Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?
Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.
"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya
Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Waktu berlalu begitu cepat, dan kini tiba saatnya bagi para siswa SMA Pancasila untuk melanjutkan masa PKL mereka dengan pindah ke tempat penugasan yang baru, sesuai dengan kesepakatan sekolah dan minat masing-masing. Kali ini penempatannya berbeda-beda, membuat mereka harus berpisah lokasi namun tetap saling mendukung.
Aletta ditugaskan untuk bekerja dan belajar di Puskesmas setempat, tempat di mana dia akan mempelajari dunia kesehatan dasar dan pelayanan masyarakat.
Sementara itu, Tamara ditempatkan di Panti Jompo, tempat yang mirip dengan lokasi penugasan mereka sebelumnya.
Dan Ruby, sahabat mereka yang lain, mendapat tugas bertugas di Rumah Sakit Umum daerah, tempat yang lebih besar dan lengkap fasilitasnya.
Meskipun tempatnya berbeda-beda, mereka tetap kompak dan saling mengabari lewat grup WhatsApp sekolah maupun grup khusus teman-teman dekat. Sore itu, saat Aletta sedang duduk santai di teras rumahnya sambil memegang ponsel, ia membuka grup kelas mereka untuk melihat kabar terbaru.
Namun, baru saja dia masuk ke dalam grup, wajah cerianya perlahan berubah menjadi murung dan sedih. Di sana, banyak sekali pesan yang berdatangan dari teman-teman sekelasnya, yang semuanya membicarakan hal yang sama gosip tentang kedekatan Dilan dan Tamara.
"Eh denger-denger Dilan sama Tamara deket banget lho di panti jompo tempat mereka PKL," tulis salah satu teman.
"Iya beneran! Katanya Dilan sering bantuin Tamara, ngobrol terus, dan kelihatannya akrab banget deh," sambung yang lain.
"Wah, jangan-jangan mereka jadian nih? Cocok lho kalau mereka berdua," tambah teman yang lain lagi.
"Iya, kelihatannya saling nyaman gitu lho. Asik banget ya padahal mereka beda tempat tapi Dilan hampir tiap hari ketempat Tamara," balas yang lainnya.
"Iya gue pikir bakal sering ke tempat Aletta loh ternyata oh ternyata yang di incer sahabatnya cuy" Balas yang lain tak kalah menyakitkan
Membaca satu per satu pesan itu, hati Aletta terasa seperti diremas kuat-kuat. Perih, sedih, dan kecewa bercampur menjadi satu.
Dia tahu itu cuma gosip, dia tahu mungkin saja itu cuma dugaan teman-temannya saja. Tapi entah kenapa, membaca bahwa nama Dilan—seseorang yang dulu pernah dekat dengannya—sering disebut bersama nama Tamara dengan nada seakan-akan mereka pasangan yang serasi, membuat hatinya terasa sangat sakit. Dia menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca menatap layar ponselnya yang redup.
"Kenapa rasanya sakit banget ya... Padahal gue sekarang sudah punya Jonathan yang sangat menyayangi gue. Tapi kenapa gue masih merasa sedih kalau mendengar kabar dia dekat dengan orang lain?" batin Aletta bertanya-tanya dengan perasaan yang bingung dan galau. dia segera menutup aplikasi itu dan meletakkan ponselnya di meja, mencoba mengalihkan pikirannya agar tidak makin sedih.
Hari ini Aletta dan kelompoknya beruntung tidak harus bertugas. Pak Dimas, pembimbing lapangan mereka, sedang ada urusan pekerjaan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan, sehingga kegiatan belajar dan bekerja ditunda sementara dan dimulai lagi besok pagi.
Hal ini membuat Aletta senang sekaligus lega. Apalagi, berbeda dengan masa PKL mereka yang dulu di mana mereka harus tinggal di kosan jauh dari rumah, kali ini penempatan tempat tugas mereka sangat dekat dengan rumah masing-masing.
Jarak dari rumah Aletta ke Puskesmas tempatnya bertugas cukup dekat dan masih bisa ditempuh dengan mudah menggunakan sepeda motor. Jadi, Aletta tidak perlu lagi menyewa kamar kosan dan bisa pulang ke rumahnya sendiri setiap hari, tinggal bersama orang tuanya dengan nyaman dan aman.
