NovelToon NovelToon
Yogyakarta Di Tahun Yang Menyenangkan

Yogyakarta Di Tahun Yang Menyenangkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Santika Rahayu

Ketika cinta datang dari arah yang salah, tiga hati harus memilih siapa yang harus bahagia dan siapa yang harus terluka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santika Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28

“Sa, gue bisa jalan kok.” titah Alleta pelan.

Sagara menelankan langkahnya, tatapannya yang khawatir kemudian tertuju pada Alleta. “Udah, Lo diem aja. Biar gue anter Lo pulang.”

Alleta terdiam. Ia ingin membantah, tapi tubuhnya masih terasa berat dan dingin, napasnya pun belum sepenuhnya stabil. Akhirnya ia hanya mengangguk kecil, membiarkan Sagara menggendongnya sampai di mobil.

Sagara membuka pintu mobil dengan sebelah tangannya, dia kemudian mendudukkan Alleta di kursi penumpang sebelah setir.

Setelah memastikan gadis itu duduk dengan benar, Sagara melangkah memutari setengah mobil. Sebelum masuk ke kursi kemudi, ia melirik ke arah Aru yang masih berdiri mematung, “Kalo mau numpang naik aja, kalau gak yaudah gue tinggal.”

Aru tersentak dari lamunannya.

“Eh—iya, iya,” sahutnya cepat. Ia segera membuka pintu belakang dan duduk, menutupnya pelan.

Begitu mesin dinyalakan, mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah Nayla yang masih dipenuhi musik dan lampu-lampu pesta.

Alleta memeluk jaket Sagara erat, tubuhnya gemetar halus, angin menyusup masuk melewati pakaiannya yang basah.

“Mulai sekarang lo jauh-jauh deh dari Nayla.” ujar Sagara tiba-tiba.

Alleta menoleh ke arahnya, dia menghela napas kecil. “Makasih ya, udah nolongin gue. Tapi gak usah sampe segitunya, ini kan kecelakaan.” balasnya santai.

“Enggak All.” potong Aru cepat. “Udah dari beberapa minggu lalu, Nayla selalu acuh sama Lo. Tapi sejak kemarin dia tiba-tiba baik, dan hari ini??”

Alleta terdiam, dia mulai merenungkan perkataan Aru.

Sagara tetap fokus menyetir, namun rahangnya mengeras.“Gue liat jelas, All. Tangannya nyenggol bahu Lo ke arah kolam. Itu bukan gerakan orang nggak sengaja.”

Alleta menunduk, “Gue nggak mau mikir buruk,” ucapnya lirih. “Nayla temen kita…”

Untuk sesaat suasana kembali hening, tatapan Alleta fokus ke depan. Tepat disaat itu, sebuah motor sport merah melaju cepat, menyalip mobil mereka dari sebelah kanan.

“Tristan?” gumam Alleta.

“Kenapa?” Sagara melirik sekilas.

“Gue gak enak sama dia, dia juga ikut nyebur tadi, tapi belum sempat gue bilang terimakasih.” kata Alleta jujur.

Sagara sedikit menurunkan kecepatannya, tatapannya masih fokus ke jalanan. “Nanti kan bisa.” balasnya tenang.

Alleta masih termenung, dia kemudian mengangguk singkat, “Iya sih.”

Setelah beberapa menit melaju di jalanan, mobil itu akhirnya memasuki pekarangan rumah Alleta. Sagara turun terlebih dahulu, dia melangkah memutari setengah mobil kemudian membukakan pintu untuk Alleta.

Pemuda itu hendak kembali mengangkat tubuh Alleta, namun gadis itu kali ini menolak.

“Gue bisa sendiri Sa.” katanya pelan.

Sagara tidak memaksa, ia membantu Alleta berjalan meskipun gadis itu terlihat bisa melangkah normal.

Aru hanya mengikuti di belakang mereka, dia membawakan tas Alleta yang tadi tertinggal di meja tempat mereka makan.

