NovelToon NovelToon
Samsara Sembilan Naga

Samsara Sembilan Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Chen dulunya adalah jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, pada usia 12 tahun, Meridiannya dihancurkan oleh musuh misterius, membuatnya menjadi "Sampah" yang tidak bisa mengumpulkan Qi. Dihina oleh klannya dan tunangannya dibatalkan, Lin Chen jatuh ke titik terendah. Suatu malam, darahnya secara tidak sengaja membangunkan sebuah relik kuno peninggalan ibunya: Sisik Naga Primordial. Relik ini tidak hanya memulihkan meridiannya, tetapi juga memberinya Teknik Kultivasi terlarang: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Dimulailah perjalanan Lin Chen dari kota kecil yang terpencil menuju puncak semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Kemurkaan Naga Palsu dan Pedang Tanpa Mata

​Di pusat barisan pegunungan Pelataran Dalam, menjulang sebuah puncak megah yang diselimuti oleh awan keemasan. Ini adalah Puncak Naga Sejati, wilayah kekuasaan absolut Chu Kuangren, pewaris utama sekte.

​Di dalam paviliun utama yang terbuat dari batu giok putih dan emas, aroma dupa spiritual kualitas tertinggi menguar menenangkan jiwa. Chu Kuangren, seorang pemuda tampan dengan jubah bersulam naga emas, sedang duduk di singgasana batu. Fluktuasi kultivasi dari Ranah Inti Emas Tahap Menengah mengalir di sekitarnya bagai sungai bintang yang berwibawa.

​Di sisinya, duduk Liu Meng'er. Gadis yang dulu sedingin es di Kota Awan Merah itu kini bersandar manja, menyuapkan buah anggur spiritual ke mulut Chu Kuangren.

​Namun, suasana romantis itu hancur berkeping-keping saat pintu paviliun didorong terbuka.

​Lei Dong merangkak masuk dengan sisa lengannya yang berdarah, diikuti oleh tiga pengikutnya yang terluka parah. Bau anyir darah seketika menodai karpet sutra paviliun.

​"K-Kakak Senior Chu... Maafkan ketidakbergunaan saya!" seru Lei Dong sambil bersujud dengan wajah pucat.

​Mata Chu Kuangren menyipit tajam. Gelas giok di tangannya hancur menjadi bubuk. "Siapa yang berani memotong lengan anggota Faksi Naga Sejatiku di dalam sekte ini?"

​"I-Itu Lin Chen! Pemuda dari Puncak Pedang Patah!" Lei Dong menceritakan kejadian di ujung jembatan pelangi dengan suara gemetar, melebih-lebihkan kekejaman Lin Chen namun tak bisa menyembunyikan fakta bahwa ia dikalahkan hanya dengan satu jentikan jari.

​Mendengar nama Lin Chen, wajah Liu Meng'er memucat sesaat. Jari-jarinya tanpa sadar mencengkeram ujung gaunnya. Dia... dia mengalahkan Setengah Langkah Inti Emas hanya dengan jentikan jari?! Bagaimana mungkin?!

​Chu Kuangren melirik ekspresi gugup tunangannya, lalu mendengus dingin. Hawa membunuh meledak dari tubuhnya, membekukan udara di dalam paviliun.

​"Satu jentikan jari? Menguasai Niat Pedang? Hmph! Pasti dia menggunakan artefak ilusi pelindung peninggalan Tetua Pedang Gila di puncak itu," cibir Chu Kuangren, menolak percaya ada murid Pengumpulan Qi yang bisa memanipulasi hukum alam. "Beraninya seekor cacing dari kota kecil menyuruhku berlutut. Dia benar-benar bosan hidup."

​"Kanda Chu, Lin Chen ini sangat licik dan kejam," bisik Liu Meng'er, mencoba memanas-manasi. "Dia berulang kali menghina nama baikku dan kini berani menginjak wajah Faksi Naga Sejati. Jika kita membiarkannya hidup sampai Turnamen Sekte, reputasi Kanda akan tercoreng."

