Aarav Elias Kayler terbangun di sebuah dunia yang tak dikenal, tanpa ingatan apapun tentang dirinya. Semua yang dia tahu adalah bahwa dunia ini dipenuhi dengan sihir, dan dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Ketika mencoba menggunakan sihir, tak ada hasil yang muncul, membuatnya merasa terjebak dalam kebingungannya.
Namun, tak lama setelahnya, Aarav menemukan sebuah rumah tua yang misterius, yang mengarah pada sebuah kejadian tak terduga yang mengubah segalanya. Di dunia yang penuh dengan rahasia dan kekuatan yang belum ia pahami, Aarav harus menghadapi takdir yang tersembunyi di balik masa lalunya yang terlupakan.
Dengan tekad untuk menguasai dunia sihir dan meraih kekuatan yang selama ini hilang, Aarav harus menavigasi sebuah dunia yang penuh dengan bahaya, misteri, dan konflik. Apakah dia akan menemukan jalan menuju kekuasaannya, atau justru terjerumus dalam kekuatan yang tak dapat ia kendalikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Ketenangan yang Indah
Paman Joseh berdiri diam, menikmati angin yang berhembus pelan menembus jubah sihirnya, matanya menatap sebuah bunga di pinggir jurang. Bunga itu indah, menawan, dengan kelopaknya berwarna biru dan dengan tangkai berwarna putih itu.
Paman Joseh tersenyum, "Akhirnya, setelah beberapa hari... Bunga Yuand kutemukan!!" ucap paman Joseh dengan lega.
Paman Joseh berjalan mendekat ke tepi jurang, dia hendak mengambil bunga Yuand itu.
"Joseh, itu jurang!!" peringatan Leonor.
Paman Joseh tetap berjalan mendekat, "Aku tau," jawab singkatnya.
Leonor menggelengkan kepalanya, paman Joseh berhenti tepat di pinggir jurang, dengan sihirnya. Dia memetik bunga yang mekar di dahan paling ujung itu, lalu dengan tangannya sendiri dia memegang bunga yang dia cari-cari itu.
"Dengan ini, Nuril bisa bertahan lebih lama!!" ucap paman Joseh lirih.
Paman Joseh berbalik, bunga Yuand ia taruh di dalam tasnya, "Baiklah, Leonor. Aku harus pulang ke negriku sendiri!!" salam perpisahan dari paman Joseh.
Leonor diam sejenak, "Tunggu, kenapa harus berpisah di sini? Kenapa tidak di desa saja?!" tanya Leonor.
"Entahlah, mungkin karena aku harus segera pulang!!" jawab paman Joseh.
Leonor mengangguk kecil, bibir bawahnya ia gigit pelan, "Okey kalau itu maumu," ucap Leonor.
Paman Joseh tersenyum, dia kembali memakai penutup wajahnya, kemudian berjalan pergi ke arah Timur. Dia meninggalkan Leonor sendirian di sana.
Leonor hanya berdiri sambil memandangi paman Joseh pergi, dia tersenyum kecil, "Pengembara? Apakah kita bisa bertemu suatu hari nanti?!" batin Leonor.
Paman Joseh kali ini berjalan dengan lebih santai, gagang Savier masih ia pegang, tapi kali ini tangan yang dia gunakan untuk menggenggam Savier tidak seerat sebelumnya.
Sementara itu, jauh dari daerah Spel Choy. Tepatnya di dalam kastil Twier Agrav yang megah, beberapa orang berdiri dengan jubah lengkapnya. Dan beberapa lagi hanya memakai kaos polos, mereka berdiri di belakang dengan kedua tangan menggenggam pegangan gerobak.
Raja Dearwin tiba, dia berdiri dengan elegan, indah, tatapannya tajam ke orang-orang yang ada di depannya. Saking panjangnya jubah raja Dearwin, sampai-sampai membuat jubah merah itu menyentuh tanah.
"Upeti harus selesai hari ini!! Jika sampai nanti sore upeti belum diberikan, maka penyihir istana akan mencari kalian semua!!" ucap raja Dearwin dengan suara berat, penuh intimidasi.
Di samping raja Dearwin, berdiri sosok penyihir yang ia percayai sebagai tangan kanannya. Dia memakai jubah berwarna hijau dengan perpaduan merah yang mencolok.
Raja Dearwin menoleh ke tangan kanannya itu, "Ingat, Eudora. Jika mereka mencuri sepeser saja uang upeti, maka kepala mereka harus kau potong!!" ucap raja Dearwin.
Eudora tidak berani menatap ke raja Dearwin yang ada di samping kirinya, "Siap, yang mulia!!" jawab Eudora.
Raja Dearwin tersenyum tipis, "Baiklah, semuanya pergi ke seluruh penjuru negeri!!" perintah raja Dearwin.
Raja Dearwin berjalan masuk kembali ke dalam kastil, sementara Eudora masih berdiri di sana. Dia berdiri sebentar untuk memikirkan siapa-siapa saja yang berpotensi untuk mencuri upeti.
Puluhan orang berpencar ke seluruh daerah Twier Agrav yang luas ini, mereka ditugaskan untuk menarik upeti dari tiap desa dan juga beberapa kerajaan kecil di sekitar Twier Agrav untuk jaminan tidak dijajah.
Sementara di dalam desa Fortuner.
Aarav terbaring lelah di sebuah gubuk kecil, keringat membasahi tubuhnya, "Ternyata jadi rangers itu sulit, tunggu. Dan bahkan aku bukan seorang rangers!!" ucap Aarav.
Aarav berbaring untuk beristirahat sejenak setelah membantu beberapa warga desa hari ini. Tak lama kemudian, Nuril datang memakai baju pendek dan celana pendeknya sambil membawa secangkir teh untuk Aarav.
"Aarav!!! Nih minum dulu," ucap Nuril dengan lembut.
Aarav duduk, dia mengelap keringat yang membasahi dahinya, "Ahhh, makasih ya!!" ucap Aarav. Ia lalu meminum teh yang diberikan Nuril itu.
Nuril duduk di samping Aarav, memandangi Aarav yang tengah kelelahan karena membantu para warga.
Nuril tersenyum kecil, "Aarav, gimana rasanya bisa bantu orang-orang pakek sihir kamu?!" tanya Nuril dengan tulus, seolah ia juga ingin menjadi seperti Aarav.
"Hah?" ucap Aarav kaget, "Rasanya luar biasa, tapi... Aku masih nggak bisa nerima statusku sekarang!!" ucap Aarav.
Nuril menatap ke bawah, lalu ke Aarav, "Kenapa?" tanya singkatnya.
Aarav meletakkan cangkirnya sejenak, "Karena aku budak, budak biasa. Bekerja dari pagi sampai sore, lalu sore ke malam. Lalu, tiba-tiba aku dapat kekuatan seperti ini!!" ucap Aarav yang menjelaskan.
"Tapi, bukannya kamu senang sama kekuatan kamu sekarang?!" tanya Nuril.
Aarav sedikit tersenyum, lalu pudar, "Senang, tapi aku takut jika suatu saat kekuatan ini menguasai pikiranku!!" seru Aarav.
"Menguasai pikiran?!" tanya Nuril lagi yang belum paham.
Bersambung...