Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.
bonus langsung 10 episode pertama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dingin yang Mendekat
Bintang Utara terus melaju ke utara selama berminggu-minggu.
Pada hari ketiga puluh pelayaran, suhu mulai turun drastis. Formasi penghangat kapal bekerja lebih keras, menciptakan gelembung udara hangat di dek yang kontras dengan udara luar yang sudah bisa membekukan air dalam hitungan menit. Lautan awan di bawah mulai menghilang, digantikan oleh hamparan putih tak berujung—bukan awan, melainkan es. Lautan Beku, begitu Freya menyebutnya.
"Ini perbatasan antara Kepulauan Tenggara dan Benua Utara," kata Freya dari anjungan, jubah bulunya yang tebal menutupi tubuhnya dari leher hingga mata kaki. "Di bawah kita sekarang adalah lautan yang membeku secara permanen. Bahkan di musim panas, es ini tidak pernah mencair."
"Dingin sekali," bisik Xiao Yu, yang berdiri di sampingnya. Meski sudah memakai jubah bulu serigala salju, gadis itu masih menggigil sedikit. "Aku bisa lihat napasku sendiri."
"Itu karena kau masih di Pemurnian Qi tingkat 2. Semakin tinggi kultivasimu, semakin tahan tubuhmu terhadap suhu ekstrem."
"Berapa tingkat Ayah?"
Freya melirik Xiao Chen yang berdiri di haluan kapal, jubah putihnya yang tipis berkibar diterpa angin beku tanpa tanda-tanda kedinginan. "Dia... berbeda."
"Ayah selalu berbeda."
"Ya. Dia memang."
Pada malam ketiga puluh tiga, mereka melihatnya untuk pertama kali: Cahaya Utara.
Pita-pita cahaya hijau, ungu, dan biru menari-nari di langit malam, menciptakan pemandangan yang begitu magis hingga seluruh kapal berhenti beraktivitas untuk menonton. Para penumpang berkumpul di dek, wajah mereka disinari warna-warna surgawi. Bahkan para awak kapal yang sudah puluhan kali melihatnya masih terpana.
"Cahaya Utara," bisik Liu Ruyan. "Konon, itu adalah energi spiritual murni dari Alam Immortal yang bocor ke Alam Fana. Kultivator yang berkultivasi di bawahnya bisa mendapat pencerahan."
Xiao Chen menatap cahaya itu. "Bukan bocor. Itu adalah... pesan."
"Pesan?" Wei Ling menoleh.
"Seperti kain emasku. Seseorang di atas sana mencoba mengatakan sesuatu. Tapi bahasanya sudah terlalu tua untuk dipahami."
"Atau terlalu tinggi untuk didengar," tambah Liu Ruyan.
Xiao Chen tidak menjawab. Dia hanya menatap cahaya yang menari-nari, dan di balik matanya, rodanya berputar. Apa yang kau coba sampaikan padaku?
—
Di bawah Cahaya Utara, Freya menemukan Xiao Chen di anjungan belakang.
Para penumpang sudah kembali ke kabin mereka. Para awak kapal yang bertugas malam berbicara dengan suara pelan. Hanya mereka berdua di sini, di bawah langit yang menari-nari.
"Kau tidak tidur lagi," kata Freya.
"Aku tidak butuh."
"Kau selalu bilang begitu." Freya berdiri di sampingnya, menyandarkan tubuhnya di pagar. "Tapi kali ini, aku tidak akan mengajakmu bertarung. Aku hanya... ingin di sini."
"Itu cukup."
Mereka berdiri dalam keheningan yang nyaman. Cahaya Utara memantul di rambut putih Xiao Chen, menciptakan efek seperti pelangi yang menari-nari di atas salju.
"Aku dulu sering melihat ini sendirian," kata Freya pelan. "Setiap kali Bintang Utara melewati Lautan Beku. Selalu sendirian. Aku pikir... pemandangan seperti ini dibuat untuk dinikmati sendiri."
"Dan sekarang?"
"Dan sekarang, ada kau di sini. Dan entah kenapa, rasanya lebih baik."
Xiao Chen menoleh, menatapnya. Di bawah cahaya yang menari-nari, wajah Freya terlihat lebih lembut—tidak lagi kapten yang tegas, hanya seorang wanita yang telah menemukan seseorang.
Dia menciumnya. Lembut pada awalnya, hanya bibir yang bertemu. Tapi Freya—seperti biasa—memperdalam ciuman itu, lidahnya masuk, tangannya naik ke rambut putih Xiao Chen.
"Aku ingin," bisiknya di sela ciuman. "Di sini. Di bawah cahaya ini."
"Di dek? Ada awak kapal."
"Mereka sudah tahu untuk tidak mengganggu." Freya menariknya ke sudut anjungan yang lebih gelap, di mana tumpukan layar cadangan menciptakan dinding kain. "Lagipula... kita akan pelan-pelan."
