NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Berondong Tampan

Terjebak Cinta Berondong Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.

Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.

Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.

Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Malam mulai turun saat lampu-lampu kota satu per satu menyala.

Nara baru saja keluar dari gedung perusahaannya melalui akses parkiran khusus petinggi perusahaan. Ia sengaja memilih jalur itu agar tidak terlalu banyak mata yang melihatnya.

Kakinya melangkah cepat di parkiran yang sunyi. Sementara beberapa meter di depannya, sebuah motor hitam sudah terparkir dengan pemiliknya yang bersandar tenang di samping kendaraan itu.

Sagara.

Pria itu mengenakan jaket hitam sederhana dengan kedua tangan masuk ke saku celana. Wajahnya terlihat datar seperti biasa. Namun, begitu melihat Nara mendekat, tatapannya langsung menyipit tipis.

"Nona sengaja memilih malam supaya tidak ada orang kantor yang melihatku?" tanyanya tanpa basa-basi.

Sudut bibir Nara langsung terangkat tipis. "Ternyata kau cukup pintar."

Sagara mendecak pelan. "Anda pikir saya bodoh?"

Nara berhenti tepat di depannya. Tatapannya naik meneliti wajah pria itu beberapa detik. "Jadi," ucapnya santai, "ada perlu apa kau ingin bertemu denganku?"

"Saya datang karena perlu bicara," jawab Sagara cepat. "Soal hadiah yang Anda kirimkan siang tadi."

Nara tersenyum tipis. "Tidak perlu berterima kasih," ucapnya santai. "Itu hanya sedikit rasa terimakasih dariku."

Sagara menegakkan tubuhnya. "Saya memang berterima kasih untuk alat-alat itu," ucapnya sopan. "Teman-teman di bengkel juga sangat terbantu. Tapi ...."

Nara mengangkat sebelah alis. "Tapi?"

"Tapi saya tidak suka terus merasa berhutang," lanjut Sagara.

Jawaban itu membuat Nara terkekeh kecil. "Kau ini aneh sekali."

"Saya serius, Nona."

"Aku juga serius." Nara melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku memberikannya sebagai hadiah karena kau sudah membantuku semalam. Bukan untuk menekanmu."

Sagara terdiam sesaat.

Entah kenapa, semakin lama berbicara dengan wanita itu, semakin sulit baginya menebak mana ucapan yang sungguh-sungguh dan mana yang hanya permainan.

"Nona ...."

"Aku ingin bicara sesuatu," potong Nara tiba-tiba. Tatapannya bahkan berubah sedikit lebih serius.

"Di sini?"

Nara melirik sekilas ke arah gedung perusahaan di belakangnya. "Tidak."

Lalu perlahan, matanya bergerak memberi kode ke arah motor Sagara yang terparkir beberapa langkah dari mereka.

Sagara mengikuti arah tatapan itu. "Nona mau pergi dengan motor saya?"

Nara mengangguk santai. "Aku sedang malas pulang dan menyetir sendiri."

"Tapi, Nona ...."

Sagara menggantung ucapannya karena Nara malah lebih dulu melangkah menuju motor itu.

"Ayo!" ajak Nara ringan.

Sagara berdecak pelan. Ia sebenarnya ingin menolak, tetapi wanita itu sudah dengan santai memakai helm yang biasa dikenakan penumpang saat menarik ojek.

Dengan langkah pasrah, Sagara terpaksa mendekat. "Nona bisa pergi dengan mobil mahal milik Nona sendiri," gumamnya. "Kenapa harus naik motor saya?"

"Jangan banyak bicara. Aku pasti membayar ongkosnya tanpa berhutang."

Sagara langsung menghela napas panjang. Wanita itu memang selalu punya jawaban untuk membungkamnya. Jika tahu akan seperti ini. Ia mungkin tidak akan mengirim pesan untuk mengajak wanita itu bertemu.

Beberapa menit kemudian motor hitam itu kembali melaju membelah jalanan kota. Udara malam terasa dingin menerpa wajah. Lampu-lampu jalan berbaris panjang menghiasi sisi jalan, sementara suara kendaraan bercampur dengan hiruk-pikuk kota yang belum benar-benar tidur.

Dan anehnya ... Nara justru menikmati semua itu.

Duduk di atas motor sederhana milik Sagara terasa jauh lebih menenangkan dibanding berada di dalam mobil mewahnya sendiri. Tidak ada sopir, tidak ada Tiwi yang cerewet, tidak ada tatapan penuh tuntutan dari orang-orang sekitarnya. Hanya ada suara mesin motor dan punggung pria di depannya.

