"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--
"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--
Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.
Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.
Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.
Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13 Konspirasi Senyap
Opa Abimana dan Oma Kirana memandu Sukma memasuki pelataran utama yayasan. Kedua lansia itu memperkenalkan Sukma sebagai guru baru kepada anak-anak yang bernaung di sana.
Lima dari mereka yang tampak paling ceria dan supel--Asma, Nadia, Hanif, Alwi, dan Fathir--segera melangkah mendekat dengan mata berbinar ramah.
"Selamat pagi, Bu Guru!" sapa mereka kompak sembari berebutan menyalami tangan Sukma dengan takzim.
Suara-suara polos itu seketika menghadirkan desiran lembut yang merayap masuk ke relung kalbu Sukma, menghantarkan kehangatan yang mencipta buncahan bahagia di sisi hati, serta sesaat mengusir kesedihan yang semula mendekapnya erat.
Setelah sesi perkenalan singkat yang manis, Opa Abimana dan Oma Kirana membawa Sukma melintasi lorong yayasan, lalu mengajaknya menengok ke dalam ruang-ruang kelas yang biasa digunakan untuk proses belajar-mengajar.
Sambil melangkah beriringan, Oma Kirana mulai menjelaskan alasan mereka mendirikan Yayasan Abimana: bermula dari rasa empati yang mendalam serta keinginan besar mereka untuk mengangkat derajat anak-anak yatim piatu di desa agar memiliki masa depan yang cerah.
Sukma menyimak dengan khidmat, mendengarkan setiap bait kalimat yang mengalir tulus dari bibir wanita tua itu.
Di dalam benak, ia tak henti-hentinya memuji kebaikan sepasang suami istri sepuh yang berdiri di sampingnya. Selain berhati mulia, mereka juga memiliki kepedulian sosial yang teramat tinggi.
"Nah, Sukma, ini adalah ruang kelas yang rencananya akan kamu pegang mulai besok pagi," tutur Opa Abimana sembari membuka pintu kayu di ujung lorong, memperlihatkan ruangan kelas yang tertata sangat rapi dengan deretan meja kayu kecil.
"Kelihatannya, ruangan ini sangat nyaman, Opa," sahut Sukma, matanya berpendar menatap papan tulis putih di depan kelas.
Baru saja pintu kelas hendak ditutup kembali, terdengar suara derap langkah kaki kecil yang berlarian menyusuri lorong. Rupanya Nadia dan Hanif nekat menyusul mereka. Napas kedua bocah itu tampak sedikit terengah-engah, namun senyum lebar sama sekali tidak pudar dari wajah polos mereka.
"Ibu Guru Sukma!" panggil Nadia dengan suara cemprengnya yang menggemaskan. Ia menyembunyikan kedua tangannya di balik punggung. "Nadia punya sesuatu untuk Ibu."
Sukma refleks berlutut agar tingginya sejajar dengan kedua anak itu. "Sesuatu? Apa itu, Nadia?" tanyanya lembut.
Nadia menjulurkan tangannya ke depan, menyodorkan sekuntum bunga mawar liar berwarna putih bersih yang kelopaknya masih basah oleh embun pagi. "Tadi Nadia petik di dekat pagar depan. Bunganya cantik, mirip seperti Ibu Guru."
Seketika, dada Sukma bergemuruh hebat. Warna putih dari kelopak mawar liar itu seolah menjadi mesin waktu yang mendadak menarik paksa benaknya mundur ke masa silam. Mengingatkannya kembali pada momen manis saat bersama dengan Xavier--tepatnya ketika mereka berdua berbincang santai di halaman rumah Tante Ida beberapa tahun silam.
Tak sampai di situ, ingatan Sukma kian merayap, menyeret kenangan pilu tentang almarhum paman dan Tante Ida yang telah meninggal dunia akibat insiden kecelakaan tragis di masa lalu. Tragedi berdarah itulah yang pada akhirnya memaksa Sukma ikut berhijrah ke Jakarta bersama Hamdan dan Bi Jayanti.
Sukma menerima setangkai bunga mawar putih pemberian Nadia dengan jemari yang sedikit bergetar, mencoba meredam gejolak sesak di dada. "Terima kasih banyak ya, Nadia. Ibu suka sekali."
"Aku juga punya hadiah buat Ibu Guru!" sela Hanif tidak mau kalah. Bocah laki-laki berpipi tembam itu menyodorkan permen lolipop rasa stroberi dari kantong bajunya. "Ini permen kesukaan Hanif. Kalau Ibu Guru sedang sedih, makan permen ini pasti langsung senyum lagi!"
Mendengar ucapan polos Hanif, air mata Sukma hampir saja lolos, namun ia buru-buru menyekanya dengan ujung jari sembari terkekeh pelan.
Kata-kata Hanif seolah menyiratkan bahwa anak itu tahu jika ibu gurunya tengah terkungkung dalam kesedihan. Frekuensi kedukaan sebagai sesama anak yang tidak lagi memiliki orang tua pelindung membuat mereka bisa saling membaca energi tanpa perlu banyak penjelasan.
