Berniat liburan di Pantai, Nara malah harus bertemu dengan seorang pria yang membuatnya mabuk berat dan akhirnya bermalam bersama. Semuanya terjadi begitu saja, dan keduanya hanya berpikir hanya untuk melakukan saat ini dan melupakan keesokan harinya.
Tapi nyatanya tidak seperti itu, pria itu malah muncul kembali sebagai anak pemilik Perushaan besar tempat dirinya bekerja. Entah harus bagaimana? Nara tidak akan bisa bersembunyi lagi darinya.
"Aku hanya seorang simpanan dan aku sadar tidak akan bisa memilikimu sepenuhnya" Anara Malika.
"Setelah malam itu, aku seperti orang gila yang tak bisa melupakanmu. Siapa kau, hingga membuatku tergila-gila seperti ini. Sayangnya takdir belum berpihak pada kita" Arya Zayyan Sugarda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Akan Melepaskan Zayyan
Malam ini Nara benar-benar tidak di izinkan pulang oleh Zayyan. Apalagi saat dia tahu jika Nara seorang diri di rumah karena keluarganya yang lain sedang pergi. Meski begitu Nara masih membujuk Zayyan agar mengizinkannya pulang.
"Sayang, aku pulang saja ya" rengek Nara sambil memeluk Zayyan, menyandarkan kepalanya di dada Zayyan.
Zayyan tetap menggeleng, dia mencubit gemas pipi kekasihnya itu. "Memangnya kenapa kalau tinggal disini semalam saja? Kamu takut aku apa-apain?"
Nara menggeleng pelan, dia mendongak dan menatap kekasihnya dengan lembut. Tangannya menangkup pipi Zayyan. "Aku takut saja orang tuaku pulang dan tahu aku tidak ada di rumah. Selama ini selain tugas Kantor dan liburan, aku selalu pulang ke rumah apapun keadaannya"
"Sudah, kalau orang tuamu marah, maka aku yang bertanggungjawab. Lagian aku selalu sendirian disini, jadi sekarang aku ingin bersamamu. Tidur dengan memelukmu" ucap Zayyan.
Nara melerai pelukannya, dia menatap Zayyan dengan lekat. Entah kenapa keisengan langsung muncul dalam pikirannya untuk menggoda kekasihnya ini.
"Lagian kalaupun aku sendiri di rumah, aku bisa menginap di rumah Rifai. Biasanya juga begitu"
Tatapan mata Zayyan berubah menjadi sangat tajam. Tangannya memegang pinggang Nara dengan begitu erat, tentu dia sangat kesal dengan ucapan Nara barusan.
"Berani sekali menginap di rumah pria lain, sementara menginap di tempat pacar sendiri tidak mau. Sudah mulai berani ya Anara!" Tekan Zayyan.
Nara tersenyum tipis, dia mengelus pipi Zayyan lalu mengecup bibirnya beberapa kali. Menatap Zayyan dengan lekat. "Sayang, aku dan Rifai itu hanya teman saja. Kami tumbuh bersama dan sekolah hingga kuliah pun barengan. Jadi, kamu tidak perlu cemburu padanya. Cobalah untuk lebih dekat dan mengenalnya, kamu akan tahu kalau dia itu baik"
Zayyan mendengus kesal, mendengar Nara memuji pria lain di depannya semakin membuatnya kesal saja. "Minggir! Aku malas kalau kau masih membahas pria lain"
Zayyan sedikit mendorong bahu Nara agar bergeser dari tubuhnya. Dia sedang kesal sekarang. Dia berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah jendela dekat meja kerjanya di ujung ruangan. Pemandangan malam yang terlihat indah dengan langit yang bertabur bintang. Cahaya lampu dari gedung-gedung tinggi terlihat menerangi malam ini.
"Aku hanya ingin kamu, ingin selamanya bersamamu. Jadi, jangan buat aku berpikir kalau kau juga akan berpaling pada pria lain"
Nara tertegun mendengar ucapan Zayyan yang terdengar begitu putus asa. Sekarang bahkan dia saja tidak mengerti kenapa Zayyan sampai begitu serius menyikapi ucapan yang sebenarnya hanya sebuah candaan saja. Nara menghampiri kekasihnya itu, memeluknya dari belakang dengan menempelkan pipi di punggung lebar Zayyan.
"Sayang, aku tidak mungkin berpaling pada pria lain. Sedangkan kamu yang mampu membuat aku percaya lagi tentang cinta, setelah aku bercerai dengan mantan suamiku. Jadi, mana bisa aku berpaling dari pria yang berhasil membuatku sembuh dari luka dan membuat aku percaya lagi akan adanya cinta sejati"
Zayyan tersenyum mendengar ucapan Nara barusan. Dia memegang tangan Nara yang melingkar di perutnya itu. "Jangan tinggalkan aku ya. Cukup percaya perkataanku, jika aku hanya mencintaimu untuk saat ini, nanti dan seterusnya"
Nara mengangguk saja, dia mencium punggung Zayyan. Menghirup aroma tubuh pria itu.
