NovelToon NovelToon
ISTRI BERCADAR MAFIA

ISTRI BERCADAR MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

ISTRI BERCADAR MAFIA

​Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
​Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.

​Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.

​Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.

Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ISTRI BERCADAR MAFIA

Bab 29: Ambang Cahaya dan Janji di Balik Kabut.

Enam bulan berlalu. Tembok Blackwood yang tinggi dan dingin telah menjadi saksi bisu transformasi seorang Alaska. Ia bukan lagi sosok yang ditakuti karena kebengisannya, melainkan dihormati karena ketenangannya. Berita tentang aksi heroiknya menyelamatkan narapidana saat serangan kartel Meksiko menyebar luas, memberinya poin besar untuk pengurangan masa tahanan.

Pagi itu, udara terasa berbeda. Dingin, namun membawa aroma kebebasan. Alaska berdiri di depan pintu gerbang besar lapas, mengenakan kemeja putih sederhana pemberian Bara. Di tangannya, ia memegang tas kecil berisi sajadah dan kitab yang sudah mulai lusuh karena sering dibaca.

"Tuan," sebuah suara yang sangat dikenal menyambutnya.

Bara berdiri di samping mobil hitam yang kini terlihat jauh lebih bersahaja, bukan lagi limosin mewah antipeluru yang mencolok. Ia tersenyum lebar, ada rona kelegaan di wajah asisten setianya itu.

"Selamat kembali ke dunia nyata, Tuan Alaska," ucap Bara tulus.

Alaska menghirup napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara luar yang tidak lagi berbau disinfektan penjara.

"Dunia ini tidak pernah benar-benar nyata, Bara. Yang nyata adalah apa yang kita bawa di dalam sini," ucapnya sambil menyentuh dadanya sendiri.

Perjalanan Menuju Kesucian.

Mobil melaju membelah jalanan kota yang sibuk. Alaska menatap gedung-gedung tinggi yang dulu ia kuasai dengan cara kotor. Kini, pemandangannya telah berubah. Ia melihat yayasan rehabilitasi yang ia bangun dari jeruji besi kini mulai beroperasi. Nama "Sang Naga" perlahan terkikis, digantikan dengan sosok donatur anonim yang memberi harapan pada mereka yang tersesat.

"Kita ke markas?" tanya Bara.

"Tidak. Antar aku ke tempat Sania," jawab Alaska tanpa ragu.

Bara mengangguk. Mobil berbelok menjauhi pusat kota, menuju sebuah daerah perbukitan yang tenang di mana sebuah pesantren kecil berdiri di antara pohon-pohon pinus yang berkabut.

Pertemuan di Bawah Pohon Pinus.

Sania sedang membimbing anak-anak yatim menghafal ayat-ayat pendek saat ia mendengar deru mobil berhenti di kejauhan. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia telah mendengar kabar tentang pembebasan Alaska, namun ia tidak menyangka pria itu akan datang secepat ini.

Alaska turun dari mobil dan berjalan perlahan menuju gerbang pesantren. Ia berhenti sejenak, merasa kotor dan tidak pantas menginjakkan kaki di tanah yang begitu suci. Namun, langkahnya terus dipandu oleh rindu yang tak bisa ia jelaskan—rindu pada kedamaian yang terpancar dari wanita itu.

Di bawah naungan pohon pinus, mereka bertemu. Jarak tetap terjaga, namun ada jembatan tak kasat mata yang terbentang di antara mereka.

"Tuan Alaska," Sania menyapa lembut, suaranya tenang seperti air mengalir.

"Sania," Alaska menundukkan kepalanya, sesuatu yang belum pernah ia lakukan pada siapa pun. "Aku kembali. Bukan sebagai naga yang haus darah, tapi sebagai manusia yang mencari sisa-sisa dirinya."

Sania tersenyum di balik cadarnya. Matanya berbinar haru.

"Selamat datang kembali. Luka di punggung Anda mungkin masih berbekas, tapi cahaya di mata Anda sudah jauh lebih terang."

Ujian yang Belum Berakhir.

Keheningan yang damai itu tiba-tiba pecah oleh bunyi ponsel satelit Bara yang bergetar hebat. Bara menjauh sejenak, lalu kembali dengan wajah pucat.

"Tuan, Dante... dia melarikan diri saat pemindahan ke rumah sakit jiwa pagi tadi. Dan ada kabar dari intelijen bahwa sisa-sisa dewan direksi yang kau hancurkan telah menyatukan kekuatan. Mereka tahu kau di sini."

Alaska tidak terlihat terkejut. Ia menarik napas panjang, menatap Sania yang tetap tenang meskipun bahaya kembali mengintai.

"Dunia tidak akan membiarkan kita tenang begitu saja, bukan?" tanya Alaska pada Sania.

"Dunia ini adalah tempat ujian, Tuan. Selama kita masih bernapas, badai akan selalu datang. Pertanyaannya bukan kapan badai itu berhenti, tapi apakah akar kita cukup kuat untuk tetap berdiri saat badai menerjang?" jawab Sania.

Alaska berbalik menghadap Bara. "Kumpulkan semua orang yang masih setia. Tapi kali ini, beri tahu mereka: kita bertempur bukan untuk menyerang, tapi untuk melindungi. Jangan biarkan satu butir peluru pun masuk ke area suci ini."

Malam Persiapan.

Malam itu, pesantren yang tenang berubah menjadi benteng pertahanan yang sunyi. Alaska tidak memegang senjata api. Di atas sajadahnya, ia menghabiskan waktu sepertiga malam untuk meminta perlindungan. Ia tahu, Dante dan orang-orang masa lalunya adalah manifestasi dari setan-setan yang ingin menariknya kembali ke kegelapan.

"Jika aku harus mati malam ini," gumam Alaska di akhir sujudnya, "biarkan aku mati sebagai hamba-Mu, bukan sebagai budak dendamku."

Di luar, lampu-lampu kendaraan mulai terlihat mendekat dari lereng bukit. Suara mesin yang menderu membelah sunyinya malam. Musuh lama telah datang untuk penagihan terakhir.

__Kebebasan fisik hanyalah langkah awal dari sebuah perjalanan panjang bernama pertobatan. Ujian yang sesungguhnya bukanlah saat kita berada di balik jeruji, melainkan saat kita kembali ke dunia luas yang penuh dengan godaan dan sisa-sisa masa lalu yang menuntut balas. Tetaplah melangkah di jalan cahaya, meski kegelapan terus berteriak memanggil namamu. Karena sesungguhnya, kemenangan bukan saat kita berhasil membunuh musuh, melainkan saat musuh tak lagi mampu membangkitkan kebencian di hati kita__

Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!