harap bijak memilih bacaan.
Di jadikan babu oleh sang bibik, di bully oleh warga desa sebab bau badannya.
Ia begitu patuh, namun berkahir di jual oleh Bibiknya pada Tuan Mafia kejam yang menjadikannya budak nafsu menggunakan status istri yang di sembunyikan dari dunia.
ikuti ceritanya disini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon liyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29.DI pojokkan
Anggi terus memohon Agar Hazard melepaskan tangannya yang terasa perih, tanpa belas kasihan Hazard melempar tubuh Anggi ke kasur dengan kasar.
Anggi sampai akan jatuh di pinggir ranjang, ia berdiri dengan cepat, tapi tangan Hazard mencekik lehernya begitu kuat.
Napas Anggi mulai melemah, tatapan matanya berkaca-kaca nan merah, tangannya bergetar memukul pelan tangan kekar itu.
"Kamu, ternyata benar-benar rendahan Anggi," Air mata Anggi seketika lolos mendengar ucapan menyakitkan dari sosok baru saja ia anggap sebagai pelindung.
"Di saat ada aku, kamu masih memilih pria lain, apa kamu tidak cukup dengan satu pria?"tanya Hazard begitu merendahkan.
Anggi tak sanggup menjawab, saking eratnya cengkraman Hazard di lehernya.
Hingga Anggi merasa napasnya akan habis detik ini, pasrah? itulah yang Anggi lakukan selama hidupnya.
Hazard melepaskan cengkraman tangannya, mendorong Anggi hingga terpental di kasur.
Tangis Anggi bahkan tak mampu membuka belas kasihan dari Hazard yang terbakar cemburu.
Semua yang mendengar teriakan Hazard tadi sontak saja berdiri di ambang pintu.
Mulai dari Helena, Davin, Zuma, dan Tuan Azam.
Empat orang yang memiliki darah dingin, dan Semirik tajam di bibir mereka.
Davin memasang wajah terkejut dan menghampiri Anggi, ingin memeluk wanita yang berstatus kakak iparnya. Tapi Anggi menolak dengan keras dari setengah tenaganya yang terkuras.
"Sayang kamu tidak apa-apa, maaf aku nggak bisa kendaliin diri aku saat kamu sentuh sayang," kata Davin penuh penghayatan layaknya seorang kekasih yang merasa bersalah.
Anggi sampai bengong mendengar ucapan Davin yang terlampau penuh kebohongan tanpa sedikitpun ada kejujuran.
"Ma–maksud kamu apa Davin, tadi bukannya kamu sakit perut, aku akan me–"
"iya, aku sakit perut, karena bokong kamu yang berat dan berisi ini."
Mata Hazard dan Anggi kompak membola tajam, Rahang Hazard mengeras dengan tubuh yang sedikit bergetar menahan gejolak emosi, tapi sayangnya emosi itu tak bisa di tahan.
Hazard menarik kerah Davin, melayangkan tinjuan yang begitu keras ke rahang Davin hingga darah keluar dari mulutnya.
Helena hanya diam, bersama yang lainnya, seakan ini adalah tontonan yang seru dan langka.
Hazard terus memukul, hingga wajah Davin tak lagi di kenali. Hazard berhenti kala Davin hampir pingsan.
Tuan Azam memasukkan tangannya di kantong celana."Lihat, seberapa rendahan wanita ini, bahkan kehormatan pun ia tak punya, wanita yang kamu bela ini, tak lebih seorang rubah yang cantik dan mematikan Hazard,"Tuan Azam memanfaatkan situasi ini, Memberikan sedikit Angin segar pada api yang memang sudah menyala dalam diri Hazard.
"Tuan, aku tidak melakukan apapun, aku tadi hanya–"
"Diam!saya sudah sangat baik dengan kamu Anggi, tapi apa balasan kamu?saya hanya mengharapkan kebahagiaan putra saya pada kamu, tapi! setelah melihat betapa tampan dan menawannya keponakan saya, kamu semudah itu menjajahkan kehormatanmu!"bentak Helena, yang di sambut Gelengan keras dan tangisan yang terdengar memilukan.
Anggi tahu, sekuat apapun ia menjelaskan tak akan ada mendengarkan, hingga ia memilih diam dan melihat keputusan Hazard akan hubungan mereka.
Anggi turun dari ranjang dan menghampiri Hazard yang tak sudi melihat wajahnya."Mungkin kamu tidak akan mau mendengarkan apa penjelasanku, maka putuskan apa yang menurutmu benar, aku tak peduli pada akhirnya kamu akan menyesal,"suara Anggi tegas dan datar, tatapannya yang awalnya di penuhi air mata mengering dalam sekejap, meninggalkan bekas tangis di matanya yang sembab.
Hazard menoleh dan tertawa pelan."Bahkan kamu seperti menyuruh saya untuk mengusir kamu dari hidup saya Anggi!"
