Setelah perceraian kedua orang tuanya, Dion diharuskan tinggal bersama sang ayah. Kehidupan Dion pun berubah drastis manakala sang ayah menikah lagi. Dion yang kala itu hanya seorang anak kecil, selalu merindukan sosok ibu kandungnya namun tidak bisa melakukan apa-apa.
Setelah bertahun-tahun kehilangan kontak dengan sang ibu, Dion yang beranjak dewasa mulai mencari tahu tentang keberadaan ibunya. Dengan sedikit petunjuk yang didapat Dion akhirnya pergi mencari keberadaan sosok wanita yang selama ini dirindukannya. Berhasilkah Dion bertemu kembali dengan sosok sang Ibu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eriza Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Jalan-jalan
Benny mendengarkan cerita Dion sambil tetap fokus mengendarai sepeda motor.
Benny: "Parah nenekmu. Jelas-jelas nenekmu yang salah ambil barang tanpa izin. Kalau aku juga pasti ngamuk."
Dion: "Lebih kesal lagi sampai nama ibu kandungku juga ikut dibawa-bawa sama nenek."
Benny: "Ckckck... Terus nenekmu gak pulang ke rumahnya lagi?"
Dion: "Tidak tahu. Setahuku di rumahnya dia cuma tinggal sendiri."
Benny: "Oh. Kalau dipikir-pikir juga kasihan sih orang setua itu tinggal sendiri. Tapi kalau dilihat lagi sifatnya terdengar menjengkelkan. Ayahmu juga gak keberatan nenekmu tinggal sama kalian?"
Dion: "Kayaknya sih enggak."
Benny: "Kalau ayahmu gak keberatan ya gak ada masalah. Paling kamu atau ibu tirimu aja yang mesti sabar-sabar hadapi kelakuan nenekmu itu."
Dion: "Kalau sama ibu tiri sih sudah pasti sekarang nenek dijadikan musuh karena sudah kayak gini ceritanya."
Benny: "Menantu musuhan sama mertua sih sudah gak heran. Banyak orang yang seperti itu."
Dion: "Kamu kayak sudah pengalaman saja. Sering ngumpul sama ibu-ibu komplek ya?"
Benny: "Enak saja. Memangnya aku cowok apaan? Bisa-bisa Tamara ilfeel. Aku kan sering dengar mamaku cerita. Kalau ada gosip panas di kantor pulangnya mamaku suka cerita di rumah. Papaku kadang sampai pura-pura dapat panggilan telepon biar gak dengar ocehan mamaku yang gak habis-habis. Hahaha..."
Dion: "Asal kamu jangan ikutan bergosip juga."
Benny: "Ya enggak dong! Sebagai anak yang baik ya aku jadi pendengar setia mamaku setiap hari. Eh, dah sampai nih!"
Motor berhenti di parkiran. Kedua pemuda itu turun. Dengan santai berjalan masuk ke dalam gedung mall yang megah. Ini pertama kali Dion menginjakkan kaki di pusat perbelanjaan mewah seperti mall ini. Ia menatap sekeliling sambil tetap fokus melangkah ke depan.
Dion: "Kamu sering main ke sini, Ben?"
Benny: "Enggak sering juga. Kadang saja kalau lagi bosan. Lagian jalan sendiri di mall rasanya aneh banget. Menurutmu iya gak?"
Dion: "Gak tahu. Ini pertama kalinya aku datang ke sini."
Benny: "Wah, memang anak rumahan sejati kamu, Dion."
Dion: "Hehehe... Aku gak punya teman yang ngajakin jalan."
Benny: "Tenang. Sekarang kamu sudah punya."
Dion menatap sahabatnya itu sambil tertawa. Keduanya sedang berjalan. Dion hanya mengikuti tanpa tahu kemana Benny akan membawanya. Sampai keduanya masuk ke dalam salah satu coffee shop ternama. Kedua remaja itu berhenti di depan meja pesanan. Seorang pria tersenyum ramah.
Benny: "Kamu mau pesan apa, Dion? Ada teh susu kalau kamu gak suka kopi."
Dion membaca menu yang tersedia di meja barista.
Dion: "Aku mau es capuccino saja deh."
Benny: "Bang, es capuccino satu sama es capuccino cincau satu, ya!"
🤵: "Baik. Total 45 ribu. Ada yang lain?"
Benny: "Mau pesan yang lain lagi, Dion?"
Dion: "Enggak."
Benny: "Enggak ada. Itu saja." (Memberikan selembar lima puluh ribu)
🤵: "Baik. Uangnya lima puluh ribu. Ini kembaliannya lima ribu. Terima kasih." (Memberikan uang kembalian dan nomor meja)
Benny: "Baik. Terima kasih."
Benny dan Dion pergi memilih tempat duduk. Suasana coffee shop siang ini terlihat agak sepi. Banyak meja yang masih kosong. Dion melihat ke sekeliling.
Dion: "Sepi ya?"
Benny: "Mungkin masih awal. Biasa ramai kalau agak sorean sama malam."
Dua gelas minuman tiba di meja. Dion langsung menyeruput es cappucino-nya. Maklum cuaca siang ini agak panas.
Dion: "Oh. Oya..."
Dion merogoh saku celananya. Kemudian mengeluarkan lembaran uang kepada Benny.
Dion: "Buat ganti minumanku yang tadi kamu bayar."