Dia mendorong Xiao Chen ke tumpukan layar, lalu berlutut di depannya. Tangannya membuka jubah Xiao Chen, dan ketika penisnya muncul—sudah setengah ereksi—Freya tersenyum.
"Aku sudah memikirkan ini seharian."
Mulutnya menutupi ujung penisnya, dan Xiao Chen mengerang pelan. Freya bekerja dengan pengalaman—lidahnya berputar, bibirnya menghisap, sementara tangannya memainkan bagian yang tidak masuk ke mulutnya. Dia menatap Xiao Chen dari bawah, mata biru esnya berbinar nakal.
"Aku suka caramu melihatku," bisik Xiao Chen.
Freya melepaskan penisnya dengan suara pop basah. "Bagaimana?"
"Seperti kau ingin memakanku."
"Mungkin memang begitu."
Dia menjilat sepanjang batangnya—dari pangkal ke ujung—dengan lidahnya yang hangat dalam udara dingin. Kontras suhu itu membuat Xiao Chen semakin keras. Kemudian Freya memasukkannya kembali ke mulutnya, kali ini lebih dalam, sampai ujungnya menyentuh tenggorokannya, dan dia menahannya di sana selama beberapa detik sebelum menarik diri.
"Kau... tidak tersedak?"
"Aku kapten kapal. Aku sudah menelan badai. Ini bukan apa-apa."
Xiao Chen menariknya berdiri. "Giliranku."
Dia membalikkan posisi mereka—sekarang Freya yang disandarkan ke tumpukan layar. Dia membuka jubah bulunya, memperlihatkan tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian dalam tipis. Putingnya sudah mengeras—bukan karena dingin, tapi karena gairah. Vagina-nya sudah basah, cairannya membasahi pakaian dalam dan pahanya.
"Kau selalu sebasah ini?" tanya Xiao Chen, jarinya membuka pakaian dalam itu dan menyentuh langsung labianya yang bengkak.
"Han-Hanya untukmu."
Dua jari masuk, dan Freya mendesah keras—terlalu keras, mungkin terdengar oleh awak kapal. Tapi dia tidak peduli. Jari-jari Xiao Chen bergerak masuk dan keluar, menciptakan suara basah yang teredam oleh suara angin dan mesin kapal. Ibu jarinya menemukan klitorisnya yang menonjol, menekannya dengan lembut sementara jari-jarinya terus bergerak.
"Aku—aku akan—"
"Belum." Xiao Chen menarik jarinya, dan Freya mengerang frustrasi.
"Kenapa kau—"
"Karena aku ingin di dalammu saat kau melepaskan."
Dia mengangkat Freya—tubuh atletisnya terasa ringan di pelukannya—dan mendorongnya ke dinding. Kaki Freya melingkari pinggangnya, dan dalam satu dorongan, dia masuk sepenuhnya.
"Ah—!"
Gerakannya langsung cepat sejak awal. Tidak ada pemanasan—Freya sudah terlalu siap. Setiap dorongan membuat punggung Freya menabrak tumpukan layar, menciptakan bunyi berdebam yang berirama. Tangannya mencengkeram bahu Xiao Chen, kukunya meninggalkan jejak merah di kulitnya.
"Lebih keras—jangan berhenti—"
Xiao Chen mematuhinya. Gerakannya semakin cepat, semakin dalam, dan kepala penisnya mengenai serviks Freya dengan setiap dorongan. Freya menggigit bibirnya sendiri untuk menahan teriakan, tapi itu tidak cukup. Erangannya tetap keluar—panjang, dalam, penuh gairah.
"Aku—aku akan lepaskan—"
"Lepaskan. Aku ingin merasakanmu."
Orgasme Freya menghantam seperti badai. Vaginanya berkontraksi kuat di sekitar penis Xiao Chen, dan dia menjerit—kali ini tidak bisa ditahan—saat gelombang kenikmatan merobek tubuhnya. Gemetarannya berlangsung lama, dan baru ketika mulai mereda, Xiao Chen melepaskan ke dalam dirinya dengan erangan rendah.
Mereka terkulai di tumpukan layar, napas tersengal. Di atas mereka, Cahaya Utara terus menari-nari, menjadi saksi bisu.
"Itu..." Freya menarik napas. "...yang terbaik sejauh ini."
"Aku tahu."
"Kau selalu tahu."
"Itu karena kau selalu memberitahuku."
Freya memukulnya pelan, lalu tertawa—tawa kecil yang entah kenapa terdengar sangat bahagia. "Aku mencintaimu, Xiao Chen. Aku tahu ini gila. Aku tahu kita baru saling kenal beberapa minggu. Tapi aku tidak peduli."
Xiao Chen mencium keningnya. "Aku tahu."
"Bisakah kau sesekali bilang 'aku juga'?"
"...Aku juga."
Freya membelalakkan matanya. "Kau benar-benar bilang?"
"Kau memintanya."
"Itu... itu pertama kalinya."
"Aku tahu."
