NovelToon NovelToon
Legenda Sang Bayangan

Legenda Sang Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Kultivasi Modern
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: kansszy

sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kansszy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

Namaku Hanzo.

Jika kau mendengarnya dari mulut orang lain, mungkin akan selalu diikuti satu kata: pengkhianat. Tapi tidak ada seorang pun yang bertanya bagaimana semua itu dimulai. Tidak ada yang ingin tahu bagaimana rasanya tumbuh di desa yang sama, mempelajari hal yang sama, bermimpi tentang hal yang sama—lalu sadar bahwa dunia tidak pernah benar-benar membutuhkanmu.

Aku dan Kenzy tumbuh bersama di Aokawa.

Ia pendiam. Aku tidak.

Ia sabar. Aku lapar—lapar akan pengakuan.

Kami berlatih di bawah guru yang sama. Aku selalu lebih cepat. Lebih agresif. Lebih berani mengambil risiko. Tapi setiap kali para tetua berbicara tentang masa depan desa, nama Kenzy selalu disebut dengan nada harapan. Bukan aku.

“Kau terlalu keras, Hanzo.”

“Kau harus belajar menahan diri.”

“Kau berbahaya jika dibiarkan memimpin.”

Aku mendengarnya terlalu sering.

Awalnya aku berpikir mereka salah. Aku yakin suatu hari aku akan membuktikan bahwa kekuatan adalah jawaban. Tapi waktu berlalu, dan aku mulai mengerti—Aokawa tidak menginginkan orang sepertiku. Mereka ingin penjaga, bukan penakluk.

Dan aku tidak pernah ingin menjadi kecil.

Saat Scarlet datang menawarkan “jalan keluar”, aku tidak langsung menerima. Mereka berbicara tentang aliansi, tentang masa depan yang lebih besar dari desa kecil yang terus bersembunyi. Aku mendengar kebohongan itu… dan tetap memilih mempercayainya.

Karena kebohongan yang memberimu harapan terasa lebih baik daripada kebenaran yang membuatmu tak terlihat.

Aku membuka jalur rahasia.

Aku membocorkan jadwal penjagaan.

Aku meyakinkan diriku bahwa ini demi masa depan.

Malam ketika Aokawa terbakar, aku berdiri jauh. Aku tidak ikut menyerang. Aku tidak ikut menyelamatkan. Aku hanya menonton, sambil meyakinkan diriku bahwa ini harga yang perlu dibayar agar dunia berubah.

Tapi dunia tidak berubah.

Yang berubah hanya aku.

Scarlet tidak pernah menganggapku setara. Aku hanya alat. Dan saat segalanya selesai, aku tidak punya tempat kembali. Aokawa hancur. Scarlet menutup pintu. Dunia luas… tapi dingin.

Aku hidup berpindah-pindah. Mengambil pekerjaan kotor. Mengandalkan reputasi sebagai pengkhianat—karena itu satu-satunya hal yang membuat orang mengingat namaku. Aku membenci diriku sendiri, tapi lebih membenci kemungkinan bahwa semua ini sia-sia.

Lalu aku mendengar tentang Kenzy.

Ia selamat.

Ia bangkit.

Ia menjatuhkan Scarlet.

Aku seharusnya merasa bangga. Tapi yang kurasakan hanya satu hal: iri. Kenzy memilih bertahan, dan dunia memberinya arti. Aku memilih membakar segalanya, dan dunia hanya memberiku kesunyian.

Saat aku tahu ia menjadi Tauke Besar Keluarga Tong, aku sadar—aku tidak bisa hidup di dunia di mana Kenzy adalah simbol harapan, dan aku hanyalah kesalahan yang disembunyikan.

Aku menunggunya di reruntuhan Aokawa. Bukan karena strategi. Tapi karena aku ingin mati di tempat aku berhenti menjadi manusia.

Ketika ia datang, aku tahu… aku kalah bahkan sebelum bertarung.

Kenzy tidak memandangku dengan benci. Itu yang paling menyakitkan. Ia memandangku dengan pengertian. Dan aku tidak tahan itu.

Aku menyerang dengan semua yang kupunya. Jurus terlarang. Teknik putus asa. Aku ingin memaksanya membunuhku, karena hanya itu cara aku bisa mengakhiri cerita ini tanpa mengaku salah.

Saat pisaunku menembus tubuhnya, aku merasa lega.

Ini dia. Akhirnya.

Tapi ia tetap berdiri.

Dan ketika senjatanya menembus dadaku, aku tidak merasa takut. Aku merasa… ringan.

Di detik terakhirku, aku mengerti sesuatu yang terlalu terlambat:

Kenzy tidak pernah dipilih karena ia sempurna. Ia dipilih karena ia mau memikul beban tanpa menjadikan dunia musuhnya.

Aku tersenyum saat mati.

Bukan karena aku menang.

Tapi karena aku akhirnya berhenti melarikan diri.

Jika ada yang membaca kisah ini suatu hari, jangan ingat aku sebagai pengkhianat. Ingat aku sebagai peringatan—bahwa keinginan untuk diakui, jika tidak diimbangi kebijaksanaan, bisa menghancurkan seluruh dunia seseorang.

Namaku Hanzo.

Dan ini adalah akhir yang kupilih.

1
Adi Arkan Imani
bagus
KanKaaan!!!
cocok buat orang yang lagi mencari cerita dan inspirasi
Adi Arkan Imani
lumayan
kansszy: heeheeee maksih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!