NovelToon NovelToon
The Blackstone: The Indentity Agent'S War

The Blackstone: The Indentity Agent'S War

Status: tamat
Genre:Action / Penyelamat / SPYxFAMILY / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Iris11

Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.

Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.

Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Perjalanan pulang dari perbatasan itu bukan tentang jarak tempuh, melainkan tentang bagaimana aku bisa menjaga fasad seorang "Arthur" tetap terjaga tanpa terbongkar.

Jalanan berbatu yang memisahkan wilayah konflik dengan bandara perintis terasa jauh lebih lambat saat dilalui dalam perjalanan pulang. Koper titanium itu memang sudah tidak berada di tangan kami, namun beban yang ditinggalkannya jauh lebih berat di kepalaku. Rahasia kotor mereka menggerogoti otakku, yang membuat jantungku bekerja lebih keras untuk membuat jiwaku tetap tenang . Di sampingku, Fedor tertidur dengan suara dengkur yang keras, memecah keheningan kabin truk yang berbau solar dan sisa-sisa ketegangan.

Aku menatap keluar jendela. Pemandangan pegunungan yang tadinya tampak seperti benteng pelindung, kini terasa seperti jeruji penjara yang perlahan terbuka.

Sesampainya di lapangan terbang kecil yang digunakan Vanguard, aku tidak membuang waktu. Aku hanyalah seorang teknisi yang lelah setelah hampir 2 minggu berada di tugas lapangan yang butuh untuk beristirahat. Saat jet pribadi kami lepas landas, aku membuka laptopku. Bukan untuk memproses data transaksi lagi, melainkan untuk menghapus jejak digital terakhir dari perangkat keras yang kupakai di lapangan.

Aku menjalankan script pembersihan otomatis yang menghapus semua log komunikasi, cache satelit, dan rekaman frekuensi. Aku harus memastikan tidak ada jejak kaki digital yang tersisa di zona abu-abu itu. Jika suatu saat nanti ada orang yang mencoba melacak sistem komunikasi di zona itu nanti, mereka hanya akan menemukan kekosongan.

Di tengah penerbangan, Markov keluar dari ruang kerjanya di bagian depan pesawat. Dia duduk di seberangku, menyesap kopi hitamnya.

"Kau melakukan pekerjaan yang sangat baik di perbatasan, Arthur," katanya, matanya yang tajam mengawasi setiap rona di wajahku. "Banyak orang akan mati jika mereka berada di posisimu. Kau tetap tenang."

Aku menatapnya dengan lelah, lelah yang sebenarnya, karena memang tubuhku sudah mencapai batasnya. "Aku hanya fokus pada kode, Tuan, aku harus menciptakan caraku sendiri untuk melakukan tugas. Jika sistemnya bekerja, tidak ada yang perlu mati. Aku tidak suka keributan. Itu akan menghambat efisiensi."

Dia tertawa, sebuah tawa yang aku tahu itu tidak sampai ke matanya. "Efisiensi. Aku suka itu. Mungkin setelah ini, kami akan memberimu tanggung jawab yang lebih besar di pusat kendali Zurich."

Aku tahu jika itu adalah umpan. Jika aku menunjukkan antusiasme, dia akan curiga. Jika aku menolak, tentu dia juga akan curiga. Aku hanya mengangguk pelan. "Selama kompensasinya sesuai dengan pekerjaanku, aku tidak keberatan dengan beban kerja tambahan."

"Kau sungguh pintar, Arthur." Markov tersenyum mengejek kemudian menyesap kopinya.

"Tentu saja Tuan, kita semua bekerja demi uang, jika ada uang datang yang sebanding dengan kerja kerasku, tentu aku tak sanggup untuk menolaknya." Jawabku dengan menatap tajam ke arah matanya.

Saat pesawat mendarat di Zurich pada pukul tiga pagi, udara kota itu terasa seperti tamparan dingin yang menyegarkan. Zurich tidak pernah berubah, selalu steril, teratur, dan dingin.

Fedor dan tim pengawal lainnya langsung menghilang ke arah markas operasional, sementara aku dibiarkan pulang ke apartemen minimalisku di pinggiran. Di jalan menuju apartemen, aku merasa seperti orang asing di kotaku sendiri. Selama dua minggu terakhir, aku telah hidup di antara milisi dan senjata api, kehidupan yang sudah terbiasa kujalani, dan kini, aku harus kembali ke kehidupan teknokrat yang kaku, berpura-pura menjadi seorang sipil yang tak bisa apa-apa yang sangat membosankan itu.

Begitu pintu apartemen tertutup dan terkunci otomatis, aku melepaskan jaket tactical-ku yang penuh dengan debu pegunungan. Aku tidak langsung menyalakan lampu. Aku membiarkan diriku berdiri dalam kegelapan, mendengarkan detak jantungku sendiri yang kini sudah melambat, membuat nafasku untuk tetap teratur keluar dan masuk dalam inderaku, membiarkan otakku untuk berjalan dalam ketenangan, sebentar saja.

Aku berjalan menuju meja kerja, menyalakan sistem server yang selama ini "tertidur" dalam mode low-power. Layar monitor perlahan berpendar, menampilkan dasbor Aegis Protocol yang sudah kubuat.

Titik hijau di peta Yogyakarta masih ada di sana. Ghea sedang tertidur.

Aku melepaskan kacamata Arthur yang menyesakkan itu. Aku bukan lagi Arthur. Aku juga belum bisa menjadi Ghani sepenuhnya. Aku adalah James, seorang pria yang baru saja menanamkan bibit kehancuran di jantung Vanguard tanpa mereka sadari.

Aku membuka folder rahasia yang berisi data hasil "penyadapan" di koper titanium tadi malam. Data itu mengalir masuk ke server pribadiku, sebuah tambang informasi yang siap kuubah menjadi racun bagi Vanguard di waktu yang tepat.

Aku duduk di kursi kerjaku, memandang lampu kota Zurich yang berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh di bawah kakiku. Tubuhku lelah, tapi jiwaku waspada, topeng Arthur, fasad Arthur bisa saja terbongkar kapan saja dan jika itu terjadi, aku sadar tak akan ada yang menolongku. Aku hanya berpegang pada diriku sendiri. Aku hanya mengantungkan hatiku pada.. Ghea.. Satu-satunya alasanku untuk tetap hidup sekarang. Jika dulu aku melakukan ini sebagai bentuk terima kasihku pada negara, sekarang diambil alih oleh Ghea.

Aku tidak perlu senjata. Aku tidak perlu glock-17ku. Aku hanya perlu memastikan bahwa selama aku menjadi Arthur, kartel ini tidak akan pernah menyentuh satu helai rambut pun dari wanita yang kucintai. Aku adalah arsitek dari keruntuhan mereka, dan malam ini, di Zurich yang dingin, aku baru saja meletakkan batu bata terpenting bagi rencana itu.

1
Wawan
Satu iklan buat intelejen Rusa 💪👍
Iris Aiza: terima kasih 😍
total 1 replies
Wawan
Uhuuuuy... lope... sekuntum mawar terkirim buat Ghea 😍
Iris Aiza: terima kasih 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal "Sam" 😍
Iris Aiza: Terima kasih Kak /Smile/
total 1 replies
Mh_adian7
semangat terus kaka💪
Iris Aiza: Terima kasih ^_^
total 1 replies
T28J
hadiir kakk 👍
Iris Aiza: Terima kasih sudah menemani perjalanan Ghani dan Ghea sampai di sini Kak 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!