NovelToon NovelToon
NGUNDUH MANTU

NGUNDUH MANTU

Status: tamat
Genre:Spiritual / Thriller / Mata Batin / Kumpulan Cerita Horror / Hantu / Roh Supernatural / Horor / Tamat
Popularitas:301.9k
Nilai: 5
Nama Author: skavivi selfish

Kematian sang ayah membuat Pandu Mahendra mendaki gunung untuk mencari ketenangan batin dalam bertapa. Alih-alih kesedihannya sirna, pendakian yang dilakukan saat malam Selasa Kliwon itu menelannya dalam entitas gaib yang menjadi momok menakutkan bagi para pendaki. Pandu mendatangi acara ngunduh mantu entitas bidadari sebagai mempelai pria!

Lantas bersama sahabatnya, mampukah Pandu keluar dari situasi pelik yang membuka rahasia keluarganya dan menggemparkan seisi rumahnya?

( Wajib baca Suamiku Seorang Ningrat terlebih dahulu untuk mengerti silsilah keluarga Pandu )

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Evakuasi

Rinjani menyuruh Mbah Mangku, Kyai Arya, dan Jalu Aji menyusul Pandu dan Nanang ke basecamp. Tiada lagi kesan jenaka dan ramah dari wajah dan gestur tubuhnya. Rinjani seperti menjadi sosok lain yang berkuasa.

Jalu Aji yang takut menarik Kyai Arya menjauh secepatnya, dan Mbah Mangku mau tidak mau mundur teratur meski ia penasaran dengan sosok bidadari itu.

Setelah memastikan derap langkah dan senter tidak lagi terlihat di matanya serta kegelapan hanya menemaninya. Rinjani memutar tubuhnya, “Di mana kamu menyembunyikannya, Le?”

Rinjani menatap lantai hutan, mencari jejak-jejak yang tertinggal sebaik mungkin dan intuisinya membawanya ke semak-semak yang Pandu datangi.

Rinjani menyibak semak-semak dan terbelalak melihat seonggok manusia meringkuk dengan tubuh pucat.

“Aku ibunya Pandu, Pandu Mahendra. Jangan takut.” Rinjani mengulurkan tangannya.

Dewi Laya Bajramaya yang tidak mengenali wanita itu menggeleng. Menolak ajakannya. Dia cuma ingat Pandu Mahendra Adiguna Pangarep, Pandu Mahendra tidak. Siapa dia? Tidak kenal.

“Aku ibumu, mertuamu. Nggak usah takut, di sini bahaya sama aku tidak. Ayo ikut, nanti kamu hipotermia terus mati! Mau kamu mati di sini?”

“Mati? Hipotermia?” gumam Dewi Laya Bajramaya.

“Malah bingung lho. Itu dipikirkan nanti saja. Ayo, nduk. Bangun, ganti bajumu, nggak usah pakai kemben, bisa di culik nanti.” Rinjani mendesah frustasi dengan kenyataannya menolak ajakannya.

Dewi Laya Bajramaya semakin meringkuk. “Pandu Mahendra Adiguna Pangarep datang ke sini. Ya.” ucapnya meniru titah Pandu tadi.

“Pandu sudah turun gunung. Kamu sekarang ikut turun gunung sama aku! Nanti ketemu di bawah!” Rinjani menurunkan tasnya. Dia mengeluarkan baju gantinya dan fotonya bersama Pandu Mahendra Adiguna Pangarep, harus lengkap, jika tidak, tidak kenal si Dewi itu karena dia mengiranya nama yang berbeda, berbeda pula orangnya.

“Ini aku, ini Pandu. Wajahnya sama tidak sama suamimu?”

Dewi Laya Bajramaya mengamatinya dengan teliti seraya mengangguk.

“Sekarang bangun. Cepat. Aku nggak sabar, Nduk!”

“Nduk?” Dewi Laya Bajramaya menyentuh dadanya. “Nduk, Dewi?”

“Iya, Dewi Laya Bajramaya. Nduk itu hanya panggilan tambahan untuk anak perempuan.” ucap Rinjani lebih lembut sambil ngelus dada.

Apa karena dia jadi anak hutan, dia jadi linglung begini. Harusnya kalau masih jadi bidadari pasti keren banget dia. Bisa sulap.

Dewi Laya Bajramaya beranjak. Sama halnya dengan Pandu dan Nanang, energinya tidak ada. Dia lemas sekali, perpindahan cakra dan keistimewaan Pandu memenuhi keistimewaannya hingga merekah dan pecah. Segalanya yang dia miliki melebur menjadi selembar kertas putih.

Dan Rinjani yang melihatnya hanya diam saja mengambil keputusan untuk membantunya melepas pakaiannya.

Rinjani terpukau melihat betapa resik dan ranumnya tubuh sang Dewi. Ini Pandu bagaimana kabarnya? Apa dia sudah... Gusti, pikiranku!

Rinjani menggelengkan kepalanya setelah membuat Dewi Laya Bajramaya seperti pendaki gunung pada umumnya.

“Kamu tidak boleh dilihat siapa pun, ibu tidak mau kamu jadi tontonan. Cepat naik ke punggung ibu.”

Dewi Laya Bajramaya menggeleng.

“Tidak apa-apa, Nduk. Aku kuat. Sudah ayo naik. Keburu pagi ini, tambah stress ibu di sini.”