Siang itu, suasana rumah Aletta terasa sangat hidup dan hangat. Ada dua orang tamu istimewa yang datang berkunjung Jonathan dan Fahri, sahabat dekat sekaligus teman masa kecil Jonathan. Mereka datang bukan tanpa alasan, tujuan utama mereka adalah untuk meminjam buku pelajaran Matematika milik Aletta yang sudah lama dicari-cari oleh mereka berdua untuk bahan belajar tambahan.
"Assalamualaikum... Ada orang rumah nggak nih?" sapa Jonathan dengan suara ceria sambil mengetuk pintu pagar.
"Waalaikumsalam... Eh, Jonathan, Fahri! Masuk, masuk... Ayo cepetan," sambut Aletta dengan senyum lebar, wajahnya yang tadi sempat murung kini kembali ceria dan berseri-seri melihat kedatangan mereka.
"Ibu ada di rumah, Al?" tanya Fahri sambil masuk dan duduk di kursi teras.
"Ada kok, lagi di dapur nyiapin minuman buat kalian. Tunggu sebentar ya," jawab Aletta ramah.
Suasana menjadi sangat akrab dan menyenangkan. Mereka mengobrol banyak hal, mulai dari sekolah, kegiatan PKL, hingga hal-hal lucu yang pernah mereka alami dulu.
Di tengah obrolan itu, Fahri mengeluarkan kamera digital kesayangannya dari dalam tasnya. Dia sangat hobi dan ahli dalam bidang fotografi, dan Aletta sendiri sebenarnya sudah lama tertarik serta ingin bisa mempelajari cara menggunakan kamera dengan baik.
"Wah, itu kamera loh yang baru ya, Fahri? Bagus banget bentuknya," puji Aletta antusias.
"Iya nih, baru beli kemarin. Loh suka fotografi juga kan, Al? Kalau mau, gue ajari deh caranya pakai kamera ini, dari yang dasar sampai yang agak susah. Biar loh juga bisa ambil foto yang bagus-bagus," tawar Fahri dengan ramah dan tulus.
"Wah, beneran boleh, Fahri? Asyik banget kalau gitu! Gue emang udah lama banget pengen belajar, tapi nggak ada yang ngajarin. Makasih banyak ya, Fahri!" seru Aletta senang sekali.
Mereka pun segera duduk berdekatan. Fahri menjelaskan satu per satu fungsi tombol-tombolnya, cara mengatur cahaya, sudut pengambilan gambar, dan teknik memotret yang benar.
Aletta menyimak dengan sangat saksama dan antusias, sesekali mereka tertawa bersama saat ada kesalahan kecil atau saat hasil fotonya terlihat lucu.
Namun, di sisi lain, ada sepasang mata yang menatap mereka berdua dengan perasaan yang rumit. Itu adalah Jonathan. Dia melihat betapa akrabnya, betapa asyiknya, dan betapa dekatnya Aletta dan Fahri saat itu.
Hati kecilnya merasa tidak suka, dia merasa cemburu melihat kekasihnya duduk sedekat itu dengan laki-laki lain, meskipun dia tahu Fahri adalah sahabatnya sendiri dan dia mempercayai mereka berdua. Rasa cemburu itu terasa nyata di dadanya, membuatnya diam saja dan hanya tersenyum tipis sesekali.
Namun, Jonathan adalah laki-laki yang mengerti sopan santun dan tahu bagaimana cara menjaga sikap. Dia sadar bahwa saat ini mereka sedang berada di rumah Aletta, dan Ibunya Aletta ada di sini.
Jadi, seberat apa pun rasanya menahan rasa cemburu itu, dia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tersenyum, tetap bersikap santai, dan ikut berkomentar sewaktu-waktu seolah-olah ia baik-baik saja.
"Sabar......Sabar ya, Jo... Fahri kan sahabat loh sendiri, dan Aletta pacar loh. Mereka cuma belajar saja kok. Jangan dipikirkan yang tidak-tidak," batin Jonathan menenangkan dirinya sendiri berkali-kali.
Belum lama mereka mengobrol, Puspa keluar dari dalam rumah membawa nampan berisi teh hangat dan kue-kue lezat. Dia meletakkannya di meja depan mereka dengan senyum ramah dan tulus.
"Mari diminum dan dimakan ya, Nak Jonathan, Nak Fahri. Anggap saja di rumah sendiri," kata Ibu lembut.
"Terima kasih banyak, Bu. Ibu repot-repot saja," jawab Meldi sopan.
Tiba-tiba, Ibu Aletta seolah teringat sesuatu. Dia menoleh ke arah Jonathan dan berkata dengan nada memohon sedikit.
