Seorang pria mati dengan penyesalan karena gagal menegakkan kebenaran.
Ia terlahir kembali sebagai pengacara magang yang diremehkan...dan mendapatkan Sistem Keadilan Absolut kemampuan untuk melihat kebohongan, mengungkap fakta tersembunyi, dan menentukan putusan paling adil.
Dari kasus kecil hingga konspirasi besar, ia mulai mengguncang dunia hukum yang korup.
Namun satu hal segera ia sadari...
Keadilan sejati tidak selalu sama dengan hukum.
Dan kali ini...dia yang akan menentukan mana yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Rina Wijaya kini sudah terborgol rapi di tangan petugas kepolisian, resmi ditahan dan menjalani proses penyidikan. Kariernya yang sudah dibangun bertahun-tahun hancur lebur dalam sekejap. Masa depannya gelap gulita. Dia sudah tamat.
Wajahnya pucat pasi, seputih kertas. Dalam hati dia mengutuk, Arga... pengacara magang sialan ini benar-benar kejam!
Dia sudah tidak punya waktu lagi untuk memikirkan nasib Laras dan Tania. Dia sendiri pun belum tahu berapa tahun jeruji besi yang akan menunggunya.
"Kakak! Kak Rina!" Laras mencengkeram lengan Rina erat-erat, matanya memanas. "Kakak harus bantu kami! Siapa lagi yang mau bela kami kalau bukan Kakak? Kan Kakak bilang pasti menang? Terus sekarang gimana? Apa aku sama Tania harus minta maaf sama cowok menyebalkan itu? Kenapa sih?! Aku nggak salah! Aku cuma kira dia mau rekam aku diam-diam! Kenapa sekarang giliranku yang harus minta maaf?!"
Tania berdiri di samping dengan wajah manyun dan kesal setengah mati. "Aku nggak peduli keputusan pengadilan gimana! Bimo itu emang nyebelin banget! Nggak akan pernah ada kata maaf dari mulutku buat orang kayak dia!"
"Kita... kita nggak bakal masuk penjara kan, Tan?" tanya Laras gemetar.
"Ah, masa sih?" Tania mendengus sinis, berusaha menenangkan temannya sekaligus dirinya sendiri. "Kita kan cuma nulis beberapa postingan doang. Nggak ada apa-apanya itu. Dulu juga sering bikin ginian, kan? Emangnya masalah sepele gitu bisa bikin masuk penjara? Nggak masuk akal! Itu si Arga cuma sok tahu, mau ngerjain kita doang. Nggak usah ditakutin!"
Mendengar itu, Laras sedikit lega. "Iya juga ya... Kita kan bukan pengacara, kita juga nggak nyogok siapa-siapa..."
Selama tidak dipenjara, mereka merasa tidak ada yang perlu ditakutkan.
Rina hanya bisa menatap mereka kosong. Dia ingin berteriak kalau Arga itu jauh lebih menakutkan dari yang mereka bayangkan, tapi suaranya seakan tertahan di tenggorokan.
"Terus... kita harus minta maaf beneran?" tanya Laras lagi.
"Minta maaf apanya?" Tania mendecakkan lidah. "Meskipun nanti pengadilan nyuruh aku minta maaf, aku bakal bilang 'maaf' sambil ketawa doang! Maaf ke angin! Biar mereka tahu! Coba aja tangkap aku kalau berani! Ngapain juga aku harus tunduk sama orang kayak gitu?"
"Betul!" Laras ikut menyemangati diri sendiri. "Bimo itu cuma mau ngerjain cewek, iyuhhh banget! Jijik! Minta maaf sama dia? Nggak akan pernah!"
Mereka berdua beranggapan, hukuman terberat buat mereka cuma sebatas kata 'maaf' dan mungkin denda uang. Mereka pikir Arga cuma bisa menakut-nakuti lewat mulut doang.
Melihat mereka masih setengah sadar, Rina yang tahu betul seluk-beluk hukum akhirnya bersuara lemah, "Laras, Tan... dengarkan Kakak. Situasi kalian sekarang sangat berbahaya. Kalau mau selamat, satu-satunya jalan... kalian harus minta maaf. Turunkan ego, minta maaf sama Bimo dengan tulus. Dia juga mahasiswa, kalau dia mau memaafkan, mungkin hukuman kalian cuma denda atau ganti rugi biaya pengobatan dan tekanan mental. Kalau kalian keras kepala..."
"Hah? Minta maaf sama dia?" Laras terbelalak, masih berat hati. "Jadi kalau nggak minta maaf, kita bisa masuk penjara?"
