Perhatian!!!
Harap bijak dalam membaca.Terima kasih 🙏 🫶
Elian sang Ice Prime Ministry selalu bersitegang
dengan Lyra the Iron Rose, CEO De La Vega Corporate yang menangani cyber security dan peralatan militer. Namun, siapa sangka keduanya memiliki hubungan terlarang yang sangat panas dan romantis dan penuh tantangan. Dimulai dari perjodohan dengan orang lain yang dilakukan oleh keluarga dan partai mereka, sehingga mereka memiliki misi untuk membatalkan perjodohan. Selain itu pengkhianatan yang dilakukan keluarga mereka sendiri tidak kalah peliknya.
Apak Elian dan Lyra bisa bersatu dan memiliki hidup normal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pakta Silencio
Matahari pagi di Aethelion tidak pernah terasa lembut, ia selalu muncul dengan ketajaman yang seolah-olah ingin menguliti setiap rahasia yang disembunyikan oleh kegelapan malam. Bagi Lyra Selene De la Vega, cahaya yang menembus jendela tinggi Aula Parlemen pagi itu terasa seperti sebuah interogasi biometrik. Hanya delapan jam yang lalu, punggungnya merasakan kasar dan dinginnya dinding beton di tangga darurat Palazzo Valerossa, namun kini ia harus berdiri di depan komite pertahanan nasional dengan postur yang sekeras marmer.
Ia mengenakan setelan jas power suit berwarna abu-abu baja, sebuah warna yang mencerminkan netralitas namun juga kekerasan industri. Rambutnya ditarik ke belakang begitu kencang dalam sanggul formal hingga sudut matanya tampak lebih tajam dari biasanya. Tidak ada jejak Lyra yang mengerang parau semalam. Yang ada hanyalah CEO De la Vega Corporate yang siap bertarung memperebutkan anggaran militer.
"Nona De la Vega, silakan sampaikan poin Anda mengenai efisiensi biaya untuk sistem radar terbaru yang Anda tawarkan," suara itu memotong keheningan ruangan yang dipenuhi oleh pria-pria berseragam militer dan politisi tua.
Lyra mengangkat pandangannya, menatap lurus ke ujung meja oval yang panjang. Di sana, Elian Theron Valerius duduk dengan keanggunan seorang predator yang sedang mengamati mangsanya. Elian mengenakan kemeja biru pucat yang dikancingkan hingga ke leher, lengkap dengan dasi sutra gelap yang sangat rapi. Ekspresinya sangat datar, seolah-olah ia tidak pernah melihat Lyra tanpa pakaian sedikit pun beberapa jam yang lalu. Profesionalisme mereka bukan sekadar sandiwara; itu adalah mekanisme pertahanan hidup.
"Terima kasih, Tuan Perdana Menteri," jawab Lyra, suaranya stabil, dingin, dan sangat profesional. "Proyek Xylos bukan sekadar pengadaan alat pemantau. Ini adalah jantung keamanan Aethelion. Tanpa teknologi enkripsi De la Vega, radar perbatasan kita hanyalah mainan bagi intelijen asing yang bisa diretas dalam hitungan menit."
Perdebatan itu berlangsung selama dua jam yang melelahkan. Elian bersikap sangat menuntut, mempertanyakan setiap detail anggaran dengan ketajaman yang membuat menteri pertahanan di sebelahnya gelisah. Ia menyerang argumen Lyra tanpa ampun, memaksanya untuk membuktikan setiap sen yang diminta. Lyra, sebaliknya, membalas dengan data teknis yang tak terbantahkan, bersikap defensif namun tetap agresif secara intelektual.
Mereka memainkan peran "musuh profesional" dengan sangat sempurna sehingga tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang curiga. Inilah Pakta Silencio—janji untuk tidak pernah membiarkan perasaan mereka mencemari meja perundingan.
"Nona De la Vega, saya masih tidak puas dengan laporan keamanan fisik di gudang senjata Anda," ujar Elian akhirnya, menutup rapat dengan suara palu yang berdebam final. "Saya akan meninjau gudang senjata Anda di Sektor 7 sore ini secara pribadi untuk verifikasi lapangan. Tanpa staf, tanpa media. Hanya pemeriksaan murni."