"Nak Jonathan... Ibu mau minta tolong sedikit boleh ya?"
"Boleh dong, Bu. Apa yang bisa saya bantu? Atau ada yang bisa saya bantu buat Ibu?" jawab Jonathan sigap dan siap membantu.
"Begini Nak, Bahan masakan di rumah sudah habis semua, Ibu mau ke pasar buat belanja keperluan masak hari ini. Tapi Ibu kan mobil ibu lagi di servis di bengkel, dan jalan ke pasar lumayan jauh juga. Kalau tidak keberatan, bisakah kamu mengantar Ibu ke pasar sebentar naik motormu? Nggak lama kok, paling cuma setengah jam atau empat puluh lima menit saja," pinta Ibu Aletta dengan sopan.
Mendengar permintaan itu, wajah Jonathan langsung terlihat bingung dan ragu. Dia menoleh ke arah Aletta dan Fahri yang masih duduk berdekatan sambil memegang kamera. Jantungnya berdegup kencang.
"Waduh... Kalau gue pergi ngantar Ibu ke pasar, berarti gue harus ninggalin Aletta dan Fahri berduaan di rumah dong? Wah, rasanya berat banget ninggalin mereka berdua," batin Jonathan gelisah. Bayangan rasa cemburu itu kembali muncul lagi di benaknya. Dia takut kalau ditinggal berdua, mereka akan makin akrab dan makin dekat.
Namun, melihat wajah Puspa yang tampak berharap, Jonathan sadar dia tidak mungkin menolak permintaan itu. Akhirnya, dengan berat hati namun tetap tersenyum sopan, Jonathan mengangguk setuju.
"Tentu saja boleh, Bu. Saya dengan senang hati mengantar Ibu ke pasar. Mari kita berangkat sekarang kalau Ibu sudah siap," jawab Jonathan.
"Terima kasih banyak ya, Nak Jonathan. Anak baik sekali kamu ini," puji Ibu Aletta senang.
Sebelum berangkat, Puspa sempat berbisik sedikit kepada Jonathan saat mereka berjalan menuju pintu pagar, sementara Aletta dan Fahri masih sibuk di teras.
"Nak Jonathan... Ibu mau bicara sedikit sama kamu ya," kata Ibu lembut.
"Ada apa, Bu?" tanya Meldi penasaran.
"Sebenarnya, kamu adalah pacar pertama yang pernah dibawa dan dikenalkan oleh Aletta kepada Ibu dan Bapak. Selama ini, Aletta itu pendiam soal urusan hati, dia nggak pernah cerita atau membawa teman laki-laki ke rumah, apalagi sampai kenalan sama orang tuanya. Jadi, artinya itu satu hal yang sangat besar dan istimewa lho, Nak." kata Ibu dengan tulus dan penuh makna.
Mendengar ucapan itu, hati Jonathan terasa sangat terharu dan bahagia. Rasa cemburunya tadi perlahan hilang berganti dengan rasa haru dan tanggung jawab yang besar. Dia mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
"Siap, Bu. Terima kasih banyak sudah mempercayakan Aletta kepada saya. Saya janji akan menyayanginya, menjaganya, dan membuatnya bahagia seumur hidup saya," jawab Jonathan sungguh-sungguh.
Sementara itu, di dalam rumah, tinggalah Aletta dan Fahri berdua saja. Suasana menjadi sedikit hening namun tetap nyaman. Fahri meletakkan kameranya sejenak, lalu menatap Aletta dengan tatapan yang serius dan dalam.
Dia merasa saat ini adalah waktu yang tepat untuk menceritakan hal-hal yang selama ini disembunyikan oleh sahabatnya, Jonathan, kepada Aletta agar ia lebih mengerti tentang sosok Jonathan yang sebenarnya.
"Al... Sebenarnya ada sesuatu yang sudah lama ingin gue ceritakan sama loh tentang kehidupan Jonathan," kata Fahri memulai pembicaraannya dengan nada rendah.
"Apa itu, Fahri? Ada masalah apa dengan Jonathan?" tanya Aletta langsung cemas.
"Jonathan itu... Sebenarnya dia hidup dalam keluarga yang terlihat sempurna dari luar, tapi kalau dilihat ke dalam, rasanya sangat menyedihkan dan berat sekali, Al," jawab Fahri menghela napas panjang.
Dia pun mulai menceritakan semuanya secara rinci kepada Aletta. Tentang ibunya Jonathan yang merupakan seorang model terkenal dan sering muncul di berbagai majalah serta iklan-iklan besar.
