Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12 bara api gagak emas dan dentuman pedang berat
Langkah kaki Yan Xinghe menggema pelan menyusuri lorong batu berukir kembali menuju Paviliun Bambu Hijau. Angin pagi yang berhembus membawa aroma embun dan bunga persik, sangat kontras dengan hawa pembunuhan yang baru saja ia lepaskan di Aula Penerimaan Utama. Hancurnya wibawa Jian Kuang dan pelarian Mu Yunfei bagaikan melempar batu besar ke dalam danau yang tenang; riaknya akan segera berubah menjadi gelombang pasang yang menerjang Paviliun Awan Putih.
Xinghe menyadari hal tersebut sepenuhnya. Menginjak kesombongan sekte besar adalah cara tercepat memancing para tetua mereka keluar dari sarang. Mengapa ia melakukannya? Karena menunggu musuh bersiap adalah taktik orang bodoh. Memancing mereka menyerang saat emosi sedang kacau adalah seni perang sesungguhnya.
Setibanya di pelataran paviliun tamu, ia melihat Qingshan masih berlatih dengan tekun. Keringat membasahi seluruh tubuh pemuda kekar itu. Xinghe mengangguk puas melihat kakaknya tidak membuang waktu sedetik pun.
"Kakak, berhentilah sejenak," panggil Xinghe seraya melepas ikatan kain kanvas dari punggungnya, membiarkan bongkahan *Meteorit Bintang Kegelapan* itu menghantam tanah marmer.
*DUAAR!*
Lantai marmer putih yang tebal itu langsung retak membentuk jaring laba-laba seketika batu logam itu menyentuhnya. Qingshan terlonjak kaget, matanya membelalak menatap benda yang terbungkus kain tersebut. Ia bisa merasakan tekanan fisik yang mengerikan hanya dari suara jatuhnya.
"Apa itu, Xinghe? Kelihatannya sangat berat," tanya Qingshan, mengelap keringat di dahinya dengan handuk.
"Senjata baruku," jawab Xinghe singkat. "Mulai hari ini, kau harus menggunakan benda ini untuk melatih kuda-kudamu. Angkat benda ini dan pertahankan posisi *Harimau Menahan Bumi* selama setengah jam setiap pagi. Jika kau berhasil menyeimbangkan pusaran elemen tanahmu saat memikul beban seberat ini, kau akan menembus Tingkat Ketiga dalam waktu kurang dari sepekan."
Qingshan mengangguk mantap. Ia berjalan mendekati balok logam tersebut, meludah ke telapak tangannya, lalu mencengkeram gagang kulit yang dibuat Xinghe semalam. Dengan raungan keras, Qingshan mengerahkan seluruh energi Tingkat Keduanya. Urat-urat di lengan dan lehernya menonjol seukuran tali tambang. Wajahnya memerah padam.
Bongkahan logam itu hanya bergeser dua inci dari lantai sebelum akhirnya jatuh kembali dengan bunyi berdebum yang memekakkan telinga. Qingshan jatuh terduduk, napasnya tersengal parah, kedua lengannya gemetar mati rasa.
"Ini... ini mustahil! Beratnya ribuan kati!" keluh Qingshan, tidak memercayai tenaga kasarnya sama sekali tidak berguna.
"Tidak ada yang mustahil. Kau hanya mencoba mengangkatnya menggunakan otot. Gunakan esensi tanah dari Dantianmu, alirkan melalui kakimu, jadikan bumi sebagai penopangmu, bukan punggungmu," instruksi Xinghe dengan sabar. Ia tahu proses ini akan sangat menyiksa, jalan kultivasi tidak pernah menjanjikan kenyamanan.
Tepat saat Qingshan bersiap mencoba kembali, suara langkah kaki yang halus dan ritmis terdengar dari arah gerbang pelataran.
