NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:770
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(ARC 1) Chapter 24: Kota Pandai Besi

Enam hari telah berlalu sejak Grachius meninggalkan Heimdall.

Dalam enam hari itu, ia telah melewati jalan panjang yang tidak ramah, ngarai Skullcrack yang sunyi dan tajam, lalu Hutan Alfheim yang hidup seolah memiliki mata di setiap daun.

Kini—

ia berdiri di depan sebuah polis baru.

Kota Baldr.

Gerbangnya tidak setinggi Heimdall, namun jauh lebih kokoh. Batu-batu besar disusun rapat, tebal, dan berat, seolah kota itu tidak dibangun untuk terlihat megah, melainkan untuk bertahan dari apa pun yang mencoba meruntuhkannya.

Begitu Grachius melangkah masuk, suara palu langsung menyambutnya.

Tang! Tang! Tang!

Logam dihantam dari segala arah.

Asap naik dari tungku-tungku terbuka. Api menyala merah jingga di balik bengkel-bengkel batu. Bau besi panas, arang, kulit, minyak, dan kayu terbakar memenuhi udara.

Bangunan-bangunan di Baldr rendah dan lebar.

Pintunya banyak yang pendek.

Jendelanya kecil.

Dindingnya tebal.

Dan di sepanjang jalan, para dwarf berjalan dengan tubuh pendek namun kekar, bahu lebar, tangan besar, dan janggut tebal yang tampak menjadi kebanggaan mereka.

Beberapa membawa palu.

Beberapa mendorong gerobak penuh bijih logam.

Beberapa berteriak kepada murid bengkel mereka dengan suara seperti batu bergesekan.

Daji berjalan di samping Grachius sambil menutup telinga.

“Tempat ini terlalu berisik.”

Grachius tidak menjawab.

Matanya bergerak pelan, mengamati kota.

Baldr berbeda dari Heimdall.

Heimdall ramai, namun terasa penuh lapisan—pasar yang hidup, kuil yang menekan, distrik miskin yang tersembunyi di balik kemegahan.

Baldr lebih kasar.

Lebih keras.

Namun anehnya…

terasa lebih jujur.

Orang-orang di sini berkeringat di depan tungku. Mereka memaki besi, memukul baja, menertawakan kesalahan, lalu bekerja lagi.

Tidak ada yang mencoba terlihat suci.

Tidak ada patung megah di setiap sudut yang memaksa manusia menunduk.

Hanya api.

Logam.

Dan kerja keras.

Grachius berhenti di depan salah satu bengkel terbuka.

Seorang dwarf tua sedang menempa sepotong logam merah membara. Setiap pukulan palunya jatuh pada titik yang sama, tidak tergesa, namun penuh tenaga.

Tang.

Tang.

Tang.

Grachius memperhatikan ritmenya.

Bukan hanya kekuatan.

Ada napas.

Ada pengendalian.

Ada sesuatu yang hampir mirip latihan.

Lalu—

suara lembut terdengar di dalam kesadarannya.

“Hanya terus berjalan saja tidak cukup, Grachius.”

Grachius berhenti.

Daji berjalan dua langkah sebelum sadar ia tertinggal.

“Hm?”

Grachius tidak menjawab.

Suara Vita terus terdengar, tenang namun tegas.

“Beberapa kemenangan kecil tidak membuatmu siap menghadapi para dewa.”

Tatapan Grachius sedikit menunduk.

“Kau harus terus berkultivasi. Memperdalam Qi di dalam dirimu. Lebih menguatkan fondasi tubuh dan jiwamu.”

"Saat ini kau masih lima puluh kali dibawah Sagitta."

Suara palu di sekitarnya terasa menjauh sesaat.

“Jangan menjadi lengah hanya karena lawan-lawan lemah telah jatuh di hadapanmu.”

Grachius diam.

Mendengarkan.

“Api hitammu bukan jawaban untuk semuanya. Kekuatan yang tidak dipahami akan menuntun pemiliknya pada kehancuran.”