Karena kesibukannya yang luar biasa padat, ibunya hampir tidak pernah ada di rumah, jarang sekali punya waktu untuk berbicara atau sekadar menanyakan kabar anaknya sendiri. Kasih sayang ibu yang seharusnya dia dapatkan sejak kecil, hampir tidak pernah dia rasakan.
Sementara itu, papahnya menderita penyakit ginjal yang sudah cukup parah, sehingga harus rutin mencuci darah di rumah sakit setiap minggunya. Kondisi papahnya yang sering sakit-sakitan membuat suasana rumah menjadi suram dan penuh kesedihan.
"Jonathan seringkali merasa sangat kesepian dan terpuruk, Al. Dia merasa tidak ada tempat untuk pulang, tidak ada orang yang benar-benar mengerti perasaannya. Selama ini dia selalu berusaha terlihat ceria dan kuat di depan orang lain, padahal hatinya hancur dan sedih sekali. Baru kali ini, setelah dia putus dengan mantan pacarnya yang dulu, dia mulai sedikit membuka hati dan cerita tentang masalah keluarganya kepadaku. Dia merasa sangat kecewa dan sakit hati karena dulu dia sudah sangat mencintai pacarnya itu, tapi ternyata dia tidak mendapatkan dukungan dan pengertian yang dia butuhkan," cerita Fahri dengan nada sedih.
Aletta mendengarkan dengan saksama, air matanya perlahan menetes mendengar kisah hidup kekasihnya yang ternyata begitu berat dan menyedihkan. Dia baru sadar betapa kuatnya Meldi, dan betapa besar beban yang ia pikul sendirian selama ini.
"Tapi anehnya, Al..." lanjut Fahri lagi dengan senyum tipis dan sedikit geli. "Padahal dia begitu butuh kasih sayang, begitu ingin disayang dan dimengerti. Tapi sekarang, saat dia sudah mendapatkan loh—dia malah sering merasa cemburu dan tidak tenang. Dia selalu merasa khawatir kalau ada laki-laki lain yang dekat denganmu, dia selalu takut kalau loh akan pergi meninggalkannya seperti orang-orang lain di masa lalunya. "
Mendengar penjelasan Fahri, hati Aletta terasa perih sekaligus hangat. Dia mengerti sekarang mengapa Meldi kadang terlihat diam atau cemburu tanpa alasan yang jelas. Itu semua karena rasa takut kehilangan dan rasa kurang percaya diri yang ia miliki akibat luka batin di masa lalu.
"Terima kasih sudah cerita sama gue, Fahri... Gue jadi makin mengerti sama dia. Gue akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi tempat dia bersandar dan pulang dengan tenang," kata Aletta tegas dengan mata berbinar.
"Apa yang sudah gue lakukan..." batin Aletta sambil menundukkan wajah, tangannya memegang erat dadanya yang terasa sesak. "Dia sudah mencintai gue dengan sepenuh hati, dia sudah mempercayai gue melebihi apa pun, dia bahkan menganggap gue sebagai satu-satunya tempat untuk bersandar... tapi gue? gue masih menyisakan ruang di hati gue untuk orang lain, gue masih membiarkan perasaan ini yang dulu muncul kembali, gue masih merasa sedih dan galau hanya karena gosip yang menyebutkan nama dilan bersama orang lain..."
Dia pun teringat kembali saat-saat mereka berdua bersama-sama, saat Jonathan selalu berusaha membuatnya tertawa, saat Jonathan selalu mendengarkan semua keluh kesahnya dengan sabar, saat Jonathan selalu ada untuknya kapan saja dia butuhkan. Semua itu dilakukan dengan tulus, tanpa pamrih, sedangkan dia... dia merasa seolah-olah dia hanya memanfaatkan kebaikan Jonathan untuk menutupi kekosongan hatinya yang sebenarnya masih terikat pada masa lalu.
"Bagaimana kalau dia tahu semuanya? Bagaimana kalau dia tahu bahwa gue masih memikirkan orang lain, bahwa gue masih merasa sedih karena orang itu dekat dengan orang lain? Dia pasti akan hancur hatinya... Dia yang sudah percaya pada gue sepenuhnya, yang sudah menganggap gue sebagai segalanya, pasti akan merasa dikhianati lebih parah dari apa pun yang pernah dia alami selama ini. Dan gue... gue yang menyebabkannya..."