Sebagai sepupu dan pengacara, Laras percaya sepenuhnya pada ucapan Rina.
"Harus. Itu satu-satunya jalan selamat sekarang. Kalau nggak, nasib kalian bisa lebih buruk dari Kakak," ucap Rina lemas.
Belum sempat dia menjelaskan lebih jauh, petugas langsung menyeretnya pergi untuk diinterogasi lebih lanjut. Mereka akan mengecek apakah ada kasus suap lain atau tindakan kriminal lainnya yang pernah dilakukan Rina selama ini.
Laras berdiri mematung di tempat. "Tan... beneran bahaya ya? Tapi... minta maaf sama cowok jelek yang suka ngintip itu... rasanya jijik banget deh."
"Ah, udah ah! Jangan dengerin omongan orang yang udah kalah!" Tania memotong dengan kesal. "Kalau dia pinter, kenapa dia yang ditangkap? Percaya sama aku, kita nggak perlu minta maaf serius. Paling banter bayar denda doang. Ngapain takut? Pengadilan juga nggak bakal sembarangan hukum kita!"
Percakapan mereka yang tidak terlalu keras itu ternyata tertangkap jelas oleh telinga Arga.
Arga hanya menggeleng pelan sambil menyimpan senyum miring yang dingin.
Masih belum sadar juga ya?
Kalau saja tadi mereka benar-benar datang dengan kepala tertunduk, meminta maaf tulus, dan bersedia mengganti rugi, selama Bimo mau memaafkan, Arga sebagai pengacara tidak akan memperpanjang masalah. Biarkan pengadilan yang memutuskan, tugasnya sudah selesai.
Tapi nyatanya? Mereka masih saja menghina kliennya, menyebut 'cowok jelek', 'perekam rahasia', dan berniat meminta maaf palsu?
Kalau begitu... jangan salahkan Arga yang bertindak lebih jauh.
Tiba-tiba, layar sistem di hadapannya memunculkan data baru. Sebuah bukti mengejutkan yang membuat mata Arga memicing tajam.
[Data ditemukan! Catatan kejahatan Laras dan Tania selama 3 tahun terakhir: Telah melakukan fitnah dan pencemaran nama baik hingga menyebabkan 2 mahasiswa mengundurkan diri dari kampus. Terbukti 1 tahun lalu menuduh seorang mahasiswa baru melakukan perekaman rahasia, menyebarkan hoaks dan berita bohong, yang mengakibatkan korban mengalami perundungan siber (bullying online) berkepanjangan dan akhirnya melakukan bunuh diri!]
Arga menatap layar itu dengan napas tertahan.
Jadi selama ini mereka... monster macam ini?
Hanya dengan sekali klik, semua perbuatan busuk mereka selama tiga tahun terakhir terbongkar. Termasuk kasus kematian mahasiswa malang itu.
Dan yang paling membuat darah Arga mendidih? Laras dan Tania sama sekali tidak merasa bersalah. Tidak ada penyesalan sedikitpun. Mereka justru terus saja berbuat onar.
Di zaman sekarang, menyebar kebohongan itu gampang, tapi membasmi rumor jahat itu butuh waktu lama dan air mata. Hanya dengan modal jari dan akun media sosial, mereka bisa menghancurkan hidup orang lain seenak jidat.
Arga mengepalkan tangan. Tatapannya berubah sedingin es.
Mereka harus dihukum. Kali ini harus benar-benar masuk bui.
Tidak hanya Laras dan Tania, Arga juga akan memastikan semua rantai kejahatan ini putus. Termasuk memeriksa latar belakang pengacara lain yang terlibat, dan...
Hakim Ketua dari sidang sebelumnya, Yuliana.
Arga tahu, dalam kasus pertama Bimo, seharusnya kliennya tidak perlu membayar sepeser pun untuk biaya pengobatan atau kompensasi tekanan mental. Itu semua karena hakim memiliki diskresi yang dimanipulasi.
Kalau Yuliana bersikap netral, mungkin Arga akan diam saja. Tapi kalau terbukti dia menerima suap, bermain nepotisme, dan memutuskan perkara seenaknya demi uang...
Maka hakim itu juga harus ikut masuk penjara!
Dua jam waktu jeda berlalu begitu saja.
Suara palu pengadilan kembali berbunyi nyaring.
SIDANG DILANJUTKAN!!!
semangat author/Determined/
tapi kali ini, saya akan lawan💪
semoga endingnya nggak mengecewakan🤭