Angin panas dari tungku bergerak melewati wajahnya.

Lalu suara Vita memudar.

Grachius menarik napas pelan.

“Aku mengerti.”

Daji menyipitkan mata.

“Kau bicara dengan siapa?”

“Tidak ada.”

“Kau berhenti di tengah jalan, menatap besi panas, lalu berkata ‘aku mengerti’. Itu jelas bukan tidak ada.”

Grachius mulai berjalan lagi.

Daji mendecak.

“Kau selalu begini.”

“Mm.”

“Itu bukan jawaban.”

“Mm.”

“Aku benci jawaban itu.”

Namun ia tetap mengikuti.

...—...

Di tengah kota, mereka menemukan sebuah bangunan batu yang berbeda dari bengkel lain.

Tidak terlalu megah.

Tidak tinggi.

Namun terasa sakral.

Di atas pintunya terdapat simbol palu dan landasan yang diukir dalam logam hitam.

Daji menatap simbol itu.

“Kuil?”

Grachius mengangguk kecil.

“Kita masuk.”

“Kenapa?”

Grachius sudah melangkah.

Daji menghela napas panjang.

“Tentu saja. Kenapa aku bertanya.”

Di dalam Kuil Ferrum, suasananya jauh berbeda dari kuil Sagitta di Heimdall.

Tidak ada pilar putih yang menjulang menekan.

Tidak ada patung dewa yang dibuat terlalu sempurna.

Dindingnya batu gelap, hangat oleh api kecil yang menyala di beberapa sudut. Cahaya oranye bergerak lembut di permukaan batu, memantulkan kilau dari alat-alat besi yang tergantung rapi.

Aroma logam, kayu, dan asap memenuhi ruangan.

Bukan menyeramkan.

Bukan suci dengan cara yang menekan.

Melainkan sederhana.

Hangat.

Di depan altar, seorang High Hiereus dwarf berdiri sambil memimpin doa.

Di atas altar terdapat makanan, buah-buahan, dan tiga pedang hasil karya dwarf. Di belakangnya, tiga dwarf berdiri tegang, menatap pedang-pedang itu seperti menunggu keputusan hidup dan mati.

Hiereus itu mengangkat kedua tangan.

“Ferrum, penjaga api bengkel, berkahilah tangan yang bekerja. Berkahilah palu yang jatuh. Berkahilah baja yang ditempa dengan kesabaran. Jika karya ini belum sempurna, berilah kami kekuatan untuk memperbaikinya.”

Tidak ada korban manusia.

Tidak ada gadis yang diikat.

Tidak ada cahaya yang menelan seseorang.

Hanya doa untuk kerja keras.

Grachius memperhatikan dalam diam.

Ferrum.

Dewa yang dihormati para dwarf.

Untuk pertama kalinya, pikiran Grachius sedikit bergerak.

Mungkin…

tidak semua dewa seperti Sagitta.

Mungkin tidak semua dewa layak berada di ujung pedangnya.

Ritual selesai.

Ketiga dwarf menunduk dalam, lalu membawa pedang mereka dengan wajah yang tampak lebih lega.

Orang-orang perlahan keluar dari kuil.

Tersisa High Hiereus dwarf tadi.

Ia memiliki janggut abu-abu tebal yang diikat rapi, mata hangat, dan tangan yang terlihat lebih cocok memegang palu daripada kitab doa.

Grachius mendekat.

“Aku Grachius.”

Daji langsung menoleh padanya.

“Kau benar-benar langsung memperkenalkan diri begitu saja?”

Hiereus dwarf itu menatap Grachius, lalu Daji.

“Varkun.” katanya sambil tersenyum kecil.

“High Hiereus Ferrum di Baldr.”

Grachius mengangguk.

“Aku butuh tempat menginap.”

Daji menutup wajah dengan telapak tangan.

“Dia juga langsung meminta itu.”

