Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Satu Triliun Dolar di Ujung Jari
Ruang tamu vila Keluarga Kusuma mendadak senyap. Hawa dingin yang memancar dari tubuh Arya membuat bulu kuduk semua orang berdiri. Kevin Wijaya, yang biasanya memandang rendah siapa pun, merasa jantungnya berdegup kencang. Namun, rasa malu karena sempat merasa takut pada seorang "menantu sampah" segera berubah menjadi amarah yang meledak.
"Kau... bajingan! Berani-beraninya kau menatapku seperti itu!" teriak Kevin untuk menutupi kegugupannya. "Kau hanya seekor anjing di rumah ini! Berlutut dan minta maaf sekarang, atau aku akan memastikan perusahaan istrimu bangkrut besok pagi!"
Lidya, yang baru tersadar dari keterpakuannya, ikut berteriak histeris. "Arya! Apa kau sudah gila? Beraninya kau bersikap tidak sopan pada Tuan Muda Kevin! Cepat berlutut dan jilat sepatunya! Jika investasi sepuluh miliar ini gagal karena ulahmu, aku akan menyeretmu ke pengadilan!"
Riana menatap Arya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kemarahan, tapi juga ada kebingungan. "Arya, apa yang kau lakukan? Cepat minta maaf. Jangan merusak segalanya hanya karena ego sesaat."
Arya menoleh pelan ke arah Riana. Senyum tipis yang penuh kepahitan muncul di bibirnya. "Ego? Riana, selama tiga tahun aku menanggung semua hinaan karena aku menghargai wasiat kakekmu. Tapi hari ini, aku menyadari bahwa kesabaranku hanya membuat kalian semakin menginjak harga diriku."
"Halah! Bicara apa kau, sampah!" Kevin kehilangan kesabaran. Ia mengangkat tangannya, berniat melayangkan tamparan keras ke wajah Arya. "Mati kau!"
Wusss!
Tangan Kevin bergerak cepat, namun di mata Arya, gerakan itu tampak selambat siput. Berkat Fisik Petarung Tahap Awal yang diberikan Sistem, refleks dan kekuatan Arya telah meningkat ribuan kali lipat dari manusia biasa.
Brak!
Sebelum tangan Kevin menyentuh wajahnya, Arya sudah terlebih dahulu mencengkeram pergelangan tangan Kevin dengan satu tangan.
"Arghhh! Lepaskan! Sakit!" jerit Kevin seketika. Ia merasa pergelangan tangannya seperti dijepit oleh tang pemotong baja yang sangat panas. Wajahnya yang tadi sombong kini memerah menahan sakit yang luar biasa.
"Kau ingin aku berlutut?" suara Arya rendah dan berbahaya. "Di dunia ini, tidak ada satu orang pun yang pantas membuatku berlutut. Terutama bukan orang sepertimu."
Krak!
Bunyi retakan tulang halus terdengar. Arya memutar pergelangan tangan Kevin sedikit saja, dan pria itu langsung jatuh tersungkur di lantai, mengerang kesakitan seperti babi yang hendak disembelih.
"Arya! Berhenti!" Riana berteriak, wajahnya pucat pasi. Ia tidak menyangka Arya yang selama ini penurut bisa bertindak sekasar itu. "Kau sudah keterlaluan! Kau menyakiti Tuan Muda Kevin!"
Arya melepaskan cengkeramannya dan menatap Kevin yang meringkuk di lantai dengan jijik. "Sepuluh miliar? Hanya karena uang sekecil itu kalian menyembahnya seperti dewa?"
"Kecil?!" Lidya hampir pingsan karena marah. "Dasar sampah tidak tahu diri! Kau bahkan tidak bisa menghasilkan sepuluh ribu rupiah sehari, dan kau berani menyebut sepuluh miliar itu kecil? Itu adalah nyawa perusahaan Riana!"
Arya tidak menjawab. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel jadulnya yang layarnya sudah retak. Ia menekan beberapa digit angka di layar dan melakukan panggilan internasional.
"Siapa yang kau telepon? Polisi? Silakan! Kau yang akan masuk penjara karena penganiayaan!" ancam Kevin sambil memegangi tangannya yang membengkak.
Panggilan tersambung. Suara seorang pria tua dengan nada sangat hormat terdengar di ujung telepon, berbicara dalam bahasa Inggris yang sempurna.
"Tuan Muda... Akhirnya Anda menghubungi kami. Kami telah menunggu selama tiga tahun di bawah perintah Kepala Pelayan Keluarga Permana."
"Aktifkan Protokol Naga," kata Arya singkat, suaranya datar tanpa emosi. "Aku butuh sepuluh triliun rupiah dikirim ke rekening pribadi Riana Kusuma dalam lima menit. Dan satu hal lagi... batalkan semua kerjasama bisnis dengan Grup Wijaya secara global. Aku ingin mereka bangkrut sebelum matahari terbit."
Hening.
Setelah Arya menutup telepon, suara tawa pecah di ruang tamu tersebut. Kevin, meski kesakitan, tertawa hingga air matanya keluar. Lidya pun ikut tertawa mengejek.
"Hahahaha! Sepuluh triliun? Protokol Naga? Apakah kau baru saja menonton film pahlawan super?" Kevin mengejek sambil berusaha berdiri. "Riana, suamimu benar-benar sudah gila. Dia depresi karena terlalu banyak membersihkan lantai!"
