Bulan yang baru pulang dari Australia harus mendapatkan sebuah tugas yang sangat berat yaitu untuk mengubah dan memperhatikan anak dari teman Ibu-nya yang tak lain adalah Revan Armanio.
Sedangkan, Revan Armanio lelaki yang sangat dingin dan kaku apalagi cuek membuat Bulan harus mau tidak mau berusaha untuk mengubahnya kembali ke sikap yang dulu Revan punya. Bulan berjanji akan mengubah sikap Revan dan Revan menyetujuinya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya, ikuti terus ya❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cellina Army, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bulan menuruni anak tangga dengan pelan sesekali ia berhenti tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel ditangannya tersebut seolah ada berita panas menarik tapi bukan gosip seperti tetangga sebelah itu. Helaan nafas-nya yang berat terdengar kembali seperti ada sesuatu yang dipikirkan.
Rumah besar Bulan di pagi hari akan terkena sinar matahari yang keluar dari ufuk timur dari celah-celah jendela kaca besar. Sungguh hangat itu yang ia rasakan.
Bulan yang sudah lengkap dengan seragam sekolah duduk di sofa ruang tamu sambil menunggu supirnya datang. Bulan sesekali membaca pesan masuk yang datang dari Jio dengan malas apalagi harus membahas tentang pekerjaan, malas sekali.
"Lan, gue mohon terima aja tawaran itu," isi pesan tersebut.
Bulan hanya membaca tanpa membalas, "Sumpah, gue bingung banget!" gumam-nya dengan memejamkan mata.
Vera yang melihat anak putrinya itu sedang di sofa ruang tamu akhirnya menghampiri, "Lan, Pak Syaib belum datang?" Bulan yang mendengar suara Vera langsung membuka matanya.
"Ehh, belum tuh kayaknya," jawab Bulan dengan sedikit bingung.
Entahlah, Pak Syaib yang baru saja kita bicarakan datang muncul di balik pintu depan. Dengan malas aku berdiri dan pamit pada Ibu untuk berangkat sekolah.
...⚡⚡⚡...
Sampai di SMA Merah Putih, Bulan turun dari mobil dan berjalan masuk melewati gerbang sekolah, dengan senyuman manis seperti madu banyak cowok maupun cewek yang memuji kecantikannya itu.
Bulan tidak menanggapi mereka dan tetap berjalan, saat tak sengaja ia melihat sosok dua pria yang baru saja turun dari motor gedenya dengan gaya tampan-nya itu siapa lagi kalau bukan Si Derrick dan Hidan.
Dengan berlari, Bulan menghampiri mereka dengan senyuman merekah, sedangkan Derrick dan Hidan hanya menatap Bulan dengan bingung, "Ngapain sih, Lan?" tanya Derrick dengan menaikkan alis kanannya.
Bulan berdecak kesal, "Kalian nih ya, bukannya basa-basi menyapa malah begitu!" Bulan sedikit kesal dengan kedua makhluk manusia itu.
"Lha, lo sendiri ngapain lari begituan kayak dikejar setan aja," ujar Hidan dan diangguki oleh Derrick.
Bulan menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga, "Ckk, setan masih ada perasaan buat takut ngejar gue karena ada lo berdua!" sarkas Bulan dengan ketus.
"Astaga, ucapan lo itu sengak amat sih, berapa hari sih kita gak ketemu lo!? ucap Derrick dengan muka menyebalkan.
"Kayak gak tahu Bulan aja lo," sahut Hidan.
Bulan melihat ke kanan dan kiri, "Btw, temen kalian yang dua pada kemana?" tanya Bulan dengan dahi berkerut.
"Toni dia di Amerika, kalo si Revan noh," ujar Hidan sambil menunjuk kearah parkiran motor.
Otomatis Bulan mengikuti arah tangan Hidan dan benar saja terlihat wajah datar Revan yang sedang sok serius itu, "Ngapain dia gabung anak junior?" tanya Bulan.
"Bahas kerjaan OSIS," jawab singkat Hidan.
Bulan tersenyum jahil seperti ada yang ingin ia aksikan, "Udah deh Lan gausah ganggu, ketimbang Lo kena mulut pedasnya Revan yang sama kek lo itu!" Hidan tahu apa yang akan dilakukan oleh Bulan makanya ia mencegah sebelum terjadi.
Tanpa ba-bi-bu Bulan meninggalkan kedua makhluk tersebut dan berjalan kearah Revan berada, dengan mengeluarkan jurus jitu ia tersenyum semanis mungkin dan benar saja para pria adik kelas yang tadinya fokus dengan kertas pada teralihkan.
