Kayla, Alfian, Joy, dan Jenny berusaha memecahkan dalang di balik penculikan dan pembunuhan. Puzzle demi puzzle mereka susun, hingga membentuk sebuah petunjuk, bahwa Seseorang yang sangat dekat dengan mereka adalah pelakunya. Lalu tindakan apa yang akan mereka ambil? Dan apa motifnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
"Ada apa dengan kalian?" Tanya Kayla bingung.
Bagaimana tidak bingung?
Pemandangan di depan sana memperlihatkan Joy yang selalu menghindari Jenny. Joy menjaga jarak, sedangkan Jenny malah ingin menempel bak lintah.
"Joy! Maafkan aku...Aku tidak bermaksud melakukan hal itu!" Teriak Jenny saat Joy kembali menjaga jarak.
Joy hanya diam, dia tidak bersuara. Ekspresinya datar, seolah apa yang dikatakan Jenny itu hanyalah angin lalu.
"Salahkan Kak Kay! Dia yang menyuruhku untuk melakukan hal itu! Aku hanya menuruti permintaannya!"Teriak Jenny sambil menunjuk Kayla.
Kayla terkejut dengan serangan tiba-tiba dari Jenny. Matanya sempat melotot, tapi sesaat kemudian kembali normal.
Kayla memperhatikan Joy. Dia rasa situasi saat ini tidak menguntungkan baginya jika harus mengakui kesalahannya.
Namun, Kayla bukan tipe orang yang lempar batu sembunyi tangan. Walaupun situasi ini merugikannya, ia tetap akan mengakui kesalahannya.
"Tapi kalian menyukainya kan? Anggaplah yang kemarin itu adalah mimpi manis." Perkataan itu Kayla tunjukan untuk Joy dan Jenny.
Alfian hanya terdiam. Dia yang tidak tahu akan masalah ini hanya terdiam dan ikut menonton.
Ingin rasanya ikut nimbrung. Namun ia sama sekali tidak tahu apa-apa. Alfian seperti menonton sinetron tapi ketinggalan episode.
"Kamu dengar kan? Ini tidak sepenuhnya salahku, aku hanya memenuhi permintaan Kak Kay." Ucap Jenny, ia berharap Joy memaafkannya.
Joy menatap tajam Jenny dan Kayla secara bergantian. Tatapannya yang saat ini sangat tajam dari sebelum-sebelumnya. Rasanya seperti ada semburan api dari matanya.
Aku hampir hilang kendali! Jangan membuatku berada dalam masalah!
Alfian yang melihat hal itu berusaha untuk mencairkan suasana. "Bukannya hari ini kita akan kembali ke rumah dulu sebelum melakukan misi?"
"Oh, tidak...." Jenny meremas rambutnya.
Bagaimana ini? Aku sudah tidak punya alasan lagi untuk melakukannya...Kenapa aku mengatakannya secepat ini? Padahal aku ingin adegan kiss part dua.
Jenny berjongkok sembari menjambak rambutnya kasar. Dia terlihat sangat frustasi.
Melihat Joy yang seakan ingin mendekat, Kayla langsung menarik tangan Alfian. Mereka meninggalkan Joy dan Jenny di ruang tamu.
Joy perlahan-lahan mendekat. Ia pun ikut duduk di belakang Jenny. Tangannya berusaha untuk melepaskan jambakannya.
"Maafkan aku jika terlalu keras." Bisik Joy di telinga Jenny.
Mendengar suara lembut itu, Jenny pun membalikan badannya.
Pemandangan di depan membuat Jenny terpesona. Mata Jenny tertuju pada jakunnya Joy yang terlihat sexi. Apalagi bibir merah itu membuat dirinya semakin gila
Jenny semakin frustasi. Ia Semakin gila kalau tidak bisa menyentuh barang bagus di depannya ini.
Sayang banget...Aku ingin bibir itu!
Saat Jenny ingin menjambak rambutnya, Joy segera memeluk tubuh Jenny. Ia membekap tubuh Jenny dengan kedua tangan kekarnya itu.
Pelukan hangat itu sesaat membuatnya tenang. Namun beberapa saat kemudian pikirannya kacau lagi.
Joy bertahanlah! Kau tidak boleh hilang kendali! Ini demi dia!
Seperti Jenny, Joy juga menahan gejolak di dadanya. Tubuhnya seakan ingin bertindak tanpa persetujuan darinya.
Karena frustasi Jenny tidak berani menatap Joy. Dia menundukkan pandangannya ke bawah.
Tatapan mata Jenny tidak sengaja mengarah kepada sesuatu yang menonjol di bawah sana.
Tonjolan itu terlihat sangat jelas dan besar. Jenny membulatkan matanya, Seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Awh!" Teriak Jenny saat merasakan sakit akibat perbuatannya sendiri.
Oh My Got! Ini bukan mimpi? Itu beneran? Kenapa separah itu? Bahaya Jenny! Run Jenny! RUN!
