Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.
Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.
Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.
"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Han, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Ibu Mertuaku Mendadak Berubah
Kepalanya masih terasa sedikit berat, dan langkahnya agak gontai. Namun, pemandangan di ruang makan membuatnya mematung sejenak. Mama Sarah sudah berada di sana, sibuk dengan peralatan dapurnya.
Begitu menyadari kehadiran menantunya, Mama Sarah menoleh. Alih-alih memberikan tatapan dingin atau sindiran tajam seperti biasanya, raut wajahnya tampak melunak.
"Renata, kamu hati-hati ya jalannya," ucap Mama Sarah dengan nada bicara yang tidak biasa, kini ada nada perhatian yang terselip di sana. "Terus, kamu masih pusing? Masih mual-mual?"
Renata mengerjapkan mata, sedikit terkejut dengan perubahan sikap mertuanya yang mendadak itu. "Sudah membaik aku, Mah. Tapi tadi barusan aku mual-mual lagi, untung saja aku nggak sampai muntah," jawab Renata jujur sambil memegangi perutnya.
Mendengar itu, wajah Mama Sarah justru menyiratkan kekhawatiran yang nyata. Ia meletakkan serbet yang dipegangnya. "Aduh... kamu itu ya, pasti di kamar kamu nggak benar-benar tidur ya? Makanya mualnya nggak hilang secara tuntas."
Renata terdiam sesaat, mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. “Kenapa mertuaku jadi berbeda sekarang? Mau dibilang aneh, tapi dia Ibu mertuaku. Ada apa dengan sikapnya yang tiba-tiba jadi selembut ini?” batinnya penuh tanya.
"Benar aku tidur, Mah. Biar rasa pusing di kepalaku hilang," jawab Renata pelan, mencoba tetap bersikap sopan meski hatinya diliputi kebingungan.
"Ya sudah, Mama percaya sama kamu," sahut Mama Sarah sambil mengangguk-angguk. Ia kemudian menunjuk ke arah kursi makan dengan dagunya. "Mending sekarang kamu duduk dulu saja di situ. Tunggu bolu buatan Mama matang. Jangan banyak gerak dulu."
Renata menurut. Ia menarik kursi itu dan duduk dengan tenang. Matanya terpaku pada sebuah loyang di dalam oven yang mulai mengeluarkan aroma harum mentega dan vanila. Di tengah keharuman kue yang sedang mengembang itu, Renata merasakan suasana rumah yang biasanya tegang kini berubah menjadi lebih hangat, meski ia belum tahu pasti apa yang menyebabkan perubahan drastis pada diri Mama Sarah.
Renata mengalihkan pandangannya dari oven, teringat kembali saat ia baru saja terbangun dari tidurnya tadi. Di bawah temaram lampu kamar, ia baru menyadari bahwa di sampingnya sudah tidak ada lagi keberadaan suaminya. Ruang kosong di sisi tempat tidur itu seolah mengonfirmasi bahwa Bara telah pergi tanpa sempat berpamitan padanya.
"Mah, Mas Bara kemana ya? Aku tadi bangun dia sudah tidak ada di kamar. Kemana Mas Bara pergi?" tanya Renata, suaranya terdengar sedikit hampa.
Mama Sarah yang sedang sibuk mengenakan sarung tangan anti panas menoleh sekilas. "Ini lho, Bara tadi pergi sekitar jam tiga lewat."
Renata melirik jam dinding di ruang tengah. Jarum pendek sudah bertengger di angka lima sore. Berarti sudah hampir dua jam suaminya itu menghilang.
"Terus dia bilang mau pergi ke kantor, ada urusan yang harus diselesaikan," lanjut Mama Sarah dengan nada menggerutu. "Padahal Mama sudah melarang Bara buat jangan pergi. Kamu kan lagi kurang enak badan, terus Bara bilang juga kamu lagi mengandung—walaupun itu katanya masih omongan doang, belum pasti."
Mama Sarah menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan kejengkelan yang nyata pada anak laki-lakinya sendiri. "Nah, makanya Bara seharusnya di rumah saja nemenin kamu. Kalau kamu kenapa-kenapa, yang tanggung jawab siapa? Harusnya kan Bara! Untungnya ada saya di rumah, coba kalau nggak ada siapa-siapa? Pasti kamu repot sendiri."
Mendengar ucapan mertuanya yang berubah 180 derajat—dari yang biasanya sinis menjadi begitu protektif, membuat Renata tanpa sadar menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena heran. Sehingga merasa seperti sedang berhadapan dengan orang yang berbeda.
"Aku bisa ngatasin sendiri kok, Mah," sahut Renata pelan. "Bukannya nggak perlu bantuan siapapun, tapi aku juga nggak mau merepotkan orang lain."
"Kamu tuh ada saja jawabannya!" potong Mama Sarah cepat, meski nada bicaranya tidak sekasar biasanya. "Sudah jelas-jelas kalau ada apa-apa kamu juga pasti perlu bantuan."
