Aurora terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berada di dunia asing yang begitu indah, penuh dengan keajaiban dan dikelilingi oleh pria-pria tampan yang bukan manusia biasa. Saat berjalan menelusuri tempat itu, ia menemukan sehelai bulu yang begitu indah dan berkilauan.
Keinginannya untuk menemukan pemilik bulu tersebut membawanya pada seorang siluman burung tampan yang penuh misteri. Namun, pertemuan itu bukan sekadar kebetulan—bulu tersebut ternyata adalah kunci dari takdir yang akan mengubah kehidupan Aurora di dunia siluman, membuatnya terlibat dalam rahasia besar yang menghubungkan dirinya dengan dunia yang baru saja ia masuki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Hutan Terlarang
Aurora dan Raviel berjalan perlahan di tengah hutan yang dipenuhi kabut tipis. Pepohonan raksasa menjulang tinggi, akarnya menjalar seperti ular yang menggenggam tanah. Meski matahari bersinar di langit, cahaya hampir tidak menembus ke dalam hutan, seolah ada kekuatan yang menyembunyikannya dalam bayangan.
“Tempat ini terasa aneh,” bisik Aurora, matanya menyapu sekeliling. “Energinya berbeda.”
Raviel merasakan hal yang sama. Ada sesuatu yang mengawasi mereka. Tiba-tiba, dari balik pepohonan, muncul sosok berjubah hitam dengan mata berpendar merah. Mereka bukan manusia biasa—mereka adalah Penjaga Bayangan, makhluk yang diciptakan untuk melindungi rahasia yang terkubur di bumi.
“Sang Garuda Emas telah turun,” suara salah satu penjaga menggema, dalam nada yang tak bisa ditebak apakah ancaman atau penghormatan. “Apa yang kau cari di tempat terlarang ini?”
Raviel melangkah maju dengan penuh wibawa. “Aku mencari peninggalan leluhur yang seharusnya menjadi bagian dariku.”
Para Penjaga Bayangan saling berpandangan, lalu salah satu dari mereka mendekat. “Hanya mereka yang membuktikan keberaniannya yang bisa menemukan kebenaran.”
Tiba-tiba, tanah di bawah mereka bergetar. Kabut menebal, dan seketika itu juga, Aurora dan Raviel terpisah.
“Aurora!” Raviel berusaha mencarinya, tetapi sebuah kekuatan menariknya ke dalam kegelapan.
Di sisi lain hutan, Aurora mendapati dirinya berada di sebuah reruntuhan kuil kuno, di mana nyala api biru berkedip-kedip di sekelilingnya. Suara kuno berbisik di telinganya, seolah menguji tekadnya.
Sementara itu, Raviel berdiri di hadapan sebuah altar batu, di mana sebuah permata emas bersayap tergeletak. Namun, sebelum ia bisa menyentuhnya, bayangan hitam muncul di hadapannya—sosok yang menyerupai dirinya sendiri, tetapi dengan tatapan dingin dan penuh kegelapan.
“Untuk menjadi Raja Garuda Emas sejati, kau harus mengalahkan ketakutan terbesarmu,” suara itu bergema. “Dan ketakutan itu adalah dirimu sendiri.”
Raviel menatap sosok di hadapannya—bayangan dirinya sendiri, namun dengan aura yang gelap dan mata berpendar merah darah.
“Aku adalah ketakutanmu,” kata bayangan itu dengan suara Raviel sendiri, namun terdengar lebih dingin dan menekan. “Aku adalah keraguanmu. Kemarahanmu. Kelemahan yang kau sembunyikan.”
Tanpa peringatan, bayangan itu menyerang. Raviel mengangkat pedangnya, menangkis serangan cepat yang nyaris mengenai dadanya. Percikan energi emas dan hitam bertabrakan di udara.
Sementara itu, di reruntuhan kuil kuno, Aurora berusaha menemukan jalan kembali ke Raviel. Namun, suara bisikan terus mengganggunya.
"Tanpa sayap, jantung tak akan bertahan."
"Jika ia gagal, apakah kau bisa bertahan?"