Jenny segera berdiri. Dia lari terbirit-birit dengan tampang yang terlihat sangat ketakutan. Jenny seperti orang yang baru saja ketemu hantu.
Melihat Jenny yang seperti itu, Joy segera memperhatikan sekitar. Dilihatnya tak ada hal yang menakutkan disini.
Terus kenapa Jenny terlihat sangat takut?
Karena tak menemukan sesuatu yang menakutkan di ruangan ini, Joy pun memperhatikan dirinya sendiri.
"Sialan!" Umpatnya saat mengetahui penyebab Jenny lari.
Joy segera menutupi bagian bawahnya dengan kedua tangan seraya berlari ke kamarnya.
Setelah sampai di kamar, Joy melangkahkan kaki ke kamar mandi. Ia akan melakukan ritual untuk meredakan nafsunya yang sudah di ubun-ubun itu.
Kondisinya saat ini butuh penanganan khusus. Karena kalau tidak... Tau sendiri kan apa yang akan terjadi?
......................
"Kak Kay! Kak gawat! ini darurat banget!" Teriak Jenny seraya menarik tangan Kayla.
Setelah menutup pintu kamar, Jenny bernapas lega. Ia mengatur pernapasan agar bisa mengontrol dirinya yang saat itu sedang ketakutan.
"Ada apa?"
"Kak, Itu...Itu sangat besar! Aku takut Kak! Kalau sampe dia... Aaaaa!" Ucap Jenny dengan nafas yang tersengal-sengal.
Kayla memeluk tubuh Jenny, berharap bisa membantu meredakan rasa takutnya. "Nggak usah takut, kamu cerita aja. Tapi ceritanya pelan-pelan."
"Itunya Joy sangat besar! Tadi aku melihatnya setelah dia memelukku! Kak, nanti kalau Joy macam-macam... Kau harus melindungiku!"
"Itu urusanmu! Aku tidak akan ikut campur!" Ucap Kayla seraya melipat kedua tangannya di dada.
Kayla sekilas tersenyum, "Lagian...Kalau besar begitu kau harusnya bangga! Apakah kau tidak ingin tahu bagaimana sensasinya?"
Jenny terbengong. Namun, sesaat kemudian wajahnya kembali pucat. "Tidak! Aku bisa mati, Kak!"
Jenny mondar mandir sambil mencari cara agar dirinya bisa menghindari Joy. "Gimana kalau mengubah identitas?"
"Kau yakin?" Tanya Kayla dengan nada kurang percaya.
"Dia kan Salah satu dari ke 5 Hacker yang terkuat. Kau akan kesulitan kabur darinya." Ucap Kayla.
Apa yang dikatakan Kayla cukup masuk akal. Joy adalah salah satu Hacker yang terkuat di dunia. Ia masuk di top ke 3 sebagai Hacker terhebat dan terkuat.
"Sudah ah! Aku akan pulang ke rumah malam ini! Bukannya kalian juga? Kenapa belum bersiap-siap?" Tanya Kayla seraya mengambil beberapa lembar bajunya di dalam lemari.
Kayla merapikan baju yang diambilnya ke dalam koper. Padahal mereka hanya akan tinggal selama dua hari, tapi Kayla membawa begitu banyak baju.
"Aku heran, Kenapa Kak Kay setiap kali pulang ke rumah selalu saja membawa banyak baju? Seolah-olah seperti orang yang akan pindah rumah." Ucap Jenny.
Sebenarnya ia sudah lama ingin menanyakan hal ini. Tapi dia sedikit takut, karena itu adalah hal pribadi. Walaupun ceplas-ceplos ia masih tahu batasan.
Tapi hari dia sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya itu. Ia ingin sekali mengetahui fakta di balik itu.
"Aku tidak punya baju di rumah, dan juga aku tidak suka pakai baju bekas orang kalau nanti bajuku kotor semua." Ucapnya serius.
Tidak punya baju?
Padahal kalau dilihat-lihat Kayla bukan anak yang berasal dari keluarga yang sederhana atau kurang mampu. Ayahnya cukup terkenal dan juga kaya raya.
"Masa sih? Kak Kay kan anak orang kaya? Masa nggak punya baju?" Ucap Jenny Keheranan.
Bahkan, Jenny yang berasal dari keluarga sederhana saja memiliki banyak baju. Masa Kayla nggak punya? Dia kan anak orang kaya.
Kadang Jenny tidak akan membawa barang-barang, karena orang tuanya sudah menyiapkan barang-barangnya ketika pulang nanti.
Deg!
Pertanyaan Jenny membuat Kayla sedikit sedih. Ia berusaha untuk tetap mengontrol dirinya agar tidak terbawa suasana.
Perjalanan panjang yang ia lewati membuatnya terbiasa. Namun, rasa sakit itu masih tersimpan dan terus menggerogoti Kayla secara perlahan.