Tak lama kemudian, terdengar suara motor memasuki halaman rumah. Jonathan dan Puspa sudah kembali dari pasar. Aletta dan Fahri segera berhenti berbicara dan menyambut mereka dengan senyum bahagia.
Saat Jonathan turun dari sepeda motor dan membalas senyuman Aletta, hatinya yang tadinya terasa berat dan penuh keraguan perlahan terasa ringan kembali.
"Terima kasih banyak ya, Nak Jonathan. Berkat bantuanmu, belanjaan Ibu jadi cepat selesai dan nggak capek sama sekali," ujar Puspa sambil tersenyum lebar, tangannya memegang beberapa kantong belanjaan yang cukup berat.
"Sama-sama, Bu. Senang sekali bisa membantu Ibu," jawab Jonathan dengan sopan sambil membantu menurunkan barang belanjaan dari motor dan membawanya masuk ke teras.
"Sudah, duduk dulu saja istirahat. Pasti lelah habis jalan-jalan," kata Ibu lagi. "Ibu mau masuk ke dapur sebentar untuk menata bahan masakan. Kalian mengobrol saja di sini ya."
Setelah Ibu Aletta masuk ke dalam rumah dan menghilang di balik pintu dapur, suasana di teras menjadi lebih santai dan akrab. Fahri yang sedari tadi diam, kini tersenyum jahil sambil menepuk bahu Jonathan dengan keras namun penuh persahabatan.
"Wah, beruntung banget sih loh, Jonathan. Bukan cuma diandalkan sama Aletta, orang tuanya saja udah sayang banget sama loh. Awas ya, jangan sampai disia-siakan," goda Fahri sambil tertawa kecil.
Jonathan hanya tersenyum malu dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "tanpa loh suruh juga gue tau kali."
Lalu, perlahan Aletta mendekat ke arah Jonathan, duduk tepat di sampingnya. dia menatap wajah pemuda itu lekat-lekat, melihat sorot matanya yang sebenarnya menyimpan begitu banyak kesedihan dan beban, namun selalu berusaha tampil ceria dan kuat di depannya.
"Jonathan..." panggil Aletta lirih, suaranya hanya bisa didengar oleh mereka bertiga.
"Iya, Sayang? Ada apa?" jawab Jonathan lembut, matanya menatap balik wajah Aletta dengan penuh kasih sayang.
"Kamu... pasti capek banget ya selama ini?" tanya Aletta tiba-tiba, membuat Jonathan terdiam dan terkejut.
"Capek menyembunyikan semuanya sendirian, capek berpura-pura kuat, capek menghadapi semuanya sendiri."
Wajah Jonathan perlahan berubah. Senyumnya yang tadi terlihat begitu manis kini memudar, digantikan oleh tatapan bingung dan sedikit kaget. dia menoleh ke arah Fahri, dan melihat sahabatnya itu hanya mengangguk pelan seolah membenarkan sesuatu. Meldi pun mengerti. Fahri pasti sudah menceritakan segalanya pada Aletta.
"Fahri sudah cerita semuanya padaku, Jo," lanjut Aletta sebelum Meldi sempat bertanya.
"Dia cerita tentang mamah kamu, tentang kondisi papah kamu, tentang perasaanmu yang selama ini kesepian dan merasa tidak dianggap... Maafkan aku ya, kalau selama ini aku nggak tahu apa-apa. Maaf kalau aku kadang-kadang bikin kamu cemburu atau khawatir tanpa sadar, padahal kamu sedang memikul beban yang begitu berat."
Tanpa bisa menahan perasaannya lagi, Jonathan menarik tangan Aletta dan menggenggamnya erat-erat seolah takut gadis itu akan lenyap begitu saja. Air matanya menetes perlahan jatuh di pipinya, namun ia tidak peduli lagi. Di depan Aletta dan Fahri, dia merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri, merasa aman untuk menunjukkan kelemahannya.
"Al..." suaranya terdengar serak dan bergetar. "Aku... aku sebenarnya selalu merasa takut. Takut kalau kamu tahu betapa buruknya kehidupanku di rumah, betapa menyedihkannya aku, kamu bakal menjauh dan ninggalin aku kayak orang-orang lain. Aku takut kalau aku nggak sempurna, kalau aku banyak kurangnya, kamu bakal malu punya pacar kayak aku."
"Jangan bicara begitu, Jo!" potong Aletta dengan tegas namun lembut, ia mengusap air mata di pipi kekasihnya dengan lembut menggunakan ibu jarinya.