Lin Muxue melangkah masuk, kali ini tidak didampingi oleh Hua Qingying. Di sebelahnya berjalan seorang wanita yang penampilannya sangat mencolok. Usia wanita itu tampaknya menginjak akhir dua puluhan. Ia mengenakan gaun merah ketat yang menonjolkan lekuk tubuhnya, belahan gaunnya terbuka tinggi memamerkan kaki jenjang yang dibalut sepatu bot kulit naga tanah. Rambut hitamnya diikat tinggi, dihiasi sebuah jepit rambut berbentuk palu godam berukuran miniatur. Kulitnya tidak seputih Muxue, melainkan berwarna sawo matang yang eksotis dan memancarkan kilau sehat.
Yang paling menonjol dari wanita ini adalah auranya. Ada hawa panas yang menyengat menguar dari tubuhnya, menandakan penguasaan elemen api tingkat tinggi.
"Penatua Yan," Muxue memberi salam hormat. "Maaf mengganggu waktu istirahat Anda. Saya membawa seseorang yang sangat ingin bertemu dengan Anda."
Xinghe menatap wanita berbaju merah itu dengan tenang. Mata wanita itu berkilat penuh rasa penasaran yang tidak ditutup-tutupi. Ia menatap Xinghe dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu tatapannya jatuh pada bongkahan logam di dekat Qingshan.
"Perkenalkan, ini Penatua Su Lianyue," Muxue menunjuk wanita di sebelahnya. "Beliau adalah Kepala Master Penempa Paviliun Awan Putih. Satu-satunya orang di kota ini yang mampu menciptakan senjata spiritual tingkat menengah dengan tingkat keberhasilan tinggi."
Su Lianyue melangkah maju, senyum menggoda tersungging di bibirnya. "Jadi, kau pemuda misterius yang menjinakkan racun Ketua Lin dan membuat si sombong Jian Kuang kencing di celana pagi ini? Auramu sangat tenang, nyaris seperti danau mati. Mengagumkan."
Xinghe tidak membalas pujian murahan tersebut. "Apa keperluan Master Penempa datang kemari?"
Su Lianyue tidak tersinggung oleh nada dingin Xinghe. Sebaliknya, ia berjalan mendekati *Meteorit Bintang Kegelapan* yang tergeletak di lantai. Matanya berbinar layaknya seorang kolektor menemukan harta karun yang hilang.
"Nona Muxue memberitahuku bahwa kau mengambil bongkahan rongsokan dari perbendaharaan inti semalam. Logam hitam itu sudah bertahun-tahun membuatku frustrasi. Api spiritualku yang paling panas pun gagal melelehkan permukaannya. Saat kudengar kau menggunakannya untuk menangkis Niat Pedang Jian Kuang tanpa tergores sedikit pun, aku harus melihatnya sendiri," jelas Lianyue antusias.
Wanita itu membungkuk, tangannya yang lentik menyentuh kain kanvas pembungkus senjata tersebut. Seketika itu juga, hawa panas meledak dari telapak tangannya. Lianyue bermaksud mencoba mengangkatnya menggunakan energi Tingkat Kedelapan Penyempurnaan Tubuh miliknya.
*Cring!*
Baru saja tangannya mencengkeram kuat gagang pedang tersebut, sebuah tolakan energi statis berwarna ungu menyambar jari-jarinya. Lianyue terkesiap dan menarik tangannya dengan cepat. Ia menatap telapak tangannya yang memerah, lalu beralih menatap Xinghe dengan pandangan ngeri bercampur takjub.
"Kau... menanamkan segel guntur internal ke dalam logam ini?" Lianyue menelan ludah. "Bagaimana mungkin? Benda ini menolak segala bentuk energi fana!"
"Logam sejati tidak tunduk pada api yang lemah, ia hanya merespons tekanan yang lebih kuat dari dirinya sendiri," jawab Xinghe mendikte, layaknya seorang guru memberi tahu murid magang. Jawaban itu membuat harga diri Lianyue sebagai master penempa tertantang, fakta di depannya tidak bisa dibantah. Logam itu telah menjadi milik eksklusif pemuda ini.