Tanpa sadar, kali ini tangan Nara mencengkram sedikit sisi jaket Sagara agar tubuhnya tetap seimbang saat motor melaju lebih cepat.

Sagara yang menyadarinya hanya melirik samar lewat kaca spion. Namun, ia memilih diam.

Beberapa saat kemudian, Sagara akhirnya membuka suara. "Jadi sekarang kita mau ke mana?"

Nara yang sejak tadi menikmati angin malam menjawab santai. "Terserah kau saja."

Sagara langsung mengernyit. "Terserah?"

"Iya."

"Nona mengajak pergi tapi tidak punya tujuan?"

Nara terkekeh kecil. "Aku cuma sedang ingin jalan-jalan."

Sagara menggeleng pelan. "Wanita aneh," gumamnya dalam hati.

Namun, ia tetap berpikir, hingga akhirnya ia membelokkan motor ke arah jalan yang lebih kecil.

Tak lama kemudian, motor mereka berhenti di depan sebuah warung angkringan pinggir jalan.

Lampu kuning sederhana menggantung di atas gerobak kayu. Aroma sate usus bakar dan kopi hitam langsung tercium begitu mereka turun. Beberapa pengunjung terlihat duduk santai lesehan sambil mengobrol.

Nara langsung diam menatap tempat itu. Sementara Sagara mematikan mesin motor dengan santai.

"Kita makan di sini saja."

Nara masih memperhatikan sekitar beberapa detik sebelum akhirnya menoleh pada Sagara. "Kau sering ke tempat seperti ini?"

"Sering," jawab Sagara cepat.

"Kenapa?"

Sagara memasukkan tangan ke saku jaketnya. "Murah."

Jawaban singkat itu membuat Nara tertawa kecil. Dan suara tawa ringan wanita itu ... Entah kenapa membuat Sagara mendadak salah tingkah sendiri.

Nara masih memperhatikan warung angkringan sederhana itu beberapa detik.

Tikar lesehan digelar seadanya di pinggir trotoar. Asap tipis dari bakaran sate mengepul ke udara malam. Suara speaker kecil terdengar samar bercampur obrolan pelanggan lain.

Tempat itu sangat jauh dari dunia yang biasa ia datangi. Namun anehnya ... ia tidak merasa terganggu sama sekali.

Sagara turun lebih dulu lalu melepas helmnya. Rambutnya sedikit berantakan terkena angin malam. "Nona mau ikut makan?" tanyanya santai.

Nara ikut turun perlahan. Tatapannya masih berkeliling memperhatikan suasana sekitarnya. "Kau sering membawa teman perempuan ke tempat seperti ini?"

Pertanyaan itu membuat Sagara menoleh datar. "Nona berharap jawaban seperti apa?"

Nara mengangkat bahu ringan. "Entahlah. Mungkin aku hanya penasaran."

Sagara berjalan lebih dulu menuju salah satu tikar kosong.

"Saya tidak punya waktu membawa perempuan jalan-jalan."

Jawaban itu terdengar biasa saja. Namun, entah kenapa, sudut bibir Nara malah terangkat tipis.

Mereka akhirnya duduk berhadapan di hadapan tikar sederhana. Pemilik angkringan segera menghampiri sambil membawa buku menu lusuh.

"Mau pesan apa, Mas?"

"Susu jahe satu. Teh hangat satu," jawab Sagara cepat sebelum melirik Nara. "Atau Nona mau kopi mahal dari luar negeri?"

Nara langsung menyipitkan mata. "Kau sedang mengejekku?"

"Saya hanya menyesuaikan standar hidup Nona."

Nara berdecak pelan lalu mengambil buku menu itu dan memperhatikan tulisannya. "Kalau begitu aku pesan semua yang paling enak di sini."

Pemilik angkringan langsung tertawa kecil mendengar itu. "Siap, Mbak."

Beberapa menit kemudian meja kecil mereka mulai dipenuhi nasi kucing, sate usus, sate telur puyuh, gorengan, dan minuman hangat.

Nara menatap semua makanan itu cukup lama. "Kau yakin ini aman dimakan?"

Sagara yang sedang menuang sambal langsung berhenti. "Nona ...."

"Apa?"

"Kalau takut sakit perut, biar saya menghabiskan semuanya," jawab Sagara sedikit kesal.

Nara langsung mengambil satu sate usus dan menggigitnya pelan. Beberapa detik kemudian matanya sedikit membesar. " .... Enak."

