Cladi terpaksa menerima perjodohan antara dirinya dan kakak iparnya, setelah sang kakak meninggal dunia akibat sakit. Karena kedua orang tua mereka tidak ingin cucu-cucu mereka tidak kehilangan kasih sayang seorang Ibu. Akhirnya perjodohan itu dilakukan demi menjaga mental anak-anak yang baru saja ditinggalkan ibunya. Terlebih kedua keponakan Cladi begitu dekat dengan Cladi.
Sementara kakak ipar yang akan dijodohkannya merupakan orang yang dingin dan datar sejak istrinya meninggal. Tidak jarang perlakuan tidak ramah sering Karan berikan pada Cladi karena menganggap Cladi menerima begitu saja perjodohan mereka.
Mampukah Cladi bertahan dalam hubungan pernikahan naik ranjang ini dengan sikap suami yang dingin dan datar serta tidak ramah. Yuk nantikan kisah naik ranjang antara Cladi dan Karan si kutub utara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Tekad Karan Menaklukan Cladi
Kemarahan Karan bukan tanpa alasan, dia kecewa melihat Cladi pulang kerja janjian dengan mantan kekasihnya. Niat Karan menghampiri Cladi ke mall tempatnya bekerja untuk memberikan surprise dan makan malam romantis, gagal total. Padahal Karan sudah menyiapkan sebuah kejutan berupa mobil untuk Cladi yang sudah dipersiapkan Karan di showroom miliknya.
Karan mendekati Cladi dan duduk di bibir ranjang. Karan menatap Cladi dalam, betapa kecewanya dia dengan Cladi yang ketahuan sedang berduaan dengan mantan kekasihnya di sebuah cafe, bela-belain berbohong dengan mengatakan bahwa dia lembur. Untung saja Karan berhasil membuntuti Cladi sampai di cafe tempat janjian Cladi dengan Syamsir mantan kekasihnya.
"Kenapa kamu bohong, Cla? Dan kenapa kamu temui mantan kekasihmu itu? Apakah kejadian kita semalam tidak cukup membuat kamu bisa melupakan mantan kekasihmu? Bukankah semalam kamu sudah memasrahkan jiwa dan ragamu?" tatap Karan kecewa.
Cladi yang menepi di sudut ranjang tidak mampu menjawab tanya Karan, dia mendadak takut dengan Karan yang terlihat marah.
"Kamu bohongi aku, lembur padahal menemui mantan kekasihmu. Kalau aku tidak berhasil membuntutimu maka kebohonganmu akan tetap rapi," ujarnya seraya berdiri mengitari ranjang lalu menghempas tubuhnya seakan merasa lelah.
Tiba-tiba Hp Karan berdering nyaring membuat Karan yang baru saja menghempas tubuhnya di ranjang tersentak, sementara Cladi yang masih diam di sudut ranjang sekilas menatap ke arah Karan yang masih cuek dengan suara Hpnya.
Dering Hp itu masih belum berhenti, dan Karan masih tidak mempedulikannya. Kepalanya seakan sakit imbas dari perbuatan Cladi hari ini yang sudah membohonginya.
Dengan malas Karan mengangkat panggilan itu yang tiada henti. Karan melihat siapa yang menghubungi. Ternyata Norman sang Sekretaris di kantor showroom menghubunginya.
"Halo, selamat sore Pak Karan. Ini bagaimana dengan acaranya, semua sudah siap? Kami tinggal menunggu Pak Karan datang. Para karyawan sudah bersiap menyambut kehadiran Pak Karan beserta istri," ujar Norman di ujung telpon.
Karan menjambak rambutnya kasar, dia bukan tidak ingat akan acara sore ini, yang sengaja dirancang seistimewa mungkin untuk memberikan kejutan buat Cladi. Karan kecewa acara kejutan itu harus gagal gara-gara Cladi yang kepergok lebih memilih menemui mantan kekasihnya.
"Batalkan acara itu, masukkan kembali mobilnya ke dalam showroom," balas Karan seraya menutup sambungan telpon dengan kasar.
Cladi yang masih di ujung ranjang mendengar apa yang dibicarakan Karan dan orang yang bicara di ujung telpon, meskipun pembicaraan Karan dengan orang itu tidak di loudspeaker.
"Kamu puas membuat aku kecewa dan rencanaku berantakan? Gara-gara kamu pergi diam-diam menemui mantan kekasihmu, acara yang aku rancang untuk memberikan kejutan untukmu gagal sudah. Sekarang kamu bisa tertawa puas menertawakan kebodohanku karena terlalu percaya diri sudah mencintaimu." Karan mendengus seraya bangkit dari ranjang dan bergegas keluar kamar. Entah mau kemana dia. Tidak lama dari itu suara mobil Karan terdengar dan meninggalkan halaman rumah.
Cladi bangkit dari ranjang, ada sebuah penyesalan yang besar di dadanya ketika melihat Karan pergi dengan kecewa. Lalu tentang kejutan yang akan diberikan Karan seperti yang Karan katakan tadi, Cladi sungguh tidak menduganya. Dari percakapan yang didengarnya tadi, sepertinya Karan akan memberinya sebuah kejutan berupa mobil untuknya.