Muxue mengambil alih percakapan sebelum ego Su Lianyue meledak. "Penatua Yan, Turnamen Aliansi Pedagang tinggal menyisakan waktu dua puluh hari. Kehadiran Anda hari ini telah mengubah peta konflik. Keluarga Mu dan Sekte Pedang Angin Musim Gugur tidak akan bertarung secara adil di arena nanti. Mereka pasti akan mengirim pembunuh bayaran atau menyabotase persiapan kita."
"Aku membutuhkan ruang tempa bawah tanah yang memiliki aliran Api Bumi (Earth Fire) alami," potong Xinghe secara tiba-tiba, menyimpang dari kekhawatiran politik Muxue. Matanya menatap langsung pada Su Lianyue. "Bongkahan logam ini terlalu tumpul. Aku harus merangsang intinya agar resonansi petirku bisa mengalir dengan lancar. Jika aku menggunakan benda ini dalam kondisinya saat ini untuk bertarung di turnamen, aku hanya akan membuang-buang tenaga."
Lianyue mengerutkan dahi. "Ruang tempa utamaku memiliki formasi penarik Api Bumi terbaik di kota ini. Kau boleh menggunakannya. Sayangnya, Api Bumi biasa tidak akan cukup untuk memanaskan logam yang bahkan menolak api spiritualku. Kau membutuhkan katalisator dengan suhu ekstrem, sesuatu yang berada di luar elemen api standar."
Xinghe terdiam. Pemahaman alkimia dan penempaannya di masa lalu berada di tingkat dewa, ia sadar batas tubuh fana dan sumber daya saat ini sangat mengekang. Menggunakan energi petirnya sendiri secara terus-menerus untuk melebur material kosmik itu akan menghabiskan esensi umurnya.
"Apakah ada pelelangan atau pasar gelap yang sedang beroperasi dalam waktu dekat?" tanya Xinghe menyusun rencana.
Muxue dan Lianyue saling bertukar pandang.
"Pasar Gelap Tiga Malam," jawab Lianyue dengan nada rendah. "Itu adalah bursa pertukaran rahasia yang diadakan di distrik bawah tanah kota, dijaga oleh Asosiasi Naga Bayangan. Tempat berkumpulnya para penjarah makam, pemburu harta karun, dan kultivator buronan. Malam ini adalah malam kedua. Kudengar ada sebuah rumor bahwa seorang perampok makam berhasil membawa keluar sebuah *Bara Api Gagak Emas* dari Reruntuhan Gurun Kematian."
Mata Xinghe berkilat setajam silet. *Bara Api Gagak Emas*. Di kehidupan sebelumnya, Gagak Emas adalah binatang suci yang cahayanya menerangi ribuan benua. Di alam fana ini, bara api tersebut pastilah sisa-sisa percikan dari garis keturunan binatang buas tingkat tinggi yang membusuk ribuan tahun lalu. Meski hanya berupa sisa percikan, panas purbanya jauh melampaui api spiritual biasa.
Katalisator yang sangat sempurna.
"Bawa aku ke sana malam ini," putus Xinghe tanpa kompromi.
"Tempat itu sangat berbahaya," Muxue memperingatkan dengan nada cemas. "Hukum Kota Awan Mengambang tidak berlaku di sana. Pembunuhan dan perampasan barang lelang setelah acara selesai adalah hal yang lumrah. Keluarga Mu pasti juga mengirim utusan mereka ke sana untuk mencari senjata tambahan."
"Seekor singa tidak pernah khawatir apakah ada sekawanan hyena di tempatnya minum air," sahut Xinghe, berbalik memunggungi kedua wanita itu. "Siapkan seratus ribu koin emas dari perbendaharaan. Jika emas tidak cukup menyelesaikan masalah, aku memiliki bahasa lain yang lebih mudah dipahami oleh para hyena tersebut."
