Dikhianati oleh sahabatnya sendiri dalam misi rahasia, Xiao Su tewas dengan satu pertanyaan yang tak pernah terjawab.
“Kenapa…?”
“Karena kau menghalangi jalanku.”
Ia mengira kematian adalah akhir.
Namun saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis bangsawan yang dihina semua orang — Xiao Mei.
Wajah buruk rupa. Tubuh lemah. Keluarga penuh kepalsuan.
Saudari tiri yang menginginkan kematiannya. Tunangan yang memandangnya dengan jijik. Dunia kuno yang kejam dan penuh intrik.
Tapi mereka tidak tahu…
Jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi Xiao Mei yang lemah.
Ia adalah Xiao Su. Seorang wanita modern yang tak akan membiarkan dirinya diinjak dua kali.
Kali ini, ia tidak hanya akan bertahan hidup — Ia akan mengubah takdir. Menghancurkan mereka yang meremehkannya.
Dan membuktikan bahwa bahkan wanita yang disebut “buruk rupa” pun bisa menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya.
Karena untuk kedua kalinya… Ia tidak akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cute women, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mata mata ditengah kota
“Di setiap sudut kota, ada mata yang mengawasi—dan rahasia yang bisa mengubah segalanya.”
HAPPY READING>.<.......
---
Senja menurunkan bayangnya di wilayah Timur. Jalanan desa mulai sepi, meski beberapa warga masih berlarian mencari air yang baru dialirkan. Xiao Mei dan Duke Wang kembali ke pos terdepan, namun perasaan waspada tidak pernah hilang. Udara malam terasa lebih dingin, dan sesekali angin membawa aroma tanah basah dari sumur yang baru dialiri.
“Xiao Mei,” ucap Duke pelan, matanya menelusuri lorong-lorong kota yang mulai gelap, “aku mendapat laporan bahwa beberapa mata-mata dalang telah terlihat di tengah kota. Mereka bergerak dengan rapi, mengumpulkan informasi dari warga.”
Xiao Mei menegakkan punggungnya. “Kalau begitu mereka ingin tahu setiap langkah kita. Kita harus lebih cepat dari mereka, tapi tetap diam. Tidak ada yang boleh curiga.”
Mereka membagi pasukan menjadi kelompok kecil untuk patroli. Setiap kelompok bergerak melalui jalur berbeda, memeriksa gudang, sumur, dan rumah-rumah yang sebelumnya dilaporkan kehilangan pasokan. Beberapa warga tampak mengintip dari balik tirai jendela, wajah mereka menahan rasa takut sekaligus lega.
Di sebuah persimpangan kecil, Xiao Mei berhenti. “Duke, lihat itu,” katanya sambil menunjuk ke lorong gelap. Bayangan samar bergerak cepat di antara dinding rumah kayu.
“Diam. Jangan beri mereka alasan untuk bergerak,” peringati Duke. Matanya menelusuri gerakan bayangan itu. “Mereka bukan orang biasa. Cepat, tapi hati-hati.”
Xiao Mei menempelkan tubuhnya di sisi dinding, menahan napas. Bayangan itu menepuk pintu sebuah rumah, menanyakan sesuatu pada seorang warga. Balasan warga tampak gugup, dan bayangan itu segera menghilang ke arah lain.
“Ini bukan sekadar memeriksa distribusi,” gumam Xiao Mei. “Mereka ingin tahu siapa yang dipercaya, siapa yang bisa mereka pengaruhi, dan siapa yang berani melawan.”
Duke menunduk, menatap tanah. “Mata-mata ini bekerja untuk dalang. Mereka tahu informasi bisa mengubah opini rakyat. Sekali kita lengah… ketidakpercayaan bisa menyebar lebih cepat dari kekeringan itu sendiri.”
Xiao Mei menatap ke arah lorong lain, di mana seorang anak desa mengintip dari balik tirai. “Kita harus memastikan mereka aman, tapi juga tidak memberi celah bagi mata-mata ini. Setiap langkah kita harus terukur,” gumamnya dalam hati.
Mereka memasuki rumah seorang kepala desa yang terlihat cemas. Catatan distribusi yang dibawa Xiao Mei menunjukkan ada perbedaan antara jumlah tercatat dan yang sebenarnya diterima warga. Kepala desa menunduk, takut, namun perlahan mulai menceritakan apa yang dia ketahui.
“Beberapa malam terakhir,” katanya, “ada orang asing datang ke desa. Mereka menanyakan jumlah air dan gandum, siapa yang bertugas membagikannya, dan kapan distribusi dilakukan. Aku… aku takut untuk menolak.”
