Likha Charina
Gadis desa yang merantau ke Ibu Kota Jakarta bersama temanya untuk bekerja. Bagaimana dia bisa hidup di tempat perantaun dan bagaimana dia bisa terjebak dengan pergaulan bebas.
21 +
di tunggu kritik dan saranya
jangan lupa vote like dan komen ya guys.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siti solikhah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling menahan
Enik terkesiap saat mendengar ucapan salam dari pintu masuk.
"wa'alaikumsalam" dengan membalikan tubuhnya menatap seorang lelaki yang telah melangkah masuk dan menatap lelaki itu dengan heran.
"mas Bagas , mana Enik ?" tanya Likha pada ke kakak sepupunya tersebut, saat mendapati kakak sepupunya seorang diri memasuki rumah.
"Lah bukanya dia di rumah ?" kata Bagas yang malah berbalik bertanya pada adik sepupunya.
"Emang mas dari mana, bukanya pergi sama Enik?" tanya Likha dengan heran.
"a a aku tadi lembur kha" jawab Bagas gugup.
"terus Enik kemana dong ?"
" a a aku nggak tau " tak terasa kepanikan menghampiri Bagas.
"kemana dia ?" Batin Bagas.
"tadi bukanya Enik ke kantor mas ?"
"iya ke kantor pas jam makan siang, aku kira dia langsung pulang" dengan panik Bagas menjelaskan pada Likha.
"coba kamu telepon ?" Bagas meminta Likha untuk menelpon Enik.
"kenapa nggak kamu mas ?"
" e e e batrai aku habis tadi, belum aku cas "
"kalian nggak berantem kan ?"
" e e engga " dengan menggelengkan kepalanya namun tak tau mengapa ketakutan dan kekhawtiran menghampiri hati Bagas.
"ya sudah aku coba menelponya".
tut tut tut maaf, nomer yang ada tuju sedang tidak aktif
suara operator menjawab telepon yang Likha lakukan
"nggak aktif mas" dengan menatap Bagas sekilas, tetapi Likha mencoba menelpon Enik kembali.
Namun hasilnya masih sama tak ada jawaaban.
"Kemana ya mas ?" tanyanya pada Bagas.
Bagas yang mendapatkan pertanyaan dari Likha serasa lemah.
"kalian nggak berantem kan mas ?" pertanyaan Likha muncul kembali.
"se se sebenernya ..." jawaban Bagas menggantung saat seseorang mengetuk pintu dari arah luar.
"Mungkin itu Enik" dengan langkah cepat Likha melewati Bagas.
Dan Bagas pun merasa lega sejenak ketika Likha mengatakan kemungkinan yang ada di depan rumahnya adalah Enik.
"huft" suara Bagas membuang nafasnya kasar.
Saat Likha membuka pintu dan dengan hati senang, dan berharap sahabatnya lah yang telah pulang.
Tetapi saat pintu terbuka bukan sesuai harapan dan malah membuatnya kesal.
"kamuu" dengan nada penakaan menatap sosok laki-laki yang tepat berdiri di hadapanya.
"kha ma .." ucap Irfan menggantung saat Likha mencoba menutup pintu dan dengan cepat Irfan menahanya.
"kha, kha tolong buka sebentar" dengan badan dan tangan sebagai penahan.
"a a aku mau jelasin"dengan suara terengah karena menahan pintu yang berusaha di tutup kembali oleh Likha.
Bagas melihat Likha heran saat adik sepupunya menahan pintu dari dalam.
"kenapa kha ? siapa sih ?" tanya Bagas dan melangkah mendekati Likha dan berusaha mengintip dari celah pintu yang tak tertutup karena mereka saling menahan.
"oooo Irfan toh " saat melihat lelaki yang di balik itu adalah kekasih adik sepupunya.
"kenapa nggak boleh masuk sih" tanya Bagas dengan santai.
Dan melihat Likha berusaha keras menahan pintu itu lalu perdebat dengan Irfan.
"nggak, aku nggak ijinin dia masuk" dengan nada sedikit kencang agar Irfan mendengarnya.
"kha, buka sebentar, aku malu di liatin orang lewat" ucap Irfan dengan memohon.
"biarin,kalo malu sana pulang" dengan nada membentak.
"kha iiihhss dah malem" sela Bagas di antara perdebatan Irfan dan Likha.
"Biarin" ucap Likha cuek dan masih mencoba manahan pintu dari dalam rumah.
"Ya udah terserah bertahan berapa lama kalian saling menahan pintu" ucap Bagas lalu meninggalkan Likha.
"jangan kaget nanti kalo pak RT kemari" lanjut Bagas kembali dan menuju dapur rumahnya.
"hah" Likha begitu terkejut dengan ucapan Bagas lalu melepaskan tangan dan memundurkan tubuhnya di balik pintu.
