Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.
Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra
Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN DI GARIS API
Debu dari baling-baling helikopter masih berputar di udara, menciptakan pusaran angin yang menusuk kulit. Keyra melangkah dengan kaki yang terasa berat, melewati barisan tenda medis darurat yang dipenuhi aroma antiseptik, keringat, dan karat. Matanya menyapu setiap sudut, mencari satu sosok yang telah menghantui mimpinya selama enam bulan terakhir.
Di sudut barak paling ujung, terpisah dari keriuhan evakuasi, seorang pria duduk di atas peti kayu logistik. Seragam lorengnya sudah tak berbentuk, koyak di bagian bahu dan tertutup lapisan lumpur kering yang menghitam. Kepalanya tertunduk dalam, tangan kanannya dibalut perban kasar yang mulai merembeskan noda merah.
---
Keyra berhenti tepat lima langkah di depan pria itu. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan di dadanya. "Kapten?" bisiknya, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin di kejauhan.
Pria itu tersentak. Ia mengangkat kepalanya perlahan. Wajah yang biasanya bersih dan tegas itu kini dipenuhi goresan luka kecil dan janggut tipis yang kasar. Matanya yang tajam tampak lelah, namun saat pandangannya jatuh pada sosok gadis dengan jaket medis di depannya, pupil matanya membesar.
"Keyra?" suara Ghazali serak, seolah ia sudah lama tidak menggunakan suaranya untuk bicara. "Ini... ini bukan ilusi karena dehidrasi, kan?"
Keyra tidak menjawab. Ia berlari menerjang jarak di antara mereka dan menghambur ke pelukan Ghazali. Ia tidak peduli pada lumpur yang mengotori jaket putihnya, tidak peduli pada bau mesiu yang melekat di tubuh pria itu. Ia hanya ingin memastikan bahwa detak jantung yang ia dengar adalah nyata.
"Kamu hidup... kamu benar-benar hidup, Kulkas sombong!" tangis Keyra pecah di bahu Ghazali yang sehat.
Ghazali mengerang pelan karena pergerakan mendadak itu menyengat lukanya, namun ia justru melingkarkan tangan kanannya erat-erat di pinggang Keyra, menariknya seolah takut gadis itu akan menguap tertiup angin perbatasan. "Aku sudah janji akan pulang, Keyra. Aku tidak akan membiarkanmu menunggu sendirian di paviliun itu."
Setelah beberapa saat yang terasa abadi, Keyra menarik diri sedikit untuk memeriksa luka-luka Ghazali dengan gerakan profesional yang dipaksakan. "Bastian bilang kamu hilang setelah ledakan pos komando. Apa yang terjadi?"
Ghazali menatap ke arah hutan gelap di belakang pangkalan aju. Tatapannya berubah menjadi sangat serius. "Ledakan itu adalah pengalihan, Keyra. Mereka tidak ingin membunuhku. Mereka ingin menculikku."
Keyra membeku. "Siapa? Pemberontak?"
"Bukan hanya mereka," Ghazali merendahkan suaranya, menarik Keyra masuk ke dalam bayang-bayang tenda agar tidak terdengar prajurit lain. "Selama tiga hari aku bersembunyi di hutan setelah serangan itu, aku menemukan kamp rahasia mereka. Di sana, aku melihat logistik yang tidak seharusnya ada di tangan pemberontak. Peti-peti senjata itu... semuanya memiliki stempel pengiriman dari Atharrazka Group."
Darah Keyra seolah membeku. "Maksudmu... Ayahmu? Dia mendanai musuh yang kamu lawan di sini?"
"Ayahku tidak peduli siapa yang memegang senjata, selama itu menguntungkan bisnisnya atau memberinya kekuatan untuk menarikku pulang dengan cara paksa," desis Ghazali. Rahangnya mengeras, kemarahan yang jauh lebih besar dari sekadar luka fisik kini membakar matanya. "Dia menciptakan konflik ini agar markas pusat merasa tidak aman dan menarik pasukanku kembali ke Jakarta. Dia menggunakan nyawa prajuritku sebagai pion."
Keyra menutup mulutnya dengan tangan, tak percaya pada kekejaman yang baru saja ia dengar. "Ini gila, Ghaz. Ini pengkhianatan negara."
"Itu sebabnya aku bertahan hidup, Keyra. Aku menyimpan bukti manifes pengiriman itu di dalam memori satelit yang kuselamatkan dari pos," Ghazali menatap Keyra dengan intens. "Sekarang kamu di sini, dan itu mengubah segalanya. Kamu dalam bahaya jika tetap bersamaku. Ayah tidak akan berhenti jika dia tahu kamu adalah kelemahanku."
"Aku bukan kelemahanmu, Ghazali Atharrazka," sahut Keyra dengan berani, menghapus sisa air matanya. "Aku adalah doktermu. Dan jika kita harus menjatuhkan kekaisaran Ayahmu untuk menghentikan kegilaan ini, maka aku akan bersamamu sampai akhir."
Ghazali menatap gadis di depannya dengan rasa kagum yang tak terlukiskan. Ia menarik tengkuk Keyra, menempelkan dahinya ke dahi gadis itu. Di tengah suara desing peluru kejauhan dan hiruk-pikuk kamp militer, mereka membuat janji baru janji yang bukan lagi soal menunggu, tapi soal berjuang bersama.
"Dengar," bisik Ghazali. "Malam ini, tim evakuasi udara terakhir akan datang. Kita tidak akan kembali ke pangkalan utama. Kita akan ke Jakarta, langsung menuju markas pusat Atharrazka. Kita harus mengakhiri ini sebelum korban lebih banyak berjatuhan."
Keyra mengangguk mantap. "Siap, Kapten."
Namun, saat mereka bersiap, sirene pangkalan mendadak melolong panjang. Lampu tembak menyapu langit, menangkap bayangan beberapa helikopter tanpa identitas yang mendekat dengan cepat dari arah perbatasan.
"Mereka datang untuk menjemput bukti itu," ucap Ghazali sembari menyambar senapan laras panjangnya dengan satu tangan. "Keyra, tetap di belakangku!"
***
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....