Tepat saat itu, bunyi ting terdengar dari arah oven. Mama Sarah segera membuka pintu oven dan mengeluarkan seloyang bolu yang kuning keemasan dan menebar aroma wangi vanilla ke seluruh ruangan.
"Ya sudah, mending sekarang kamu cobain bolu buatan saya," ucap Mama Sarah sambil memindahkan bolu itu dari loyang ke atas sebuah piring porselen besar dengan sangat hati-hati.
"Bi Sumi... sini!" seru Mama Sarah.
Tak lama kemudian, Bi Sumi muncul dengan langkah tergesa-gesa dari arah dapur belakang. "Iya, Nyonya? Saya segera ke sana. Ada yang bisa saya bantu?"
Renata hanya terdiam memperhatikan Ibu mertuanya itu, sementara sepotong bolu hangat kini sudah tersaji di depannya, seolah menjadi simbol perdamaian yang tak terduga di sore yang ganjil ini.
"Tolong ambilkan pisau kue sama piring kecil lagi ya, Bi," perintah Mama Sarah dengan nada yang masih tegas namun tidak sedingin biasanya. "Sama buatkan teh hangat manis satu cangkir buat Renata. Jangan terlalu panas, sedang saja."
"Baik, Nyonya," jawab Bi Sumi cekatan. Sebelum kembali ke dapur, Bi Sumi sempat melirik Renata dengan tatapan heran.
Renata hanya bisa membalasnya dengan mengangkat bahu sedikit, tanda ia pun sama bingungnya. Setelah Bi Sumi pergi, Mama Sarah memotong bolu itu dengan sangat presisi. Uap tipis mengepul ke udara dari potongan kue yang lembut.
"Nih, dimakan. Mumpung masih hangat," ucap Mama Sarah sambil menyodorkan piring kecil berisi potongan bolu ke depan Renata. "Kamu itu kalau mual jangan malah nggak makan. Nanti asam lambung naik, malah tambah parah pusingnya."
Renata menerima piring itu dengan ragu. Ia memotong sedikit bagian bolu menggunakan sendok kecil dan memasukkannya ke mulut. Rasa manis yang pas dan tekstur yang lembut seketika memanjakan lidahnya.
"Enak, Mah. Makasih ya," ucap Renata.
Mama Sarah hanya mendengus pelan, lalu ikut duduk di hadapan Renata. "Bara itu memang keterlaluan. Mentang-mentang ada urusan pekerjaa , dia jadi lupa kalau punya tanggung jawab di rumah. Harusnya dia tahu, kalau memang ada 'nyawa' lain yang ada dalam perutmu itu, dia nggak boleh sembarangan ninggalin kamu."
Renata hampir tersedak. Ia menelan bolunya dengan susah payah. Kata-kata "nyawa lain" terasa sangat nyata di telinganya, mengingatkan kembali pada kejadian di kamar mandi tadi malam. Rahasia yang ia simpan rapat seolah mulai terendus oleh insting seorang ibu dari mertuanya.
"Mas Bara kalo lagi ada urusan pekerjaan biasanya udah stres, Mah. Aku udah tau hal itu bakal terjadi," bela Renata pelan, meski dalam hati ia pun merasa sedikit kecewa karena Bara pergi tanpa pesan.
"Stres ya stres, tapi jangan jadi nggak tahu diri!" sahut Mama Sarah tajam. Tiba-tiba, ponsel di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk. Mama Sarah meliriknya, lalu mendengus lagi. Suasana di meja makan yang tenang seketika pecah saat Mama Sarah menatap layar ponselnya. Sebuah foto yang dikirim oleh Reno menampilkan pemandangan yang mengharukan: Papah Baskoro sudah membuka matanya dan tersenyum lemah ke arah kamera, sementara di sisi ranjang, Reno dan Maya tampak ikut berpose merayakan kesadaran suaminya Sarah.
Melihat foto itu, Mama Sarah spontan menutup mulutnya. Air mata haru hampir saja meluncur dari sudut matanya. "Ya Tuhan... Papah..." bisiknya dengan nada tak percaya.
Renata yang duduk di hadapannya segera meletakkan sendoknya. Ia merasa cemas melihat perubahan ekspresi mertuanya yang begitu mendadak. "Mah? Mamah kenapa?" tanya Renata dengan nada khawatir.
Tanpa berkata banyak, Mama Sarah memutar layar ponselnya ke arah Renata. "Lihat, Ren! Papah... Papah sudah sadar."
Renata menatap foto itu dengan binar kebahagiaan yang tulus. Rasa sesak yang menghimpitnya selama berhari-hari seolah terangkat. "Akhirnya Papah sudah sadar, Mah. Aku jadi merasa lega sekali mendengarnya," ucap Renata sambil tersenyum lebar.
"Iya, Renata. Mama juga merasa sangat lega. Akhirnya beban di kepala saya hilang, saya tidak perlu cemas lagi soal kondisi suami saya," sahut Mama Sarah dengan suara yang sedikit bergetar.
