Naya tidak pernah membayangkan diulang tahun pernikahannya yang ke-empat harus berakhir menjadi mimpi buruk untuknya. Brian, suaminya terpaksa menjual Naya untuk melunasi utang-utangnya. Naya yang masih mencintai suaminya rela dengan keputusan Brian. Tidak ada yang pernah menerima dirinya selain Brian.
Di sana, Naya bertemu dengan Clara dan Rose. PSK yang mengubah sudut pandang Naya tentang dunia malam, dunia para penghibur.
Noah, klien pertama Naya, seorang pewaris tunggal perusahaan otomotif terbesar di Negara itu, menginginkan Naya untuk menemaninya setiap malam.
Naya dengan segala kerapuhannya dan Noah dengan segala kekuasaan dan arogansinya. Apakah mereka bisa saling menyembuhkan luka? Atau Noah hanya akan menambah luka Naya?
Lalu, bagaimana dengan pernikahan Naya dengan Brian? Suami yang sudah mengenalkan arti keluarga untuk Naya yang seorang anak yatim piatu sejak lahir.
Clara, Rose dan kisah memilukan PSK lainnya.
Ini bukanlah kisah tentang mereka di atas ranjang. Tapi ini adalah kisah yang tidak mereka ceritakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arisya Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
“Jadi, ini wujud perempuan hina itu.”
Naya menunduk lemah. Genggamannya pada Noah ingin ia lepas, tapi Noah menahannya dengan kuat.
“Ini rumah sakit. Jangan membuat keributan di sini, Mr. Elmer.” tegas Noah.
“Kau yang memaksaku melakukan ini, Noah.”
Noah menegang. Saat orang kepercayaan ayahnya maju lalu menyerahkan sebuah perangkat tablet kecil yang berisi satu video. Dari rumah sakit jiwa. Ibunya ada di dalam video itu sedang meninggalkan rumah sakit tempatnya di rawat bersama beberapa orang berpakaian hitam dengan wajah yang tertutup.
“Pilih pelacur itu, atau ibumu akan aku bawa malam ini, dan kau tidak akan pernah bertemu dengannya lagi.”
Naya terkejut. Ia langsung memalingkan wajahnya untuk melihat Noah yang masih berdiri dengan kaku. Wajah Noah memerah.
Naya menghentak kuat tangan Noah yang masih menggenggamnya. Air matanya mengalir, lalu melepaskan infus di tangannya dengan gemetar. Dengan tertatih, Naya turun dari ranjang dan berlutut dengan tangan memohon-mohon.
“Tuan, saya mohon, jangan lakukan itu. Saya… saya yang akan pergi.”
“Harusnya kau sadar diri dari dulu. Apa kau pikir dengan menikahi pria terhormat, kau akan menjadi terhormat juga?”
Naya mengangguk keras. “Iya, saya yang salah. Saya yang salah karena menjebak Tuan Noah. Tolong jangan bawa ibunya. Noah…” Naya menggeleng. “Maksud saya, Tuan Noah tidak bisa hidup tanpa ibunya, Tuan. Saya akan pergi dan memastikan Tuan Noah tidak akan menemukan saya.”
“Naya berdiri!” perintah Noah, tapi diabaikan. “NAYA!”
“TUAN NOAH!” Naya belas nyalang. Napas Naya sesak. Air matanya mengalir deras. “Biarkan saya pergi dengan harga diri yang masih tersisa ini, Tuan.”
Noah menatap nelangsa ke arah Naya. Baru saja, ia menjanjikan Naya kebahagian, baru saja, ia berjanji mengobati luka wanita itu. Sekarang malah luka itu kini bertambah. Tidak … tidak ada yang akan memisahkannya dari Naya atau dengan ibunya.
Noah mengambil ponsel, menghubungi seseorang. Matanya menatap lurus ke arah ayahnya yang sedang menunggu reaksinya.
“Rumah Sakit Jiwa Sunshine. Bawa pergi ibuku. Aku tidak peduli, bunuh semua yang menghalangi.”
Setelah panggilan terputus. Noah berlutut, menarik tubuh Naya yang lemah untuk ia bopong. Naya menggeleng tidak mau sambil menatap dalam mata hazel itu. Noah membisikkannya sesuatu yang membuat Naya mematung, dan akhirnya menuruti kemauan Noah.
“Nurut, atau aku akan meledakkan kepala ayahku sekarang juga.” Sangat jelas, Noah tidak main-main dengan kalimatnya.