Varkun tertawa rendah.

Suara tawanya seperti batu hangat.

“Kau sangat jujur.”

“Aku tidak punya alasan berbohong.”

“Bagus.”

Varkun menatap Grachius lebih lama.

Matanya sedikit menyipit.

Bukan curiga.

Lebih seperti seseorang yang sedang mendengar suara yang tidak terdengar.

Grachius langsung menatapnya.

“Kau membaca Qi kami.”

Varkun berhenti.

Lalu tawanya muncul lagi.

“Kau menyadarinya.”

Daji melirik Varkun.

“Apa yang kau lihat?”

“Cukup untuk tahu kalian bukan tamu biasa.”

Varkun menatap Grachius.

“Terutama kau.”

Grachius tidak bereaksi.

Varkun melanjutkan.

“Kuil bukan tempat menginap. Tapi aku bisa membantumu.”

Daji langsung menegakkan badan.

“Membantu bagaimana?”

“Adikku punya penginapan. Kalian bisa tinggal di sana. Biayanya biar aku yang urus.”

Mata Daji langsung berbinar.

“Gratis?”

“Untuk kalian, ya.”

Daji langsung menatap Grachius.

“Kita suka dwarf ini.”

Grachius menunduk kecil pada Varkun.

“Terima kasih.”

Singkat.

Namun tulus.

Varkun tersenyum.

“Jangan berterima kasih dulu. Adikku mungkin akan memarahiku.”

...—...

Penginapan itu bernama Thorgar Skáli.

Bangunannya lebih besar dari rumah dwarf biasa, dengan pintu tinggi yang jelas dibuat untuk manusia dan ras lain. Dinding kayunya tebal, jendelanya kecil namun hangat oleh cahaya dari dalam.

Begitu masuk, aroma makanan langsung menyambut mereka.

Sup panas.

Daging panggang.

Roti keras.

Dan bir dwarf yang baunya kuat bahkan dari jauh.

Api perapian menyala besar di sisi ruangan. Suara gelas kayu, kursi yang digeser, dan tawa berat memenuhi udara.

“Thorgar!” panggil Varkun.

Dari balik meja besar, seorang dwarf kekar muncul.

Janggutnya hitam tebal, matanya tajam, lengannya sebesar batang kayu kecil.

Ia menatap Varkun.

Lalu Grachius.

Lalu Daji.

Kemudian kembali ke Varkun.

“Tidak.”

Varkun tersenyum santai.

“Aku belum mengatakan apa pun.”

“Kau membawa dua orang asing. Wajahmu seperti orang yang hendak berkata, ‘Adikku tersayang, bolehkah mereka tinggal gratis?’”

Daji menahan tawa.

Varkun mengangkat bahu.

“Karena kau memang adikku tersayang.”

“Kalimat itu selalu membuatku rugi.”

“Aku akan mendoakan berkah untuk karyamu.”

Thorgar menunjuk Varkun dengan jari tebal.

“Kau licik.”

“Aku High Hiereus.”

“Itu yang kubilang.”

Varkun tertawa kecil.

Thorgar menggerutu panjang, namun akhirnya menghela napas.

“Baik. Satu kamar.”

Daji langsung mengangkat tangan.

“Dua kamar.”

Thorgar menatapnya.

“Gratis itu satu kamar.”

Daji menurunkan tangan.

“Satu kamar juga bagus.”

Grachius hanya diam mengamati dinamika dua saudara itu.

Namun saat Thorgar melirik Grachius lagi, tatapannya berhenti pada pedang di pinggangnya.

Matanya berubah.

“Pedang itu…”

Suara Thorgar yang tadi galak mendadak menjadi lebih rendah.

Grachius menatapnya.

“Enjin.”

Thorgar hampir melompat mendekat.

“Enjin? Benar-benar Enjin?”

Daji berkedip.

“Kau tahu?”

Thorgar menatapnya seolah pertanyaan itu menghina nenek moyangnya.