Xiao Mei mencatat semua detail. “Ini jejak baru. Mata-mata ini mengumpulkan data untuk dalang. Kalau mereka kembali dengan informasi lengkap… mereka bisa memutarbalikkan fakta.”
Duke Wang menatap catatan itu. “Kita harus memotong jalur informasi mereka. Identifikasi mata-mata, dan cari tahu siapa yang mengendalikan mereka.”
Saat malam semakin gelap, mereka menunggu di tengah kota. Beberapa petugas menyamar di pasar, beberapa di jalan setapak, mengikuti setiap gerakan mencurigakan. Lampu lentera menyorot bayangan mereka, menciptakan garis cahaya yang menegangkan di trotoar sepi.
Tiba-tiba, sebuah bayangan muncul dari gang kecil. Mata-mata itu mencoba bersembunyi di balik tumpukan kayu, tapi mata Duke Wang menangkap gerakannya. “Sekat jalan keluar. Jangan biarkan dia pergi,” ucapnya.
Xiao Mei mengejar bayangan itu, hati-hati namun cepat. Bayangan itu mencoba melewati pasar yang sepi, tapi beberapa prajurit yang menyamar menghadang. Dalam hitungan detik, mata-mata itu tertangkap.
“Bawa ke sini,” perintah Duke. Xiao Mei menatap wajah yang kini terungkap. Mata-mata itu masih muda, tapi matanya tajam dan waspada.
“Siapa yang mengirimmu?” tanya Xiao Mei. Suara mata-mata itu bergetar, tapi tidak menyerah. “Aku… aku hanya mengikuti perintah. Aku tidak tahu lebih banyak.”
Duke Wang mencondongkan tubuh. “Setiap kata penting. Setiap informasi bisa menyelamatkan atau menghancurkan desa ini. Bicara sekarang, atau konsekuensinya berat.”
Xiao Mei menatap mata-mata itu. “Kamu bisa membantu kita. Setiap hal yang kau ketahui tentang jaringan ini… akan mengurangi risiko kekacauan.”
Mata-mata itu menelan ludah, akhirnya mulai mengungkapkan beberapa lokasi gudang yang sering dipantau, desa yang data distribusinya dimanipulasi, dan rencana yang sudah dipersiapkan dalang. Setiap kata menambah gambaran jaringan rahasia yang selama ini bekerja di balik bayangan.
Duke Wang menghela napas. “Kita memiliki titik awal untuk menyelidiki pusat operasi mereka. Tapi kita harus cepat. Waktu tidak berpihak pada kita.”
Xiao Mei menatap kota yang mulai tenang, tapi matanya tetap waspada. “Ini lebih dari distribusi air. Ini perang informasi. Setiap langkah kita diperhitungkan. Mata-mata ini… hanya puncak dari piramida.”
Duke Wang menepuk pundaknya. “Kita sudah memulai langkah penting. Sekarang kita harus memutus jaringan ini sebelum mereka membuat kerusuhan besar. Setiap desa harus kita pastikan aman, sebelum opini rakyat dimanipulasi.”
Udara malam semakin dingin, tapi bagi Xiao Mei dan Duke Wang, setiap detik adalah kesempatan untuk mematahkan rencana dalang yang tersembunyi di tengah kota. Dan meski kota tampak tenang, keduanya tahu: malam ini hanyalah langkah pertama. Kota Timur akan aman… tapi ancaman yang lebih besar menunggu di balik bayangan.
---
Oke! Ini versi teaser Bab 30 yang lebih dramatis + pertanyaan penutup Bab 29 yang lebih menggigit, biar pembaca makin penasaran dan engagement naik:
---
Teaser Bab 30
Kota Timur tampak tenang di permukaan. Lampu redup memantul di jalanan sepi, dan warga mulai bernapas lega… Namun di balik bayangan, ancaman masih bergerak. Mata-mata yang tertangkap hanyalah permulaan.
Siapakah dalang sebenarnya yang menenun rencana ini?
Apakah Xiao Mei dan Duke Wang mampu memutus jaringan rahasia sebelum kekacauan menyebar ke seluruh kota?
Di Bab 30, rahasia yang tersembunyi akan terkuak, pilihan sulit harus diambil, dan setiap langkah menentukan nasib kota… dan nyawa mereka.
---
> “Mata-mata itu sudah tertangkap… tapi siapa yang menarik semua tali di balik bayangan?
Apakah Kota Timur benar-benar aman, atau hanya menunggu detik yang salah untuk jatuh ke tangan dalang?”
---
BERSAMBUNG......
_________________________
Hai kembali bersama author 😘 kalau suka ceritanya jangan lupa like dan komen ya biar author semangat up-nyaaa