Sepuluh tahun lalu Xuan Ji menggunakan seni beladiri rahasia Klan Xuan untuk mengalahkan Kaisar Iblis. Setelah itu ia tiba-tiba menghilang dan dalam catatan sejarah, tidak ada nama Xuan Ji yang menaklukkan Kaisar Iblis tersebut.
Setelah Sepuluh tahun Perang melawan Kaisar Iblis, di Sekte Pedang Abadi muncul seorang Penatua bernama Xuan Ji juga. Namun, basis Kultivasinya sangat rendah dan mata duitan.
Ketua Sekte Pedang Abadi tidak ingin Penatua Xuan Ji hanya makan gaji buta saja. Kemudian ia memaksa Penatua Xuan Ji turun gunung untuk merekrut murid. Xuan Ji tidak boleh kembali sampai ia harus membawa minimal Sepuluh murid.
Xuan Ji dengan sombong mengatakan akan membawa murid baru dan menjadikan mereka sebagai Kultivator terkuat di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Regar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekte Pedang Abadi Panen Besar
Burung merpati tiba-tiba hinggap di pundak Tang San. Di kaki burung itu terikat sebuah kertas berlambang rumah bordil Kota Canglan.
Tang San langsung membaca surat itu dan tidak menyangka apa yang diprediksi oleh Xuan Ji ternyata benar-benar menjadi kenyataan. Seorang ahli misterius tiba-tiba menghancurkan Klan Lu dan mengusir Kultivator Sekte Serigala Surgawi.
Namun, tidak ada yang tahu bagaimana nasib Ketua Sekte Serigala Surgawi dan Kultivator Ranah Kaisar Matahari yang mendukung mereka. Setelah ahli misterius itu datang, mereka seolah-olah menghilang dari dunia ini.
Akan tetapi rumah bordil curiga kalau ahli misterius itu adalah Jiang Fan, karena ia sempat berseteru dengan murid terkuat Sekte Serigala Surgawi.
“Kenapa mereka menulis basis Kultivasi Jiang Fan adalah Ranah Raja Alam Semesta? Bukankah basis Kultivasinya adalah Raja Matahari.” Tang San merasa ada kesalahan informasi dari rumah bordil tersebut.
“Sudah kukatakan, bocah itu pasti dapat mengatasinya,” sahut Xuan Ji sembari mengelus-elus rambut Xue Yao yang telah tertidur pulas. “Sekarang lebih baik Ketua Tang mengirim beberapa Penatua untuk mengklaim wilayah yang ditinggalkan oleh Sekte Serigala Surgawi dan Sekte Gunung Hua sebelum diambil oleh Sekte lain lebih dulu.”
“Ah, benar juga. Bila kita mengambil kedua wilayah itu, maka pendapatan Sekte Pedang Abadi akan meningkat drastis,” kata Tang San. Apalagi dua Sekte tersebut memiliki wilayah yang cukup luas, upeti dari wilayah itu jauh lebih besar dari wilayah yang dikelola oleh Sekte Pedang Abadi saat ini.
Xuan Ji kembali menengadah menatap langit, ia menghela napas dalam-dalam sembari mengelus-elus janggut putihnya. “Awan gelap telah memudar dengan cepat, sepertinya malapetaka besar akan segera datang.”
Tang San yang hendak meninggalkan Puncak Qianyun langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Xuan Ji. “Apakah Master Ji sedang meramal masa depan?” selidiknya penasaran. Bila terjadi malapetaka besar, maka Sekte Pedang Abadi akan kesulitan menghadapinya, karena mereka tidak memiliki ahli beladiri kuat.
“Aku asal bicara saja,” sahut Xuan Ji yang membuat Tang San terbatuk-batuk dan mengutuk si tua bangka yang suka membual tersebut. Namun, kadang-kadang perkataannya memang benar-benar terjadi walaupun banyak juga yang mengandung tipu daya. “Bukankah dalam cerita dongeng dikatakan sesuatu yang buruk akan terjadi bila awan gelap muncul di langit dan bukannya datang hujan, malah tiba-tiba menjadi cerah kembali.” Xuan Ji berkilah sembari tertawa terbahak-bahak.
“Terserah kaulah!” gerutu Tang San langsung menuruni Puncak Qianyun.
“Hmm, kenapa Ketua Sekte tidak terbang saja? Bukankah terbang lebih cepat daripada menuruni tangga yang banyak itu,” gumam Xuan Ji keheranan melihat Tang San berjalan menuruni tangga Puncak Qianyun.
Satu batang dupa setelah Tang San menuruni tangga Puncak Qianyun, ratusan murid-murid Sekte Pedang Abadi dan semua Penatua Puncak kecuali Puncak Qianyun terbang menuju wilayah Sekte Serigala Surgawi.
Siapapun yang melihat rombongan Sekte Pedang Abadi tersebut pasti mengira akan terjadi perang besar dan menduga-duga musuh seperti apa yang membuat Sekte Pedang Abadi mengerahkan kekuatan besar tersebut.