​Chu Kuangren tersenyum sinis, menepuk tangan Liu Meng'er dengan lembut. "Jangan khawatir, Meng'er. Turnamen Sekte Dalam tinggal satu bulan lagi. Di arena turnamen, disaksikan oleh Pemimpin Sekte dan seluruh Tetua... aku akan mematahkannya tulang demi tulang. Aku akan membiarkan seluruh dunia tahu bahwa di hadapan Naga Sejati, dia hanyalah cacing tanah yang menelan pil bunuh diri."

​Chu Kuangren berdiri, menatap Lei Dong dengan jijik. "Bawa dia ke Balai Pengobatan. Jangan biarkan sampah berdarah ini mengotori paviliunku lebih lama lagi."

​Di saat badai amarah berkecamuk di Puncak Naga Sejati, Lin Chen justru berjalan santai keluar dari Puncak Pedang Patah menuju pusat komersial Pelataran Dalam—Paviliun Harta Dalam.

​Kekuatannya telah meningkat pesat, dan fisik Mandi Darah Naganya kini sekokoh senjata spiritual tingkat Bumi. Namun, hal ini memunculkan satu masalah baru.

​"Tenaga fisikmu kini melampaui 100.000 kati (sekitar 50 ton). Jika kau menggunakan pedang besi biasa, atau bahkan pedang spiritual tingkat rendah, senjata itu akan hancur menjadi debu begitu kau mengalirkan Qi Cair Emas-mu ke dalamnya," analisis Mo Xuan. "Kau butuh senjata yang sangat berat dan tahan banting. Tidak perlu tajam, asalkan tidak hancur saat kau mengayunkannya."

​"Aku mengerti. Senjata yang tajam bisa patah, tapi senjata yang berat akan meremukkan apa saja," balas Lin Chen.

​Paviliun Harta Dalam jauh lebih megah dari Balai Kontribusi. Bangunan lima lantai ini memajang berbagai senjata spiritual, ramuan, dan artefak kuno.

​Begitu Lin Chen melangkah masuk, suasana kembali hening. Reputasinya yang membantai Murid Bintang 9 dan memotong lengan Lei Dong kemarin telah menyebar bagai wabah. Para murid elit menatapnya dengan campuran rasa takut dan penasaran.

​Lin Chen mengabaikan mereka dan langsung berjalan menuju area senjata berat di lantai pertama. Ia menyapu pandangannya melewati deretan kapak raksasa, tombak, dan palu. Namun, saat ia menyentuhnya, senjata-senjata itu terasa terlalu ringan di tangannya, seperti memegang sebatang ranting bambu.

​"Terlalu ringan. Terlalu rapuh," gumam Lin Chen.

​"Tuan Muda Lin sedang mencari senjata berat?"

​Seorang Tetua penjaga berjanggut putih menghampiri Lin Chen dengan senyum ramah. Ia tahu identitas pemuda ini dan tidak berani meremehkannya.

​"Benar, Tetua. Apakah ada senjata yang terbuat dari material berdensitas sangat tinggi? Tidak perlu memiliki formasi ukiran atau atribut sihir. Saya hanya butuh bobot dan ketahanan absolut," jawab Lin Chen.

​Tetua itu mengelus jenggotnya, berpikir sejenak. "Hanya bobot dan ketahanan? Kalau begitu, ada satu benda di sudut gudang kami. Tapi... benda itu bahkan tidak bisa disebut pedang. Dulu, seorang Tetua menemukannya di kawah meteorit. Kami menyebutnya Bilah Besi Bintang Jatuh."

​Tetua itu membimbing Lin Chen ke sudut paling berdebu di balai tersebut. Di atas lantai yang terbuat dari formasi penguat khusus, tergeletak sebuah lempengan besi hitam pekat sepanjang punggung orang dewasa. Bentuknya menyerupai pedang besar, tetapi tidak memiliki gagang yang dilapisi kulit, tidak memiliki pelindung tangan, dan parahnya lagi... tidak memiliki mata pisau. Sisinya tumpul seperti balok besi.