Malam merengkuh Kota Awan Mengambang. Di permukaan, jalanan dipenuhi lampion indah dan tawa para bangsawan yang bersantai. Di kedalaman tanah, di balik lorong-lorong gorong-gorong rahasia di distrik selatan, sebuah dunia lain bernapas dengan rakus.
Pasar Gelap Tiga Malam adalah sebuah gua buatan raksasa yang disangga oleh pilar-pilar batu hitam. Ratusan tenda kecil dan lapak kayu berdiri acak, menjual segala macam barang terlarang: mulai dari teknik kultivasi aliran sesat, organ monster spiritual yang dilarang diburu, hingga budak-budak dengan 체질 (konstitusi tubuh) khusus. Bau arak murahan, keringat, dan darah basi memenuhi udara pengap tersebut.
Yan Xinghe berjalan menyusuri lorong kumuh itu mengenakan jubah hitam, wajahnya setengah tertutup oleh caping bambu lebar. Di sampingnya, Su Lianyue berjalan dengan langkah percaya diri. Wanita penempa itu mengenakan jubah sutra tertutup yang menyembunyikan lekuk tubuhnya, dan sebuah topeng perak menutupi separuh wajahnya. Sebagai ahli penempa tersohor, Lianyue sering mengunjungi tempat kotor ini untuk berburu material langka, ia sangat mengenal seluk-beluk lokasinya.
Balok *Meteorit Bintang Kegelapan* milik Xinghe terselubung rapat di punggungnya. Setiap langkahnya menancap mantap di lantai batu berlumut, tidak meninggalkan celah bagi ratusan mata buas yang mengawasi mereka dari dalam bayang-bayang.
"Pelelangan utamanya diadakan di Aula Tengkorak di ujung gua," bisik Lianyue, bergeser mendekati Xinghe. "Gunakan token VIP ini. Paviliun Awan Putih memiliki akses ke ruang pribadi di balkon atas."
Mereka berdua melewati gerbang baja yang dijaga oleh dua praktisi berwajah garang dengan tingkat kultivasi Penyempurnaan Tubuh Tingkat Keenam. Melihat token VIP berukir naga bayangan, kedua penjaga itu segera membungkuk hormat dan membukakan jalan.
Balkon pribadi itu terletak di lantai dua, memberikan pandangan langsung ke panggung batu melingkar di bawahnya. Area penonton bawah sudah dipadati oleh ratusan sosok berjubah gelap yang memancarkan berbagai macam aura mengerikan.
Xinghe duduk di kursi beludru usang, menatap ke arah panggung tanpa minat. Pelelang, seorang pria kurus bungkuk dengan suara melengking, sedang menawarkan sebilah pedang kutukan yang langsung dibeli oleh seorang kultivator misterius.
Waktu berlalu perlahan. Xinghe tidak memedulikan puluhan barang langka yang ditawarkan. Ramuan perpanjang umur, zirah sisik naga tanah, atau kitab pedang kelas menengah; semua itu hanyalah rongsokan sampah di matanya. Matanya terpejam, memanfaatkan waktu untuk memutar *Seni Penempaan Tulang* di dalam Dantiannya secara diam-diam.
Hingga akhirnya, sebuah kotak kristal hitam dibawa naik ke atas panggung oleh dua pengawal kekar menggunakan dorongan gerobak besi.
Suhu di seluruh ruangan gua raksasa itu mendadak naik drastis. Embun di dinding batu mendesis menguap. Udara menjadi kering dan menyengat.
Pria bungkuk itu tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang tanggal. "Para tuan dan nyonya yang terhormat! Inilah puncak acara malam kedua kita! Sebuah harta karun alam yang diambil dengan harga tiga puluh nyawa penjarah makam terbaik! *Bara Api Gagak Emas*!"