Saat pintu dibuka, terlihat bi Maya yang terkejut dengan kondisi Alleta yang basah kuyup.

“Ya ampun, Non.. Ada apa ini?” Dia langsung mengambil alih, suara bi Maya yang cukup keras menarik perhatian Sekar yang sedang di dapur.

“Kenapa bi?” Ia mendekat ke arah pintu.

Sekar tertegun begitu melihat kondisi putrinya. Rambut Alleta basah, wajahnya pucat, dan tubuhnya masih terlihat gemetar meski berusaha berdiri tegak.

“Alleta?” panggil Sekar cemas. “Kenapa kamu basah kuyup begini?”

Alleta mengangkat wajahnya perlahan. “Alleta… kepleset jatuh ke kolam, Ma.”

“Jatuh ke kolam?!” Sekar refleks memegang bahu putrinya. “Astaga… dingin begini, kamu bisa masuk angin. Yaudah kamu langsung ganti baju ya, rambutnya dikeringin.” ujarnya khawatir. “Bi anterin Alleta ke atas ya.”

“Iya bu.” balas bi Maya cepat, dia langsung mengambil alih memapah Alleta menuju kamarnya di lantai dua.

Mata Sekar kemudian beralih ke arah pemuda yang tadi mengantar putrinya.

“Ini Sagara, tante. Dia yang tadi nolong Alleta.” jelas Aru, melihat kemana arah pandang Sekar.

“Ohh, terimakasih ya. Kamu juga basah kuyup, bentar ya tante ambilin handuk bersih.” Sekar hendak melangkah ke belakang namun Sagara menghentikannya.

“Ehh, gak usah Tante. Saya langsung pulang aja.”

Sekar menahan langkahnya, menatap Sagara sesaat. “Kok gitu, kamu ganti baju disini aja. Tante udah masak banyak, kita makan bareng ya.” ajak Sekar.

“Kapan-kapan aja tante, udah malem. Saya pamit ya.” tolak Sagara lagi, ekspresinya nampak sedikit lebih ramah.

Sekar tersenyum kecil, penuh terima kasih. “Ya sudah, hati-hati ya. Sekali lagi terimakasih udah perhatian sama Alleta.”

“Iya tente.” Sagara mengulurkan tangannya untuk salim.

“Lo duluan aja, gue nanti minta jemput sopir. Kita juga gak searah.” kata Aru pada Sagara.

Sagara mengangguk singkat lalu melangkah menuju mobilnya. Raungan mesin terdengar di luar, sebelum akhirnya melaju pelan dan lepas ke jalanan.

Sekar menarik Aru lebih dekat, “Itu cowok yang diceritain Alleta itu kan?” bisiknya seolah takut ada yang mendengar.

“Hah?” Aru mengerutkan keningnya.

“Yang ngajak Alleta jalan ke pantai, terus sering nganter dia pulang waktu tante di Singapur?” bisik Sekar lagi, memperjelas pertanyaannya.

Aru langsung mengangguk cepat, “Iya tante, ini orangnya.” katanya mantap.

Sekar langsung menutup mulutnya terkejut, “Haa..”

“Kenapa Tante?” tanya Aru.

“Ganteng...” sahut Sekar dengan senyum lebar.

Sementara itu, di lantai dua…

Alleta sudah berganti pakaian kering. Rambutnya masih setengah basah ketika ia duduk di tepi ranjang, selimut membungkus tubuhnya. Bi Maya meletakkan segelas teh hangat di nakas.

“Diminum dulu ya, Non. Biar badannya anget.”

“Iya, Bi.”

Begitu bi Maya keluar, hening kembali mengisi kamar tersebut. Alleta menggenggam erat cangkirnya, mencoba menghangatkan tangannya.

Namun hanya beberapa saat, suara ketukan kembali terdengar dari pintu.

“All.. Gue masuk ya.” Suara Aru terdengar.

“Iyaa.., masuk aja.” balas Alleta dari dalam.

