Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Retak di Balik Cermin
Jakarta pagi itu terlihat seperti lukisan cat minyak yang belum kering; abu-abu, lembap, dan penuh sesak.
Elena berdiri di balkon hotel penthouse yang dulu merupakan aset sitaan keluarganya, namun kini telah ia beli kembali melalui perusahaan cangkang di Panama.
Di tangannya, sebuah tablet menampilkan berita utama: "Kapal Pesiar Mewah 'The Grand Adiguna' Dinyatakan Hilang di Perairan Pasifik."
Elena menyesap kopi pahitnya. Tidak ada rasa puas.
Hanya ada rasa kosong yang berdengung di telinganya.
"Kau melihat berita itu?" suara Reza terdengar dari ambang pintu.
Ia hanya mengenakan celana jins, memamerkan tato baru di bahunya—sebuah gambar bunga lili yang dililit kawat berduri.
"Adrian sudah jadi santapan hiu, Rez. Harusnya aku senang, kan?" Elena berbalik, menatap kekasihnya itu dengan mata yang tampak jauh lebih tua dari usianya.
"Masalahnya, El, orang seperti Adrian tidak pernah benar-benar mati sebelum kita melihat mayatnya di depan mata," Reza mendekat, mengambil tablet itu dan meletakkannya di meja.
"Dante baru saja menemukan sesuatu yang aneh di manifes kapal itu sebelum tenggelam. Ada satu sekoci yang dilepaskan sepuluh menit sebelum sistem navigasi mereka meledak."
Elena memejamkan mata.
Tentu saja.
Keberuntungan keluarga Adiguna lebih liat daripada nyawa kucing.
"Bukan itu yang paling mengkhawatirkan," lanjut Reza, suaranya merendah.
"Paman Han baru saja menangkap sinyal enkripsi dari seseorang yang mengaku sebagai 'Dewan Pengawas'. Mereka bukan Lazarus, bukan juga Origin. Mereka adalah orang-orang yang selama ini membiayai kakekmu."
"Maksudmu... ada yang lebih tinggi lagi?" Elena merasa mual.
Tiba-tiba, bel pintu apartemen berbunyi.
Bukan suara interkom, melainkan ketukan manual yang berirama. Tok... tok-tok... tok.
Elena dan Reza saling berpandangan.
Itu adalah kode rahasia yang hanya diketahui oleh orang-orang di dalam lingkaran terdalam Sarah.
Namun, Sarah sedang aman di gunung bersama Paman Han.
Elena mencabut pistol Sig Sauer dari balik pinggangnya, sementara Reza meraih pisau komando yang tergeletak di atas meja.
Elena mengintip dari lubang intip pintu.
Di luar berdiri seorang wanita tua dengan rambut perak yang disanggul rapi.
Ia mengenakan kebaya sutra berwarna biru tua, terlihat sangat anggun, seolah-olah ia baru saja keluar dari pesta pernikahan bangsawan Jawa.
"Buka pintunya, Elena. Aku tidak membawa senjata, hanya membawa kenangan," suara wanita itu terdengar sangat tenang, masuk melalui celah pintu.
Elena membuka pintu perlahan. "Siapa Anda?"
"Namaku Ratu. Setidaknya, itulah nama yang diberikan kakekmu padaku lima puluh tahun yang lalu," wanita itu masuk tanpa izin, matanya menyapu ruangan dengan tatapan menilai.
"Aku adalah istri pertama Adiwangsa. Nenek kandungmu yang seharusnya sudah mati di 'kecelakaan' laboratorium tahun 70-an."
Ruang tamu yang mewah itu mendadak terasa sempit.
Ratu duduk di sofa beludru, gerakannya begitu gemulai namun penuh otoritas.
"Ibu tidak pernah bercerita tentang Anda," ucap Elena, tangannya masih siaga di gagang pistol.
"Sarah tidak tahu. Adiwangsa memalsukan kematianku karena aku menolak rencana besarnya untuk menciptakan manusia super. Dia mengurungku di sebuah sanatorium di pegunungan Swiss selama empat puluh tahun," Ratu menatap Elena, dan untuk pertama kalinya, Elena melihat pantulan dirinya sendiri yang lebih tua.
Mata yang penuh dengan api pemberontakan.
"Lalu kenapa sekarang? Kenapa Anda muncul saat semuanya sudah hancur?" tanya Reza curiga.
