NovelToon NovelToon
Cintai Aku Sekali Lagi

Cintai Aku Sekali Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Berbaikan
Popularitas:21.8k
Nilai: 5
Nama Author: moon

WARNING! Sebelum mulai membaca, tolong baca tagar dahulu. Karena di sini area bebas JULID, dilarang mengomel hanya karena keinginan Anda tak sejalan dengan pemikiran Author.



Cinta itu menuntun dirinya untuk membuat keputusan paling kejam, memilih satu diantara dua wanita. Di antara tangis dan perih dua wanita yang lain, ia tetap mempertahankan wanita yang ia cinta.


Setelah keinginan diraih, takdir kembali lancang menuliskan jalannya tanpa permisi. Sekali lagi ia kehilangan, tapi kali ini untuk selamanya.


Terombang ambing dalam amarah, serta sempat menjauh dari-Nya. Tapi sepasang tangan kecil tetap meraih dirinya penuh cinta, tulus tanpa berharap imbalan jasa.


Apakah tangan kecil itu mampu menuntun Firza kembali ke jalan-Nya?


Lantas bagaimana dengan dua wanita yang pernah disakiti olehnya?


Mampukah Firza memantapkan hatinya pada cinta yang selama ini terabai oleh keegoisannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#9

#9

“Yayah pergi kerja dulu, ya, Sayang?” bisik Firza pada putranya, telapak tangannya mengusap tubuh mungil yang kini memeluk manja lehernya, pelukan Abizar yang terasa begitu erat, seolah-olah tak ingin beranjak apalagi ditinggalkan. 

Beberapa waktu kebelakang, Abizar mulai merasakan bahwa kedua orang tuanya sedang tidak harmonis. Meski tak ada keributan, tapi justru perang dingin itulah yang membuat Abizar merasa bahwa rumah yang sebelum-sebelumnya terasa hangat, mendadak sunyi, sepi dan dingin. 

“Sama Mama, yuk. Kita jalan-jalan sambil makan, mau, ya?” 

Ersha ikut membujuk, tapi Abizar tetap pada keinginannya. Wajah bocah itu begitu sendu, sesekali ia sesenggukan karena sudah sejak bangun tidur mulai rewel, tak mau lepas dari gendongan ayahnya. 

Batin Ersha ikut menangis sedih, ketika membayangkan apa yang Abizar rasakan. Dirinya memang tak tak pernah menunjukkan tangis di hadapan Abizar, atau bahkan Firza sekalipun. Tapi di lubuk hatinya yang paling dalam, ia menjerit pilu, menahan sakit yang tak bisa digambarkan seperti apa rasanya. 

Rumah tangganya masih terombang-ambing tanpa arah di lautan lepas, dan ia seperti penumpang kapal yang menjerit meminta pertolongan. Namun, sang nahkoda belum juga melakukan tindakan atau pencegahan  apapun agar kapal dan seluruh penumpangnya selamat. 

Firza kembali melirik jam di pergelangan tangannya, ada rapat yang harus ia pimpin beberapa saat lagi, sementara ia sendiri belum tega melepaskan putranya yang masih erat menempel di pelukannya. 

“Sini, Bang. Berikan padaku, Abang sudah sangat terlambat, kan?”

Firza mengangguk, lalu berbisik di telinga Abizar. “Abi, suka es krim banana, kan? Nanti pulang kerja, Yayah belikan. Mau?” 

Abi mengangguk pelan, isaknya masih terdengar, kedua matanya pun masih berkaca-kaca. “Mau apa?” ulang Firza.

“Nana,” jawab Abi lucu. 

“Good, es krim banana. Nah, sekarang, Yayah pergi kerja dulu, boleh?” 

Abizar kembali menangis, dan menggeleng, “Yayah, da mau—”

Tapi, tak ada pilihan, karena mau tak mau, acara perpisahan penuh drama itu harus segera diakhiri. 

Akhirnya dengan berat hati, Firza melepas pelukan putranya, lalu membiarkan Ersha mengambil alih Abizar dari pelukannya. “Ayah janji akan pulang cepat hari ini, lalu kita beli es krim sama-sama.”

“Tuh, dengar, kan. Nanti sore Ayah pulang cepat, sekarang Abi sama Mama dulu, ya?” 

Tak perlu menunggu Firza pergi dengan mobilnya, karena Abi akan semakin histeris bila ia tetap berada di sana. Maka Ersha segera berlalu, kembali masuk ke dalam rumah. 

