NovelToon NovelToon
Berakhir Atau Bertahan

Berakhir Atau Bertahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Scorpionzs

menceritakan sepasang kekasih yang mau menikah beberapa bulan lagi namun gagal karena suatu kesalahan pahaman , membuat pernikahan yang telah dinanti nanti hancur , membuat keduanya tidak seperti dulu .........

maukah Wanita itu Bertahan dengan sang pria atau Berakhir ................

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scorpionzs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#29

Di atasnya, tampak bendera hitam dengan simbol ular bersilang — lambang organisasi Viper’s Fang, kelompok kriminal yang terkenal dengan kekejaman dan pengkhianatan mereka.

“Kapal ini muncul beberapa jam lalu,” jelas Draven. “Mereka belum melakukan serangan, tapi radar kita mendeteksi aktivitas mencurigakan di bawah permukaan laut.”

Altair menatap layar itu dengan pandangan dingin. “Viper’s Fang berani muncul di wilayah kita?”

Draven mengangguk. “Sepertinya mereka ingin menguji pertahanan kita.”

Tatapan Altair semakin mengeras. “Mereka akan menyesal.”

Altair menyerahkan kembali tablet itu kepada Draven dan berbalik ke arah Rifqi. “Kamu tetap di sini.”

Rifqi mengernyit. “Aku nggak bisa tinggal diam.”

Altair menatapnya tajam. “Kali ini serius, Rifqi. Aku nggak mau kamu terluka.”

Rifqi mengepalkan tangannya. “Aku tahu kamu bisa menangani ini, tapi aku suamimu, Altair. Aku akan berdiri di sampingmu, apapun yang terjadi.”

Altair terdiam sejenak, lalu akhirnya berkata, “Kalau begitu, jangan sampai menghalangi jalanku.”

Draven menyeringai kecil. “Kita bergerak sekarang?”

Altair mengangguk. “Persiapkan kapal tempur dan aktifkan semua sistem pertahanan. Aku ingin mereka tahu siapa yang mereka hadapi.”

Draven memberi isyarat ke anak buahnya. Dalam hitungan detik, bel peringatan berbunyi di seluruh markas.

Pasukan ZEROUN yang berpakaian serba hitam dengan lambang naga di bahu mereka segera bersiap di posisi masing-masing.

Altair melangkah menuju dermaga di belakang markas, diikuti Rifqi dan Draven. Sebuah kapal perang hitam besar dengan senjata berat di kedua sisinya sudah siap berangkat. Altair menaiki kapal itu tanpa ragu.

Rifqi berdiri di sampingnya saat kapal mulai bergerak ke tengah laut. Ombak bergelombang di bawah mereka, dan angin malam terasa dingin di kulit.

Altair menatap lurus ke depan, matanya menyipit saat melihat kapal milik Viper’s Fang yang mendekat.

“Jarak 500 meter,” lapor salah satu kru.

Altair mengangkat tangannya. “Aktifkan pertahanan. Jangan tembak dulu.”

Beberapa detik kemudian, suara dentuman keras terdengar dari kapal lawan. Rudal melesat ke arah kapal Altair dengan kecepatan tinggi.

“TEMBAK!” Altair memberi perintah tegas.

Sistem pertahanan otomatis ZEROUN langsung aktif. Peluru anti-rudal ditembakkan, menghancurkan rudal di udara sebelum sempat mendekati kapal Altair. Pecahan logam jatuh ke laut dengan suara gemuruh.

Draven menyeringai. “Mereka mencari mati.”

Altair menatap dingin ke arah kapal lawan. “Dekatkan jarak. Siapkan senjata utama.”

Kapal ZEROUN bergerak dengan kecepatan tinggi, mendekati kapal Viper’s Fang. Di atas kapal lawan, terlihat beberapa orang bersenjata lengkap sedang bersiap menyerang.

Rifqi menatap Altair. “Apa rencanamu?”

Altair menatapnya sekilas. “Kita naik ke sana.”

Rifqi tersenyum samar. “Aku suka rencananya.”

Altair mengeluarkan pedang yang terikat di punggungnya — pedang hitam dengan ukiran naga di bilahnya. Cahaya bulan memantul di permukaan pedang itu, menciptakan kilatan tajam yang mematikan.

Dengan gerakan cepat, Altair melompat dari kapal dan mendarat di dek kapal musuh. Rifqi dan Draven segera menyusul di belakangnya.

Orang-orang Viper’s Fang langsung menyerang. Seseorang menembakkan peluru ke arah Altair, tapi dengan kecepatan luar biasa.

