Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.
Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.
Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Miss You So Much
Seharian ini Jeevan merasa sangat kesal karena sejak kemarin Valerie belum juga menghubunginya, padahal Jeevan ingin tahu bagaimana keadaan calon istrinya. Pekerjaannya tidak fokus sehingga membuat Jeevan harus pulang agak malam karena masih banyak yang harus diselesaikan. Sialnya Kenzie tidak bisa menemaninya karena Sulthan menyuruh dirinya untuk datang menemuinya, mungkin karena kejadian tadi siang.
Sudah berapa kali Jeevan terus melirik ke arah ponsel yang tidak jauh darinya, masih sama seperti tadi tidak ada notifikasi masuk atau panggilan khusus dari Valerie, apakah Valerie masih sakit? Sungguh Jeevan dibuat khawatir sekali. Namun sayang tebakan Jeevan salah, karena malam itu Valerie sedang menemui Rania.
Sejak kembali ke Indonesia memang Rania belum sempat bertemu dengan Valerie karena jadwalnya yang sangat sibuk, Rania juga tidak bisa keluar sembarangan tanpa izin dari mamanya, meskipun itu Valerie. Rania sudah mendengar kabar jika sahabat yang dikenalnya sejak masa kuliah akan segera menikah, tapi Rania tidak tahu jika pernikahan Valerie hanya sebatas kontrak. Hanya Owen yang tahu segalanya.
"Kenapa nggak bilang sama gue lebih dulu? Kenapa gue harus tahu dari Owen?" tanya Rania sangat kesal saat mereka berdua memutuskan untuk bertemu di tempat makan kesukaannya yaitu makanan Korea.
Valerie dan Rania mempunyai kesamaan yaitu lebih suka makanan khas Korea dan Jepang, dibandingkan dengan makanan khas Eropa. Di tempat ini biasanya mereka menghabiskan waktu bertiga bersama Owen, terkahir mereka bertemu dua tahun lalu sebelum Owen dan Rania pergi untuk misi relawan ke tempat negara konflik.
"Memang lo bisa gue hubungi? Hp lo sibuk mulu," sindir Valerie mengingatkan jika Rania lebih sibuk daripada Owen.
Bukan sibuk pekerjaan tapi lebih sibuk menghabiskan waktu bersama dengan Biyan dan keluarganya. Papanya Rania tidak mau jika putri bungsunya menghabiskan waktu dengan orang lain kecuali kedua sahabatnya yaitu Valerie dan Owen. Tapi nyatanya setiap waktu Rania libur bekerja, selalu dipergunakan waktunya bersama dengan Biyan.
"Kenal dari mana sama dia? Bukannya yang mau nikah sama lo itu Nathan?" tanya Rania sedikit heran menatap Vale.
"Nyokap sama bokap," jawab Valerie singkat tanpa mau banyak bicara karena jika dirinya banyak bercerita kepada Rania akan panjang lagi masalahnya.
"Ternyata nasib kita sama, ya," ujar Rania dengan nada sedih.
Bukannya Valerie tidak ingin bicara dan berterus terang, tapi masalah ini memang benar-benar sangat serius. Valerie pun merasa sedih karena harus berbohong kepada sahabatnya. Ditatapnya wajah Rania yang begitu cantik dan manis, kadang Valerie merasa iri dengannya karena kedua orang tuanya masih memperdulikannya meskipun Rania harus menikah dengan pilihan kedua orang tuanya, tapi setidaknya kedua orang tuanya selalu ada untuk Rania.
Selalu ada waktu untuk bicara dan bersama meski hanya di meja makan, tapi berbeda dengan Valerie yang setiap hari hanya dilewati sendirian tanpa siapapun di sisinya. Tidak ada seseorang di saat dirinya sedang kesepian, tidak ada yang merawatnya dengan penuh kasih sayang di saat dirinya sedang sakit, tidak ada yang memeluknya di saat dirinya sendang merasa sedih. Semua harus dilewati sendirian dengan rasa sedih dan kesepian.