Tutup kotak kristal itu dibuka perlahan. Di dalamnya, sebuah batu bara seukuran kepalan tangan melayang di udara, memancarkan nyala api berwarna kuning keemasan yang sangat murni. Api itu tidak membakar besar, panas yang dipancarkannya memaksa orang-orang di barisan terdepan mundur beberapa langkah menahan perih di wajah mereka.
"Material ini bisa digunakan oleh alkemis tingkat tinggi untuk menyempurnakan pil kelas atas, atau diabsorpsi oleh praktisi elemen api untuk meningkatkan kemurnian Dantiannya secara eksponensial!" teriak pelelang. "Harga awal... Lima puluh ribu keping emas! Setiap penawaran kelipatan dua ribu!"
Aula meledak dalam kegaduhan. Harga itu sangat fantastis. Hanya faksi-faksi raksasa atau pangeran kerajaan yang memiliki sirkulasi kekayaan sebesar itu.
"Enam puluh ribu!" teriak seorang pria bertopeng harimau dari sayap kiri.
"Tujuh puluh ribu!" balas suara parau dari seberang ruangan.
Xinghe tidak segera membuka suara. Ia menunggu para ikan kecil kehabisan napas. Di sebelahnya, Lianyue mengepalkan tangannya kuat-kuat, matanya memancarkan rasa haus yang luar biasa melihat api suci tersebut. Baginya, itu adalah alat penempaan impian.
"Seratus ribu keping emas."
Suara yang tidak asing memotong seluruh kegaduhan, meluncur dengan keangkuhan mutlak dari balkon pribadi di seberang ruangan. Tirai balkon itu sedikit terbuka, memperlihatkan sosok Mu Yunfei yang sedang mengipas wajahnya dengan kipas lipat.
Pewaris Keluarga Mu itu datang untuk membeli katalisator tersebut demi tetua agung di keluarganya. Kenaikan harga instan menjadi seratus ribu emas membungkam seluruh aula. Angka itu telah mencapai batas kewajaran untuk sebuah barang yang keamanannya tidak terjamin.
Pelelang bungkuk itu tersenyum puas. "Seratus ribu emas dari VIP nomor tiga! Apakah ada yang berani menantang keagungan Tuan—"
"Seratus lima puluh ribu."
Suara Xinghe memotong seperti pisau jagal yang jatuh di atas balok daging. Dataran, tanpa emosi, dan sangat bosan.
Seluruh kepala di aula bawah mendongak menatap balkon milik Xinghe. Menawarkan lonjakan lima puluh ribu emas dalam satu tarikan napas adalah bentuk penghinaan mutlak terhadap penawar sebelumnya.
Di seberang ruangan, kipas di tangan Mu Yunfei berhenti berayun. Matanya menyipit tajam menembus bayang-bayang. Walaupun Xinghe memakai caping, suara itu telah terpatri di otak Mu Yunfei sejak kejadian memalukan di aula Paviliun Awan Putih pagi tadi.
"Kau lagi, Keparat Berjubah Hitam," desis Mu Yunfei. Urat kemarahan menonjol di pelipisnya. Ia tidak terima harga dirinya kembali diinjak oleh pemuda yang tidak memiliki asal-usul jelas tersebut.
"Seratus enam puluh ribu!" raung Mu Yunfei, suaranya bergetar menahan amarah.
"Dua ratus ribu," Xinghe membalas dalam kurun waktu kurang dari satu detik.
Keheningan yang menakutkan menyelimuti pasar gelap tersebut. Dua ratus ribu keping emas setara dengan pendapatan pajak seluruh Kota Awan Mengambang selama setahun penuh. Su Lianyue yang duduk di samping Xinghe sampai menahan napasnya. Jumlah emas itu menghabiskan seluruh batas anggaran yang Muxue berikan, bahkan melampauinya.
Mu Yunfei menggebrak langkan kayunya hingga patah. Ia tidak memiliki kewenangan membawa emas lebih dari seratus delapan puluh ribu. Ia telah kalah telak di medan lelang. Sorot matanya berubah menjadi niat membunuh yang tak terbendung.