"Mas Karan akan memberikan kejutan untukku? Sebuah mobil? Buat apa? Bisa nyetir saja tidak," batinnya seraya berdiri, lalu bergegas ke dalam kamar mandi, tubuhnya yang gerah dan lelah harus segera diguyur oleh air.
Malam sudah menyapa, Karan yang pergi sejak sore tadi belum kembali juga. Sementara jam di dinding sudah menunjukkan ke angka delapan. Sebelum masuk kamar, Cladi sempat menunggu kedatangan Karan untuk makan malam. Namun Karan belum kembali, membuat Cladi serba salah. Ditambah ketidak adaan kedua anak sambungnya, Kappa dan Khalia, membuat Cladi hampa dan sepi. Kappa dan Khalia memang sering menghabiskan masa liburan sekolah di rumah nenek dan kakeknya, entah itu ke rumah orang tua Karan atau juga orang tua Cladi. Kali ini, Kappa dan Khalia lebih memilih menghabiskan waktu liburan di rumah orang tua Cladi.
Setelah termenung beberapa saat, Cladi bergegas menaiki ranjang dan merebahkan tubuhnya, untuk mengistirahatkan hati dan pikirannya yang kalut. Di tengahnya kini dengan sengaja Cladi pasang guling sebagai pembatas dirinya dan Karan. Cladi bertekad akan kembali membatasi dirinya dengan Karan, dan guling itu sebagai pembatasnya.
Jam sepuluh malam, mobil Karan terdengar menempati halaman rumah. Cladi yang masih belum bisa memejamkan mata, sontak terkejut. Dia harus berpura-pura tertidur pulas saat Karan iba di dalam kamar.
Derap langkah Karan mulai terdengar menuju kamar, lalu gerakan handle pintu yang diangkat sudah mulai terasa. Pintu itu terbuka dengan suasana kamar yang temaram. Karan masuk dengan mata yang menatap lurus ke arah Cladi yang terbaring menyamping menghadap dinding. Karan menduga Cladi sebetulnya belum tidur, dia punya firasat yang kuat.
Karan segera bergegas ke kamar mandi membersihkan diri. Hari ini memang hari yang membuatnya lelah dan pusing kepala setelah acara kejutan buat Cladi terpaksa gagal. Karan harus mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang seharian membuat dia pusing.
Karan mulai menaiki ranjang seraya matanya terus memindai ke arah Cladi yang terbujur membelakanginya. Ternyata Karan baru sadar bahwa di tengah-tengah antara dirinya dan Cladi terdapat guling yang sepertinya sengaja dipasang oleh Cladi. Karan mendengus tidak suka melihat pemandangan itu, lalu disingkirkannya guling itu.
Sebelum Karan benar-benar membaringkan tubuhnya, dia benar-benar lekat menatap tubuh Cladi yang ternyata pura-pura tidur. Karan terbuka hatinya ketika tadi dia berhasil menemui Candy sepupu Cladi. Karan sengaja menemui Candy untuk mengorek keterangan tentang Syamsir pada Candy. Dari Candy, Karan dapat informasi bahwa seminggu lagi Syamsir akan pergi ke Singapura dalam rangka memenuhi tugasnya selama enam bulan. Hal ini disyukuri Karan setidaknya Cladi dan Syamsir tidak akan bertemu dalam waktu yang lumayan lama. Karan berharap seiring jauhnya jarak antara Syamsir dan Cladi, baik Syamsir maupun Cladi bisa segera saling melupakan satu sama lain.
Info lain yang lebih penting didapat dari Candy adalah, sikap tegas Syamsir yang bertekad untuk benar-benar melupakan Cladi setelah dia tahu Cladi sudah menikah. Sehingga kabar ini sungguh membuat Karan senang dan kini saatnya dia untuk benar-benar menaklukan dan meluluhkan sang wanita. Seperti yang Candy katakan tadi.
"Mas Karan harus tetap berusaha menaklukan Cladi dengan memperlihatkan rasa cinta yang tulus. Pepet terus sampai Cladi klepek-klepek pasrah dan mencintai Mas Karan. Kalau dia lagi ngambek, jangan dibalas dengan amarah. Goda terus sampai Cladi merasa benar-benar dicintai dan diperhatikan."
Karan tersenyum bahagia mendapatkan dukungan dari sepupunya Cladi. Sudah saatnya dia kini berjuang meluluhkan Cladi sesuai dukungan dari Candy.
Karan membaringkan tubuhnya perlahan, lalu menyingkirkan guling yang membatasi mereka. "Guling yang sebenarnya adalah kamu Cla," bisik Karan seraya memeluk tubuh Cladi dan merubah posisi tubuh Cladi menghadapnya. Cladi terperangah, padahal dia pura-pura tidur. Tubuhnya kini dihimpit kaki Karan dan dipeluk tangan kekar Karan. Hal yang tidak Cladi duga terjadi, tiba-tiba Karan mencium bibir Cladi dan membenankannya lama di sana.
"Ya Tuhan, jangan sampai kelakuan Mas Karan ini membuat aku terbuai dan kembali melakukan percintaan panas," bisik hati Cladi memohon.