"Buatku, kamu itu paling sempurna. Kamu baik, kamu sopan, kamu penyayang, dan kamu sangat kuat. Keadaan keluargamu bukan kesalahanmu, dan itu tidak mengurangi sedikit pun rasa sayangku padamu. Justru aku makin kagum sama kamu, karena kamu bisa tetap sabar dan tetap baik hati meskipun cobaan yang kamu hadapi berat sekali."
"Iya bener kata Aletta," tambah Fahri yang ikut tersenyum haru melihat pemandangan itu.
"gue aja udah kenal dia dari kecil, tapi baru kali ini gue lihat dia sebahagia ini, semenjak kenal sama kamu, Al. Kamu obat buat luka hatinya selama ini."
Jonathan tersenyum di sela tangisnya, senyum yang terasa begitu lega dan bahagia. Dia memeluk Aletta dengan erat, menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu. "Makasih ya, Sayang... Makasih sudah mau terima aku apa adanya. Makasih sudah ada buat aku. Janji ya, jangan pernah pergi dari sisiku? Aku nggak tahu bakal jadi apa aku kalau kehilangan kamu."
Aletta membalas pelukan itu dengan lembut, mengelus punggung Jonathan dengan penuh kasih sayang. " Aku nggak akan pernah pergi ke mana-mana. Aku bakal ada di sini, nemenin kamu, mendengarkan kamu, dan bikin kamu bahagia terus. Mulai sekarang, kamu nggak sendirian lagi ya? Ada aku, ada kita, ada keluarga kamu, dan ada Fahri. Kita semua sayang sama kamu."
Suasana di teras itu terasa begitu haru dan hangat. Fahri yang melihat persahabatan dan cinta mereka yang begitu tulus hanya bisa tersenyum puas, hatinya senang melihat sahabat baiknya akhirnya menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Setelah beberapa saat berpelukan dan menenangkan hati satu sama lain, akhirnya mereka melepaskan pelukan itu. Jonathan sudah terlihat jauh lebih tenang dan bahagia, wajahnya berseri-seri seperti orang yang baru saja mendapatkan harta paling berharga di dunia.
"Nah, kan jadi ceria lagi mukanya," kata Fahri bercanda sambil menyenggol lengan Jonathan.
"Sekarang, rasa cemburu loh yang nggak jelas itu udah hilang kan? loh harusnya percaya banget sama Aletta, dia cuma milik loh, dan loh cuma miliknya."
Jonathan tertawa kecil dan mengangguk malu. "Iya, iya... Aku janji bakal lebih percaya dan nggak gampang curiga lagi. Aku sadar, rasa cemburuku itu cuma muncul karena aku takut kehilangan hal paling berharga yang pernah aku punya, yaitu kamu, Al."
Aletta tersenyum manis menatapnya. "Asal kamu jujur dan cerita sama aku, semuanya bakal baik-baik saja kok. Jangan dipendam sendiri lagi ya?"
"Siap, sayang!" jawab Jonathan bercanda, membuat mereka semua tertawa lepas.
Sore itu berlalu dengan sangat indah dan berkesan bagi mereka bertiga. Mereka mengobrol lagi, tertawa bersama, dan berbagi cerita dengan perasaan yang jauh lebih terbuka dan saling mengerti. Ketika matahari mulai terbenam dan waktunya bagi Jonathan serta Fahri untuk pulang, hati mereka terasa penuh dengan kebahagiaan dan ketenangan yang mendalam.
Saat Jonathan hendak menaiki sepeda motornya, ia kembali menatap Aletta dengan tatapan yang begitu dalam dan penuh makna. "Aku pulang dulu ya, Sayang. Hati-hati kamu di sini, semangat besok kerjanya di Puskesmas. Aku bakal selalu doain dan dukung kamu dari jauh."
"Iya, kamu juga hati-hati di jalan ya. Sampaikan salamku ke papah dan mamah mu. Jangan lupa kalau ada apa-apa, cerita ke aku ya?" pesan Aletta lembut.
"Pasti. Sampai ketemu lagi," jawab Jonathan, lalu dia menyalakan mesin motornya dan berangkat bersama Fahri, menghilang di balik tikungan jalan sambil melambaikan tangan.
Aletta pun masuk kembali ke dalam rumah dengan langkah ringan dan hati yang gembira, siap untuk menghadapi hari esok dan tantangan baru di tempat tugasnya, Puskesmas, dengan semangat yang membara dan cinta yang melimpah.
~be to continuous~