"Dua ratus ribu emas, terjual kepada tamu misterius kita di balkon nomor tujuh!" pelelang membanting palu kayunya sebelum ada pihak yang mengubah pikiran.
Lianyue menoleh pada Xinghe. "Apakah kau sadar kita tidak membawa koin sebanyak itu di cincin penyimpanan yang diberikan Muxue?" bisiknya panik.
Xinghe berdiri santai dari kursinya. "Aku tahu. Paviliun Awan Putih tidak akan membuang hartanya. Kita hanya perlu mengulur waktu hingga keluar dari pintu pasar ini."
"Maksudmu?"
"Seorang pedagang sejati tahu bahwa cara paling murah untuk mendapatkan barang lelang adalah dengan membunuh pembelinya," Xinghe tersenyum sinis dari balik capingnya. "Mu Yunfei akan mencegat kita di luar dan merampok barang ini. Dan saat dia melakukannya, barang itu akan berpindah tangan secara gratis di atas mayatnya. Asosiasi Naga Bayangan tidak perlu dibayar jika pembelinya telah mengantarkan barangnya ke liang lahat musuh."
Su Lianyue menatap pemuda di depannya dengan kengerian yang baru disadarinya. Pikiran Xinghe sepuluh langkah lebih kejam dan penuh perhitungan. Ia menggunakan keserakahan musuhnya sendiri sebagai alat pembayaran!
Mereka berdua berjalan menuju ruang transaksi di belakang panggung. Xinghe menyerahkan token Paviliun Awan Putih sebagai jaminan, mengambil kotak kristal berisi *Bara Api Gagak Emas*, lalu berjanji koin emas akan dikirimkan dalam waktu dua jam. Penjaga pasar gelap melepaskan mereka, meyakini bahwa markas utama Paviliun Awan Putih tidak akan lari ke mana-mana.
Keluar dari lorong bawah tanah, Xinghe dan Lianyue disambut oleh kegelapan gang sempit di distrik selatan. Udara malam terasa sangat dingin, namun insting membunuh yang menyelimuti gang tersebut jauh lebih membekukan darah.
Di ujung jalan keluar, enam sosok berbaju hitam dengan wajah tertutup kain telah berdiri memblokir jalan. Mereka memegang golok melengkung yang memantulkan sinar bulan. Tingkat kultivasi mereka tidak main-main; tiga orang berada di Tingkat Kelima, dan tiga sisanya di Tingkat Keenam Penyempurnaan Tubuh.
Dari belakang barisan pembunuh itu, Mu Yunfei melangkah maju. Ia tidak lagi menyembunyikan wajahnya. Senyum kejam terlukis di bibirnya.
"Menikmati pertunjukan lelangmu, Tuan Penatua?" ejek Mu Yunfei. "Di luar tembok Paviliun, kau hanyalah sepotong daging tanpa perlindungan. Serahkan api itu, bersujudlah dan potong kedua tanganmu sendiri. Mungkin aku akan berbaik hati membiarkan wanitamu itu menemani pengawalku sebelum kami membunuhnya."
Lianyue menyentuh cambuk api yang melingkar di pinggangnya, bersiap bertarung. Ia adalah praktisi Tingkat Kedelapan, dikepung oleh enam pembunuh elite di gang sempit bukanlah perkara mudah, terlebih ia harus melindungi Xinghe yang energinya terasa sangat lemah.
"Mundur lima langkah," perintah Xinghe pelan pada Lianyue, tanpa menoleh. "Jangan kotori gaun mahalmu dengan darah anjing liar."
"Kau gila! Mereka ini pembunuh elite Keluarga Mu!" Lianyue memprotes tegang.
Xinghe tidak membalas. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan menarik tali kulit di dadanya. Ikatan yang menahan beban di punggungnya terlepas.