Sukma merengkuh bahu kecil Nadia dan Hanif ke dalam pelukannya yang hangat.
Pagi ini, di ujung lorong Yayasan Abimana, Sukma akhirnya menemukan satu alasan kuat untuk tidak menyerah pada takdir dan memilih untuk terus bertahan hidup demi anak-anak yatim piatu yang senasib dengannya.
.
.
Basecamp Geng Black Shadow--gudang tua terbengkalai yang terletak tidak jauh dari gedung fakultas DKV Universitas Sanjaya.
Nara memberanikan diri melangkah memasuki area dalam gudang tua yang remang itu. Ia ditemani oleh Vela, anak buah Raka sekaligus wakil jenderal Geng Black Shadow yang sebenarnya sudah sejak lama gencar menawari Nara untuk bergabung menjadi anggota mereka.
Nara sama sekali tidak tahu bahwa tawaran menggiurkan itu sebenarnya hanyalah jebakan maut.
Sementara Vela dan Raka sudah tahu sejak lama sebuah fakta krusial: Nara adalah sahabat baik Sukma. Gadis yatim piatu yang dulu kerap menjadi alasan Geng Black Shadow bersitegang dengan Xavier--mantan ketua OSIS SMP Rajawali yang sangat disegani sekaligus ditakuti oleh para pemimpin geng di masa itu.
Selain ingin menghancurkan marwah Sukma, Raka tentu saja berambisi besar untuk menumbangkan pamor Xavier tanpa perlu menguras otot. Cara kerja mereka teramat halus, rapi, dan tak terendus oleh radar Xavier.
"Selamat datang, Nara..." sapa Raka dengan nada suara berat yang menggema, begitu Nara berdiri tepat di hadapan kursi kebesarannya.
Nara diam-diam mengepalkan kedua tangannya dengan erat di sisi tubuh. Gadis itu berusaha sekuat tenaga menyembunyikan kegugupan dan rasa takut yang tiba-tiba hadir menyergap batinnya.
"Jangan takut, Nara," ujar Raka sembari mengulas senyum miring, seolah dengan sangat mudah bisa membaca bahasa tubuh gadis di depannya. "Mulai detik ini, lo resmi jadi bagian dari Geng Black Shadow. Sayap kanan pemimpin geng, Wakil Jenderal Kedua."
Raka tersenyum licik di balik remang ruangan. Ia sengaja memberikan takhta yang terhitung tinggi kepada Nara, semata-mata hanya untuk memuluskan rencana terselubung yang sudah lama ia susun rapi.
"Woah, ada member baru!"
Suara yang terdengar sangat familier itu seketika mendorong Nara untuk menoleh cepat ke belakang.
Lidahnya mendadak kelu, tak mampu menuturkan kata sepatah pun. Sepasang matanya membulat sempurna karena terkejut.
Sosok pemilik suara barusan ternyata benar-benar Edo--mahasiswa Universitas Cakrawala sekaligus sahabat dekat Xavier, wakil jenderal Geng Bima Sakti.
"Edo, kamu..." lidah Nara tercekat. Ia menatap tak percaya.
Edo tertawa lebar, tawa culas yang menggema di langit-langit gudang tua. Ia melangkah santai mendekat ke arah Nara, memangkas jarak hingga posisi berdiri mereka hanya tersisa beberapa sentimeter saja.
"Nggak usah speechless, Nara," bisik Edo dengan seringai licik yang menghiasi wajahnya. "Gue juga bagian dari Black Shadow. Tenang aja, gue bakalan siap setiap saat buat bantu lo balas dendam sama si manusia sombong itu!"
Nara hanya mengangguk pelan, menanggapi ucapan Edo.
Tawa kemenangan seketika mengudara, memenuhi seisi ruangan remang itu. Namun, tepat di balik keriuhan tawa culas yang bersahut-sahutan, ada seringai tipis tersembunyi yang sama sekali tidak disadari oleh mereka semua.
Seringai milik seseorang di sudut tergelap gudang--sosok agen rahasia kepercayaan Arjuna dan Ayu yang sengaja dikirim untuk menyusup dalam diam.
Tugasnya cukup menantang: menguliti habis kelemahan Raka beserta anak buahnya, serta mengumpulkan bukti kejahatan yang dilakukan oleh mereka--manusia-manusia bejat dan jemawa yang bernaung di dalam tubuh Geng Black Shadow.
🍁🍁🍁
Bersambung
btw dr awal kamu kan yg salah?
memperkosa loh ga main" itu
The Power of bibi bibi🌹🌹
ancaman dlam kalimat konyol..itu kayak menggertak mau pukul orang tapi pakai ranting pohon tauge..🤣
semoga di kasih 7 tanjakan 7 turunan dan 7 Pengkol penderita mu mengejar maaf vier