"Karena sejak awal,aku hanyalah budak nafsu,menemanimu di ranjang layaknya seorang pelacur di balik status istri,jika memang kamu menganggap aku sebagai seorang istri, dimana letak kepercayaan yang kamu berikan?"
Mata mereka beradu cukup lama, mencari kebenaran di mata masing-masing, Anggi terlihat tulus, lebih tenang dari sebelumnya.
Helena memicingkan mata."Kepercayaan sudah kami berikan pada kamu Anggi, jangan menanyakan kepercayaan yang bahkan telah hancur setelah kamu berhubungan bersama keponakan saya!"sentak Helena melihat Hazard sedikit goyah.
"Aku bicara pada putramu, bukan padamu," Helena melotot mendengar balasan yang kurang ngajar dari Anggi.
"Aku akan menerima setiap keputusanmu, jika kamu ragu melepaskanku karena hutang bibik dan segala yang aku pakai, tenang saja, bawa saja aku kepenjara, sepertinya disana lebih aman dari pada disini."
Hazard terdiam, ia berpikir keras,tapi tak menemukan jawaban apapun, rasanya kepalanya buntu, tak ada jalan, tapi hatinya masih sakit dan panas akan penghianatan Anggi.
Hazard tak mengatakan apapun, Ia menarik Anggi dan memaksanya mengikutinya.
Semua yang disana menatap heran."Hazard apa yang kamu lakukan!"teriak Tuan Azam.
Sampai Hazard memasuki mobil setelah memasukkan Anggi ke mobil dengan paksa.
Setelah mobil Hazard pergi, berbagai opini yang ada di kepala mereka keluarkan.
"Apa dia akan di bunuh?" tanya Helena.
"bagus kalau memang wanita itu akan di bunuh," sahut Tuan Azam, merasa aib keluarganya akan hilang sebentar lagi.
"Sepertinya Kak Hazard tidak akan membunuhnya, dia mungkin hanya akan memberikan sedikit pelajaran,"imbuh Zuma, kedua orang tua Angkatnya kompak menoleh pada Zuma.
"Kak Hazard masih membutuhkannya untuk menyalurkan Fantasinya yang brutal itu, hanya pria bodoh yang melepaskan wanita secantik Anggi," lanjut Zuma tak gentar dengan tatapan orang tuanya yang terlihat sulit menerima opini Zuma.
Sedangkan Davin, terus mengumpat di lantai yang dingin."Anjing, sialan, nggak ada yang mau bantuin aku, ck kalau bukan karena ancaman sialan itu, aku tak sudi di hajar babak belur seperti ini,"gumam Davin bangun pelan-pelan, setiap gerakan terdengar bunyi tulang yang retak.
"Aassh, sialan, keluarga bangsat!"
Zuma dan kedua orang tuanya duduk di sofa menunggu Hazard kembali.
"Mama yakin wanita itu pasti di buang di tengah jalan,"ujar Helena, bersandar di sofa sambil dipijit Sudara.
"Papa berharap dia di bunuh saja,akan sangat merepotkan kalau dia masih hidup."
Jam menunjukkan jam 9 malam, dan mereka semua menunggu Hazard pulang, Davin sendiri saat ini di rawat oleh Hana.
"Kenapa wajahmu datar sekali, tersenyumlah sedikit," ujar Davin, yang di sambut tatapan sinis oleh Hana.
"BIbir saya, tak sudi tersenyum pada pria yang merusak rumah tangga orang lain," desis Hana menekan luka-luka Davin, membuat Empunya teriak kesakitan.
"Aaaaa! kamu pelayan yang sangat kurang ngajar! akan saya adukan kamu pada Tante dan om saya."
Hana tertawa sinis."sudah besar,tapi masih suka ngadu ya, kelihatan banget kekanak-kanakan anda."
Tatapan penuh kebencian beradu, seperti ada petir di antara mereka.
Hazard pulang, dengan baju yang penuh darah dan kucel, dua kancing bajunya hilang.darah yang mengering terlihat berceceran di baju Hazard.wajah Hazard datar dengan tatapan kosong.
Tuan Azam tertawa."Apa kata papa, pasti dia di bunuh, kamu memang putra papa yang hebat."
HAI👋Terima kasih buat kamu yang komen, aku suka banget dengar opini kamu, apa yang kamu utarakan ada benar juga☺
Tapi harap maklumi author ini masih pemula, hanya merangkai kata menggunakan imajinasi author🤗
Jangan lupa komentar apa yang kalian lihat di cerita ini ya, Author akan menerima kritikan kalian sebagai pembelajaran😊
Tapi boleh tidak like dan bintang limanya, maaf ngelunjak minta mawar juga😅
nanti author juga akan memberi tahu kalian apa pesan yang ingin author sampaikan di akhir cerita nanti, jadi jangan pernah pergi yah, nantikan terus kelanjutan cerita Anggi yang penuh dengan rasa sakit dan bertahan menanti takdir yang indah😍