NovelToon NovelToon
Transmigrasi Sofia : Phantom Of The Opera

Transmigrasi Sofia : Phantom Of The Opera

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:935
Nilai: 5
Nama Author: Ricca Rosmalinda26

Sofia tidak pernah menyangka akan terbangun di dalam dunia novel yang ia kenal dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi Christine Daaé.

Mengetahui kisah tragis yang menantinya, Sofia bertekad mengubah takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam yang Hampir Terlupakan

Aku masih berdiri di depan rak buku ketika ponselku berdering. Nada dering yang familiar membuatku tersentak dari lamunanku.

Aku mengambil ponsel dari atas meja.

Nama yang muncul di layar membuat ekspresi tegang di wajahku perlahan menghilang.

Leo.

Aku mengangkat telepon, “Halo?”

“Sudah selesai kerja?”

Suara laki-laki di seberang terdengar begitu santai. Aku melirik jam.

“Sudah.”

“Bagus.”

“Kenapa?”

“Aku di depan kantormu.”

Aku mengerutkan kening, “Kau di mana?”

“Di depan.”

Aku berjalan menuju jendela dan melihat ke bawah. Sebuah mobil berhenti di depan gedung. Seorang pria bersandar di sampingnya. Begitu melihatku, ia mengangkat tangannya.

Aku langsung tersenyum. “Kenapa tidak bilang dari tadi?”

“Aku ingin membuat kejutan.”

“Kejutan?”

“Ya.”

Aku tertawa,“Tunggu sebentar.”

Aku mengambil tas dan turun. Begitu keluar dari gedung, Leo langsung menghampiriku.

Ia mengambil tas dari tanganku.

“Aku bisa membawanya sendiri.”

“Aku tahu.”

Ia tersenyum, “Tapi aku ingin membawanya.”

Aku menggeleng sambil tersenyum, “Manja sekali.”

“Bukankah itu tugasku sebagai pacarmu?”

Aku tertawa, “Sejak kapan?”

“Sejak aku memutuskan bahwa aku ingin menjadi pacarmu.”

Aku menatapnya beberapa detik.

Kemudian tanpa sadar tersenyum lebih lebar.

“Gombal.”

“Aku serius.”

Ia membuka pintu mobil untukku.

“Silakan, Nona.”

Aku masuk sambil tertawa.

“Terima kasih, Tuan.”

Leo masuk ke sisi pengemudi. Mesin mobil dinyalakan.

“Jadi,” katanya.

“Kita mau ke mana?”

Aku menoleh, “Kau yang mengajak.”

“Kalau begitu, aku yang menentukan.”

“Baiklah.”

Ia tersenyum misterius.

“Tapi jangan protes.”

...----------------...

Ternyata tujuan pertama kami adalah bioskop.

Aku baru menyadarinya ketika mobil berhenti di depan pusat perbelanjaan.

“Bioskop?”

“Ya.”

“Kita mau nonton apa?”

“Film yang baru tayang.”

Aku menatapnya curiga.

“Film horor?”

“Bukan.”

“Thriller?”

“Bukan.”

“Romantis?”

Leo tertawa.

“Kalau aku bilang iya, kau mau pulang?”

“Tidak.”

“Bagus.”

Ia mematikan mesin.

“Ayo.”

Kami masuk ke dalam pusat perbelanjaan.

Suasana sore itu cukup ramai.

Orang-orang berjalan membawa tas belanja.

Anak-anak berlari di antara orang tua mereka.

Aroma makanan memenuhi udara.

Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku benar-benar pergi berkencan tanpa memikirkan pekerjaan.

Mungkin karena beberapa hari terakhir aku terlalu sibuk.

Atau mungkin karena pikiranku terlalu penuh dengan sesuatu yang bahkan tidak seharusnya ada.

Namun Leo tiba-tiba menggenggam tanganku.

“Jangan melamun.”

Aku menoleh, “Aku tidak melamun.”

“Bohong.”

Ia menggenggam tanganku lebih erat.

“Kau dari tadi melihat ke depan tapi seperti tidak melihat apa pun.”

Aku tersenyum.

“Aku cuma capek.”