Emang ya kalau laki, lihat wanita cantik lewat aja pada melebar tuh mata:)
Revan yang tahu mereka tidak fokus dengan ucapannya mulai gregetan sendiri, "Liatin apa sih kalian pada!?" bentak Revan dengan pelan tapi yaitu menusuk banget.
Para adik kelas itu langsung diem dan menunduk dengan takut, Revan menengok ke arah samping dan ternyata ada semut merah datang makanya anggotanya pada melenceng ke arah samping, "Ck, ternyata lo!" ucap Revan dingin minta ampun, rasanya gue pengen banget naboki tuh mulut.
Dan apa dia bilang Semut merah? What, masa gue dibilang semut merah dasar tuh beruang kutub gak ada akhlak.
"Aduh kasihan banget kalian, mau aja jadi anggota OSIS yang di ketuai beruang kutub," ucapku dengan senyuman jahil.
"Ngapain sih lo, ganggu aja!?"
Bulan berdiri di samping Revan dengan bersedekap tangan, "Mantau pekerjaan kalian, biar pada bener," ucap Bulan santai.
Revan mengacuhkan Bulan dan melanjutkan aktivitasnya membahas kerja OSIS, "Serahin aja pada guru piket sekarang!" perintah Revan dan berdiri akan masuk kelas tapi dengan cepat Bulan mengambil paksa kertas yang ada di tangan Revan.
"Balikin gak!?" Revan berucap dengan mata menusuk. Tidak peduli tuh mata mau nusuk kek mau apa, yang penting gue mau lihat kerja OSIS.
Bulan membaca tulisan yang ada di kertas putih tersebut, tanpa sengaja ia membaca nomor 25 atas nama Bulan Rasya dan judulnya ialah sanksi sekolah. Bulan membaca lagi untuk memastikan apa itu benar atau tidak, pasalnya ia tak pernah berbuat masalah apalagi ini sanksi sekolah.
"Ini apaan dah?" Bulan bertanya sambil menunjuk ke lembaran kertas, mencoba mencari kejelasan dari mereka.
Revan hanya mengendikan bahu, "Kalo udah sanksi ya akui,"
"Gue aja sekolah di SMA sini belum pernah dapat teguran atau masalah lain, lha ini napa gue ditulis!?" Bulan tidak terima jika namanya ditulis apalagi ia tak merasa berbuat salah.
Revan memilih pergi, tapi Bulan dengan cepat merogoh tas-nya mengambil ponsel dengan senyuman licik ia mengeluarkan jurus ampuh agar dirinya tak mendapat sanksi, "Om Heri, tau gak sih masa Bulan di catat di kertas sanksi sekolah sama Revan padahal nih ya Bulan gak pernah buat salah!" dengan sengaja Bulan mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Revan.
Dan benar saja Revan kembali ke arahnya dan ingin merebut ponsel gue, "Eits, mau apa?" Bulan menjauhkan ponselnya dengan cepat.
"Matiin gak!?" Revan semakin gencar merebut ponsel Bulan, "Hapus dulu nama gue dari daftar sanksi, asal lo tahu gue gak pernah buat salah!"
"Perasaan lo gak amnesia dah,"
"Lan, pertama masuk kan lo telat." sahut Derrick yang ada di samping Revan.
Bulan menganga lebar dan ia mulai ingat dengan hal itu, "Kan gue udah kasih alasan yang tepat, masa iya kalian tega masukin gue di sanksi!?"
Revan lebih mengalah daripada ia mendapat hukuman dari orang rumah, "Ck, hapus nama nih SEMUT MERAH!" Revan memerintahkan kepada sang teman dengan nada Penuh penekanan.
Sedangkan mereka hanya menaikkan alis dengan bingung, "Maksud gue nih SEMUT MERAH-NYA!" ucap Revan sambil menunjuk kearah Bulan yang sedang menatap tajam Revan.
"Puas, matiin tuh sambungan!"
Semoga sehat, bahagia dan sukses selalu ya..
Semangaaaaattt... ❤❤❤❤❤
asisten dadakan hadir
mampir yuk..
semangat selalu💪
Baca novelku judulnya 'Cinta sejati'. Tentang dua orang yang menemukan cinta sejatinya serta lika-liku perjalanannya. Klik foto profilku buat baca...
Baca dulu sinopsisnya dan 3 episode awal.
Dukunganku untuk jari-jari yang lelah menulis & apresiasi untuk ide yang telah tertuang 🙌💐
like untukmu 😉😉
ditunggu feedbacknya kak 😉
a world full of zombies hadir lagi 💚🙂