Rasa rindu kepada kedua orang tuanya semakin mendalam setiap hari karena Vale sangat merindukan kehadirannya. Bahkan di saat seperti sekarang Valerie akan menikah, kedua orang tuanya masih saja sibuk dengan bisnisnya tidak ada waktu luang untuk menemani Vale memilih gaun, WO atau bertanya kepada Valerie konsep pernikahan seperti apa yang diinginkan olehnya. Kedua orang tuanya menyerahkan semuanya kepada WO dan keluarga Jeevan.
"Terus kapan lo nikah?" tanya Valerie balik bertanya tentang rencana pernikahannya dengan Biyan.
"Nggak tahu," jawab Rania mendadak kesal dan badmood.
"Bukannya dalam waktu dekat?"
"Iya. Tapi masalah baru muncul."
"Kok bisa? Kenapa?"
"Ada lelaki stress yang ngaku-ngaku jadi calon suami gue, dan dia bilang depan semua orang di rumah sakit," jawab Rania masih merasa kesal jika harus mengingatkan kejadian beberapa hari lalu.
"What! Serius?" tanya Valerie tidak percaya dan Rania hanya mengangguk sebagai jawaban 'Ya'.
"Lebih parahnya dr. Alex kebeneran ada di sana dan dia denger semuanya. Lo bisa nebak dong gimana reaksinya, dan semua jadi berantakan gara-gara dia!" jelas Rania kesal dengan ekspresi wajahnya meringis jika mengingat kejadian itu.
Cerita Rania bukannya membuat Valerie kasian atau iba, tapi perempuan cantik yang ada di hadapan Rania malah tertawa ringan. Valerie merasa jika mereka berdua sangatlah cocok dan mempunyai kepribadian yang hampir sama. Rania keheranan melihat Valerie tertawa saat mendengar ceritanya.
"Kok malah ketawa sih?" tanya Rania kesal menatap sinis Vale.
"Sorry...sory...gue ngerasa kalau kalian berdua itu mirip banget," jawab Vale menahan tawanya.
"Gue! Mirip dia?" Rania keheranan dan tidak terima disamakan dengan Kenzie.
"Iya," angguk Vale dengan santainya.
"Jangan ngaco, deh." Wajah Rania mulai terlihat kesal dan Vale hanya tertawa ringan.
Hubungan mereka memang sangat dekat sejak pertama kali bertamu saat kuliah dulu. Tapi Rania tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan sahabat baiknya, bukan Vale tidak mau memberitahukannya melainkan Rania sudah memiliki banyak beban dalam hidupnya. Dan perempuan bermata hitam itu mudah stress jika banyak sekali pikiran, jadi Valerie memutuskan untuk tidak memberitahunya lebih dulu.
"Gue berharap pernikahan lo akan bahagia, ya," ucap Rania mendadak menatap Valerie dengan tatapan sendu.
Suasana yang tadinya sedikit ceria mendadak berubah menjadi melow dan tatapan sendu Rania. Senyumnya terlihat getir sangat menghawatirkan Valerie yang selalu memendam perasaan dan isi hatinya sendiri. Rania memang merasa sedikit bersalah karena tidak selalu ada jika Valerie membutuhkannya.
Tatapan sendu Rania membuat Vale sedikit sedih, karena tahu jika Rania sedang mengkhawatirkannya. Tapi Vale tidak ingin jika sahabatnya terus memikirkannya. Sebisa mungkin Valerie harus menyelesaikan masalahnya sendiri ketika nanti sudah menikah dengan Jeevan.
"Lo tenang aja, gue pasti bahagia," ucap Valerie meyakinkan Rania.
Ponsel Rania berdering dan ternyata dari Biyan. Pertemuan antara Vale dan Rania berakhir, karena Rania harus bertemu dengan Biyan sekarang juga. Malam masih menunjukan pukul 20:00 WIB, Valerie merasa kebingungan apa yang akan dilakukannya saat ini. Jika dirinya pulang ke rumah pasti akan merasa kesepian dan bosan harus ada di kamarnya lagi menonton tv, scrolling media sosial, dan mendengarkan musik. Semua kegiatan yang dilakukan oleh Valerie setiap hari dan malamnya menjelang tidur, membuatnya merasa sangat membosankan.