Sagara menahan senyum tipis melihat ekspresi jujur wanita itu. Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya ... Nara terlihat seperti wanita biasa seusianya. Bukan pewaris keluarga besar, bukan CEO perusahaan besar, bukan wanita dingin yang selalu memasang dinding tinggi. Hanya seorang perempuan yang sedang menikmati makan malam sederhana di pinggir jalan.

Dan tanpa sadar, tatapan Sagara menjadi sedikit lebih lembut saat memandangnya.

Nara menyandarkan tubuhnya perlahan setelah menghabiskan satu tusuk sate usus dan segelas teh hangatnya.

Angin malam kembali berhembus pelan, membuat beberapa helai rambutnya bergerak tertiup udara dingin. Sementara di depannya, Sagara masih terlihat santai menikmati susu jahenya.

Pria itu tampak jauh lebih tenang dibanding dirinya. Dan itu membuat Nara semakin yakin, ia memang membutuhkan Sagara.

Tatapannya perlahan terangkat menatap pria di depannya. "Sagara."

"Hmm?"

"Aku ingin meminta bantuan lagi."

Gerakan tangan Sagara terhenti sesaat. Tatapannya naik menatap Nara lurus. "Apa lagi kali ini?"

Nara tidak langsung menjawab. Ia justru memainkan tusuk sate di tangannya pelan sebelum akhirnya membuka suara. "Kakekku ingin bertemu denganmu."

Dahi Sagara langsung mengernyit. "Kakek?"

Nara mengangguk kecil. "Aku terlanjur mengatakan kalau kau adalah kekasihku."

Suasana mendadak hening beberapa detik. Bahkan suara kendaraan di jalan raya terasa samar.

Sagara menatap Nara cukup lama seolah memastikan dirinya tidak salah dengar. "Nona serius?"

"Menurutmu aku terlihat sedang bercanda?"

Sagara langsung menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya kasar. "Sudah saya duga, kebohongan ini akan berbuntut panjang dan merepotkan."

"Dan sekarang aku sedang berusaha membereskan kerepotan itu," balas Nara cepat.

"Dengan menyeret saya lebih jauh?" sindir Sagara.

Nara tersenyum tipis. "Anggap saja begitu."

Sagara langsung bersandar malas. "Saya tidak cocok bermain drama keluarga orang kaya."

"Kau sudah melakukannya kemarin. Dan itu berhasil."

"Itu berbeda," balas Sagara singkat.

"Tidak ada yang berbeda." Nara langsung menjawab.

Tatapan keduanya saling bertemu beberapa detik. Nara lalu kembali membuka suara dengan nada yang lebih santai. "Aku hanya perlu kau datang sekali saja menemui Kakek."

"Lalu setelah itu?"

"Setelah itu kita selesai," jawab Nara cepat.

Sagara tidak langsung menjawab. Pria itu justru menatap jalanan di depan angkringan dengan ekspresi sulit ditebak.

**** bersambung.

Kira-kira Sagara mau nda ya? 🤔

Like dan komentar na donk, kaka. 😊

1
Hairil Anwar
mantap
Resa05
akhirnya rajin update thor
Kipas muter 8022
terima aje, lumayan
Kipas muter 8022
daripada dibalikin. mending kirim ke gw aja/Facepalm/
Kipas muter 8022
harus'y kirim ke rumah gw
Kipas muter 8022
masalahnya udah jatuh cinta🤣
Bu Dewi
up lagi donk kak😍😍
Teteh Lia: Siap, kak. 🙏
total 1 replies
Aquarius97 🕊️
kalo ini mah montir kece nona 🤭
Sarung bantal90
Nyogok pake motor. 😄
Aquarius97 🕊️
calonnya Sagara tuh bang 🤭
Sarung bantal90
panggilin dokter cinta aja🤣
Sarung bantal90
emosi mulu nenk. lagi pms
Aquarius97 🕊️
sesuai Ama ekspektasi aku sih 🤭
Aquarius97 🕊️
aku langsung kebayang visual seokjin BTS 🤭
Aquarius97 🕊️
kadang emang gitu, ada serigala berbulu domba ...
sitanggang
2 chapter donk... nanggung klw 1 saja
Teteh Lia: Siap, kak. 🙏
total 1 replies
SaturdayNight🌠
pasti yang sabotase, kerna kebongkar
SaturdayNight🌠
koreksi; terdiam
SaturdayNight🌠
lagian lu terlalu ikut campur dan mudah diperdaya
SaturdayNight🌠
disamperin seok jong un, untung lom berangkat, bisa ribut kalo ketemu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!