"Karena Adrian tidak tenggelam, anak muda. Dia menuju ke sebuah pulau terpencil di Kepulauan Seribu yang disebut Pulau Bayangan. Di sana, ada fasilitas terakhir yang bahkan Adiwangsa pun tidak tahu.
Sebuah fasilitas yang dirancang untuk satu tujuan: melakukan transfer kesadaran AI Lazarus ke subjek hidup secara permanen."
Elena teringat rasa sakit di tengkuknya saat chip itu dicabut.
"Dia mau memakainya untuk dirinya sendiri?"
"Tidak," Ratu menggeleng. "Dia butuh tubuh yang secara genetik kompatibel. Dia menuju ke sana untuk menjemput Leo."
Elena merasakan amarah yang murni membakar dadanya.
Leo—pemuda malang yang baru saja ia bebaskan, anak Adrian yang hanya ingin hidup tenang.
Siska mungkin sudah gila, tapi Leo tidak pantas menjadi wadah bagi ego Adrian yang haus kekuasaan.
"Kita berangkat ke Pulau Bayangan," ujar Elena tanpa ragu.
"El, itu jebakan maut. Siska dan Leo pasti sudah di sana, dan Adrian akan menggunakan mereka sebagai umpan," peringat Reza.
"Aku tidak peduli, Rez. Aku membiarkan Leo hidup karena aku ingin siklus ini berhenti. Kalau Adrian menyentuhnya, maka aku gagal sebagai manusia."
Mereka berangkat malam itu juga menggunakan speedboat hitam yang tidak terdeteksi radar.
Laut Jawa sedang mengamuk, ombak besar menghantam kapal mereka berkali-kali, seolah-olah alam pun melarang mereka untuk mendekati pulau terkutuk itu.
Pulau Bayangan hanyalah sebuah titik kecil di peta, dikelilingi oleh karang tajam yang bisa merobek lambung kapal dalam sekejap.
Di tengah pulau, berdiri sebuah mercusuar tua yang puncaknya memancarkan cahaya ungu yang aneh—cahaya yang sama dengan yang Elena lihat di laboratorium bawah laut.
"Dante, kau masuk?" tanya Elena lewat radio satelit.
"Sinyalnya lemah, El! Ada gangguan elektromagnetik berat di sini. Tapi aku bisa melihat denah bangunannya. Fasilitas itu ada di bawah mercusuar, tertanam di dalam karang purba," suara Dante terdengar pecah-pecah.
Elena, Reza, dan Ratu mendarat di sisi timur pulau.
Mereka merayap menembus hutan bakau yang pekat.
Suasana sangat sunyi, terlalu sunyi untuk sebuah fasilitas rahasia.
Saat mereka mencapai pintu masuk beton di dasar mercusuar, pintu itu terbuka secara otomatis.
"Dia tahu kita datang," bisik Reza.
Mereka masuk ke dalam lorong yang dindingnya terbuat dari kaca tebal, memperlihatkan pemandangan bawah laut yang gelap.
Di ujung lorong, di sebuah ruangan bundar yang penuh dengan kabel dan tabung oksigen, Adrian Adiguna berdiri.
Wajahnya hancur setengah, kulitnya terbakar hebat akibat ledakan di kapal pesiar, tapi matanya... matanya bersinar dengan cahaya digital biru yang mengerikan.
Di sampingnya, Leo terikat di sebuah kursi logam, kabel-kabel menempel di kepalanya. Siska tergeletak di lantai, pingsan atau mungkin sudah mati.
"Selamat datang di perjamuan terakhir, Putriku," suara Adrian bukan lagi suara manusia, melainkan campuran dari ribuan frekuensi mesin.
"Lepaskan Leo, Adrian! Ini sudah berakhir!" teriak Elena, senjatanya terarah tepat ke jantung ayahnya.
"Berakhir? Tidak, Elena. Ini adalah awal dari keabadian," Adrian tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan logam.
"Lazarus bukan sekadar AI. Ia adalah evolusi. Dan Leo memiliki sel saraf yang lebih muda, lebih murni daripada milikmu.
Ia akan menjadi tubuhku yang baru, dan kau... kau akan melihat bagaimana ayahmu memerintah dunia ini selamanya."
Adrian menekan sebuah tombol.
Cahaya di ruangan itu menjadi sangat terang.
Leo mulai berteriak kesakitan, tubuhnya mengejang hebat saat data mulai dipaksa masuk ke dalam otaknya.
