NovelToon NovelToon
Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:260.8k
Nilai: 4
Nama Author: miirathurmudzi123

Ia lahir tanpa ayah dan ibu, bahkan kakeknya sendiri tidak mengakui keberadaannya. meskipun begitu ia tetap berusaha hidup dan terus berjuang bersama orang-orang yang selalu mendukungnya.

Ia memulai perjalanan-perjalanan yang panjang dan amat jauh.

"Kakek, aku akan menjadi pendekar hebat yang bisa kau banggakan!"

Apa yang telah menunggunya di setiap perjalanan yang dilaluinya?

Kawan? Lawan? Saudara? Keluarga? Atau kekuatan yang luar biasa?

Bagaimana akhir dari perjalanannya?

Akankah ia menemukan apa yang ia inginkan?

Ikuti kisah perjalanannya di setiap episodenya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miirathurmudzi123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Musibah yang tiba-tiba muncul 2

Sesampainya di kamar, Jaka segera dibaringkan di tempat tidur. Setelah itu Mpu Anggar Maya bersegera memeriksa keadaan Jaka.

“Ayahanda, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Dewi Mayasari cemas.

“Sepertinya dia terkena gigitan ular Trolong. Apakah kalian bertemu dengan ular yang cukup besar di perjalanan kalian?” tanya Mpu Anggar Maya pada putrinya, Dewi Mayasari. Ia lalu menyebutkan beberapa ciri mengenai ular besar itu pada putrinya.

“Ya, kami sempat bertemu dengan ular seperti itu,” ungkap Dewi Mayasari. “Jaka bilang, dia sudah mengusirnya pergi. Aku tidak menyangka kalau Jaka ... Dia...” Dewi Mayasari terisak. “Ayahanda, tolonglah! Tolong, selamatkan Jaka!”

“Kau tenang saja. Aku pasti akan mengobatinya sampai dia sembuh,” hibur sang ayah. “sekarang lebih baik bersihkanlah dirimu, biarkan aku mengobati lukanya sebentar.”

“Baik.”

Dewi Mayasari melangkah pergi. Langkahnya terasa berat. Ia melirik Jaka yang terbaring. Entah kenapa, dirinya merasa sedih melihat Jaka terbaring lemah. Seolah sebuah ikatan yang tak dapat dijelaskan telah tercipta diantara Jaka dan dirinya. Dewi Mayasari melanjutkan langkahnya, membiarkan ayahnya mengobati luka Jaka.

Di kamar Dewi Mayasari..

Dewi Mayasari yang telah membersihkan diri terlihat mondar-mandir tanpa henti. Ia merasa gelisah menunggu kabar kondisi Jaka dari ayahnya.

“Apa aku tunggu saja di depan kamarnya?” gumam Dewi Mayasari. “tidak, tidak. Aku lebih baik menunggu kabarnya dari Ayahanda saja,” gumamnya lagi terus mondar-mandir. Dewi Mayasari masih belum merasa begitu tenang sebelum tahu jelas bagaimana kondisi Jaka.

“Hah! Kenapa pula aku harus memikirkan keadaannya. Itu urusan dia, aku tidak harus peduli bagaimana keadaannya.” Marah dan membenamkan diri di tempat tidur. Tak lama mengangkat wajahnya sembari bergumam, “Tapi, aku belum bisa tenang sebelum tahu bagaimana keadaannya.”

Akhirnya Dewi Mayasari sudah berdiri di depan pintu kamar Jaka, menunggu Ayahnya keluar. Bahkan setelah berpindah tempat pun, Dewi Mayasari masih mondar-mandir tanpa henti, menunggu kabar mengenai kondisi Jaka.

Dewi Mayasari membatin, “Apa sih yang sedang kulakukan? Kenapa aku bisa sampai mondar-mandir di depan pintu kamarnya?”

Selang beberapa saat ayahnya keluar dari kamar Jaka. Dewi Mayasari terburu-buru memburu ayahanya.

“Ayahanda, Ayahanda. Bagaimana dengan kondisi Jaka? Apakah lukanya parah?”

“Tidak, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan untuk sekarang. Dia sudah kuobati, seharusnya akan sadar dalam beberapa hari lagi.”

Dewi Mayasari terlihat bernafas lega mendengar kabar itu.

Mpu Anggar Maya bingung dengan sikap putrinya. “Lalu, mengapa kau berada di depan pintu kamar Jaka?”

“Tidak ada. Aku hanya..” Merasa bingung harus menjawab apa. Pandangannya tak tentu arah.

“Apa kau sedang menungguku keluar? Ataukah kau sedang menunggu kabar Jaka dariku? Atau mungkin kau sedang mengkhawatirkan murid seperguruanmu itu?”

Mendengar pertanyaan ayahnya, Dewi Mayasari tersentak, wajahnya tersipu malu, lambat laun wajahnya mulai memerah.

“Mana ada!” Berkata dengan nada tinggi. Wajahnya bertambah merah.

“Aku tidak sedang mengkhawatirkannya! Aku.. Aku sedang menunggu Ayahanda untuk makan bersama, itu saja! Aku akan menunggu Ayahanda di ruang makan kalau begitu.” Terburu-buru pergi dengan perasaan tak menentu.

Di ruang makan..

Dewi Mayasari tengah makan bersama ayahnya, Mpu Anggar Maya. Suasana cukup hening. Tak ada sedikit pun suara dari mulut keduanya.

Setelah beberapa saat, keduanya telah selesai menyantap makan malam, kemudian Mpu Anggar Maya mencoba mencairkan suasana dengan sedikit perbincangan.

“Bagaimana dengan hukuman kalian kemarin? Apakah kalian ada mengalami kesulitan?” Memandang ke arah putrinya.

1
Aufaaaaa
thor,,yg benar bae,,yg masuk akal dikit napa,, mereka kan msh bocil,jd sesuaikan dgn umurlah,, koq kayak cerita bf seehh
Night Watcher
mcnya dibuat kyk idiot banget
spooky836
membosankan sampah
Siti rochmah Iyon
mana lanjutan jangan setengah" aku penasara sm jaka umbara n dewi maya sari
Iskandar Zulkarnain Zulkarnain
alur terlalu ribet...bingung mengikuti cerita.
Daryus Effendi
bosan bertele tele
Wahyu Indra
kurang niat untuk ngelanjutin ceritanya
Putra_Andalas
lama matinya klo ditusukkan ke Perut...beda cerita klo tusukan ke Ulu Hati atau Jantung..😂
Habsah Hermawan
Luar biasa
Putra_Andalas
udah separuh dibaca..gk ada Greget & serunya...STOP BACA dah..!!!
Putra_Andalas
mkin ksini bknnya mkin seru nih alur ceritanya...malah mkin receh gk jelas...😬
Putra_Andalas
gk jelas nih cerita...😵
Putra_Andalas
tiba² punya nama..itu yg kasih nama Bapaknya apa Author nya...?? 😁
nana 2024
banyak iklan ganggu aja sialanlu
Asri Parinding
mana ep. selanjutnya
Rusliadi Rusli
😥😥😥😥
Rusliadi Rusli
👍👍
Rusliadi Rusli
jangan terlalu di pikirkan jaka..guru akan baik"aja
Rusliadi Rusli
waduh
Rusliadi Rusli
sabar jaka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!