“Kalau begitu malam ini jangan pikirkan pekerjaan.”

Ia menatapku, “Ini waktunya bersenang-senang.”

Aku mengangguk.

“Baik.”

Dan untuk pertama kalinya hari itu, aku benar-benar membiarkan pikiranku kosong.

...----------------...

Kami membeli popcorn sebelum masuk ke studio. Leo mengambil ukuran terbesar.

Aku menatapnya, “Kita cuma berdua.”

“Aku tahu.”

“Kenapa beli sebanyak ini?”

“Karena aku tahu kau akan menghabiskannya.”

Aku tertawa, “Aku tidak sebanyak itu.”

“Kita lihat nanti.”

Film dimulai.

Cerita di layar menarik perhatianku. Aku tertawa ketika ada adegan lucu. Menjerit kecil ketika adegan mengejutkan muncul. Dan beberapa kali memukul lengan Leo ketika ia sengaja membuatku takut.

“Leo!”

“Apa?”

“Kau sengaja!”

Ia menahan tawa, “Aku tidak melakukan apa-apa.”

“Kau tadi bisik-bisik tepat di telingaku!”

“Aku cuma bilang jangan takut.”

“Kau tahu itu justru membuatku takut!”

Ia tertawa pelan.

Aku memukul lengannya sekali lagi. Namun akhirnya aku ikut tertawa. Untuk dua jam berikutnya, aku benar-benar melupakan semuanya.

aku merasa jauh lebih ringan.

...----------------...

Setelah film selesai, kami berjalan tanpa tujuan yang jelas.

Leo tiba-tiba berhenti di depan sebuah toko pakaian.

“Ayo masuk.”

“Untuk apa?”

“Belanja.”

Aku mengangkat alis, “Bukankah tadi kau bilang cuma mau nonton?”

“Aku berubah pikiran.”

“Kenapa?”

Ia menunjuk sebuah gaun yang dipajang di etalase.

“Karena itu.”

Aku melihatnya. Sebuah gaun sederhana berwarna hitam.

“Cantik.”

“Coba.”

Aku langsung menggeleng.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Aku tidak butuh.”

Leo menatapku, “Kalau aku bilang aku ingin melihatmu memakainya?”

Aku tertawa, “Kau ini...”

“Lima menit.”

“Tidak.”

“Tiga menit.”

Aku menghela napas.

“Baiklah.”

...----------------...

Beberapa menit kemudian aku keluar dari ruang ganti. Leo yang sedang melihat-lihat ponselnya langsung mengangkat kepala.

Ia terdiam.

Aku menatapnya, “Bagaimana?”

Ia tidak menjawab.

“Leo?”

Ia masih menatapku.

Aku mulai merasa malu, “Jangan menatapku seperti itu.”

Ia akhirnya tersenyum, “Cantik.”

Aku memutar mata, “Cuma itu?”

“Kalau aku bilang terlalu banyak nanti kau besar kepala.”

Aku tertawa, “Memangnya aku tidak cantik sebelum memakai ini?”

“Bukan begitu.”

Ia berdiri.

“Kau selalu cantik.”

Aku terdiam.

“Gaun ini hanya membuatku sedikit lebih sulit mengalihkan pandangan.”

Aku menunduk, berusaha menyembunyikan senyum.

“Gombal.”

“Kenapa setiap kali aku memujimu, jawabannya selalu gombal?”

“Karena memang gombal.”

Ia mendekat, “Kalau begitu, aku akan membuktikannya.”

“Bagaimana?”

Ia mengeluarkan ponselnya.

“Foto.”

Aku langsung menolak.

“Jangan!”

Terlambat.

KLIK.

“Leo!”

Ia tertawa.

“Bagus.”

“Hapus!”

“Tidak.”

“Aku serius!”

Ia mengangkat ponselnya tinggi-tinggi.

Aku mencoba mengambilnya.

“Leo!”

“Tidak akan.”

Aku mengejarnya di dalam toko sambil tertawa.

Beberapa orang bahkan menoleh.

Akhirnya ia menyerah.

“Baik, baik.”

Ia menunjukkan layar kepadaku. Aku melihat fotoku. Ternyata memang bagus.