Altair menangkis peluru itu dengan pedangnya dan langsung menebas leher penyerangnya dalam satu gerakan cepat. Darah memercik ke dek kapal.

Rifqi berkelahi dengan salah satu anggota Viper’s Fang, memutar tubuh dan menghantam lawannya dengan pukulan ke rahang. Pria itu terhuyung sebelum Rifqi menendangnya ke laut.

Draven tertawa keras saat menusukkan belati ke perut salah satu musuh, lalu mendorong tubuhnya ke laut. “Mudah sekali!”

Altair melangkah ke tengah dek, di mana seorang pria bertubuh besar dengan tato ular di lehernya berdiri sambil memegang senapan otomatis.

“Kau pasti Altair Akhtara,” ucap pria itu dengan suara serak.

Altair memutar pedangnya di tangannya. “Dan kau pasti orang bodoh yang berani menantang ZEROUN.”

Pria itu menyeringai. “Ini belum selesai.”

Pria itu mengangkat senapannya dan menarik pelatuk. Altair bergerak secepat kilat, menghindari peluru dan dalam satu gerakan cepat, ia melompat ke arah pria itu. Pedangnya berkilat di udara sebelum menebas leher pria itu.

Tubuh pria itu jatuh ke dek dengan suara keras, darah menggenang di bawahnya.

Altair berbalik dan menatap sisa anggota Viper’s Fang yang tersisa. Mereka semua terlihat ketakutan, beberapa mulai melarikan diri dengan perahu kecil.

“Tembak mereka,” perintah Altair dingin.

Draven mengangkat senjatanya dan mulai menembak ke arah perahu musuh. Satu perahu meledak, sementara yang lainnya terbalik setelah terkena peluru. Dalam hitungan detik, tak ada satu pun yang tersisa.

Altair menyarungkan pedangnya dan berbalik menatap Rifqi. “Masih mau ikut?”

Rifqi tersenyum tipis. “Selama kamu masih membutuhkanku.”

Altair melangkah mendekat dan menyentuh wajah Rifqi dengan lembut. “Aku akan selalu membutuhkamu.”

Draven mendekat dengan senyum puas di wajahnya. “Sepertinya kita sudah menang.”

Altair menatap puing-puing kapal musuh yang perlahan tenggelam di laut. “Belum.”

Tatapan Altair mengeras. Ia tahu ini baru awal. Viper’s Fang bukanlah tipe kelompok yang menyerah hanya karena satu pertempuran.

“Kita pulang?” tanya Rifqi.

Altair menghela napas. “Untuk sekarang.”

Mereka kembali ke kapal ZEROUN. Altair berdiri di tepi kapal, menatap ke arah laut yang gelap. Rifqi berdiri di sampingnya, menyentuh tangannya dengan lembut.

“Apa selanjutnya?” Rifqi bertanya.

Altair menyipitkan mata. “Memburu mereka sebelum mereka kembali memburu kita.”

Dengan angin malam yang berembus di sekitar mereka, Altair tahu — pertempuran baru saja dimulai tidak lama selesai dan di menangkan oleh ZEROUN.

Langit di atas pulau ZEROUN tampak kelam saat Altair dan Rifqi kembali ke pelabuhan utama. Pasukan ZEROUN yang berjaga di dermaga langsung memberi hormat saat kapal Altair berlabuh.

Darah di pedang Altair masih menetes, menciptakan bercak merah gelap di dek kapal sebelum ia menyarungkannya kembali.

Draven melompat turun dari kapal dengan senyum miring di wajahnya. “Selesai sudah. Mereka tidak akan kembali dalam waktu dekat.”

Altair menatap lurus ke depan dengan ekspresi datar. “Jangan terlalu percaya diri. Viper’s Fang tidak akan berhenti hanya karena satu kekalahan.”

Rifqi melangkah mendekat dan berdiri di sisi Altair. “Kalau mereka berani kembali, kita buat mereka menyesal.”

Altair melirik Rifqi sekilas. Sorot matanya yang tajam mencair sejenak saat menatap suaminya. “Itu sudah pasti.”

Mereka berjalan menuju mansion utama yang berdiri megah di atas bukit tertinggi di pulau itu. Marmer hitam yang menghiasi dinding mansion memantulkan cahaya redup dari lampu gantung kristal.

Di sepanjang lorong, para pengawal berjaga di setiap sudut dengan senjata siap di tangan mereka.

Saat mereka tiba di aula utama, Selene sudah menunggu di sana. Rambut peraknya yang panjang tergerai di punggung, dan matanya yang keemasan bersinar lembut di bawah cahaya lampu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!