"REZ! URUS PARA PENJAGA! AKU AKAN MENGHENTIKANNYA!"
Elena menerjang Adrian. Pertarungan itu tidak seimbang.
Adrian, meskipun terluka, memiliki kekuatan mekanis di lengan kirinya yang sudah diganti dengan prostetik canggih.
Ia melempar Elena ke dinding kaca seolah-olah Elena tidak berbobot.
"Kau gagal, Elena! Kau memilih menjadi manusia yang lemah!" Adrian mencekik Elena dengan lengan logamnya.
Di saat kritis itu, Ratu melangkah maju.
Ia tidak membawa pistol.
Ia membawa sebuah alat kecil berbentuk cakram—sebuah Kill-Switch kuno yang ia simpan selama empat puluh tahun.
"Adiwangsa membuat kesalahan dengan mencintaimu, Adrian. Tapi aku tidak akan membuat kesalahan yang sama," ucap Ratu dingin.
Ratu menempelkan cakram itu ke lantai logam.
Seketika, gelombang kejut berwarna putih melesat keluar, mematikan seluruh aliran listrik di fasilitas itu.
Cahaya biru di mata Adrian padam. Sistem transfer di kepala Leo terhenti.
Dalam kegelapan total, Elena berhasil meraih belati keramiknya dan menusukkannya tepat ke sambungan leher prostetik Adrian.
"Ini... untuk Ibu," bisik Elena.
Adrian tersedak, oli hitam bercampur darah keluar dari mulutnya.
Ia menatap Elena dengan sisa-sisa kesadaran manusianya sebelum akhirnya matanya meredup permanen.
Mercusuar itu mulai bergetar hebat.
"Sistem penghancuran diri aktif! Kita harus keluar!" teriak Dante lewat earpiece yang tiba-tiba berfungsi kembali.
Elena melepaskan ikatan Leo. Pemuda itu masih bernapas, meskipun sangat lemah.
Reza membopong Siska yang ternyata masih hidup.
Ratu berdiri di depan jenazah Adrian, menatapnya dengan kesedihan yang mendalam.
"Pergilah, Elena. Bawa mereka semua. Aku akan tetap di sini," ujar Ratu.
"Nenek, tidak! Kita bisa keluar bersama!"
"Aku sudah mati lima puluh tahun yang lalu, Sayang. Tugasku sudah selesai saat aku melihatmu berdiri tegak melawan mereka. Sekarang, hiduplah untuk kita semua."
Ratu menutup pintu kedap air dari dalam, memisahkan dirinya dari Elena.
Elena hanya bisa menatap wajah neneknya untuk terakhir kali sebelum mercusuar itu meledak dalam bola api raksasa yang menerangi langit malam Laut Jawa.
Satu bulan kemudian.
Elena berdiri di puncak bukit di belakang Joglo, namun kali ini bukan di Merapi.
Mereka telah pindah ke sebuah wilayah rahasia di Kalimantan, di tengah hutan hujan yang belum terjamah.
Leo duduk di dekat aliran sungai, menggambar di atas buku sketsanya.
Siska berada di sebuah fasilitas rehabilitasi mental yang jauh lebih manusiawi di Bali.
Paman Han dan Sarah sedang sibuk mengatur sistem pengairan untuk kebun baru mereka.
Reza mendekati Elena, membawakannya secangkir kopi hitam.
"Dante bilang, semua jejak Lazarus sudah benar-benar musnah. Dunia mengira keluarga Adiguna sudah punah dalam ledakan di mercusuar itu."
Elena menyesap kopinya, merasakan pahit yang nyata di lidahnya. "Kita bukan Adiguna lagi, Rez."
"Lalu, siapa kita?"
Elena menatap hutan hijau di depannya.
Tidak ada lagi kode, tidak ada lagi AI di kepalanya, tidak ada lagi bayang-bayang ayah atau kakeknya.
Hanya ada dia, seorang wanita yang telah menempuh perjalanan dari jurang kematian menuju puncak kebebasan.
"Kita adalah orang-orang yang beruntung," jawab Elena sambil tersenyum.
"Dan kita adalah orang-orang yang tidak akan pernah menoleh ke belakang lagi."
Di bawah sinar matahari Kalimantan yang hangat, Sang Nyonya yang Terbuang akhirnya berhenti menjadi legenda.
Ia telah menjadi manusia sepenuhnya.
Dan baginya, itu adalah kemenangan yang paling agung.
Bersambung..
Ayo buruan baca...