Tang San sengaja membawa hampir seluruh anggota Sekte Pedang Abadi, karena ingin menunjukkan kepada Klan-Klan di Sekte Serigala Surgawi dan Sekte Gunung Hua bahwa mereka harus tunduk pada Sektenya atau mereka akan dihancurkan.
Para Penatua Sekte Serigala Surgawi langsung menyerahkan diri begitu rombongan Sekte Pedang Abadi muncul di Sekte mereka.
Tang San menghancurkan basis Kultivasi para Penatua Sekte Serigala Surgawi dan murid-murid mereka. Namun, untuk murid-murid yang tidak terlibat dalam penyerangan ke Sekte Pedang Abadi dan Sekte Gunung Hua diampuni serta diangkat menjadi murid Sektenya.
Para Ketua Klan di wilayah Sekte Serigala Surgawi langsung menyatakan diri tunduk kepada Sekte Pedang Abadi dan membayar upeti dua kali lebih besar dari yang mereka berikan kepada Sekte Serigala Surgawi. Sementara Klan-Klan di Sekte Gunung Hua tetap membayar upeti tahunan seperti yang mereka berikan kepada Sekte Gunung Hua.
Peristiwa itu membuat gempar wilayah selatan, Sekte-Sekte di wilayah selatan curiga Sekte Pedang Abadi juga memiliki pendukung kuat dari wilayah tengah, makanya Kultivator Ranah Kaisar Matahari yang mendukung Sekte Serigala Surgawi dapat mereka kalahkan.
...***...
Sepuluh hari pun berlalu dengan damai di seluruh wilayah selatan. Tidak ada lagi kejadian yang menggemparkan. Di Sekte Pedang Abadi, murid-murid berlatih dengan giat untuk persiapan kompetisi tahunan yang akan segera dimulai.
“Bagus Yang Chung, kau akhirnya menguasai Jurus Kura-kura Surgawi!” Xuan Ji memuji kehebatan Yan Chung yang berguling-guling seperti bola melesat ke arah Xuan Ji.
Walaupun Yan Chung berguling-guling seperti bola, tubuhnya sangat keras karena dilapisi oleh energi spiritual berbentuk tempurung kura-kura.
“He-he-he … apakah aku akan dapat peringkat tinggi dalam kompetisi tahunan nanti, Master?” Yan Chung sangat bangga karena dipuji oleh gurunya.
“Mungkin saja, tetapi jangan pernah lengah!” sahut Xuan Ji dan tiba-tiba Xue Yao melompat ke arah Yan Chung dengan tinju mungilnya, energi spiritual berbentuk tempurung kura-kura yang melapisi tubuh Yan Chung langsung hancur lebur dan ia terhempas sejauh dua puluh langkah. “Kan, sudah kukatakan jangan pernah lengah! Musuhmu tidak akan pernah membiarkanmu melakukan analisa saat kalian bertarung.”
“Sial! Saat aku diserang barulah Master mengatakan jangan pernah lengah!” gerutu Yan Chung sembari menyeka bekas makanan yang ia muntahkan. “Surga sungguh tak adil, bagaimana bisa anak kecil yang kerjaannya hanya bermain-main saja bisa menjadi kuat secara alami. Terkutuk lah kalian siapapun di surga sana!” umpatnya.
Xuan Ji hendak mengatakan jangan pernah berkata seperti itu, nanti Dewa murka. Namun, sebelum ia mengatakannya, tiba-tiba Yan Chung sudah tersambar petir.
“Master … entitas di Surga memang brengsekk!” Yan Chung masih sempat mengumpat sebelum ia pingsan.
Sambaran petir yang memekakkan telinga kembali melesat ke arah Yan Chung. Namun, Xuan Ji menepis Sambaran Petir itu dengan santai. “Hei, jangan terlalu kejam terhadap muridku!” cibirnya.
“Waw, Kakek hebat!” Xue Yao bertepuk tangan, karena Xuan Ji menepis Sambaran Petir sehingga Sambaran Petir itu terpental ke arah Puncak Qianfeng.
Sambaran Petir itu tidak menimbulkan korban jiwa di Puncak Qianfeng, karena Sambaran Petir itu langsung dihempaskan oleh Zhuo Fan ke langit.
Setelah itu tidak ada Sambaran Petir susulan lagi. Petir Surgawi sepertinya trauma atas kejadian itu dan merasa tidak ada Kultivator yang normal di Sekte Pedang Abadi, sehingga ia mengalihkan Sambaran Petirnya ke tempat lain.
“Baiklah, kalian semua kecuali Zi Rouyan dan Xue Hao, coba kalahkan Yao‘er!” seru Xuan Ji. Namun, ekspresi wajah murid-muridnya itu menjadi masam, karena Xue Yao itu mempunyai darah Klan Long pada dirinya sehingga secara alami mempunyai fisik yang kuat.
Xue Yao pun tersenyum lebar menatap kakak-kakak seniornya itu dan dalam satu kedipan mata, ia muncul di depan Meng Meng dan tanpa ampun meninju wajahnya.
Dalam beberapa tarikan napas saja, suara teriakan kesakitan menggema di Puncak Qianyun dan wajah murid-murid Puncak Qianyun pun menjadi bakpao.