Pintu terbuka pelan, Aru masuk perlahan kemudian kembali menutup pintu. Ia melangkah ke arah Alleta kembali duduk di sebelahnya.

“Sagara mana?” tanya Alleta tanpa basa-basi.

“Baru juga digendong, udah kangen aja.” goda Aru, bercanda.

“Apa sih Aru, kan cuma nanya.”

“Bercanda.. Udah pulang dia.” tutur Aru. “Eh All, nyokap lo ternyata mandang fisik ya.”

“Maksudnya?” Alleta mengerutkan keningnya bingung.

“Sagara ganteng katanya,” lanjut Aru sambil nyengir lebar.

Alleta langsung menoleh cepat. “Hah? Mama bilang gitu?”

“Iya. Sampai nutup mulut segala,” Aru menirukan gaya Sekar tadi, membuat Alleta terkekeh kecil.

“Ya ampun… malu banget,” gumam Alleta sambil menutupi wajahnya dengan ujung selimut.

“Terus tante tanya lagi, Lo sama Sagara tuh sebenarnya gimana,” tambah Aru santai.

Alleta menurunkan selimutnya perlahan. “Terus lo jawab apa?”

Aru mengangkat bahu. “Gue bilang aja kalian temenan, tapi agak ke sonoan dikit.”

“Aru...” keluh Alleta pelan.

Aru tertawa kecil, “Tapi serius deh. Perasaan Lo, sekarang gimana sama Sagara?” kali ini nada suaranya terdengar lebih serius.

Alleta terdiam, dia mengingat ketika pertama kali Sagara memberinya surat izin PDKT. Itu terlihat sangat niat, kemudian perhatian-perhatian kecil yang selalu Sagara berikan pada dirinya.

“Gue… nggak tau, Ru,” ucapnya akhirnya, pelan tapi jujur. “Sagara tuh… beda. Dari awal aja dia nggak kayak orang yang main-main. Surat itu… perhatian dia… semua kerasa tulus.”

Aru memperhatikan ekspresi sahabatnya yang jarang terlihat setenang ini saat menyebut satu nama tertentu.“Lo suka?” tanya Aru hati-hati.

Alleta menghela napas panjang.

“Mungkin,” jawabnya lirih. “Atau mungkin gue cuma nyaman.”

...****************...

“Makasih ya, kemarin Lo sampe nyebur ke kolam buat nolongin gue.” ujar Alleta tulus pada Tristan di sebelahnya.

Pemuda itu mengangguk singkat, “Gak perlu terimakasih, kan dari dulu kita emang saling tolong menolong.”

Alleta tersenyum, “Iya sih.”

Ketika keduanya sampai di kelas, suasana kelas sudah mulai ramai. Beberapa siswa masih berdiri di depan pintu, sebagian lain sudah duduk sambil bercanda dan memainkan ponsel.

Keduanya melangkah ke bangku masing-masing.

“Hai..” sapa Alleta pada Aru yang sudah tiba terlebih dahulu.

Alleta baru saja meletakkan tasnya ketika suara langkah kaki terdengar dari arah pintu.

Nayla masuk.

Berbeda dari biasanya, wajah Nayla terlihat masam. Tanpa menyapa siapa pun, ia melangkah ke bangkunya, meletakkan tasnya agak kasar di atas kursi, lalu duduk dan langsung menunduk menatap ponselnya.

Beberapa teman sempat saling pandang, namun tidak ada yang berani bertanya.

Alleta melirik sekilas, dia masih tidak percaya jika Nayla melakukan itu dengan sengaja. Namun jika benar, ia tentu akan sangat kecewa karena bisa-bisanya orang yang selama ini dia anggap teman baik bisa selicik itu.

Tak lama berselang, Sagara juga memasuki kelas. Mata Nayla yang tadinya masam langsung berbinar seketika. Ia tersenyum lembut ke arah pemuda itu, namun Sagara terlihat acuh, auranya bahkan terasa lebih dingin dari biasanya.