“Setiap pandai besi yang punya harga diri tahu nama itu.”

Ia menatap Grachius.

“Boleh kulihat?”

Grachius melepas Enjin dari pinggangnya dan menyerahkannya tanpa banyak ragu.

Daji langsung menatapnya.

“Kau memberikan pedangmu begitu saja?”

“Dia pandai besi.”

“Itu bukan alasan yang cukup!”

Thorgar tidak mendengarkan.

Ia menarik Enjin perlahan dari sarungnya.

Cahaya api perapian memantul di bilah perak pucat itu.

Wajahnya berubah lembut.

Kagum.

Seperti anak kecil melihat bintang jatuh.

“Keseimbangannya…”

Ia mengangkat pedang itu sedikit.

“Tidak berat, tapi tidak kosong.”

Jari nya berhenti dekat punggung bilah.

“Aliran energinya stabil. Rare Grade sejati.”

Ia menelan napas.

“Aku tidak menyangka bisa menyentuh senjata seperti ini langsung.”

Grachius memperhatikan Thorgar.

Bukan pedangnya.

Melainkan mata dwarf itu.

Ada impian di sana.

Bukan keserakahan.

Thorgar akhirnya menatap Grachius.

“Aku punya tawaran.”

Daji langsung curiga.

“Mulai mencurigakan.”

“Kalian boleh menginap.”

Thorgar mengangkat Enjin sedikit.

“Tapi izinkan aku meminjam Enjin untuk ku pelajari.”

Daji langsung berdiri.

“Itu permintaan besar!”

Thorgar mengangguk serius.

“Aku tahu.”

Ia menatap Grachius.

“Aku ingin membuat senjata setingkat Rare Grade. Suatu hari… mungkin melampauinya.”

Ruangan terasa sedikit lebih sunyi bagi Grachius.

Pandai besi itu tidak berbicara seperti orang yang ingin mencuri.

Ia berbicara seperti seseorang yang berdiri di depan pintu impiannya.

Grachius diam beberapa saat.

Lalu mengangguk.

“Baiklah.”

Daji menoleh cepat.

“Grachius!”

Grachius tersenyum kecil.

Sangat tipis.

“Dia akan menjaganya.”

Thorgar mematung sejenak.

Lalu wajahnya berbinar.

“Akan ku jaga seperti darahku sendiri!”

Varkun memperhatikan dari samping.

Matanya tenang.

Namun dalam hati, ia merasa sesuatu bergerak.

Pertemuan ini…

bukan kebetulan.

...—...

Malam turun di Kota Baldr.

Suara palu perlahan berkurang, namun tidak pernah benar-benar hilang. Api tungku tetap menyala di beberapa bengkel, membuat kota itu tampak seperti gunung kecil yang menyimpan bara di dalam perutnya.

Grachius dan Daji akhirnya mendapatkan tempat istirahat yang layak setelah perjalanan panjang.

Di bawah sana, Thorgar masih duduk di dekat perapian, memandangi Enjin dengan mata penuh impian.

Varkun berdiri di dekat jendela, menatap asap yang naik dari kota.

Seorang pandai besi dwarf.

Seorang pemburu dewa.

Dan sebuah pedang Rare Grade.

Kesepakatan mereka terdengar sederhana malam itu.

Tempat menginap untuk kesempatan mempelajari senjata.

Namun di balik suara api dan palu yang perlahan mereda—

sesuatu mulai ditempa.

Bukan hanya baja.

Bukan hanya senjata.

Melainkan masa depan yang suatu hari nanti mungkin akan melampaui bayangan mereka semua.

...A Novel By Franzzz...

1
Manusia Ikan 🫪
nih, aku kasih gift iklan biar semangat😎👍
Manusia Ikan 🫪
heh
Manusia Ikan 🫪
ini baru Nama yang keren v:
Manusia Ikan 🫪
:v kalau aku sih gk masalah
Manusia Ikan 🫪
Nama yang unik🧐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!