​"Benda ini murni terbuat dari Inti Besi Meteorit," jelas Tetua itu sambil tertawa canggung. "Bobotnya mencapai 80.000 kati (40 ton). Tidak ada formasi sihir yang bisa diukir di atasnya karena materialnya terlalu padat menolak Qi dari luar. Harganya sangat murah, hanya 1.000 Poin Kontribusi, tapi tidak ada satu pun murid yang mau membelinya karena terlalu berat untuk diayunkan dalam pertarungan. Bahkan ahli Inti Emas pun enggan memakainya karena hanya menguras tenaga."

​Mata Lin Chen justru berbinar terang.

​Sebuah senjata yang tidak menolak aliran Qi keras, tidak bisa dihancurkan, dan sangat berat? Ini diciptakan khusus untuk fisik naganya!

​Lin Chen melangkah maju. Ia mengulurkan tangan kanannya dan menggenggam pangkal lempengan besi hitam tersebut.

​Para murid yang menonton dari kejauhan mencibir pelan.

"Apa dia gila? Besi itu berbobot 80.000 kati! Kakak Senior Lei Dong yang berlatih fisik saja tidak bisa mengangkatnya dengan satu tangan!"

"Paling dia akan mempermalukan dirinya sendiri hingga uratnya putus."

​Namun, di bawah tatapan tak percaya semua orang, otot-otot di lengan Lin Chen sedikit menegang, dan...

​Sring!

​Lin Chen mengangkat lempengan besi raksasa itu dengan satu tangan, seringan mengangkat sebilah pedang kayu! Ia bahkan mengayunkannya pelan ke udara.

​WUUUSSS!

​Hanya ayunan pelan tanpa Qi, namun angin yang dihasilkannya menciptakan badai mini di dalam paviliun, menerbangkan debu dan membuat beberapa rak senjata berguncang hebat.

​"Luar biasa..." Tetua penjaga membelalakkan matanya, rahangnya nyaris jatuh menyentuh tanah.

​"Sempurna. Aku ambil ini," Lin Chen tersenyum puas, bersiap mengeluarkan plakat poin kontribusinya.

​"Tunggu!"

​Sebuah suara angkuh memotong dari arah tangga lantai dua. Sekelompok murid elit berjalan turun. Pemimpin mereka adalah seorang pemuda tampan dengan kipas bulu di tangannya. Auranya sangat kuat, memancarkan fluktuasi Ranah Inti Emas Tahap Awal.

​"Itu Kakak Senior Zhao Yan! Tangan kanan Chu Kuangren!" seru salah satu murid dengan panik.

​Zhao Yan melangkah mendekati Lin Chen, menatap balok besi hitam di tangannya dengan tatapan meremehkan.

​"Lin Chen, kudengar kau sangat arogan akhir-akhir ini," Zhao Yan mengipas-ngipas dirinya sendiri. "Benda rongsokan itu... Faksi Naga Sejati berniat membelinya untuk dijadikan pemberat pintu gerbang kami. Letakkan dan pergilah selagi aku masih berbaik hati."

​Ini adalah provokasi murni. Zhao Yan jelas sengaja mencari masalah untuk menekan Lin Chen dan membalaskan dendam Lei Dong.

​Lin Chen menoleh, menatap Zhao Yan sejenak, lalu memanggul balok besi hitam seberat 80.000 kati itu di pundaknya seolah itu hanya handuk mandi.

​"Tetua," panggil Lin Chen, sepenuhnya mengabaikan eksistensi Zhao Yan. "Potong 1.000 poin dari plakatku."

​Merasa diabaikan di depan puluhan murid, wajah Zhao Yan langsung memerah karena amarah. Sebagai ahli Inti Emas, harga dirinya adalah segalanya.

​"Bocah buta yang mencari mati! Beraninya kau mengabaikanku!"

​Zhao Yan menutup kipas bulunya. Fluktuasi Inti Emasnya meledak liar, menciptakan tekanan gravitasi yang membuat murid-murid di sekitarnya jatuh berlutut. Ia melesat maju, mengarahkan kipasnya yang kini dilapisi Qi mematikan lurus ke jantung Lin Chen.

