Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERNIKAHAN DI ATAS LUKA
Gemerlap lampu Jakarta biasanya menjadi pelarian paling indah bagi Mentari, namun tidak kali ini. Sudah tiga hari ia mengurung diri di kamarnya yang mewah. Botol-botol minuman keras yang dikirim Reno ia buang ke tempat sampah tanpa sisa. Setiap kali ia menutup mata, yang terbayang bukanlah dentuman musik kelab, melainkan tatapan hancur Gus Zikri dan rasa bersalah yang mencekik lehernya.
Namun, ketenangan itu pecah saat Papa dan Mamanya masuk ke kamar dengan wajah yang lebih pucat dari biasanya.
"Tari... Papa baru saja mendapat telepon dari Kyai," suara Papa bergetar.
Mentari langsung terduduk tegak. "Kyai? Beliau mau laporin Tari ke polisi, Pa? Tari siap, Tari emang salah."
Mama menggeleng, air mata menetes di pipinya. "Bukan, Sayang. Kejadian malam itu... ternyata ada beberapa santri senior yang melihat. Kabarnya sudah mulai simpang siur dan menjurus ke arah fitnah yang bisa menghancurkan nama baik Pesantren dan Gus Zikri."
Papa menghela napas berat, menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kyai meminta pertanggungjawaban. Demi menjaga martabat Gus Zikri dan menjauhkan fitnah zina... beliau meminta kamu menikah dengan Zikri secepatnya."
Dunia seolah runtuh di bawah kaki Mentari. Ia ingin Zikri melihatnya, ia ingin Zikri mencintainya, tapi tidak dengan cara sehina ini. Menikah karena sebuah kecelakaan yang memalukan?
Dua hari kemudian, Mentari kembali ke Al-Hidayah. Tidak ada lagi rok mini atau pakaian seksi. Ia mengenakan gamis putih polos dan kerudung besar yang menutupi wajahnya yang pucat. Tidak ada pesta, tidak ada musik. Yang ada hanya beberapa orang saksi dan keluarga inti di dalam masjid yang sunyi.
Gus Zikri duduk di depan penghulu. Ia tampak lebih kurus. Bahunya yang biasanya tegap kini tampak sedikit membungkuk seolah memikul beban seluruh dunia. Saat Mentari masuk, Zikri sama sekali tidak mendongak.
"Saya terima nikah dan kawinnya Mentari binti... dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Kalimat itu meluncur dari bibir Zikri dengan satu tarikan napas. Dingin, datar, namun sah.
Mentari menangis sesenggukan saat mencium tangan pria yang kini menjadi suaminya. Namun, tangan Zikri terasa kaku. Pria itu tidak memberikan tekanan balik, tidak ada sentuhan hangat. Hanya kehampaan.
Malam pertamanya sebagai seorang istri dihabiskan di sebuah rumah kecil di sudut pesantren yang disediakan Kyai untuk mereka. Di ruang tamu, Bondan, Fahma, dan Hafizah datang dengan wajah bimbang antara ingin memberi selamat atau ingin menangis.
"Tari..." Bondan memeluk Mentari erat. "Gue nggak tau harus ngomong apa. Ini bukan cara yang gue bayangkan buat lo dapetin Gus Zikri."
Fahma memegang tangan Mentari, matanya polos namun sedih. "Tari... kalau sudah nikah, berarti kamu nggak boleh bar-bar lagi ya? Nanti kalau kamu nakal, Gus Zikri yang sedih."
Hafizah hanya memberikan sebuah buku doa kecil. "Bersabarlah, Tari. Pernikahan ini diawali dengan ujian, tapi Allah Maha membolak-balikkan hati."
Setelah mereka pulang, keheningan yang mencekam menyelimuti rumah itu. Gus Zikri masuk ke kamar, masih dengan baju kokonya. Ia mengambil bantal dan selimut, lalu berjalan menuju sofa di sudut ruangan.
"Gus..." panggil Mentari lirih. "Maafin Tari..."
Zikri berhenti, namun tetap membelakangi Mentari. "Tidur di ranjang, Ukhti. Saya tidak akan menyentuhmu. Pernikahan ini terjadi untuk menjaga kehormatan agama dan keluarga, bukan karena saya menginginkannya."
"Gus, Tari beneran mau tobat! Tari sayang sama Gus!" Mentari berteriak dengan suara parau, sifat manjanya berubah menjadi keputusasaan.
Zikri berbalik, matanya yang teduh kini berkilat dengan luka yang tajam. "Sayang? Kamu menyebut tindakan semalam sebagai rasa sayang? Kamu menghancurkan kesucian yang saya jaga selama puluhan tahun, Mentari. Kamu memaksa saya masuk ke dalam duniamu dengan cara yang paling kotor."
Zikri mematikan lampu, menyisakan kegelapan yang hanya ditemani suara isak tangis Mentari.
Keesokan harinya, Mentari harus menghadapi kenyataan pahit. Saat ia keluar rumah untuk mencari air, beberapa santriwati yang biasanya ramah kini membuang muka. Desas-desus bahwa Mentari "menjebak" Gus Zikri dengan cara mabuk sudah menyebar luas.
Mentari yang biasanya cerewet dan berani, kini hanya bisa menunduk. Ia merasa seperti sampah.
Saat ia sedang mencuci baju di sumur belakang rumah dengan kikuk, Gus Zikri lewat. Ia baru saja pulang mengajar. Zikri berhenti sejenak melihat Mentari yang kesulitan memeras baju karena tangan manjanya yang tidak pernah bekerja kasar.
Zikri mendekat, lalu tanpa bicara sepatah kata pun, ia mengambil alih baju itu dan memerasnya dengan tenaga yang kuat.
"Gus..."
"Masuklah. Matahari sudah terik. Biar saya yang selesaikan," ucap Zikri datar.
"Kenapa Gus bantu Tari? Katanya Gus benci Tari?"
Zikri menatap langit, napasnya berat. "Karena bagaimanapun caranya kita bersatu, sekarang kamu adalah tanggung jawab saya di depan Allah. Saya tidak bisa membiarkan istri saya kepanasan, meski hati saya sendiri sedang membeku."
Mentari tertegun. Di balik sikap dingin dan luka yang ia torehkan, Gus Zikri tetap menjalankan kewajibannya sebagai pria yang mulia. Saat itu, Mentari berjanji dalam hati: Ia akan menghabiskan sisa hidupnya untuk membayar kesalahannya, bukan sebagai gadis bar-bar yang manja, tapi sebagai istri yang layak bagi sang penjaga pandangan.
Perjuangan untuk mendapatkan maaf yang sesungguhnya... baru saja dimulai.