Aurora mengepalkan tangannya. “Aku percaya pada Raviel,” gumamnya, sebelum menutup matanya dan membiarkan cahaya dalam dirinya membimbingnya.
Di arena pertarungan, Raviel mulai kewalahan. Setiap serangan yang ia lancarkan, bayangannya dapat menghindari atau membalas dengan kekuatan yang sama besar.
“Aku adalah bagian dari dirimu, Raviel,” ujar bayangan itu. “Selama kau ragu, kau tak akan bisa menang.”
Raviel terdiam. Ia menyadari sesuatu—ia tidak bisa mengalahkan bayangannya dengan kekuatan semata.
Ia harus menerimanya. Ya, ujian ini sama seperti yang Aurora dapatkan sebelumnya.
Mengambil napas dalam, Raviel menurunkan pedangnya dan menatap bayangan itu dengan tenang. “Aku tidak akan melawanmu,” katanya. “Karena aku menerima siapa diriku.”
Bayangan itu membeku. Energi hitam yang menyelimutinya mulai bergetar, lalu perlahan menghilang, terserap kembali ke dalam tubuh Raviel.
Di saat yang sama, altar batu bersinar, dan permata emas bersayap melayang ke arah Raviel. Tanpa ragu, ia mengulurkan tangannya, dan saat menyentuh permata itu, sebuah kekuatan luar biasa mengalir ke dalam dirinya.
Aurora tiba tepat waktu untuk menyaksikan momen itu. Ia melihat Raviel berdiri di tengah cahaya emas yang begitu kuat, matanya berkilauan penuh keyakinan.
“Raviel,” bisiknya.
Raviel berbalik, tersenyum padanya. “Aku berhasil.”
Aurora berlari—memeluknya penuh rasa bangga.
Dengan kekuatan baru yang kini mengalir dalam dirinya, Raviel telah menjadi Raja Garuda Emas yang sejati. Namun, perjalanan mereka belum selesai. Masih ada misteri lain yang menanti untuk diungkap di Bumi.
Aurora dan Raviel baru saja meninggalkan altar suci ketika langit tiba-tiba menggelap. Angin berputar kencang, membawa aroma tanah basah dan energi gelap yang mencengkeram udara. Dari balik pepohonan hutan, muncul siluman berwujud raksasa dengan tubuh hitam berasap dan mata merah menyala.
"Kalian berani mengambil peninggalan suci? Itu bukan milik kalian!" suara siluman itu bergema, membuat tanah bergetar.
Raviel merasakan permata emas bersayap di tangannya berdenyut, seolah memberi peringatan. Ia menggenggamnya erat dan menoleh pada Aurora. “Sepertinya kita belum bisa kembali ke Aetheroin.”
Aurora menghunus pedang cahaya miliknya. “Aku sudah menduga ini akan terjadi.”
Siluman itu menyerang dengan cakar hitam yang memanjang seperti bayangan. Aurora dan Raviel melompat ke arah berlawanan, menghindari serangan yang menghancurkan tanah tempat mereka berdiri.
Raviel mengaktifkan kekuatan baru dari permata emas bersayap. Sayap emas besar muncul di punggungnya, dan tubuhnya bersinar dengan aura garuda. Dengan kecepatan luar biasa, ia melesat ke arah siluman dan menebas lengannya.
Siluman itu mengaum, tetapi luka di lengannya segera menutup kembali. “Serangan biasa tidak akan cukup,” gumam Raviel.
Aurora menutup mata, merasakan energi sekitarnya. Kemudian, ia menyadari sesuatu. “Raviel! Siluman ini tidak bisa dihancurkan karena terhubung dengan bayangan di bawahnya! Kita harus menyerangnya dengan cahaya dari dua arah!”
Raviel mengerti. Ia terbang tinggi ke langit sementara Aurora tetap di tanah. Dengan cepat, ia mengangkat pedangnya, mengumpulkan energi cahaya suci.
“Sekarang, Raviel!”
Dari atas, Raviel menghempaskan cahaya emas dari sayapnya, sementara Aurora menusukkan pedangnya ke tanah, mengirimkan gelombang cahaya ke arah bayangan siluman.