Benny: "Harganya gak seberapa kok, Dion. Kamu simpan saja uangmu biar aku traktir."
Dion: "Janganlah! Gak enak aku masa kamu terus yang bayar. Di sekolah juga kamu sering traktir. Ini ambil! Kalau gak ntar besok-besok aku gak mau keluar lagi sama kamu."
Benny: "Iya deh."
Dion: "Sisanya ambil saja. Gak usah dikembalikan!"
Benny: "Aku ada uang kembalian kok."
Dion: "Gak usah ambil saja."
Benny: "Oke deh. Terima kasih."
Dion: "Aku yang seharusnya banyak terima kasih sama kamu, Ben."
Benny: "Jangan mulai deh. Aku gak bantu kamu apa-apa kok. Gak usah kayak merasa berhutang budi begitu. Aku ini memang orangnya royal sama teman. Kalau gak percaya nanti kamu tanya anak-anak yang temanan dekat sama aku di sekolah."
Dion: "Enggak. Aku cuma merasa gak enak saja."
Benny: "Kamu ini bah orangnya gak enakan terus. Pantas gak punya teman. Wkwkwk... Bercanda. Jangan dimasukin ke hati ya!"
Dion: "Enggak kok. Santai saja."
Dua orang gadis berjalan ke meja mereka.
Stella: "Kalian sudah lama di sini?"
Dion menoleh menatap Stella. Penampilan Stella hari ini membuat Dion terpesona. Stella mengenakan dress bunga-bunga lengan panjang sebatas lutut. Rambut yang sehari-harinya lurus dibuat keriting di bagian ujung dan disematkan sebuah jepit pita kecil di atas telinga kiri membuat Stella nampak begitu manis.
Benny: "Enggak. Baru lima menit. Iya kan, Dion?"
Benny menyikut Dion sehingga membuat pemuda itu tersadar dan mengalihkan pandangannya ke arah lain sebentar.
Dion: "Iya. Kalian berdua kok tahu kami di sini?"
Tamara: "Lah... Memang Benny gak kasih tahu?"
Dion: "Enggak."
Benny: "Hehehe... Gak sempat mau kasih tahu. Langsung ajak ke sini saja."
Stella: "Kita tuh memang udah rencana mau jalan berempat ke mall. Terus janji ngumpulnya di cafe sini."
Dion: "Oh."
Benny: "Kalian berdua naik apa ke sini?"
Tamara: "Naik motorlah. Naik pesawat kan gak mungkin."
Benny: "Stella kan ada mobil. Kali saja pakai mobil."
Stella: "Gak. Aku gak bisa nyetir. Lagian enakan pakai motor bisa sambil makan angin."
Benny: "Makan angin? Kembung noh makan angin."
Tamara: "Hahaha..."
Benny: "Orang kaya emang agak lain."
Stella: "Dion, ke sini sama Benny dong?"
Dion: "Iya. Dijemput sama Benny."
Dion melihat meja di depan kedua gadis itu.
Dion: "Kalian berdua tidak minum?"
Tamara: "Nanti saja. Habis minum dari rumah Stella."
Stella: "Kamu minum apa?" (Menatap Dion)
Dion: "Ini... Es Cappucino."
Dengan spontan Stella mengambil es cappucino yang ada di depan Dion dan langsung menyeruputnya dari sedotan. Benny dan Tamara saling menatap dengan mata membulat melihat tingkah Stella. Dion justru terkejut.
Dion: "Stel, itu... Itu sudah bekas aku minum tadi."
Stella: "Memang kenapa? Kamu kan gak lagi batuk."
Dion: "Ya... Gak apa-apa sih. Cuman..."
Dion bingung bagaimana mengatakannya. Situasi ini membuat dirinya canggung. Walau sebenarnya sedikit ada rasa senang namun lebih banyak rasa gak enakannya. Ia menatap Benny bermaksud temannya itu membantu menjawab. Namun Benny malah melihat kearah lain.
Stella: "Ya gak masalah kalau gitu."
Dion: "Aku pesan yang baru saja untukmu, ya!"
Stella: "Gak usah, Dion. Aku gak minum banyak. Sayang nanti gak habis. Aku minta sedikit punyamu saja. Boleh kan?"
Stella mengatakannya dengan senyuman lebar.
Dion: "Iya. Boleh. Kalau kamu gak masalah ya silahkan saja."
Tamara: "Ciee..."
Dion: "Kenapa sih? Cie... Cie..."
Benny mendekat ke Dion kemudian membisikkan sesuatu.
Benny: "Katanya kalau ada cewek yang minum dari bekas minum kita itu bisa berarti ciuman tidak langsung."
Dion: "Ah, kamu mengada-ada saja, Ben."
Benny: "Katanya begitu."
Stella: "Kalian berdua bisik-bisik apa sih?"
Benny: "Gak ada. Aku suruh Dion habiskan minumannya soalnya kita sudah mau jalan."
Stella: "Oo..."
Dion melihat Benny dengan bibir tersungging. Namun menghabiskan minumannya juga. Stella nampak senang melihat Dion masih mau minum dari sedotan bekasnya tadi.
^^^Bersambung...^^^
Mirna tipe ibu yg ga bener.. dia suka Rita krn bs dimanfaatin ternyata.. toh tetep aja dibuang suaminya dia oke" saja
bu Mirna sdh tua ga bs jd teladan buat yg muda