Isyana Putri, gadis tomboi berusia 22th. Tanpa sengaja bertemu dengan
Briyan Adhinatha, seorang CEO tampan berusia 28th.
Karena suatu keadaan membuat Isyana harus melakukan nikah bohongan dengan Briyan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mandry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ini tidak benar
Dikamar Briyan, Isyana mengamati isi kamar tersebut. Kamar itu sangat luas dan terasa nuansa elegannya. Penataan ruang dan perabotan didalamnya cukup sederhana tapi sangat berkelas. Tempat tidur yang sangat besar dan ada sofa panjang di kamar. Ada juga beberapa ruangan lagi didalam kamar.
"Good job girl!" Ucap Briyan setelah dia menutup pintu kamarnya
"Akting kamu luar biasa" Ucap Briyan dengan senyum kepuasan.
"Akting? Bukannya kamu yang berakting? " Tanya Isyana tidak senang dengan reaksi Briyan
"Aku sama sekali tidak berakting" Ucap Isyana dengan tegas
"Oh ya... Lalu kenapa kau berpura-pura menangis? " Tanya Briyan
"Aku tidak berpura-pura menangis!" Jawab Isyana
"Tiba-tiba aku teringat ayahku, kemarahan ayahku, tamparan ayahku, kekecewaan diwajah ayahku dan rasa sakit dihatiku karena fitnah itu. Semua berputar kembali di ingatanku dan tak aku merasa sangat sedih..." Jelas Isyana dan tak terasa air mata mengalir di pipinya.
"Sudahlah... Sepertinya aku tidak bisa melanjutkan lagi kebohongan ini" Ucap Isyana sambil menyeka air mata di pipinya.
"Tidak bisa...! Kita sudah terlanjur memulainya" Jawab Briyan
"Tapi aku tidak bisa membohongi orang-orang sebaik mereka" Bantah Isyana
"Apa kau tidak punya hati? Bisa-bisanya kamu bersandiwara didepan kedua orang tuamu? Membohongi mereka terus menerus?" Tanya Isyana
"Mama yang tidak pernah mengerti perasaanku" Alasan Briyan
"Jangankan mama... Bahkan aku saja tidak bisa mengerti jalan pikiranmu" Ucap Isyana dengan senyum sarkatisnya.
"Mamamu hanya ingin yang terbaik untukmu" Tambah Isyana dengan suara lebih lembut.
"Mama tidak mau tau apa yang terbaik untukku" Jawab Briyan
"Maka bicarakan dengan mama. Bukan malah seperti ini... " Ucap Isyana
"Kamu itu tidak tau apa-apa. Jadi jangan sok ikut campur urusanku! " Briyan merasa kesal dengan Isyana. Dia keluar dari kamar itu.
"Heh...! Jangan sok ikut campur katamu? Tapi kau menarikku masuk kedalam urusanmu" Gumam Isyana setelah Briyan keluar dari kamar dan terduduk lesu di atas tempat tidur.
***
Briyan terlihat menenangkan diri di balkon dekat kamarnya karena perdebatan dengan Isyana tadi. Dia berfikir kemungkinan apa yang akan dia lakukan bila Isyana tidak mau melanjutkan perannya.
Setelah merasa punya ide dan cukup menenangkan pikirannya Briyan memutuskan untuk turun ke ruang keluarga. Tampak hanya ada Tiyo yang duduk disana sambil sibuk dengan hpnya.
"Kemana papa? " Tanya Briyan ketika dia berjalan cukup dekat dengan Tiyo.
"Papa ke kamarnya untuk istirahat" Jawab Tiyo.
"Oh iya briy... Ada yang ingin aku tanyakan" Belum sempat Briyan duduk Tiyo sudah berdiri dari duduknya.
"Apa? " Tanya Briyan
"Ayo diluar saja" Tiyo mengajak Briyan mengobrol diluar rumah. Ada dua kursi disana.
"Ini masalah Isyana... Kamu mau memberi penjelasan kepadaku? " Tanya Tiyo setelah mereka duduk dikursi luar ruamah.
"Isyana itu wanita yang aku tabrak dan aku tolong dari para preman" Jawab Briyan
"Jadi sebagai balas budi, sementara dia jadi istri bohonganku... " Jelas Briyan dengan santai.
"Istri bohongan? " Tiyo tampak terkejut
"Iya... Istri bohongan. Kita nikah bohongan alias tidak ada pernikahan" Jelas Briyan tenang
"Dan dia mau? " Tanya Tiyo
"Awalnya dia tidak mau, tapi dengan sedikit ancaman akhirnya dia mau" Jelas Briyan dan menggerakkan ibu jari dan jari telunjuk sedikit mendekat.
"Dan tugasmu sekarang buatkan aku surat perjanjian nanti akan aku kirim poin-poin perjanjiannya dan buatkan aku buku nikah aspal (asli tapi palsu)" Ucap Briyan memberi intruksi pada Tiyo
" Apa?! Kamu gila ya Briy...?! " Tiyo merasa tidak senang dengan keputusan Briyan
"Apa kamu tidak memikirkan perasaan mama dan papa?" Tanya Tiyo lagi
"Buat apa aku memikirkan perasaan mama kalo mama tidak memikirkan perasaanku" Jawab Briyan
"Aku mencintai Calista, tapi kenapa mama selalu memaksaku meninggalkannya dan menjodohkan ku dengan wanita-wanita yang sama sekali tidak aku suka?!" Jelas Briyan
"Tapi ini tidak benar Briyan...!" Ucap Tiyo
'Apa aku harus mengatakannya... Tapi dia terlalu dibutakan dengan cintanya. Ucapan mama saja dia tidak percaya. Apa lagi aku... ' batin Tiyo
"Ssst! Tugasmu hanya melaksanakan perintahku. Aku mau surat perjanjian itu sudah jadi nanti malam" Ucap Briyan dan dia pergi meninggalkan Tiyo yang masih terduduk di kursinya.
1 vote mengiringi karyamu Thor.
semangat berkarya