Balok *Meteorit Bintang Kegelapan* seberat ribuan kati itu terlepas, dipegang erat oleh tangan kanan Xinghe. Saat ujung kanvas senjata itu menyentuh tanah, jalanan batu di gang sempit itu amblas seketika, menciptakan getaran gempa kecil yang membuat para pembunuh bayaran goyah.
"Aku sangat tidak suka membuang waktu dengan sampah sebelum proses penempaan," desis Xinghe dingin. Ia mengangkat kepalanya. Caping bambunya terangkat sedikit, memperlihatkan sepasang mata gelap yang memancarkan kengerian kosmik murni.
Mu Yunfei merasakan hawa dingin merayap di punggungnya, mengingatkannya pada teror pagi tadi. Ia segera mundur berteriak panik, "Bunuh dia! Cincang dia sampai mati!"
Keenam pembunuh itu melesat serentak. Golok mereka menciptakan jaring kematian yang mustahil dihindari di ruang sempit.
Xinghe merendahkan kuda-kudanya. Otot lengannya yang dibungkus oleh kulit pucat tiba-tiba menegang. Sembilan meridian di dalam tubuhnya meraung, memompa tenaga fisik Tingkat Keempat ke titik maksimal.
"Seni Pedang Berat Penakluk Gunung: Sapuan Bumi Hancur."
Ia tidak menggunakan kelembutan. Ia tidak mencari titik kelemahan. Xinghe memutar pinggangnya, mengayunkan balok logam berat itu secara horizontal dengan kekuatan penuh.
Angin yang dihasilkan oleh ayunan senjata itu menciptakan lolongan yang memekakkan telinga. Ruang di dalam gang sempit itu seakan terkompresi paksa.
*DUAARRR!!*
Tiga pembunuh yang berada di barisan terdepan bahkan tidak sempat menangkis. Golok tingkat menengah mereka yang bersentuhan dengan meteorit hitam itu hancur berkeping-keping layaknya kaca tipis. Balok logam itu menerjang lurus, menghantam dada dan pinggang mereka.
Daging dan tulang meledak seketika. Tubuh ketiga pembunuh elite Tingkat Kelima itu hancur menjadi kabut darah dan serpihan daging yang menempel di dinding gang, tewas terbunuh oleh gaya berat absolut yang melampaui toleransi fisik fana.
Tiga pembunuh Tingkat Keenam yang berada selangkah di belakang membelalakkan mata ngeri melihat rekan mereka menguap menjadi kabut darah merah. Niat membunuh mereka lenyap seketika, insting mereka berteriak untuk melarikan diri dari iblis yang menyamar ini.
Xinghe tidak memberikan kesempatan. Ia memanfaatkan momentum putaran pedang beratnya untuk menghentakkan kakinya ke tanah, melompat ke udara, dan mengayunkan balok logam itu dari atas ke bawah.
Tekanan angin dari atas menekan ketiga pembunuh itu ke tanah, membuat lutut mereka berderak patah.
*BOMMM!*
Balok meteorit itu menghantam lantai batu tepat di tengah-tengah ketiga pembunuh. Gelombang kejut fisiknya merobek aspal batu, mengirimkan pilar tenaga ke atas yang menghancurkan organ dalam ketiga pembunuh bayaran itu secara bersamaan. Mereka jatuh terkapar, darah menyembur dari tujuh lubang di wajah mereka, mati tanpa sempat mengeluarkan jeritan.
Dalam waktu kurang dari dua tarikan napas, enam pembunuh elite Keluarga Mu tewas mengenaskan.
Su Lianyue berdiri mematung di belakang. Cambuk apinya lemas terlepas dari tangannya. Ia tidak bisa memercayai matanya sendiri. Tingkat kekuatan destruktif murni ini... ini bukanlah manusia! Ini adalah kebrutalan seekor naga primordial yang dibungkus tubuh kurus!