Lyra mengangguk singkat. "Kami akan menunggu Anda, Tuan Perdana Menteri."
Pukul tujuh malam, Sektor 7, wilayah industri yang biasanya bising dengan suara mesin, kini sudah sepi. Kabut tipis mulai turun dari pesisir, menyelimuti struktur baja gudang senjata De la Vega. Lyra menunggu di dalam bunker terdalam, sebuah fasilitas bawah tanah berteknologi tinggi yang hanya bisa diakses dengan pemindaian retina miliknya.
Begitu pintu baja seberat dua ton terkunci otomatis di belakang Elian, suasana dingin ruang penyimpanan senjata itu langsung menguap. Suara langkah sepatu bot Elian bergema di lantai beton, mendekati Lyra yang berdiri di samping meja kerja logam yang dipenuhi oleh prototipe senapan dan sirkuit elektronik.
Elian melepaskan jasnya dan melemparkannya ke atas peti amunisi kayu dengan kasar. Ia tidak lagi menjadi Perdana Menteri yang dingin, ia adalah pria yang haus akan kehadiran wanita di depannya.
"Tadi pagi di sidang... kamu sangat menyebalkan, Lyra. Hampir saja aku kehilangan kendali saat melihatmu begitu keras kepala di depan komite," ujar Elian, suara baritonnya penuh dengan tekanan emosional.
Lyra menatapnya dengan mata yang berkilat menantang, meski jantungnya berdegup kencang. "Dan kamu butuh pelajaran tentang bagaimana cara menghargai mitra bisnismu, Tuan Perdana Menteri."
Tanpa membuang waktu untuk berdebat lebih lanjut, Elian menarik pinggul Lyra dan mengangkat tubuh wanita itu ke atas meja kerja logam yang keras dan dingin. Lyra bergerak cepat, jemarinya yang lentur namun menuntut mulai membuka kancing kemeja Elian, sementara Elian sudah lebih dulu menyingkap rok span abu-abu Lyra hingga ke pinggang. Pakaian dalam sutra Lyra sudah meluncur jatuh ke lantai beton yang dingin dalam hitungan detik.
Elian mencengkeram pinggul Lyra dengan kekuatan yang posesif, lalu menyatukan tubuh mereka dalam sekali hentak—sebuah penyatuan yang sangat dalam, penuh dominasi, dan terasa seperti ledakan di tengah kesunyian bunker. Lyra mengerang keras, menyandarkan kepalanya ke rak senjata di belakangnya, merasakan kontras antara punggungnya yang mengenai logam dingin dan bagian depannya yang terbakar oleh panas tubuh Elian.
Elian tidak menyia-nyiakan bagian dada Lyra yang terpampang indah di balik kemeja yang kini sudah terbuka lebar. Sambil pinggulnya terus menghentak dengan ritme yang brutal dan konsisten, Elian membungkuk, menyesap, mengulum, dan meremas payudara Lyra dengan gairah yang tak terbendung. Suara decapan basah dan gesekan kulit mereka menjadi satu-satunya bahasa yang nyata di dalam gudang senjata yang sunyi itu.
Elian bergerak maju mundur dengan kecepatan yang membuat Lyra hampir kehilangan kesadaran akan sekelilingnya. Lyra melingkarkan kakinya erat di pinggang Elian, kuku-kukunya mencengkeram bahu pria itu hingga meninggalkan jejak merah sebagai bukti kepemilikannya.
Setelah badai itu mereda, Elian berbisik di ceruk leher Lyra yang masih berkeringat. "Satu bulan, Lyra. Selesaikan proyek itu tepat waktu, atau aku akan menghukummu lebih lama di sini dengan inspeksi yang jauh lebih berat."
Lyra tersenyum tipis, merapikan rambutnya yang berantakan dengan jari yang gemetar. "Jangan mengancamku dengan waktu yang menyenangkan, Elian."
Mereka kembali mengenakan pakaian mereka, memasang kembali topeng "rival politik" mereka, dan keluar dari gudang itu secara terpisah, meninggalkan sisa-sisa panas tubuh mereka terkunci di dalam bunker yang bisu.
lanjutkan kak