Aku tersenyum kecil, “Boleh disimpan.”

Leo tersenyum puas.

“Aku tahu.”

...----------------...

Kami menghabiskan sore dengan berjalan-jalan. Membeli beberapa barang kecil.

Mencoba makanan yang belum pernah kami coba. Bahkan membeli es krim meskipun udara malam mulai dingin.

Leo terus menggodaku. Aku terus mengomel.

aku benar-benar bahagia.

Ketika kami duduk di bangku dekat jendela besar pusat perbelanjaan, Leo menyandarkan kepalanya ke bahuku.

“Kau kelihatan lebih tenang.”

Aku menatapnya, “Benarkah?”

“Iya.”

Aku tersenyum, “Mungkin karena aku sedang bersamamu.”

Ia mengangkat kepala, “Jadi aku obat stres?”

“Bisa dibilang begitu.”

“Berarti aku harus sering-sering menjemputmu.”

“Jangan terlalu percaya diri.”

Ia tertawa.

Aku menggenggam tangannya.

Hangat.

Nyata.

Sederhana.

Hanya kami.

...----------------...

Aku tiba di apartemen cukup larut. Begitu membuka pintu, aku langsung meletakkan tas dan kantong belanja di meja.

“Capek...”

Aku menghela napas panjang.

Aku segera membereskan barang-barang. Pakaian yang tadi kubeli kulipat dan kusimpan. Beberapa barang kecil kutaruh di tempatnya. Kemudian aku masuk ke kamar mandi.

Air hangat membasahi tubuhku.

Aku memejamkan mata.

Hari ini begitu menyenangkan. Seseorang yang membuatku kembali mengingat kehidupan nyata.

Setelah mandi, aku mengenakan pakaian tidur dan keluar ke ruang tamu.

Aku menyalakan televisi.

Sebuah acara hiburan sedang berlangsung.

Aku duduk di sofa sambil memakan camilan.

Mataku mulai terasa berat.

Namun kemudian...

pandangan mataku tertuju pada rak buku.

Aku membeku.

Buku itu.

Aku hampir lupa.

Buku tua yang kubawa pulang dari perpustakaan.

Buku yang membawaku ke mimpi aneh itu.

Aku menatapnya cukup lama.

“Kenapa aku masih memikirkannya?”

Aku mencoba mengabaikannya.

Kembali menonton televisi.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Tidak berhasil.

Rasa penasaran perlahan menguasai pikiranku.

Akhirnya aku bangkit.

Aku mengambil buku tersebut.

Kembali duduk di sofa.

“Sekali lagi saja.”

Aku membukanya.

Halaman-halamannya berbau kertas tua.

Aku mulai membaca.

Kisah tentang gedung opera.

Tentang Christine.

Tentang Phantom.

Aku membaca perlahan.

Anehnya, setelah pengalaman semalam, kalimat-kalimat dalam buku itu terasa berbeda.

Lebih hidup.

Aku bisa membayangkan lorong-lorong gelap itu.

Aku bisa mendengar suara musik.

Aku bisa melihat lampu-lampu panggung.

Aku terus membaca.

Satu halaman.

Dua halaman.

Tiga halaman.

Tanpa kusadari, televisi yang menyala di belakangku menjadi suara samar.

Kelopak mataku semakin berat.

Aku mencoba bertahan.

“Hanya satu halaman lagi...”

Aku menguap.

Buku itu masih terbuka di pangkuanku.

Aku bersandar di sofa.

Kemudian suara musik dari televisi perlahan bercampur dengan suara lain.

Suara yang sangat jauh.

Sangat lembut.

Suara seorang pria sedang bernyanyi.

Aku mengerutkan kening.

“Apakah... televisinya?”

Aku mencoba membuka mata.

Namun tubuhku sudah terlalu lelah.

Suara itu semakin jelas.

Kemudian aku mendengar seseorang memanggil namaku.

“Sofia...”

Aku tersentak kecil.

Tetapi aku tidak mampu membuka mata.

Suara itu berubah.

Bukan lagi Sofia.

Melainkan—

“Christine...”

Aku merasa seperti jatuh.

Bukan ke bawah.

Melainkan ke dalam sesuatu yang sangat dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!