Tatapannya kosong dan sendu, langkah kakinya terus melangkah entah kemana karena pikirannya yang tidak karuan. Setelah Rania pergi lebih dulu, Valerie memutuskan untuk berjalan santai menelusuri jalan yang entah sampai mana langkah tujuannya. Hatinya yang selama ini kuat dan tegar mendadak melow, crita hari ini dengan sahabatnya membuat dirinya merindukan sosok kedua orang tuanya.
Valerie adalah perempuan yang tidak pernah bercerita tentang isi hatinya, ia tidak pernah bercerita saat dirinya sedang merasa sedih, dan wajah cantiknya selalu berusaha terlihat ceria meskipun hati dan perasaannya sedang tidak baik-baik saja. Kadang perempuan yang mempunyai mata sedikit oriental itu sering menangis sendirian tanpa satu orang yang tahu dan melihatnya. Di depan semua orang dan kedua sahabatnya, ia adalah sosok yang sangat hebat dan kuat. Namun nyatanya dia adalah perempuan yang kesepian dan penuh luka serta kecewa.
Setelah beberapa lama berjalan tiba-tiba langkah kakinya terhenti di sebuah taman pinggiran kota, sebuah taman yang mengingatkan kembali ingatannya beberapa tahun lalu saat dirinya masih duduk di bangku SMP. Memori indah terulang kembali di dalam pikirannya dan sebuah kenangan manis muncul secara berurutan, file-file memori yang sudah lama tersimpan di tempat spesial kini terlihat begitu nyata.
Saat itu Jakarta sedang diguyur hujan sangat deras, sepulang sekolah Valerie berlari menggunakan payung di bawah guyuran menuju taman tersebut karena ada seseorang yang sedang menunggunya saat itu. Seseorang yang menjadi cinta pertamanya. Seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya saat kebakaran terjadi di gudang sekolah. Ya, dialah orang yang membuat Valerie sulit membuat hatinya untuk lelaki lain.
Buliran bening mendadak memenuhi pelupuk matanya yang indah ketika mengingat kejadian itu, dengan tatapan kosong Valerie terus menatap taman yang sekarang sudah berubah namun tidak dengan kenangannya. Andai saja saat itu Valerie tidak terlambat datang, mungkin sampai saat ini ia bisa tahu di mana keberadaannya. Keberadaan sang penyelamat hidupnya yang akan terus menjadi cinta pertamanya.
Ketika Vale sedang melamun tiba-tiba sebuah suara menyadarkan lamunannya, suara yang sudah tidak asing kali ini di telinganya. Saat mendengar namanya sontak Vale menoleh dan melihat seseorang berdiri tidak jauh darinya. Lelaki bertubuh tinggi tegap, masih menggunakan setelan jas kerja namun bagian atasnya terbuka tanpa dasi yang melingkar di bagian lehernya, dia adalah Jeevan.
Kedua bola matanya membulat sempurna melihat kehadiran Jeevan yang tiba-tiba saja ada di sana. Kenapa Jeevan ada di sini? Senyum simpul lelaki berambut comma begitu manis menyapa Valerie. Langkah kakinya berjalan perlahan menghampiri Vale sambil terus menatapnya begitu lekat, tanpa sekalipun memalingkan pandangannya atau hanya sekedar berkedip sesaat, membuat Valerie sedikit gugup.
"Kamu? Ngapain di sini?" tanya Valerie keheranan saat Jeevan berdiri tepat tidak jauh di hadapannya.
Senyum lebarnya masih terlihat sehingga kedua bola matanya sering ikut menyipit. Tatapannya masih belum lepas begitu lekat menatap wajah cantik Valerie. Rasa bahagia dirasakan oleh Jeevan yang akhirnya bisa bertemu dengan Valerie. Entah kenapa Jeevan merasa sangat lega dan tenang melihat Vale ada di depan matanya dengan keadaan yang sangat sehat. Spontan secara refleks Jeevan langsung memeluk Valerie begitu erat tanpa menjawab pertanyaannya lebih.
Deg...deg....deg....detak jantung Valerie mendadak berdetak begitu cepat dan tidak beraturan. Tubuhnya membeku tidak bisa digerakkan, rasa hangat tubuh Jeevan begitu terasa membuat Valerie merasa sedikit tenang berasa di pelukannya. Perasaan apa ini? Perasaan apa yang telah hadir pada Valerie?
ku kasih bintang lima biar author nya tambah semangat lagi🤭💪