Cerita ini merupakan penggabungan dua novel othor yang ketiga dan ke empat. Cinta dalam nestapa dan janda kembang. Mana yang belum tau silahkan mampir!
Ziara Puteri Hariawan
Gadis cantik mirip sang Ummi yang berdarah keturunan Aceh asli seolah dirinya selalu dipermainkan oleh Takdir.
Bagaimana tidak, setiap laki-laki yang berniat ingin menikahinya pasti berulah disaat mereka akan melangsungkan pernikahannya.
Ziara sering ditinggal begitu saja tanpa ada kabar ketupusan apapun dari pemuda itu hingga ia harus menahan kecewa berulang kali.
Hingga pada akhirnya Ziara pasrah akan keputusan sang Nenek yang menjodohkannya dengan salah satu kenalannya.
Zidan Putera Ar Reza
Kehidupannya pun sama seperti Ziara selalu di permainksn oleh Takdir. Akankah mereka sanggup bertahan dalam ikatan takdir yang membelenggu mereka menjadi sepasang suami istri?
Ataukah keduanya memilih mundur?
Inilah Kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekurangan Zidan
Zee dan Zidan masih saja berpelukan dengan erat saat kedua lelaki paruh baya yang baru saja masuk sesaat setelah melakukan sholat maghrib di musholla rumah sakit mereka.
Kedua paruh baya itu tertegun mendapati ke empat orang di dalam ruangan itu saling terisak dan tersedu.
"Kalian kenapa?" tanya Abi Raga pada semuanya.
Ummi Ira hanya menggeleng saja. "Nggak ada By. Hanya sedang mengingat tentang putri kita dulunya yang pernah mengalami pelecehan.. Bukan hanya putri kita, By. Zidan pun mengalaminya saat ia kelas satu SMP.." lirih Ummi Ira semakin tersedu.
"Apa?!" seru Abi Raga sambil melihat menantunya yang kini masih sesegukan bersama putri sulungnya.
"Astaghfirullah ya Allah.. Ternyata kedua anak kita pernah mengalami pengalaman pahit yang sama.." lirih Papa Reza juga.
Ia mendekati Mama Rani dan memeluknya. Mama Rani masih saja terisak. Sementara kedua orang itu masih saling berpelukan dengan erat.
Zidan mengurai pelukannya dan menangkup wajah Zee untuk melihatnya. Masih dengan terisak dan kepalanya yang kembali pening akibta terlalu menangis, Zidan berusaha berbicara pada Zee yang kini sedang menatapnya dengan air mata beruraian.
"Kamu bertanya, apakah Abang akan memperlakukan kamu sama seperti lelaki yang pernah menjadi calon suami mu? Nggak sayang. Abang nggak akan seperti itu! Abang mencari seorang istri yang bisa di ajak ke surga Nya Allah SWT. Bukan sebagai pemuas nafsu. Untuk hubungan suami istri itu memang harus kita lakukan! Nggak ada larangan untuk itu. Dan Abang menikahimu bukan karena paras mu, Ziara. Melainkan karena Abang mencintaimu.."
Deg!
Deg!
"A-apa?! Mencintaiku?? Sejak kapan?!" tanay Zee begitu terkejut dengn jawaban Zidan atas pertanyaannya.
Zidan tersenyum, "Sejak pertama kali bertemu denganmu di mesjid komplek perumahan Abang. Saat kamu datang bersama Mami eh Oma Alisa maksudnya." Jawab Zidan yang membuat Zee semakin terkejut dengan mulut menganga
Zidan terkekeh kecil. Ia mengelus lembut pipi halus Zee. Semua itu tidak luput dari perhatian empat orang paruh baya beda usia itu.
"Tapi.. Ba-bagaiaman bisa Bang? Kita kan baru saja bertemu??" bantah Zee masih belum percaya sepenuhnya dengan ucapan Zidan.
Zidan terkekeh lagi. Ia sangat gemas melihat wajah Zee yang kini seperti anak kecil yang sedang menuntut jawaban darinya.
"Kamu tahu apa itu Sholat istikharah sayang?"
"Tahu." Jawab Zee masih dengan menatap lekat pada sang suami yang semakin tampan saja terlihat dimatanya.
"Abang meminta sama Allah agar dipertwmuakn dengan gadis baik-baik dari keluarga baik-baik. Yang memang Abang inginlan untuk merajut asa demi mencapai surga Nya Allah. Setiap malam meminta sama Allah agar dipertemuakn dengan gadis itu jika Abang masih diberi kesempatan untuk membina sebuah rumah tangga. Dan ya, setelah mendapatkan petunjuk melalui mimpi yaitu kamu... Maka ketika Mama dan Oma menjodohkan kita berdua Abang langsung menerimanya. Abang melihatmu seperti itu karena kamu sama persis dengan gadis yang Abang lihat di dalam mimpi Abang sehari sebelum kita di pertemukan. Maka dari itu Abang sudah mencintaimu saat pertama kali melihatmu di alam mimpi. Nggak salah kan ya?" Jelas Zidan yang membuat Zee semakin menganga saat mendengar penjelasan dari Zidan, suaminya.
Abi Raga dan Papa Reza terkekeh melihat itu. "Sudah lah Nak. Mari kita makan dulu. Suster baru saja mengantarkan makanan untuk kamu makan. Dan minum obat. Ayo sini." Ucap Papa Reza pada Zidan yang diangguki oleh Zidan.
"Iya Pa. Sebentar dulu. Ada satu hal lagi yang harus Ziara tahu tentang Abang."
Zee menatap lekat lagi pada Zidan. "Apa Bang? Apa yang harus aku ketahui tentang mu?" Batin Zee bersuara
Zidan tersenyum lagi pqda Zee. "Abang harap kamu tidak kecewa jika suatu saat kita tidak bisa memiliki keturunan!"
Deg!
Jantung Zee berdegup kencang. "Maksudnya??" tanya Zee semakin ingin tahu.
Zidan lagi dan lagi tersenyum lembut padanya. "Abang mandul, sayang.."
Ddddduuuuuaaarrr!!!
"Apa?!" teriak Zee begitu terkejut
Zidan sampai memejamkan matanya saking keras nya Zee berteriak di hadapannya.
Wajah Zee mendadak pucat. "Ja-jadi.. Ya-yang A-abang bilang kekurangan waktu melamarku dulu, ini??" Zidan mengangguk dengan wajah sendu.
Zee lemas seketika. "Ya Allah.. Bang!"
Grep!
Zidan membatu.
بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِى خَيْرٍ
“Semoga Allah memberkahimu ketika bahagia dan ketika susah dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR. Abu Daud, no. 2130; Tirmidzi, no. 1091. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).