Audrey mengira hari pernikahan yang ada di depan matanya saat ini akan membawa kebahagiaan. Menikah dengan kekasih yang begitu dicintainya adalah mimpinya sejak dulu. Namun, dalam sekejap mata, hari yang dinanti adalah hari yang begitu menyakitkan baginya. Dimana dia harus menerima kenyataan jika kekasihnya malah memilih bersanding dengan Kakak tirinya. Hatinya rapuh, disaksikan gaun pengantin yang melekat indah di tubuhnya. Seorang Kakak yang ia sayang dengan tega mengkhianatinya tanpa perasaan.
Bagaimana kisah Audrey selanjutnya? Akankah wanita cantik itu depresi atau malah melakukan hal yang tidak bisa di bayangkan. Baca yuk!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mhaya Yanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GTJ 29
Tubuh Jason membeku di ditempat kala mendengar berita yang baru saja di lontarkan asisten pribadinya. Wajah yang terlihat selalu menunjukkan ketegasannya, seketika berubah menjadi kelabu. Yah, air mata seketika mengenang di pelupuk matanya dengan cepat tanpa bisa di cegah. Namun, dengan sebisanya, Jason berusaha menahan sesuatu yang akan terjun bebas di pipinya. Didepan asistennya, ia tetap menunjukkan jati dirinya sebagai Jason yang tegas dan kejam. "Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Jason, ia mendudukkan kembali tubuhnya di kursi kebesarannya dengan jari- jemarinya mengetuk meja berkali-kali sembari menunggu jawaban dari Asistennya, Euno.
"Sekarang Nyonya sudah membaik, Tuan. Dan sekarang Nyonya tengah berada di taman belakang," sahut Euno tanpa mendongakkan kepalanya. Rasa takutnya pada Jason terlalu besar hingga ia tak mau menatapnya meskipun Jason berada di depannya.
"Awasi dia, Jangan sampai ada hal buruk yang terjadi padanya. Ingat, Euno, aku tidak akan kembali sebelum dia menghubungiku," papar Jason memperingati, bukannya tak mau melihat ataupun menemani Audrey. Tapi keinginan wanita itulah yang membuat Jason berusaha menahan diri meskipun kenyataannya ia teramat merindukan istrinya.
"Apa anda tidak ingin melihat terlebih dulu calon bayi anda, Tuan?" pertanyaan itu seketika keluar begitu saja dari bibir Euno yang ditujukan untuk Jason. "Biasanya, rasa sakit yang diderita ibu hamil akan lenyap jika ayah dari calon si bayi ada di samping ibu ataupun berkunjung," lanjutnya yang langsung membuat Jason menyipitkan matanya sejenak.
Melihat tatapan Jason yang terkesan berbeda, jakun Euno naik turun tanpa di duga. Ia cemas hanya karena takut dengan apa yang diucapkannya tadi menyakiti ataupun membuat ketidaknyamanan untuk Jason.
Jason berdecih pelan sembari tersenyum mengejek ke arah Euno, " apa kau tau rasanya sampai kau berbicara seperti itu? Kau saja belum menikah, sok mengajariku!" cecar Jason.
Euno terperangah mendengar celotehan dari Jason. Meskipun wajah pria itu tetap tegas, tapi Euno melihat ada hal yang berbeda. Euno tak pernah sekalipun mendengar celotehan dari Jason selain tentang pekerjaan. Tapi kali ini, Jason berbicara hal lain, bahkan terkesan mengajak bercanda dengan celotehnya.
"Saya memang belum menikah, Tuan. Tapi saya..."
"Kau pernah melakukannya dengan siapa, Euno? Apa benar jika wanita itu sedang hamil anakku? Jika iya, nikahilah dia! Jangan menjadi pecundang karena lari dengan tanggung jawab," terang Jason dengan alis saling bertaut. Raut wajahnya sudah menunjukkan ketegasan kembali seperti biasanya.
"Bagaimana aku melakukannya? sedangkan dia tidak pernah memberikan ku libur satu hari pun," batin Euno heboh, bukannya ia terima dengan apa yang dituduhkan Jason, akan tetapi ia mencari aman saja dengan terdiam tanpa menjawab. Ia yakin jika dirinya membuka bibir, masalahnya akan semakin runyam.
"Oh ya, satu lagi! Jangan memberikan istriku Dokter yang abal-abal. Aku tidak ingin terjadi hal buruk padanya," timpalnya lagi mengingatkan.
"Tuan, seharusnya anda tidak perlu bertindak seperti ini. Nyonya istri anda dan dia sudah menjadi milik anda. Jangan berikan orang lain membuat Nyonya nyaman selama kepergian anda," jelas Euno yang membuat Jason seketika terhenyak. Jantungnya berdegup kencang dengan tangan yang sudah mulai terkepal. Mendengarnya saja ia merasa cemburu dan tidak terima, apalagi jika sampai hal itu terjadi. Tidak, Jason menggelengkan kepalanya sembari berdiri dengan kasar.
"Berhenti berpikir seperti itu, Euno. Kau itu tak perlu menasehati ku tentang ini!" tangan Jason mencengkram erat kerah jas yang di kenakan Euno dengan sarkasme. Wajahnya merah menahan amarah yang seketika mengikis hatinya.
Setelah mengucap hal demikian, Jason mendorong tubuh Euno hingga pria itu mundur beberapa langkah. Di detik berikutnya, Jason melangkahkan kakinya pergi meninggalkan tempat yang menjadi rumahnya beberapa hari ini. Entah apa yang akan dilakukannya setelah ini, yang terpenting baginya adalah keluar saat ini.
Bersambung...