Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.
Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Langit pagi tampak cerah saat pesawat pribadi keluarga Rutherford bersiap lepas landas. Segalanya telah dipersiapkan dengan sempurna, seperti biasa, tanpa cela dan tanpa keterlambatan. Namun, suasana di dalam kabin justru terasa sebaliknya.
Cameron duduk di kursinya dengan tubuh bersandar, menatap ke arah jendela tanpa benar-benar melihat apa pun. Wajahnya tampak lebih dingin dari biasanya, tetapi kelelahan yang ia coba sembunyikan tetap terlihat jelas. Sudah lebih dari satu minggu ia mencari tanpa henti, dan pikiran tentang Giana serta Cayden tidak pernah benar-benar meninggalkannya.
Ia bahkan tidak ingin berada di sana. Perjalanan itu terasa seperti paksaan, desakan dari Bianca membuatnya tidak memiliki banyak pilihan. Pertemuan dua keluarga besar bukan sesuatu yang bisa ia abaikan begitu saja, terlebih ketika itu menyangkut masa depannya sendiri. Namun bagi Cameron, semua itu terasa tidak penting.
Di kursi seberangnya, Regina duduk dengan sikap yang jauh berbeda. Penampilannya tetap sempurna, rapi, dan elegan seperti biasanya. Namun ekspresi wajahnya menunjukkan kekesalan. Ia menatap Cameron cukup lama sebelum akhirnya membuka suara.
“Kau bahkan tidak mengatakan sepatah kata pun sejak kita berangkat,” katanya agak kesal.
Namun tidak ada jawaban, Cameron tetap memilih diam. Regina menghela napas panjang, mencoba menahan emosinya. Namun semakin lama ia melihat sikap Cameron, semakin sulit baginya untuk tetap tenang.
“Sudah lebih dari satu minggu, Cameron,” lanjutnya, nada suaranya mulai berubah. “Sejak pelayan rendahan itu pergi dari rumah, kau seperti kehilangan akal sehatmu.”
Cameron masih tidak menoleh. Tatapannya tetap lurus ke depan, kosong, seolah suara Regina tidak benar-benar ia dengar. Namun Regina tidak berhenti.
“Kau tidak tidur dengan benar. Kau mengabaikan pekerjaanmu, kau mengabaikan aku. Dan sekarang ….” Regina tertawa kecil, getir, “Kau bahkan tidak bisa bersikap normal di hadapanku.”
Cameron tetap diam, terlalu lelah untuk berdebat sekarang. Apalagi, kepalanya terasa berdenyut sekarang.
Kesunyian itu justru membuat emosi Regina semakin memuncak. “Dia hanya seorang wanita biasa!” ucapnya lebih keras. “Dan bayi itu bahkan bukan siapa-siapa bagimu!”
Kalimat itu akhirnya membuat Cameron bereaksi. Namun bukan untuk menjawab. Ia justru memejamkan matanya, seolah memilih untuk tidak mendengar, seolah menghindari percakapan yang sudah pasti akan berujung pada pertengkaran, lagi.
“Cameo!” sentak Regina kesal. “Kau bahkan tidak ingin menyangkalnya? Kau mengabaikan aku lagi, Cameo! Kau benar-benar tidak punya hati!”
Cameron tetap diam, ia hanya menarik napas panjang tanpa benar-benar menjawab pertanyaan Regina.
Dan bagi Regina, itu jauh lebih menyakitkan. Ia menggertakkan giginya, menahan emosi yang hampir meluap. Tangannya mengepal di atas pangkuannya, sementara dadanya naik turun menahan amarah.
Regina terbiasa mendapatkan perhatian. Ia terbiasa menjadi pusat. Namun sekarang, ia merasa seperti tidak dianggap dan Regina membenci hal itu.
Pesawat mulai bergerak perlahan di landasan, suara mesin perlahan memenuhi kabin. Namun di antara suara itu, ketegangan di antara mereka terasa jauh lebih bising.
Regina akhirnya memalingkan wajahnya, menatap ke arah lain dengan rahang yang mengeras. Ia tidak ingin melihat Cameron lebih lama, tidak ingin melihat bagaimana pria itu memilih diam daripada menjawabnya.
Sementara itu, Cameron tetap dalam posisinya, matanya terpejam. Namun pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Bayangan Giana, wajah Cayden, dan malam terakhir sebelum semuanya berubah terus berputar di kepalanya tanpa henti.
Ia tahu dirinya berada di tempat yang salah. Melakukan hal yang salah, namun untuk saat ini, ia terjebak di antara kewajibannya dan tanggungjawab.
Pesawat akhirnya lepas landas, meninggalkan kota di bawah mereka, membawa Cameron semakin jauh dari seseorang yang justru ingin ia temukan.
***
“Bagaimana, Giana? Apa nomornya masih tidak bisa dihubungi?” tanya sang ibu panti.
Giana menggeleng lemah, lalu mengembalikan ponsel milik ibu panti yang akhir-akhir ini sering dipinjamnya untuk menghubungi nomor Cameron. Namun, sebanyak apa pun ia mencoba, tetap tak berhasil.
“Masih tidak bisa, Bu. Mungkin ….”
“Jangan berpikir yang tidak-tidak,” potong ibu panti cepat. “Jika Tuan Cameron yang kau katakan itu memang benar-benar tidak menginginkannya, tidak apa-apa, kita masih bisa membesarkan anak itu bersama-sama di sini.”
Giana tersenyum tipis. Ia sudah menceritakan semuanya kepada ibu panti mengenai Cayden dan bagaimana bisa ia terusir bersama dengan bayi kecil yang baru berusia beberapa hari itu.”
“Orang kaya memang seperti itu, Nak. Masalah mereka terlalu rumit untuk dibahas, lebih baik jadi manusia yang sederhana seperti kita,” kelakar ibu panti membuat Giana ikut mengiyakannya saat itu.
Mereka kemudian melanjutkan pekerjaan mereka. Meski begitu, Giana tetap saja memikirkan Cameron, sebab jika dia tidak bisa mengambil kembali Cayden, Giana takut tak akan bisa memberikan yang terbaik bagi bayi itu.
•••
Mohon maaf, slow update, author sedang persiapan pindah tempat kerja. Agak sibuk belakangan ini, hehe.
Selamat membaca. ❤️