Dewi Laya Bajramaya membawa tas keril Rinjani yang diulurkannya seraya naik ke punggungnya.

Rinjani menarik napas, dalam doa yang ia panjatkan dan dari mana akarnya, melejitlah potensinya berlari menuruni gunung dengan ringan.

Rinjani bersembunyi di balik pohon, mengintai keadaan di basecamp, tim sar sudah membawa Pandu dan Nanang ke rumah sakit dengan mobil bak terbuka berwarna oren.

Di sekeliling basecamp adalah rumah warga, mobilnya ada di sana.

Rinjani menurunkan Dewi Laya Bajramaya, dia langsung mengambil kuncinya.

“Kita tunggu sampai keadaan sepi. Kamu minum dulu.” Rinjani membuka botol air mineralnya. “Pelan-pelan minumnya.”

Rinjani perlu memberi contoh sebelum menyerahkan botolnya. Dewi Laya Bajramaya mengikutinya persis sepertinya.

Bahaya ini kalau kumpulnya sama Jalu Aji + Dalilah. Apalagi langsung sama Pandu. Dewi Laya Bajramaya ini bakal jadi geng mereka.

Rinjani merebahkan punggungnya di batang pohon sembari menghela napas.

Mau titisan siapapun, hidupku sudah sepenuhnya di bumi seperti manusia-manusia lainnya. Anak ini pun sama. Semoga saja, tambah anak tambah rezeki.

Rinjani menoleh ke belakang. Kondisi sudah lumayan sepi.

Rinjani tersenyum. “Sekarang kita jalan kaki ke rumah-rumah itu, kamu sanggup? Jalan seperti ini?” Rinjani mempraktekan.

Dewi Laya Bajramaya mengangguk dan Rinjani menggandengnya.

Semoga orang-orang mengira aku bersama pendaki.

Rinjani menyunggingkan senyum seraya mempercepat langkahnya menuju mobilnya.

“Kamu masuk!” Rinjani mendorong tubuhnya seraya menutup pintunya dengan cepat sebelum orang-orang menanyakan kejanggalan dalam hati mereka mengenai kedatangannya.

Aku minta maaf, bapak-bapak. Setelah menyembunyikan anak ini di tempat aman aku akan datang kembali.

Rinjani memberikan klakson dan menurunkan kaca mobil, “Matur suwun, Pak. Kulo mbenjang mriki malih.” ( Terima kasih, Pak. aku besok ke sini lagi. )

Rinjani tersenyum. “Kami mau nyusul ke rumah sakit. Permisi.” Tegas Rinjani menginjak pedal gas, meninggalkan basecamp.

Di tengah perjalanan, Rinjani menghentikan mobilnya. Dia mengamati Dewi Laya Bajramaya yang diam saja, wes mbuh pokoknya, sulit berkata-kata bentuknya sekarang bahkan ekspresinya.

“Kamu pakai sabuk pengaman dulu biar aman. Gak usah khawatir sama Pandu, dia aman.”

“Bapakku?”

“Bapakmu?” sentak Rinjani. “Kamu bawa bapakmu juga?” tanya heran dan kepanikannya menjadi-jadi jika harus kembali naik gunung.

“Bapakku Nanang.”

Rinjani ingin menyemburkan tawa, penjelasan itu seperti komedi yang menyegarkan kelelahannya.

Terserah wes kalo Nanang mau nambah anak lagi, jadi kita besanan. Jadi bukan tanggung jawabku sepenuhnya, mumet aku. Mana Suryawijaya dan Nawangsih belum jadi nikah, Bimo dan Citra juga masih nunggu, lah kok Pandu pulang-pulang bawa istri. Yungalah...

...***...

1
Rasty Inarra
la pandu pisah sama Dewi tapi di Cerita Nanang sama Riri ,pandu nikah dan serumah di rumah utama sama Dewi...
apa Dewi balik LG kebumi trs hidup LG sama pandu begitu
Camera Gaming
mampir thor,,,aku tuh penakut mikirnya lama kalo mo baca yg horor tapi ya penasaran
Cicak Speed
balek wi wes to le petualangan Nang bumi ..
Cicak Speed
Nang gunung AE Ndu
Cicak Speed
hahaa ndue bojo angel nabung Ndu
Cicak Speed
🤣🤣🤣 ga bisa ber words2
Cicak Speed
huwaaaa🤣
Cicak Speed
wedyan 3.3 nya sung nikahhh
Cicak Speed
dikeroyok ya ndu
Cicak Speed
Walahh..
jadi Dewi ini to yg dilepas sama bapak nya pandu .njur Saiki jadi bojonya pandu Owalh jann..mantab ayah ku jadi istriku ya Ndu
Cicak Speed
wes Jan payah kamu Ndu
Cicak Speed
Halah Jan Menag banyak kamu Ndu
Cicak Speed
🤣🤣🤣🤣
Cicak Speed
kapok mu kapan Ndu
Cicak Speed
duh jan. y ampun
Cicak Speed
yongalah q ngakak too🤣
Cicak Speed
Jak mandi bareng ndu
Cicak Speed
yungalah Ndu pulang2 bawa istri
Cicak Speed
Aduuh Dewi mau diapakan sama Rinjani
Cicak Speed
kapok mu kapan Ndu kamu yg kudu nguber Dewi saiki
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!