NovelToon NovelToon
My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband

Status: tamat
Genre:Pengantin Pengganti Konglomerat / Kehidupan di Kantor / Romantis / Pengantin Pengganti / CEO / Tamat
Popularitas:11M
Nilai: 4.6
Nama Author: Ayu Lestary

"Ma, dia hamil." Ungkap Rey.

"Siapa yang kau hamili, Rey." Sontak, Mama Lalita terkejut ketika mendapati pengakuan dari anaknya, ia bahkan sampai terperanjat dari duduknya.

"Hanna!" Sarkas Rey kemudian.

Kepanikan Mama Lalita berubah menjadi gelak tawa, ketika mendengar nama wanita yang sudah dihamili oleh anaknya.

"Lalu, apa masalahnya? Memangnya mengapa jika kau menghamili istrimu sendiri!" Pungkas Mama Lalita.

Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Rey justru panik ketika istrinya hamil?

Dan yang lebih parahnya lagi, Hanna yang berstatus istri Rey, justru kebingungan ketika mendapati dirinya hamil. Ia bingung, siapa Ayah dari bayi yang ia kandung!

Wahh...! Bagaimana itu bisa terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berperan Menyembuhkan Luka

Kehamilan itu mengubah segalanya, terutama hubungan di antara Hanna dan Rey. Mereka dituntut untuk benar-benar menjadi suami istri dan harus menjadi orang tua yang baik kelak untuk anak mereka bukan.

Kendatipun begitu, Hanna meminta untuk tetap merahasiakan hubungan mereka dikantor. Alasannya, ia tak ingin diperlakukan berbeda di kantor jika orang-orang mengetahui yang sebanarnya. Rey, menyetujuinya. Apapun, asal itu bisa membuat Hanna nyaman dan tidak terbebani.

Lagi pun, Hanna belum tahu harus menghadapi Raffael dan Lora seperti apa jika mereka tahu secara tiba-tiba seperti itu. Hanna, akan mencari waktu yang tepat untuk jujur pada keduanya.

*

"Bagaimana? Kau setuju untuk tinggal disini?" Tanya Mama Lalita memastikan keputusan akhir Hanna. Ia kembali menghampiri Hanna dan Rey yang masih berada diruang tamu.

Hanna mengangguk pelan.

Senyuman di bibir Mama Lalita langsung merekah.

"Keputusan yang tepat." Imbuh Mama Lalita penuh makna. "Sebaiknya kalian istirahat sekarang, kalian pasti lelah." Mama Lalita kembali meninggalkan keduanya diruang tamu. Ia begitu bersemangat, dan sangat menerima keberadaan Hanna ditengah-tengah keluarga mereka.

Senyuman, tak henti-hentinya tergambar diwajah cantiknya. Mama Lalita, begitu bahagia ketika mengetahui Hanna hamil. Kedua orang tua Rey sudah lama berharap agar itu terjadi. Sepertinya langit mendengarkan doa mereka, dan akhirnya Hanna benar-benar hamil.

Semua itu tak lain untuk mengikat hubungan di antara Rey dan Hanna. Dan menjauhkan Myesa dari kehidupan Rey.

"Huftt..." Rey menghela nafas lega, lalu bangkit dari duduknya. Sepertinya ia agak sedikit grogi. "Ayo, aku tunjukkan kamarnya." Lanjut Rey.

"Em..." Hanna mengangguk, lalu berjalan mengikuti langkah Rey.

Rey, langsung mengambil alih koper Hanna dan membawanya ke kamar.

"Kau boleh gunakan lemari ini." Ujar Rey, sambil mengosongkan sebelah lemarinya. Lalu, menumpuk bajunya dilemari sebelahnya.

"Rey.." Panggil Hanna kemudian.

Rey menoleh ke arah Hanna yang sedang berada di belakangnya.

"Bagaimana dengan, Myesa?" Tanya Hanna akhirnya.

Rey Berfikir sejenak.  "Aku akan mengurusnya." Jawab Rey tampak sedikit ragu-ragu.

"Kau tak perlu buru-buru, aku mengerti. Jelaskan perlahan padanya agar dia tidak salah paham." Ujar Hanna. "Dan-" Ucap Hanna terputus, sambil menunduk.

"Dan apa?" Rey memastikan.

"Aku minta Maaf." Lanjut Hanna, masih menunduk dalam. Sepertinya ia baru menyadari jika semuanya terjadi karena ulahnya. Andai saja malam itu ia tak meminum minuman yang diberikan Anthony, andai saja ia punya keberanian untuk menolak minuman itu. Mungkin semua ini tidak akan terjadi, dan tidak akan menyeret Rey semakin dalam, dalam hubungan yang dijalani karena serba keterpaksaan itu. Begitulah menurut Hanna.

"Aku juga minta maaf." Imbuh Rey. "Lagi pula semuanya sudah terjadi. Tak ada yang dapat kita lakukan selain hanya bisa menjalaninya, bukan?" Lanjut Rey.

Hanna mengangguk pelan.

