Kyranza wanita yang baru saja di terima di sebuah perusahaan ternama membuat kehidupannya lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana tidak sebelumnya dia harus melakukan tiga pekerjaan sekaligus dalam sehari untuk bisa menafkahi putra semata wayangnya itu.
Kejadian lima tahun yang lalu setelah bercerai dengan suaminya membuat kyra menjadi wanita yang tangguh.
Tapi semuanya hanya hanya sekejap mantan suaminya itu kembali muncul dan terus mengganggu kehidupannya.
" Menikah kembali denganku, maka hidupmu akan baik-baik saja"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Bagas menyandarkan kepalanya ke belakang kursi, memejamkan mata untuk meredam emosinya yang meluap. Setelah beberapa saat hening, ia membuka mata, tatapannya kini berubah menjadi lebih terkontrol, meskipun masih dipenuhi kekecewaan.
"Sejak kapan Aldian kau tinggalkan?" tanya Bagas dingin.
"Setelah kau pergi," jawab Kyra lirih. "Aku langsung mengantarnya."
"Kau menitipkannya pada siapa?"
"Pada Bu Lilis. Pemilik kontrakan itu. Dia sudah sering menjaga Aldian," jelas Kyra.
Bagas mengangguk, mengusap wajahnya kasar. Setidaknya Aldian aman, itu yang terpenting.
Bagas kembali menyalakan mobilnya, menyusuri jalanan kota. "Kita mau ke mana?" tanya Kyra.
"Ke restoran," jawab Bagas singkat, tanpa menoleh.
"Aku tidak lapar. Dan aku tidak mau makan denganmu" tolak Kyra.
"Aku tidak peduli," tukas Bagas, matanya fokus pada lalu lintas. "Aku yang lapar. Dan kau akan menemaniku. Aku tidak akan membiarkanmu kembali bekerja."
Bagas menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran Italia modern yang terlihat eksklusif. Pelayan berseragam rapi segera menghampiri, membukakan pintu untuk mereka. Kyra melangkah keluar dengan canggung, merasa sangat tidak pantas dengan kemeja dan celana kerjanya yang sederhana di tengah kemewahan seperti itu.
Mereka dipandu ke meja pojok yang tenang. Bagas duduk dengan santai, tetapi Kyra duduk kaku di hadapannya, tangannya terkepal di bawah meja. Seorang pelayan menyerahkan buku menu.
" Saya pesan Ribeye Steak medium-rare, dan Truffle Risotto," kata Bagas pada pelayan, tanpa menanyakan apa pun kepada Kyra.
Setelah mencatat pesanan Bagas, pelayan itu menoleh ke Kyra.
"Kau mau pesan apa, Kyra?" tanya Bagas, mengabaikan ketegangan yang masih menyelimuti mereka.
"Aku sudah bilang, aku tidak lapar," jawab Kyra dengan nada dingin.
Bagas mengambil buku menu tebal yang dipegang pelayan, lalu menyodorkannya ke arah Kyra. "Jangan konyol. Kau belum makan siang. Lihat isinya, dan pesan yang kau suka."
Ia meraih buku menu itu dengan enggan. Ia membukanya, dan matanya langsung terbelalak melihat harga-harga yang tertera.
Jantung Kyra langsung mencelos. Harga untuk satu piring pasta sederhana saja sudah hampir setengah dari gajinya sebagai office girl selama seminggu. Harga steak yang dipesan Bagas bahkan bisa menutupi biaya sewa kontrakannya selama sebulan penuh.
"Tidak ada yang murah di sini," bisik Kyra, lebih kepada dirinya sendiri.
Bagas, yang menyadari perubahan ekspresi Kyra, bersandar di kursinya. "Memang tidak ada. Ini restoran bagus. Pesan saja."
"Aku tidak bisa," kata Kyra, menutup buku menu dengan gerakan tiba-tiba. "Aku tidak akan menghabiskan uang sebanyak itu hanya untuk satu kali makan siang."