Senyum di wajah Nayla perlahan memudar. Jemarinya berhenti di atas layar ponsel, tatapannya semakin mengeras.

Namun detik berikutnya, guru memasuki kelas. Suasana kembali hening. Jam pertama dimulai dengan mapel Biologi, semua terlihat fokus menyimak, meskipun ketegangan kecil masih terasa memenuhi atmosfer.

Setelah tiga jam pelajaran selesai, bel istirahat akhirnya berbunyi.

Begitu guru keluar kelas, Nayla langsung berdiri. Ia melangkah cepat menuju bangku Sagara.

“Sa,” panggilnya lembut, dibuat-buat manis.

Sagara mengangkat kepala.

“Hmm?”

Nayla menyodorkan sebotol minuman capuccino, “Ini, kemarin gue lihat Lo minum ini. Di rumah masih banyak, jadi gue bawain buat lo.”

Sagara hanya melirik minuman itu singkat, lalu kembali menunduk. “Gak, makasih.”

Ucapan dingin itu, membuat Nayla seketika menelan ludah. Kali ini dia merasa Sagara sepertinya benar-benar marah padanya.

Nayla kemudian kembali melangkah pelan menuju kursinya, namun detik berikutnya senyumnya berubah penuh tekad.

Nayla tidak jadi duduk, langkahnya beralih ke bangku di belakangnya.

“All.., gue minta maaf ya soal kejadian kemarin.” katanya dengan senyum memelas.

Alleta sedikit terkejut dengan tingkah Nayla yang sangat tiba-tiba. Ia melirik ke arah Aru, gadis berkuncir kuda itu juga terlihat bingung.

“Iya. gue gakpapa kok.” balas Alleta pelan.

“Gue bener bener minta maaf ya All, gue gak sengaja. Salah gue juga bikin pesta di tepi kolam renang.” kata Nayla lagi, ekspresinya terlihat sangat tulus.

Aru memandang ke arah Nayla sesaat, lalu condong ke arah Alleta.

“Lo percaya?” bisiknya.

Alleta tak langsung menjawab. “Iya Nay, gue maafin.”

Nayla tersenyum manis, “Yaudah, sekarang lo lagi pengen apa? Mau ke kantin gak, biar gue anterin?”

“Enggak usah, Nay,” jawab Alleta pelan. “Gue belum laper.”

“Oh…” Nayla mengangguk kecil, senyum di wajahnya tak langsung pudar. “Yaudah. Kalo nanti lo pengen apa-apa bilang aja ya.”

Ia kembali ke bangkunya.

Namun sebelum duduk, ia melirik ke arah Sagara sekali lagi.

Bersambung...

–Jangan jadikan tatapan sebagai harapan. Dia hanya melirik, bukan tertarik–

1
butterfly
lanjut thor 💪💪
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪💪
Lilis N Andini
siapa pelakunya?nayla apa dikta...lanjut thor🙏
butterfly
lanjut thor 💪💪💪
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪
Lilis N Andini
semangat thor/Coffee/
butterfly
lanjut thor 💪💪💪
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Siti Nina
Kasian de lo Nayla niat hati ingin mempermalukan Alleta eehh,,,malah dirinya yg sakit hati 😄
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪
butterfly
cerita nya seru
Lilis N Andini
happy new year jg buat author cantik...makasih udah update/Heart/🙏
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪💪💪 seru cerita nya
Sant.ikaa
haii reader kesayangan author, kalau ada typo mohon maaf ya, maklum author manusia bukan nabi boyy
Siti Nina
klw bisa dua" nya Thor gak bisa milih 😄
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪
Siti Nina
Oke ceritanya 👍👍👍
Siti Nina
Tristan kaya nya mengidap penyakit serius deh kasian Tristan udh pilih dua" nya aja 😄
Siti Nina
Klw bisa dua" nya kenapa harus pilih satu 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!