Tak butuh waktu lama, insting Mama Sarah sebagai istri langsung bangkit. Ia segera berdiri dan bergegas kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap menuju rumah sakit. Renata hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan melihat kegesitan mertuanya itu. Ia pun melanjutkan suapan bolu kedua, menikmati kehangatan kue yang kini terasa lebih manis karena berita baik tadi.
Sepuluh menit berlalu, Mama Sarah keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah rapi dan tas branded tersampir di lengannya. Ia berjalan cepat menghampiri Renata yang masih duduk di meja makan.
"Mamah pergi dulu ke rumah sakit. Kamu di rumah saja, jangan ikut!" perintah Mama Sarah, suaranya kembali tegas namun isinya penuh dengan larangan yang protektif. "Terus ingat, jangan terlalu banyak gerak. Jangan nyuci piring, jangan masak, jangan kerjakan apa pun! Biarkan Bi Sumi yang mengerjakan semuanya di rumah ini. Kamu mengerti?"
Renata yang masih mengunyah bolu hanya bisa mengangguk pasrah. "Ya sudah, hati-hati di jalan ya, Mah."
Setelah Mama Sarah menghilang di balik pintu depan, keheningan kembali menguasai rumah. Renata terdiam, menatap potongan bolu di piringnya dengan pandangan kosong.
Berpindah ke suasana di dalam ruang VIP yang tadinya penuh tawa karena obrolan receh, tapi saat waktunya mau pulang ke rumah masing-masing, tiba mendadak berubah menjadi panggung perdebatan kecil yang membuat Reno ingin sekali menghilang dari sana.
"APA! Saya yang nganterin dia pulang, Om?" tanya Reno dengan nada suara yang naik satu oktav, telunjuknya mengarah tepat ke wajah Maya yang tampak sok polos.
Om Baskoro mendengus, ia memperbaiki posisi duduknya di atas brankar dengan gerakan yang masih terbatas. "Atuh iya, mau siapa lagi lho, Ren? Kamu ini sama saja nggak tahu terima kasih sama apa yang sudah diberikan Maya. Maya sudah bawain kamu makanan, masa kamu tidak membalas budinya sedikit pun?"
"Tapi Om..." Reno mencoba membela diri. Ia membayangkan betapa menyebalkannya terjebak di dalam mobil bersama wanita yang penuh drama ini.
Tiba-tiba, Maya menyela dengan suara yang dibuat selembut mungkin, namun tetap terselip nada angkuh. "Udah-udah, nggak apa-apa Om. Aku kan bisa pulang sendiri naik taksi. Lagian, aku juga nggak mau dianterin pulang sama dia," ucapnya sambil melirik Reno sinis.
Reno mengangkat satu alisnya. “Dih, siapa juga yang mau nganterin lo?” batinnya kesal.
Namun, Om Baskoro tidak memberi ruang untuk penolakan. "Aduh... nggak-nggak! Kamu harus dianterin Reno. Om bukan maksud memaksa kamu pulang bareng dia, tapi kamu itu perempuan, Maya. Om takut ada apa-apa di jalan. Apalagi modelan kamu begini, terus cantik begini, tiba-tiba kalau diapa-apain orang jahat di taksi gimana? Jadi mending kamu pulang bareng Reno saja ya."
Reno baru saja hendak membuka mulut. "Sebentar Om..."
"Nggak ada alasan!" potong Om Baskoro telak, tak membiarkan Reno menyelesaikan kalimatnya. "Kamu harus anterin Maya. Kasihan dia, mobilnya lagi di bengkel. Kalau mobil Maya nggak di bengkel, dia juga pasti bisa pulang sendiri."
Reno terbungkam. Ia menatap langit-langit ruangan seolah mencari keadilan, namun nihil. Perintah Om Baskoro adalah titah yang tak bisa ia bantah, apalagi pria tua itu baru saja siuman.
Akhirnya, dengan berat hati, Reno bangkit dari kursinya, diikuti oleh Maya yang diam-diam menyunggingkan senyum di balik punggung Om Baskoro. Mereka berdua melangkah menuju pintu.
"Hati-hati ya di jalan! Reno, kamu harus ikhlas ya nganterinnya," seru Om Baskoro sambil melambaikan tangan lemah.
"Iya, Om..." sahut Reno lesu sebelum benar-benar keluar dari ruangan bersama Maya.
Begitu pintu VIP tertutup rapat, suasana di lorong rumah sakit yang dingin langsung terasa mencekam. Reno berjalan cepat tanpa menoleh sedikit pun ke arah Maya.
"Eh, pelan-pelan dong kalau jalan! Lo pikir gue atlet lari?" protes Maya sambil bergegas mengikuti langkah kaki Reno yang panjang.
Reno berhenti mendadak di depan lift, membuat Maya hampir menabrak punggungnya. Reno berbalik dengan tatapan tajam. "Denger ya, May. Gue nganterin lo karena terpaksa. Paham?"
Maya hanya mendengus, melipat tangan di dada sambil menunggu pintu lift terbuka. "Siapa juga yang mau pulang bareng lo? Gue cuma mau sampai rumah dengan selamat tanpa harus dengerin ocehan lo!"