Masalahnya sama kayak kita yaitu restu orang tua" lanjutnya.
"Hmm apakah memang keluarga kaya itu mempersulit restu untuk anaknya jika mencintai pasangan dari keluarga miskin ya?" sahut Ratih.
"Ya kebanyakan begitu karena yang mereka utamakan adalah bisnis keluarga. Nilai sosial mereka tinggi" balas Guntur.
"Jadi kamu sama Yulanda itu jadi pembelot keluarga ya?" celetuk Ratih.
"Yup, jika kamu menyebutnya seperti itu. Kami adalah tim bahwa jodoh itu tidak memandang sosial tapi ketulusan hati" sahut Guntur.
"Waduh aku meleleh dan makin cinta sama kamu, Mas" ujar Ratih.
"Ya harus dong!" seru Guntur semangat.
"Hahaha mas mas, kenapa kamu bisa secinta ini sama aku yang gak ada kelebihannya jika dibanding sama wanita lain yang dipilihkan sama keluargamu?" ucap Ratih.
"Mulai deh mulai..udah ah kalau gini , gak seru bahasnya" sahut Guntur.
"Ayoo jawab dong, Mas" minta Ratih.
Terdengar nafas Guntur berhembus.
"Sekali ini aku akan menjawab lagi pertanyaan tidak berartimu ini ya Ratih sayangku. Kamu memiliki kelebihan yaitu membuatku jatuh cinta. Lagipula, mungkin di dunia ini hanya kamu yang ingin aku nikahi dan menjadi ibu dari anak anakku. Tidak ada yang lain. So, percayalah bahwa kamu sangat berharga untuk ku" jelas Guntur.
Blush!
Pipi Ratih memerah seketika. Perasannya berbunga bunga dengan penjelasan Guntur. Wanita ini terdiam.
"Sayang? Kok diem?" panggil Guntur.
"Karena aku terharu dengan jawabanmu, Mas" sahut Ratih.
"Udah jangan ngomongin hal beginian bikin moodnya langsung ngantuk hehe" ujar Guntur.
"Yaudah, Mas. Tidur dulu sana, besok pagi waktu Paris, kamu juga mau meeting kan. Sukses ya sayang" ucap Ratih.
"Okedeh, kamu juga sukses untuk nanti dealingnya. Love you" balas Guntur.
"Love you, calon suami" sahut Ratih langsung mematikan sepihak karena malu spontan memanggil Guntur sebagai calon suami.
Blush!
Guntur ikut berbunga bunga mendengar panggilan itu, saat mau membalas ia sadar jika panggilan sudah terputus.
"Aaaah!! RATIH MEMANG BISA MEMBUATKU GILAAA!!!" serunya sambil menaruh bantal di wajahnya.
Setelah itu, Guntur membenarkan bantalnya lagi dan mulai beristirahat, sedangkan Ratih memilih mandi lalu beribadah dan bersiap untuk pergi dinas bersama Gina.