Melihat Naya yang berubah pikiran membuat Elmer geram. Usahanya untuk mengancam dan merendahkan wanita itu gagal total.
“Selangkah saja kau keluar dari kamar ini, kau bukan lagi bagian dari keluarga Elmer,” desaknya kepada Noah.
Langkah Noah terhenti. “Aku sudah bukan bagian dari keluarga ini lagi, sejak anda meninggalkan ibuku dengan penuh luka.”
ia berjalan melewati tanpa menoleh lagi.
Naya yang melemas karena merasa sangat kehabisan energi, tertidur di pelukan Noah yang membawanya ke parkiran. Semua penghuni rumah sakit menatap heran ke arah mereka. Tapi, tidak ada yang berani menghentikan. Mereka tau siapa Noah dan keluarganya.
Setelah mendudukan Naya dengan nyaman di kursi penumpang, Noah mengambil alih kursi pengemudi. Ia menelpon sekretarisnya Rio untuk mengurus administrasi rumah sakit Naya. Sebelum meninggalkan parkiran, sebuah mobil hitam memotong jalan keluarnya. Noah menunggu siapa yang keluar dari mobil itu. Sesuai prediksinya, mereka adalah orang-orang yang pasti disewa oleh ayahnya.
Noah menoleh ke arah Naya yang masih tertidur pulas. Ia tidak ingin Naya melihat atau mendengar suara gaduh nanti, karena itu ia menurunkan sandaran kursi Naya hingga berbaring nyaman, dan memutarkan musik jaz lembut. Noah keluar dari mobilnya dengan wajah yang tersenyum senang. Sudah lama rasanya ia tidak bersenang-senang seperti ini.
---
Noah memasukkan tangannya ke dalam saku celan dan berdiri dengan angkuh.
“Ada apa?”
“Tuan muda. Kami di perintahkan untuk membawa wanita yang bersama anda.”
Noah tersenyum sinis. “Coba saja.”
Satu persatu preman itu berjalan mendekat. Belum juga mereka maju lebih dari tiga langkah, Noah sudah lebih dulu mengangkat kakinya tinggi, menendang keras dada pria pertama dan kedua hingga mereka termundur. Perkelahian, tidak terhindarkan saat mereka dengan membabi buta melayangkan tongkat ke arah Noah.
Belasan tahun belajar teknik bela diri, bukan suatu kebetulan tubuh Noah mempunyai proporsi yang sempurna. Semua serangan kecil itu sangat mudah Noah hindari. Bunyi pukulan telak di wajah, hantaman di dada dan perut, bunyi patahan dari tulang yang di tekuk tidak wajar, semakin membuat adrenalin membakar habis di dalam tubuhnya. Noah terlalu menikmati permainannya, hingga ia tidak menyadari seorang yang memegang rantai panjang dan bergerigi melayangkan serangan untuknya dari arah belakang.
Rantai panjang itu mengenai tulang belikatnya, kemejanya terkoyak dan ada bercak darah dari kulitnya yang pasti terkupas. Noah mendesis, tidak ada lagi main-main. Noah dengan serius, menghabisi semua preman-preman itu.
Setelah berhasil menjatuhkan semua senjata mereka, kini Noah fokus untuk menangkis dan kembali menyerang. Satu persatu preman itu terjatuh tidak berdaya. Hingga tersisa Noah sendiri yang berdiri. Meskipun dengan napas yang memburu dan keringat yang membasahi pelipisnya.
“Beritahu tua bangka itu. Tidak akan ada yang bisa menyentuh yang sudah menjadi milikku.”
Suara erangan kesakitan menjadi balasan dari ucapan Noah. Setelah memastikan tidak ada lagi yang mampu berdiri, Noah berbalik dan masuk kembali ke mobilnya. Jika negaranya sekarang tidaklah aman, mungkin Noah harus membawa kedua wanita kesayangannya untuk pergi dari sana. Sekalipun bersembunyi selamanya. Noah tau, ayahnya tidak akan benar-benar berhenti.
...****************...
sukses trs tuk karya2nya thor 🙏🙏😍😍
semangat mba dgn karya selanjutnya 💪💪
terimakasih banyak sdh banyak menhibur🙏🙏
semangat terus ya kak, terima kasih sudah memberikan cerita yg sangat menginspirasi. sukses n bahagia selalu❤️