Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”
Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.
Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29.Pertemuan di Paris
Paris selalu tahu caranya membuat segala sesuatu terlihat indah—bahkan kebohongan.
Isabella berdiri di tepi ruangan kaca sebuah galeri di Rue de Rivoli, mengenakan gaun hitam sederhana yang sengaja dipilih tanpa logo. Acara itu bukan gala besar, melainkan jamuan privat—perpaduan antara peluncuran parfum dan pertemuan orang-orang yang hidup dari citra.
Ia datang bukan sebagai Hartmann.
Ia datang sebagai Isabella.
Seorang perempuan yang, menurut undangan, tertarik pada dunia modeling dan fashion independen.
Alasan yang cukup masuk akal. Dan cukup dangkal untuk dipercaya.
Isabella tidak butuh waktu lama untuk melihat Vivienne.
Perempuan itu berdiri di tengah lingkaran kecil, mengenakan gaun satin pucat, rambut pirangnya disanggul longgar. Tidak berlebihan. Tidak mencari perhatian. Namun orang-orang secara naluriah mengarah ke sana—seperti gravitasi yang bekerja diam-diam.
Isabella pernah melihatnya di acara perusahaan Julian. Cantik. Tenang. Terlalu sempurna.
Sekarang, dari jarak beberapa meter, kesan itu justru terasa lebih… berbahaya.
Isabella mendekat perlahan, mengambil segelas champagne hanya untuk memberi kesan tangan yang sibuk.
“Vivienne Laurent,” katanya ringan, seolah baru mengenali wajah itu.
“Aku Isabella.”
Vivienne menoleh. Senyumnya muncul tanpa jeda—alami, hangat, dan terlatih.
“Aku tahu,” jawabnya lembut. “Kau Isabella Hartmann.”
Tidak ada tekanan pada nama belakang itu. Tidak ada kekagetan.
Isabella menahan reaksi sekecil apa pun. “Aku terkejut kau masih mengingatku. Kita hanya bertemu singkat.”
“Orang jarang lupa wajah yang tenang,” kata Vivienne. “Apalagi di ruangan yang penuh ambisi.”
Jawaban itu… menarik.
Isabella tersenyum kecil. “Aku datang karena tertarik pada proyek parfum ini. Aku sedang… mempertimbangkan dunia modeling. Bukan secara serius, tentu saja.”
“Tidak ada yang masuk ke dunia ini secara serius,” kata Vivienne pelan. “Semua orang datang karena rasa ingin tahu.”
Mata mereka bertemu sesaat.
Isabella merasakan sesuatu yang tipis—bukan ancaman, bukan juga ketertarikan. Lebih seperti… pengamatan.
Mereka berbincang ringan. Tentang Paris. Tentang fotografer yang terlalu percaya diri. Tentang industri yang menilai perempuan dari sudut cahaya.
Vivienne berbicara lembut, hampir tidak pernah mendominasi. Ia membiarkan Isabella bercerita—tentang ketertarikannya pada estetika, tentang ingin “melakukan sesuatu di luar nama keluarga”.
Isabella memilih setiap kata dengan hati-hati.
Ini perannya.
Dan ia memainkannya dengan baik.
Namun di tengah percakapan, Vivienne berkata sesuatu yang membuat udara di antara mereka berubah arah.
“Julian dulu pernah bilang,” ujar Vivienne sambil memutar gelasnya perlahan,
“kau selalu tahu kapan harus terlihat biasa saja.”
Isabella berkedip satu kali.
“Dia bilang begitu?”
Vivienne mengangguk. “Dengan nada kagum.”
Tidak ada emosi lain di wajahnya. Tidak cemburu. Tidak defensif. Seolah nama Julian hanyalah bagian dari percakapan biasa.
Padahal itu tidak seharusnya begitu.
Isabella tersenyum. “Julian suka melebih-lebihkan.”
“Mungkin,” jawab Vivienne. Lalu matanya terangkat, menatap Isabella lebih dalam.
“Atau mungkin dia melihatmu lebih jernih daripada yang kau kira.”
Untuk sepersekian detik—hanya sepersekian—Isabella merasa dirinya sedang dilihat.
Bukan sebagai Hartmann.
Bukan sebagai putri Markus.
Tapi sebagai seseorang yang sedang berpura-pura.
Percakapan berlanjut. Ringan. Aman. Tak ada jebakan yang jelas.
Namun ketika mereka berpisah sementara, Vivienne mencondongkan tubuh sedikit dan berkata nyaris berbisik:
“Kalau kau benar-benar tertarik pada dunia ini, kita bisa bertemu lagi. Paris selalu punya ruang bagi mereka yang… tahu cara beradaptasi.”
Isabella mengangguk. “Itu tawaran yang sangat menarik”
Vivienne tersenyum. Kali ini lebih kecil. Lebih tenang.
Saat Vivienne melangkah pergi, Isabella tetap berdiri di tempatnya, menatap pantulan dirinya di dinding kaca.
Ia baru menyadari satu hal yang membuat dadanya mengeras perlahan.
Vivienne tidak pernah bertanya kenapa Isabella tertarik pada modeling.
Seolah… alasannya tidak penting.
Seolah… Vivienne sudah menduga ada sesuatu di baliknya.
Untuk pertama kalinya sejak menerima tugas ayahnya, Isabella merasakan sesuatu yang jarang ia akui:
Keraguan.
Bukan pada rencananya.
Melainkan pada asumsi bahwa ia adalah satu-satunya yang memegang kendali.
Dan di bawah lampu Paris yang indah dan menipu itu,
Isabella bertanya dalam diam—
apakah ia sedang mendekati Vivienne…
atau justru sedang dibiarkan mendekat.