*
"Siapa wanita itu? Kau harus cari tahu tentangnya lebih jelas lagi. Aku tidak mau kalau sampai aku terkalahkan olehnya!"
Maura berbicara sambil menatap beberapa lembar foto di tangannya ini. Tersenyum misterius seolah dia tau apa yang harus dilakukannya sekarang. Maura memutar-mutar selembar foto di tangannya dengan senyuman misterius.
"Kau tidak akan bisa memiliki Zayyan, karena dia adalah milikku. Sampai kapan pun dia tidak akan bisa beralih dariku"
Maura menyimpan kembali selembar foto itu di atas meja. Lalu dia menatap pria yang berpakaian serba hitam di depannya itu. "Apa kau sudah mendapatkan kabar sebelum aku menyuruhmu mencari tahu tentang wanita itu? Katakan saja"
"Namanya adalah Anara Malika, dia bekerja sebagai Sekretaris Tuan Muda. Tapi dia memang sudah bekerja sejak bersama Tuan Edgar"
Maura mengangguk mengerti, dia menjentikan jarinya untuk pria itu segera keluar dari rumah. "Segera pergilah dan cari info lainnya tentang dia"
Pria itu mengangguk dan langsung berlalu dari ruangan itu. Membiarkan Maura sendiri dengan kesenangannya karena sudah mendapatkan informasi yang terbaik untuk menggagalkan rencana perceraian yang sudah di ajukan Zayyan ke pengadilan, hanya tinggal menunggu jadwal sidang saja.
Drett,, dering ponsel di atas meja membuat Maura langsung menoleh. Dia menghembuskan nafas kasar ketika dia melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Dengan malas dia mengangkat telepon itu.
"Ada apa? Sudah aku bilang jangan menghubungi aku lagi, aku sedang banyak urusan" ucap Maura.
"Kau pikir aku akan diam saja setelah apa yang kau lakukan. Lihatlah, sekarang Zayyan sedang melakukan pengajuan cerai. Jika kau ingin menggagalkan hal itu, aku yang akan siap menjadi saksi atas perselingkuhan yang kau perbuat denganku"
Maura menghembuskan nafas kasar, dia memijat pelipisnya yang terasa cukup pening mendengar ucapan dari Very ini. Dia adalah sahabat Zayyan yang tidur dengannya dan ketahuan oleh Zayyan. Tapi sampai sekarang, entah kenapa Zayyan tidak pernah mengungkit tentang hal ini di depan orang tua mereka. Padahal saat kemarin dia mengatakan ingin menceraikannya saja, dia sama sekali tidak membahas tentang ini.
"Apa yang kau inginkan dariku? Bukannya kau ingin terus berhubungan denganku, aku sudah menurutinya. Kenapa kau masih saja menggangguku seperti ini" ucap Maura.
"Aku tidak hanya ingin kau menjadi kekasihku. Tapi aku ingin kau menikah denganku dan menjadi istriku"
Hembusan nafas Maura semakin berat mendengar ucapan Very barusan. Jelas kalau dia tidak pernah mungkin menuruti keinginannya itu. Karena sampai saat ini, yang mendorong kariernya sebagai seorang desainer adalah Zayyan. Dia yang selalu mengenalkan Maura pada beberapa rekan bisnisnya untuk memakai jasanya.
"Jangan berlebihan, Very. Aku sudah mau tetap bersamamu, itu sudah cukup. Aku tidak akan melepaskan Zayyan" tekan Maura.
Terdengar suara Very yang terkekeh di sebrang sana. "Kalau memang kau tidak ingin melepaskan Zayyan. Maka, biar aku saja yang membuatmu terlepas dari Zayyan. Mengerti?!"
"Very! Jangan ma...tutt..." Maura menatap layar ponselnya yang sudah mati. Dia menggeram kesal. "Sialan, dia tidak boleh melakukan apapun. Aku tidak mau dia membuat aku terlepas dari Zayyan"
Entah bagaimana bisa Maura berselingkuh dengan Very, sementara dia sendiri tidak mau terlepas dari Zayyan. Sungguh pemikiran ini tidak masuk akal. Jika dia tidak ingin kehilangan Zayyan, maka dia tidak akan pernah tidur dengan Very dan masih menjalin hubungan hingga sekarang. Maura hanya menjadi wanita serakah yang tidak mau melepaskan keduanya.
Bersambung
TERPENJARA DENDAM PENGACARA LIN
💖💖💖💖💖
lanjut kak semangat 💪💪💪
lanjut kak semangat 💪💪💪
lanjut kak tetap semangat upnya 💪💪💪
semangat kak author 💪💪💪
semangat juga buat kak author buat upnya 💪💪💪