—
Keesokan paginya, saat sarapan di ruang makan, Freya muncul dengan senyum yang sangat lebar. Para wanita lainnya langsung menyadarinya.
"Kau terlihat... ceria," komentar Xu Mei.
"Aku tidur nyenyak."
"Di anjungan belakang?" tanya Lin Yao datar.
Senyum Freya sedikit menegang. "Kau... dengar?"
"Kapal ini tidak setebal itu. Dan suaramu... cukup keras."
Bahkan Liu Ruyan—yang biasanya tenang—tersenyum di balik cangkir tehnya. "Paling tidak kau bersenang-senang."
Wajah Freya memerah—pertama kalinya Xiao Chen melihat kapten pemberani itu tersipu. "Kita... kita tidak akan membicarakan ini."
"Tentu saja tidak," jawab Wei Ling dengan senyum nakal—senyum yang biasanya muncul dari Xiao Chen, sekarang menular padanya.
"Aku penasaran," kata Xiao Yu tiba-tiba, "kenapa semua ibu-ibu tersenyum misterius?"
Mereka semua saling menatap. Lalu tertawa bersamaan.
"Nanti kau akan tahu kalau sudah dewasa," jawab Liu Ruyan.
"Aku benci kalimat itu!" Xiao Yu menyilangkan lengannya dengan cemberut yang menggemaskan.
—
Perjalanan berlanjut. Semakin ke utara, semakin dingin udaranya. Es mulai terbentuk di pagar kapal, dan formasi penghangat harus diperkuat dua kali oleh Freya. Para penumpang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kabin, dan hanya kultivator dengan tingkat cukup tinggi yang berani berada di dek luar.
Xiao Chen adalah pengecualian. Dia tetap berdiri di haluan setiap pagi, jubah tipisnya berkibar, tidak terpengaruh oleh dingin yang bisa membekukan darah.
"Ayah," Xiao Yu muncul di sampingnya pada suatu pagi, jubah bulunya yang tebal membuatnya terlihat seperti bola beruang kecil. "Apa Ayah tidak kedinginan?"
"Aku tidak merasakan dingin."
"Sama sekali?"
"Sama sekali."
"Itu keren." Xiao Yu menyandarkan tubuhnya di pagar, menatap lautan es di bawah. "Ayah... apa kita akan sampai di Benua Utara segera?"
"Freya bilang sekitar seminggu lagi."
"Lalu kita ke Puncak Es Abadi?"
"Ya."
"Dan di sana ada potongan kain Ayah yang kelima?"
"Seharusnya begitu."
Xiao Yu mengangguk pelan. "Ayah... apa Ayah takut?"
Xiao Chen menoleh, menatap putri angkatnya. "Kenapa kau bertanya begitu?"
"Karena... karena Ayah selalu tenang. Selalu tersenyum. Tapi kadang-kadang, waktu Ayah kira tidak ada yang lihat... Ayah kelihatan sedih."
Xiao Chen tidak menjawab segera. Dia menatap lautan es, dan untuk sesaat, topeng ketenangannya sedikit retak. "Aku tidak takut, Xiao Yu. Tapi aku... khawatir."
"Khawatir tentang apa?"
"Tentang apa yang akan kutemukan di akhir perjalanan ini. Tentang siapa aku sebenarnya. Dan tentang apa yang akan terjadi pada kalian semua."
"Pada kita?"
"Jika aku benar-benar berasal dari Alam Dewa... mungkin ada saatnya aku harus kembali. Dan aku tidak tahu apakah kalian bisa mengikutiku ke sana."
Xiao Yu meraih tangannya—tangan kecilnya yang mungil menggenggam erat jari-jari Xiao Chen. "Ayah, aku tidak peduli Ayah dari mana. Ayah adalah Ayahku. Dan aku akan ikut Ayah ke mana pun. Ke Alam Dewa juga."
"Kau masih kecil. Perjalanan ke Alam Dewa—"
"Aku akan jadi besar! Aku akan latihan setiap hari! Aku akan jadi kultivator terkuat di seluruh alam semesta! Lalu aku akan ikut Ayah!"
Xiao Chen menatapnya. Api di mata gadis kecil itu—api yang pertama kali dilihatnya di jalanan Kota Zamrud—masih menyala. Mungkin lebih terang sekarang.
"Baiklah," katanya akhirnya. "Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Kau harus bisa mencapai Pendirian Fondasi sebelum kita ke Alam Immortal."
"Itu... itu susah!"
"Kau bilang mau jadi kultivator terkuat."
Xiao Yu mengepalkan tangannya. "Baik! Aku akan capai Pendirian Fondasi! Ayah lihat saja nanti!"
Dia berlari kembali ke dalam kapal, mungkin untuk latihan. Atau mungkin untuk minta diajari oleh Wei Ling. Xiao Chen menatapnya pergi, dan tanpa disadari, sebuah senyum kecil muncul di wajahnya.
Pendirian Fondasi, pikirnya. Dia mungkin benar-benar akan melakukannya.