"Uangku, Kyra. Bukan uangmu," Bagas mengingatkan.
"Itu sama saja!" balas Kyra, suaranya sedikit meninggi. "Aku tidak mau kau membelikanku makan siang seharga gajiku seminggu! Aku akan merasa sangat bersalah."
Bagas menghela napas. Ia tahu ini adalah masalah harga diri Kyra lagi. Ia mengambil menu dari tangan Kyra.
Bagas menatap pelayan dan mengatakan " samakan saja pesananku dengannya" putus Bagas menyerahkan buku menu itu pada sang pelayan.
"Tolong tambahkan pesanan Ribeye Steak medium-rare yang sama seperti pesanan saya, dan bungkus rapi untuk dibawa pulang (take away)," perintah Bagas.
Kyra menatap Bagas dengan raut penuh tanya. Untuk siapa dia memesannya lagi?.
"aku memesannya untuk Aldian" ucap Bagas seolah mengetahui isi pikirannya.
Kyra hanya diam dan menganggukkan kepalanya.
Setelah makan siang, mereka langsung menuju kontrakannya Kyra. Kyra tetap diam sepanjang perjalanan kembali. Ia terlalu lelah untuk berdebat, dan kenyataan bahwa ia harus pulang tanpa sempat bekerja barang sehari pun.
mobil Bagas berhenti di depan kontrakannya. Kyra membuka pintu, lalu berbalik kepada Bagas. "Aku harus menjemput Aldian dulu di rumah Bu Lilis," katanya.
"Aku ikut," ujar Bagas tanpa bertanya.
"Tidak perlu," tolak Kyra cepat. "Cukup kau tunggu di sini saja. aku tidak mau menimbulkan kecurigaan lagi."
Bagas menghela napas, menyadari Kyra benar. Ia mengangguk. " baiklah, tapi cepat aku tidak mau menunggu lama"
Kyra segera berjalan cepat menuju rumah Bu Lilis. Hanya butuh beberapa detik baginya untuk mencapai teras tetangganya.
Bu Lilis membuka pintu dengan senyum ramah. Aldian sedang asyik bermain mobil-mobilan di lantai ruang tamu.
"Bunda!" seru Aldian riang, langsung berlari memeluk Kyra.
"Sudah pulang, Nak?" tanya Bu Lilis, raut wajahnya menunjukkan keheranan. "Ya ampun, cepat sekali. Baru juga jam satu siang. ngga jadi kerja?"
Kyra tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kekesalannya. "Iya, Bu. Saya izin pulang lebih cepat. Saya bilang ke bos, saya tidak enak badan," Kyra berbohong, memindahkan kesalahan pada kondisi fisik.
"Oh, begitu. Ya sudah, istirahat saja di rumah. Untunglah Bapak yang tampan itu tadi pagi tidak tahu kamu pergi," kata Bu Lilis, terkekeh pelan. "Aldian anteng kok, Kyra. Tadi dia main dengan cucu saya."
"Terima kasih banyak, Bu Lilis. Maaf sudah merepotkan lagi," ucap Kyra tulus, menggandeng tangan Aldian.
Kyra membawa Aldian kembali ke kontrakannya. Begitu masuk, Aldian langsung melihat Bagas berdiri di ruang tengah.
"Om Bagas!" seru Aldian, berlari ke arah Bagas.
Bagas berlutut, menyambut pelukan hangat dari putranya. "Halo, sayang. Om bawa sesuatu untukmu," kata Bagas, mengambil bungkusan steak dari atas meja dan menyerahkannya kepada Aldian.
"Ini apa, Om?"
"Ini namanya steak, kamu sudah makan siang belum" tanya Bagas
" belum om, tadi mau makan siang sama nenek Lilis tapi keburu bunda datang" jelas aldian.
"Kalau begitu, ini pas sekali!" seru Bagas riang, memegang bungkusan steak itu lagi. "Ini makan siang khusus untuk pahlawan Om. Steak daging sapi"
"ayo biar om siapkan"