Teriakan kesakitan menggema saat cahaya menembus tubuhnya. Siluman itu mengerang, berusaha melarikan diri, tetapi tubuhnya mulai terurai menjadi partikel hitam yang menghilang tertiup angin.
Ketika keheningan kembali menyelimuti hutan, Raviel turun ke sisi Aurora. “Sepertinya kita berhasil.”
Aurora mengangguk, meski ekspresinya tetap waspada. “Tapi ini hanya permulaan. Jika satu siluman menjaga peninggalan ini, mungkin masih ada yang lain.”
Raviel mengepalkan tangannya di atas permata bersayap. “Maka kita akan menghadapi mereka. Bersama.”
Tanpa mereka sadari, dari kejauhan, sepasang mata lain mengamati mereka dalam kegelapan. Ancaman yang lebih besar sedang menanti.
---
Malam telah turun ketika Aurora dan Raviel keluar dari hutan terlarang. Meski mereka telah mengalahkan siluman raksasa, hawa gelap masih terasa di sekitar mereka. Langit bumi dipenuhi awan hitam pekat, seolah menandakan bahwa ancaman belum benar-benar berakhir.
“Perasaan ini. Seolah sesuatu masih mengintai kita,” bisik Aurora, matanya menyapu sekeliling.
Raviel merasakan hal yang sama. Permata bersayap di tangannya masih berdenyut, seakan memperingatkan mereka akan bahaya yang lebih besar. “Kita harus mencari tahu dari mana asal kegelapan ini,” katanya.
Mereka berjalan ke sebuah desa kecil di pinggir hutan, berharap mendapatkan jawaban. Namun, saat tiba, yang mereka temukan hanyalah kehancuran. Rumah-rumah terbakar, tanah penuh bekas cakaran, dan udara dipenuhi aroma belerang.
Aurora berlutut, menyentuh tanah yang menghitam. “Ini bukan perbuatan siluman biasa,”
Tiba-tiba, terdengar suara lirih dari reruntuhan. Mereka bergegas menuju sumber suara dan menemukan seorang gadis kecil bersembunyi di balik puing-puing. Matanya dipenuhi ketakutan.
“Jangan takut,” Aurora berbicara dengan lembut. “Kami di sini untuk membantu.”
Gadis itu menatap mereka dengan mata berkaca-kaca sebelum akhirnya berbisik, “Mereka datang dari gua hitam, makhluk-makhluk bayangan ... mereka mengambil semua orang!”
Aurora dan Raviel bertukar pandang. Gua Hitam.
Raviel mengepalkan tangannya. “Kalau begitu, kita tahu ke mana harus pergi.”
Namun sebelum mereka bisa bergerak, kabut hitam tiba-tiba menyelimuti desa. Dari dalam bayangan, muncul sosok yang jauh lebih mengerikan—seorang pria berzirah hitam dengan mata merah menyala dan tanduk melengkung di kepalanya.
“Jadi inilah Sang Pangeran Garuda Emas dan Jantung Cahaya dan Kegelapan,” suaranya dalam dan menggema. “Kalian telah mengganggu keseimbangan.”
Aurora dan Raviel langsung bersiaga. “Siapa kau?” Raviel bertanya tegas.
Pria itu tersenyum dingin. “Namaku Azarel, Raja Siluman Kegelapan. Dan kalian telah melangkah ke dalam wilayahku.”
Tanah bergetar. Dari balik bayangan, muncul puluhan siluman dengan tubuh hitam pekat dan mata merah membara. Mereka menggeram, siap menyerang.
Aurora mencabut pedangnya, sementara sayap emas Raviel berkibar dengan cahaya yang membakar kegelapan. “Kau mungkin raja di duniamu,” ujar Raviel. “Tapi ini bukan dunia yang akan kau kuasai.”
Azarel tertawa rendah. “Kita lihat saja.”
Dalam sekejap, pertempuran pecah. Dan kali ini, lawan mereka bukan sekadar siluman biasa—melainkan kegelapan yang telah mengakar di bumi selama ribuan tahun.