​"Mati!"

​Tetua penjaga berteriak panik, "Jangan membunuh di dalam Paviliun!"

​Tapi Zhao Yan sudah gelap mata. Kecepatannya sangat kilat.

​Namun, di mata Lin Chen yang telah menguasai Langkah Bayangan Iblis, serangan Inti Emas Tahap Awal ini penuh dengan celah konyol.

​Lin Chen tidak menghindar. Ia tidak menggunakan pedang, ia juga tidak menggunakan teknik bela diri yang rumit. Ia hanya memutar pinggangnya dan mengayunkan balok besi hitam di pundaknya layaknya pemukul bola.

​Satu tetes Qi Cair Emas dialirkan ke otot lengannya.

​BAMMMMM!

​Balok besi tumpul seberat 80.000 kati yang diayunkan dengan kekuatan fisik naga murni menghantam telak dada Zhao Yan sebelum kipasnya sempat menyentuh baju Lin Chen.

​Suara tabrakan itu terdengar seperti lonceng kuil raksasa yang dipukul dengan meriam.

​"PFFFTTT!"

​Zhao Yan memuntahkan darah segar bercampur serpihan organ dalamnya. Tubuh ahli Inti Emas yang dibanggakannya melengkung ke belakang. Ia terpental terbang melintasi seluruh ruangan paviliun, menghancurkan pintu utama dari kayu ulin, dan terus melayang keluar hingga menabrak patung pendiri sekte di tengah alun-alun luar paviliun dengan suara dentuman mengerikan.

​KRAK. Patung batu itu retak. Zhao Yan merosot jatuh, pingsan seketika dengan tulang dada hancur total. Pelindung Inti Emasnya bahkan tidak bertahan setengah detik di hadapan kekuatan fisik absolut dan besi meteor.

​Keheningan seketika membekukan Paviliun Harta Dalam. Ribuan mata menatap horor ke arah patung di luar, lalu menatap kembali ke arah Lin Chen yang masih memanggul besi hitamnya dengan santai.

​Hanya satu ayunan senjata tumpul. Seorang ahli Inti Emas Tahap Awal... dikalahkan dalam satu detik!

​Lin Chen menyerahkan plakat poinnya kepada Tetua yang kini berdiri mematung dengan mulut menganga.

​"1.000 poin, Tetua. Transaksi selesai," ucap Lin Chen ramah. Ia kemudian berjalan keluar paviliun, melewati murid-murid Faksi Naga Sejati yang kini gemetar ketakutan hingga mengompol.

​Lin Chen berhenti sejenak di depan tubuh Zhao Yan yang pingsan berdarah. Ia tidak menunduk, hanya menatap ke arah Puncak Naga Sejati di kejauhan.

​"Chu Kuangren," suara Lin Chen tidak keras, namun dilapisi Qi yang membuatnya menggema ke seluruh penjuru Pelataran Dalam. "Katakan pada anjing-anjingmu untuk berhenti membuang waktuku. Jika kau berani, turunlah sendiri ke arena Turnamen Sekte bulan depan. Aku akan memukul kepalamu dengan besi tumpul ini hingga kau sadar siapa yang sebenarnya pantas disebut cacing."

​Pernyataan perang telah dideklarasikan secara terbuka.

​Bukan secara sembunyi-sembunyi, melainkan di tengah siang bolong, menantang murid terkuat Pelataran Dalam di hadapan ribuan pasang mata. Mulai detik ini, tidak ada lagi jalan mundur. Turnamen Sekte Dalam tahun ini dipastikan akan menjadi panggung pertumpahan darah terbesar dalam sejarah Seratus Tahun Sekte Pedang Awan Surgawi.

1
yos helmi
biasanya cerita ng pernah selesai.. putus di tengah jln.. 🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣👍
yos helmi
🤣🤣👍🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🙏🤣👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄👍👍👍👍😄👍😄
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍l👍l👍l👍l👍l👍l💪💪💪ĺ
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪1
yos helmi
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪
Fiktor
mantap alur cerita nya ngak bertele2👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄😄🙏🙏🙏👍👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!