Riana hanya bisa memijat pelipisnya. Ia merasa sangat malu. "Arya, tolong berhenti bersikap konyol. Masuk ke kamar sekarang sebelum aku benar-benar menceraikanmu malam ini."
"Riana, percayalah padaku sekali saja," ucap Arya tenang.
"Percaya apa? Percaya pada bualanmu?" Lidya meludah ke lantai. "Kalau dalam lima menit tidak ada uang masuk, kau harus merangkak keluar dari rumah ini dan jangan pernah kembali!"
Waktu berlalu. Satu menit... dua menit... suasana tetap hening. Kevin terus menghina Arya, menyebutnya sebagai pasien rumah sakit jiwa yang melarikan diri.
Namun, tepat pada menit kelima, ponsel Riana yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar hebat. Sebuah notifikasi pesan masuk dari bank nasional muncul di layar kunci.
Riana mengerutkan kening dan mengambil ponselnya. Saat ia membaca pesan itu, matanya tiba-tiba membelalak lebar. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Seluruh tubuhnya gemetar, dan ponsel di tangannya hampir terjatuh.
"Riana? Ada apa? Apa itu pesan dari bank yang menagih utang karena ulah si sampah ini?" tanya Lidya penasaran.
Riana tidak menjawab. Bibirnya bergetar. Ia menatap Arya dengan tatapan horor, seolah sedang melihat sosok asing yang mengerikan.
"Ma... lihat ini..." Riana menyodorkan ponselnya ke arah Lidya.
Lidya membaca pesan tersebut dengan suara keras karena penasaran: "[Bank Mandiri: Rekening Anda nomor ****999 telah menerima transfer dana sebesar Rp 10.000.000.000.000,00 dari Dragon Global Corp. Saldo Anda saat ini...]"
Suara Lidya terputus di tengah jalan. Ia menggosok matanya berkali-kali, menghitung jumlah angka nol yang berderet panjang di layar tersebut. Sepuluh... triliun?
"Ini... ini pasti kesalahan sistem! Tidak mungkin!" jerit Kevin. Ia segera merogoh ponselnya sendiri untuk menghubungi ayahnya, pemilik Grup Wijaya.
Namun, sebelum ia sempat menekan nomor, sebuah panggilan masuk lebih dulu dari ayahnya. Kevin menjawab dengan cepat, "Halo, Pa? Pa, kau harus membantu—"
"KEVIN! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Suara ayahnya di seberang telepon terdengar sangat panik dan penuh ketakutan. "Baru saja, sepuluh investor terbesar kita menarik modal secara serentak! Bank-bank membekukan rekening kita! Bahkan semua kontrak kerja kita dibatalkan dalam hitungan detik! Kita bangkrut, Kevin! Kita hancur total!"
Prang!
Ponsel Kevin jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping, sama seperti harga dirinya. Ia menatap Arya yang berdiri tegak dengan tangan di saku, tampak sangat santai seolah baru saja melakukan hal sepele.
"Sepuluh miliar yang kau banggakan itu..." Arya melangkah maju, membuat Kevin gemetar ketakutan hingga jatuh terduduk kembali. "Bahkan tidak cukup untuk membeli tisu toilet di rumah lamaku."
Arya kemudian menoleh ke arah ibu mertuanya yang kini mematung seperti patung lilin. "Ibu, apakah lantai ini sudah cukup bersih?"
Lidya tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Lidahnya terasa kelu. Uang sepuluh triliun rupiah adalah jumlah yang bahkan tidak bisa ia bayangkan dalam mimpinya.
Riana mendekati Arya, matanya berkaca-kaca. "Arya... siapa kau sebenarnya? Selama tiga tahun ini... siapa pria yang tidur di sofa kamarku?"
Arya menatap istrinya dengan tatapan yang sulit ditebak. "Pria yang mencintaimu, Riana. Tapi mulai malam ini, aku bukan lagi Arya yang bisa kau abaikan."
Tiba-tiba, suara deru beberapa helikopter terdengar di atas vila mereka. Cahaya lampu sorot yang kuat menembus jendela kaca, menerangi ruang tamu tersebut. Di luar, puluhan mobil Rolls-Royce hitam berhenti dengan rapi di depan gerbang.
Seorang pria tua dengan setelan jas yang sangat rapi keluar dari mobil terdepan. Ia adalah Thomas, manajer legendaris dari Bank Sentral Dunia yang hanya melayani keluarga-keluarga penguasa planet ini.
Thomas berjalan masuk ke dalam vila dengan tergesa-gesa, mengabaikan Kevin yang merangkak dan Lidya yang melongo. Ia berhenti tepat di depan Arya, lalu membungkuk sembilan puluh derajat dengan penuh khidmat.
"Tuan Muda Arya, mohon maaf atas keterlambatan kami. Seluruh aset Keluarga Permana di Nusantara City telah siap untuk Anda kelola. Ke mana tujuan Anda malam ini?"
Arya menatap Thomas, lalu melirik ke arah Riana untuk terakhir kalinya sebelum berbalik. "Bawa aku ke markas besar Dragon Corp. Sudah saatnya kota ini mengenal siapa pemilik aslinya."
Saat Arya melangkah keluar, diiringi oleh barisan pengawal bersenjata lengkap, Riana hanya bisa berdiri terpaku di depan pintu, menyadari bahwa ia baru saja kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sepuluh triliun rupiah.