Merasa ditinggalkan, Firza hanya bisa menghela nafas. Ekspresi wajahnya terlalu rumit untuk dipahami, jelas sekali bahwa ia pun bimbang. Dititik ini Firza tak tega ketika mendengar tangis Abizar serta wajah Ersha yang belakangan tak pernah lagi menampilkan senyuman. Tapi disisi lain, keegoisan dalam dirinya tetap menuntut untuk dipenuhi rasa inginnya. 

Akhirnya ia pun berbalik, sambil berjalan ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu menghubungi seseorang. “Ini aku—” 

Brak! 

Pintu mobil ditutup dan suara mesin mobil yang di starter mulai terdengar. 

•••

Siang harinya. 

“Jadi begitu, ya. Ada lagi yang ingin kalian tanyakan?” 

Firza baru saja selesai menjelaskan tentang kelanjutan proyek baru HudaTex pada masing-masing kepala bagian. Selanjutnya mereka yang akan mengerjakan tugas dalam proyek yang sudah mereka gagas sebelumnya. tersebut. 

“Paham, Pak.” 

“Mengerti, Pak.” 

“Siap laksanakan, Pak!”

“Bagus, pastikan membuat laporan secara berkala, agar ada deteksi dini bila kesalahan terjadi.” 

Semua orang mengangguk, seraya membereskan peralatan dan buku catatan  mereka masing-masing. “Baik, dengan demikian saya akhiri rapat dan koordinasi siang ini. Silahkan istirahat makan siang.” 

Setelah rapat di bubarkan, mereka mulai meninggalkan ruangan satu-persatu. Firza kembali memeriksa ponselnya, jawaban pesan yang ia tunggu sudah masuk sejak satu jam yang lalu. 

Tanpa membalas pesan tersebut, Firza bergegas menyusul rekan kerjanya yang lain, meninggalkan ruangan rapat. 

•••

Di tempat lain Miranda tergopoh-gopoh meninggalkan ruang sidang, setelah pembacaan putusan selesai. Rok span dengan high heels cukup menyulitkan langkahnya, tapi mau bagaimana lagi, itu adalah pakaian formal terbaik menurutnya. Ia bisa tampil elegan sekaligus memukau di ruang sidang. 

Tiba di mobil ia akan mengganti sepatunya dengan sendal jepit yang nyaman, supaya jari-jari kakinya bisa bergerak leluasa, setelah terkungkung beberapa jam. 

Ponselnya berdering, “Iya, Er. Aku tiba sebentar lagi, maaf, baru keluar dari ruang sidang.” 

“Gak, papa, aku santai, kok. Kamu jangan ngebut bawa mobilnya.” 

“Oke, sia— p—”

Panggilan berakhir. “Sial! Setiap buru-buru, kenapa selalu ada tragedi.” 

Miranda keluar dari mobilnya, bumper mobilnya menyerempet mobil yang parkir di sebelahnya, meski hanya goresan kecil, dan tipis. Miranda tak melarikan diri begitu saja, ia memotret bagian mobil yang tergores, serta posisi kedua mobil tersebut, lalu menyelipkan pesan di secarik kertas, tak ketinggalan nomor ponselnya. 

“Maaf, ya, Pak. Tapi saya sedang buru-buru,” bisiknya seorang diri, sebelum masuk mobil. 

Miranda kembali melaju, menuju tempat ia janji bertemu dengan Ersha, dan Abizar juga pastinya. Kangen sekali dengan bocah gembul menggemaskan itu. 

Hanya 10 menit mengemudi, Miranda sudah tiba di tempat mereka janji bertemu. Sebuah family resto, yang suasananya sangat hommy, sengaja Ersha memilih tempat tersebut, karena ia membawa Abizar bersamanya. 

“Abi— Onty Mimi datang—” sapa Miranda dengan riang, ia meletakkan tas kerjanya di dekat Ersha, lalu menghampiri Abizar yang sibuk bermain perosotan mini. “Cini, cini, cini, Onty kangen,” katanya ketika Abi berada di pelukannya. 

“Kok, kamu makin kuyus, Sayang,” cebik Miranda. 

“Lagi nggak suka banget dipaksa makan, dia marah, kalau aku paksa atau bujuk untuk makan,” jawab Ersha mewakili putranya yang tentu tak bisa mengatakan apa-apa. 

Miranda membawa Abi ikut duduk di pangkuannya, wanita itu merogoh tas kerjanya, “Onty punya mobil-mobilan kecil buat Abi.” 

Dan Abi kecil yang lucu menunggu dengan sabar, seolah paham bahwa ia akan diberi hadiah. 

“Tada—” Dua buah mobil mainan, Miranda berikan pada Abizar, mobil itu hasil keisengan dia membeli makan siang, atau kapanpun ia mendatangi fast food, sengaja memilih menu kids meal berhadiah mainan. Entahlah, sebatas suka saja. 