Irfan yang tak tau jika Likha telah melepaskan pertahan di balik pintu terdorong masuk kedalam rumah Bagas,
"hey hey hey" ucapnya saat dirinya terdorong masuk dan terjatuh tengkurep di atas lantai.
"hahahahha" Likha tertawa lepas saat melihat Irfan terjatuh di depan matanya.
Sesaat Irfan membalikan tubuhnya karena suara tertawa Likha terdengar olehnya.
Likha sadar jika Irfan telah menatapnya dan tersenyum, lalu Likha pun menutup mulutnya dengan rapat dan berlaku cuek kembali terhadap kekasihnya tersebut.
Irfan yang masih terlentang dimana diriya terjatuh tadi pun, bangkit lalu menghampiri Likha.
"seneng liat aku jatuh" ucapnya dengan nada menggoda dengan tangan yang satunya menutup pintu lalu menguncinya.
Dan memepet Likha ke tembok dengan kedua tangan sebagai penahan agar Likha tak berusaha kabur.
"minggir" saat dirinya merasa terkunci oleh tubuh Irfan dan berusaha mendorongnya.
"mau kemana ?" dengan nada menggoda, Irfan menatap Likha dengan bibir mengembang di wajahnya.
"ke kamar " dengan tegas Likha menjawab Irfan dan masih berusaha mendorong tubuh Irfan, namun sepertinya sia-sia , dengan tubuh Irfan yang atletis bisa di bilang seperti itu hahaha.
"aku ikut" dengan masih tersenyum tanpa mengihiraukan jika kekasihnya saat ini sedang merajuk padanya.
"ehem"
Suara deheman tersebut membuat Irfan menurunkan kedua tanganya dan mencari sumber suara itu.
"eeehhh kamu Mas" dengan tersenyum kikuk Irfan menggaruk tenguk lehernya untuk menghilangkan rasa kegugupanya.
"Mas"Likha tersenyum dalam kemenangan, dan menghampiri Bagas dan berdiri sebelah kakak sepupunya itu.
"ayo fan ngopi" ajak Bagas pada kekasih adik sepupunya.
"ayo" Irfan pun mengekori Bagas dari belakang dan melewati Likha, Irfan menengok kesamping di mana kekasih tengah berdiri, Irfan melototkan matanya sebagai tanda peringatan dan melewati Likha.
Likha yang melihat itu merasa gemas malah mejulurkan lidahnya dan mengoyang-goyangkan bokongnya ke arah Irfan.
Irfan yang melihat itu malah semakin di buat gemas.
"loe lagi berantem" ucap Bagas memulai percakapan. Saat mendaratkan tubuh mereka di karpet berbulu.
"biasalah mas, biasa"
"Dia mah cepet marah cepet baik"
"iya mas"
Mereka pun memulai obrolan-obrolan layak lelaki dewasa di luar sana.
Likha yang telah selesai membersihkan diri lebih memilih masuk kedalam kamarnya dan terus berusaha menelpon sahabat baiknya itu, namun dengan masih jawabanya yang sama dari operator seluler.
"kemana sih kamu Nik?" dengan begitu Khawatir Likha menatap layar di manatap walpaper handphonenya.
"ya udah fan tidur dulu, loe pulang apa nginep ?"
"e e e gue boleh nginep ?" tanya Irfan pada Bagas.
"ya udah sono" Bagas menunjuk kamar Likha dengan bibirnya.
"ya udah gue ke kamar Likha dulu"
Bagas pun memilih memasuki kamarnya, begitu terasa cape tubuhnya setalah melakukan pergulatan berkali-kali dengan Nina.
Saat Irfan mencoba mengganti pakainya, dia begitu terkejut saat tak melihat pakain Enik, hanya tersisa beberapa saja.
Irfan mencari koper yang ada di samping lemarinya pun sudah tidak ada.
"E e enik kabur" dengan cepat Bagas membuka pintu dan mencoba membangukan Likha.
Namun di urungkan niatnya saat mendengar suara desahan kecil seperti mencoba di tahan dari dalam kamar Likha.
"ah sial" decahnya dia tidak mungkin menggangu percintaan yang terjadi antara Likha dan Irfan.
"Gue harus gimana?" Bagas berbicara sendiri dan mondar-mandir di depan pintu kamar Likha.
"aaahhh bodo lah, gue khawatir sama Enik" dengan ragu Bagas mengetuk pintu kamar Likha
jreeeeengggggnggg lanjut besok
😁😁😁
okey guys yang masih setia sama karya aku, aku minta kalian beri bintang lima ke karyaku agar aku cepat di kontrak , biar aku lebih semangat menulisnya.
Okeh,
jangan lupa, bayar aku dengan
like 300
vote 10 ajah gapapa 😭😭😭
dan juga komentar kalian 😊😊😊
apa lgi kalo kasih saran, kan aku jadi punya ide saat aku lagi buntu.
terimakasih semuanya.
HAPPY READING 😙😙😙😘😘😘😚😚