Di ujung gang, Mu Yunfei jatuh terduduk. Air kencing hangat membasahi jubah emasnya yang mahal. Ia beringsut mundur menempel pada dinding kotor, mulutnya membuka dan menutup tanpa bisa mengeluarkan suara. Dewa kematian berjubah hitam itu berjalan menghampirinya perlahan, menyeret balok baja berlumuran darah yang meninggalkan jejak parit memanjang di atas tanah batu.
"P-penatua Yan... ampuni aku... tolong... Keluarga Mu akan memberimu gunung emas! Semuanya!" rengek Mu Yunfei, air mata dan ingus bercampur di wajahnya. Kesombongannya telah musnah tak berbekas.
Xinghe berhenti tepat di depan Mu Yunfei. Ujung balok logam yang berat itu bersandar ringan di atas bahu pemuda malang tersebut, mematahkan tulang selangkanya secara seketika hanya karena massanya. Mu Yunfei menjerit kesakitan yang memilukan.
"Orang mati tidak bisa membelanjakan emas, Mu Yunfei," suara Xinghe terdengar sangat lembut, menyamarkan kekejaman mutlak. "Sampaikan salamku pada Dewa Kematian. Beritahu dia, Yan Xinghe yang mengirimmu."
Tanpa mengayunkan senjatanya, Xinghe hanya menekan gagang pedangnya sedikit ke bawah. Beban ribuan kati langsung meremukkan tulang punggung dan dada Mu Yunfei. Pemuda pewaris itu tewas dalam penderitaan yang hina, tertindih di bawah kegelapan gang kotor Kota Awan Mengambang.
Xinghe menarik senjatanya, lalu berbalik menghampiri Lianyue yang masih mematung ngeri. Wajah Xinghe memucat parah. Ia memuntahkan sedikit darah gelap dari mulutnya. Mengayunkan meteorit itu berulang kali dengan meridian Tingkat Keempat telah memberikan tegangan balik yang merobek otot-otot di tangannya. Lengannya gemetar hebat di bawah jubah hitamnya.
"Waktunya pergi," ucap Xinghe terengah-engah, mencoba menstabilkan pernapasannya. "Darah mereka akan menutupi jejak kita. Asosiasi naga bayangan akan mengira Keluarga Mu dirampok oleh faksi lain."
Lianyue menelan ludah paksa, mengangguk dengan gerakan patah-patah. Ketakutan dan kekagumannya terhadap pemuda ini bercampur baur menjadi pemujaan ekstrem.
Malam itu, mereka berhasil kembali menyelinap ke dalam kompleks Paviliun Awan Putih tanpa ketahuan.
Xinghe segera mengurung dirinya di ruang tempa bawah tanah milik Lianyue yang terisolasi dari gangguan luar. Ruangan itu dipenuhi oleh panas menyengat dari inti lava bawah tanah yang dialirkan melalui formasi ukiran batu. Di tengah ruangan, sebuah tungku raksasa dari perunggu naga berdiri kokoh.
Batas waktu Turnamen Aliansi Pedagang semakin dekat. Mayat Mu Yunfei akan segera ditemukan besok pagi, mempercepat genderang perang.
Xinghe duduk bersila di depan tungku. Ia meletakkan balok *Meteorit Bintang Kegelapan* di depannya. Tangan kirinya memegang kotak kristal berisi *Bara Api Gagak Emas*. Ia tidak berniat memasukkan meteorit itu ke dalam tungku; ia menjadikan tubuhnya sendiri sebagai jembatan penempaan.
Ia menelan bongkahan batu bara berapi suci itu hidup-hidup.
Detik berikutnya, lolongan penderitaan yang ditahan dari seorang kaisar yang menolak takluk menggetarkan seluruh fondasi Paviliun Awan Putih. Proses peleburan dewa dan manusia fana dimulai di kedalaman kegelapan malam, menempa sebuah monster sesungguhnya yang akan melahap Tiga Ribu Dunia.