Beberapa saat kemudian, Abizar sibuk bermain dengan mobil-mobilan barunya. Sementara Ersha mulai terlibat obrolan serius dengan Miranda. 

“Sebenarnya, aku ingin minta tolong padamu.” 

Miranda menyeruput juice sirsaknya. “Kita tolong apa? Serius sekali wajahmu.” 

Kedua tangan Ersha mulai bergerak-gerak  gelisah, meremas tisu, bahkan membetulkan letak kerudungnya yang baik-baik saja. “Sebenarnya—”

“Apa, sih? Jangan bikin aku takut, dong.” 

Ersha tersenyum canggung, sesekali menggigit bibirnya dengan gelisah. Tapi, pada akhirnya ia harus cerita juga, “Mungkin, aku dan Bang Firza akan berpisah, Mir.” 

Sejenak Miranda merasa dunianya ikut berhenti sejenak, bertahun-tahun berprofesi sebagai pengacara yang spesialisasinya mendampingi pasangan yang akan berpisah, sampai kapanpun Miranda tak akan pernah siap mendengar kabar perpisahan dari rumah tangga Firza dan Ersha. 

Kedua mata Ersha yang sejak semula sudah berkaca-kaca, akhirnya tumpah juga. Tapi Miranda tak mau gegabah, melarang, atau menyetujui, “Why, Er? Why? Aku lihat kalian harmonis, loh.” 

“Bang Firza— belum bisa melupakan masa lalunya bersama mantan kekasihnya.” 

Miranda menghembuskan nafasnya ke udara, ini berita paling mengejutkan di abad ini. Firza adalah orang paling tenang dan kalem di antara mereka bertiga, Biru, dan Miranda. Misteri hubungannya dengan kekasihnya di masa lalu pun, ia sembunyikan rapat-rapat. Jadi Miranda, pun, tak tahu banyak tentang mantan kekasih Firza yang dulu tiba-tiba menghilang. 

“Kamu serius, Er? Ini pernikahan kalian, loh, yang dipertaruhkan. Bukan hubungan pacaran.” 

“Aku tahu, Mir, dan aku juga sudah coba bicara dari hati ke hati dengan Bang Firza. Tapi, kami belum menemukan solusi, jadi aku pun masih menunggu keputusan darinya.” 

Ersha memegang tangan kiri Miranda, “Yang ingin aku konsultasikan hanya kemungkinan, iya, atau tidak nantinya. Aku butuh bicara dengan orang yang kupercaya dan orang yang mengerti tentang seluk beluk perceraian secara hukum. Dan orang itu hanya kamu, please—” 

1
Patrick Khan
semoga niat jahat resa keduluan end tamat modar😂😂😂ahh jahatnya q😂🔪
Inarrr Ulfah
jagn mati dulu ya sa,,pengen liat aja kamu kejang2 liat er dapt yg lebih dari si Firza,dan semoga Firza gila talak...
Anonim
balikan????? gak seru ah
Hasanah Purwokerto
Aku ketularan bang Ahtar,,senyum senyum sendiri...😄😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Tuh bang Ahtar...ada jalan buat pe de ka te,,,manfaatkan...🤣🤣🤣🤣🤣
Hasanah Purwokerto
/Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Hasanah Purwokerto
Cieeeee..yg lagi modus...😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Busuk hati bgt si Resha
Hasanah Purwokerto
Ersha bukan kamu ya,,yg hobinya merusak rumah tangga orang,,kamu tuh yg sukanya sm suami orang...😡👊👊👊
Hasanah Purwokerto
Maaf cuma dimulut saja
Hasanah Purwokerto
Ga akan bahagia kalian..
Hasanah Purwokerto
Setan berwujud manusia itu Er..
Hasanah Purwokerto
Cih....sundel bolong....pake pura pura
Hasanah Purwokerto
Maafmu ga ada guna Fir..
Hasanah Purwokerto
Biarin Firza sendirian..ga usah diajak ngobrol..
Hasanah Purwokerto
Preeeetttt laaaahhhj
Hasanah Purwokerto
Ersha ga melarang,,tp kamu yakin,,? Resha akan membiarkanmu pergi menemui Abizar..?
Hasanah Purwokerto
Tetap semamgat ya Rs...masa depanmu msh panjang,,semoga lebih cerah dr sblmnya...
Hasanah Purwokerto
Smg Ersha berjodoh dg Atar..
toh sama" single
Hasanah Purwokerto
Resha culas,,bermuka dua...😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!