"Sudahlah, sebaiknya kita istirahat sekarang. Kau boleh tidur di tempat tidur. Aku akan tidur di sofa." Imbuh Rey seakan menyadari kecanggungan Hanna jika seandainya mereka tidur disatu ranjang yang sama. Rey, meraih bantal. Dan hendak menuju ke sofa yang berada tak jauh dari tempat tidur.

"Tidak apa-apa, biar aku saja yang tidur disofa." Hanna langsung mencoba mengambil alih bantal yang berada di tangan Rey. Dan membuat langkah Rey terhenti.

Sedikit sudut bibir Rey terangkat. "Bisakah kali ini kau tidak keras kepala. Ikuti saja apa yang aku katakan." Ujar Rey sambil mengacak puncak kepala Hanna. Membuat Hanna sedikit tersipu dengan pipi yang sudah memerah seperti udang goreng, Hanna pun melepaskan genggamannya dari bantal itu pada akhirnya.

Hanna menatap punggung Rey yang berlalu dari hadapannya. "Ternyata kau punya sisi yang manis juga." Batin Hanna.

Malam yang panjang. Keduanya sama-sama tak bisa tidur, walaupun sudah mencoba memejamkan mata sedari tadi. Tentu saja karena pikiran mereka sedang melayang entah kemana.

Ditengah kesunyian malam itu, tiba-tiba saja perut Hanna keroncongan.

Hanna langsung menutupi wajahnya dengan bantal karena malu, dan berharap Rey tak mendengar suara keroncongan itu.

"Kau lapar?" Tanya Rey sambil menoleh ke arah Hanna.

Hanna perlahan menjauhkan bantal itu dari wajahnya. Lalu juga menoleh ke arah Rey.  "Emm.." Sambil mengangguk dengan senyuman canggungnya.

"Sebentar, akan aku siapkan makanan untukmu." Rey bangkit dari sofa.

"Aku akan membantu." Hanna ikut bangkit dari tempat tidur lalu mengikuti Rey. Ia merasa tidak enak jika membiarkan Rey menyiapkan makanan untuknya seorang diri. Apa lagi itu sudah tengah malam.

"Kau mau makan apa?" Tanya Rey pada Hanna yang kini sedang berdiri disampingnya. Keduanya sedang berdiri menatap isian kulkas yang terbuka lebar.

"Hemmm....." Hanna tampak bingung, memilih makanan apa yang ingin dimakannya. "Apa saja." Ucapnya setelah berfikir cukup lama.

Rey terkekeh, setelah menunggu cukup lama. Jawaban Hanna justru itu.

"Baiklah." Rey mengangguk, lalu mengeluarkan beberapa sayuran dan bahan lainnya dari dalam kulkas.

Setelahnya, kini ia hanya berdiri dan tampak bingung dengan apa yang harus ia lakukan.

Hanna mengernyitkan keningnya. Melihat Rey yang hanya berdiri disana dengan pisau ditangannya.

"Apa kau bisa melakukannya?" Tanya Hanna akhirnya.

"Tentu saja." Rey menyeringai. Lalu mencoba memotong tomat.

"Aghh.." Alhasil, justru jarinya yang teriris. Dengan cepat Hanna langsung menghampiri, dan spontan langsung memasukkan jari Rey yang teriris ke mulutnya untuk menghentikan darah yang keluar.

Hanna spontan melakukan kebiasaan yang ia lakukan setiap kali jarinya teriris.

Rey menatap Hanna dengan sedikit terkejut karena apa yang sedang dilakukannya.

"Maaf.." Imbuh Hanna sambil kembali melepaskan jari Rey, setelah tersadar dengan apa yang sedang ia lakukan.

Hanna tampak kikuk. "Menurut para peneliti dari Belanda, seperti yang mereka laporkan di jurnal The FASEB, ada suatu senyawa dalam air liur manusia yang mampu mempercepat penyembuhan luka. Peneliti mendapati bahwa histatin (protein dalam air liur) diyakini mampu membunuh bakteri dan menjadi penyebab penyembuhan luka tersebut." Hanna menjelaskan. Ia tak dapat menutupi rasa canggungnya. Ia butuh sesuatu untuk membela dirinya.

"Hanna! Apa yang kau lakukan ini." Pekiknya pada diri sendiri sambil mencoba menyembunyikan wajah malunya kearah lain.

Rey justru tersenyum. "Namun karena liur merupakan cairan kompleks dengan banyak komponen, harus diketahui komponen mana yang berperan menyembuhkan luka." Lanjut Rey.

Hanna kembali mengalihkan wajahnya ke arah Rey. "Kau juga membaca tentang penilitian itu?" Tanya Hanna kemudian.

"Yap.. Dan, terima kasih untuk penanganan pertamanya." Ujar Rey sambil menunjukkan senyuman terbaiknya.

Hanna mengangguk, pun ikut tersenyum. "Biar aku saja yang lanjutkan." Hanna mengambil alih tempat Rey di balik kitchen set.

"Tapi-"

"Sebaiknya kau obati saja lukanya dulu." Sela Hanna, sambil memakai celemek.

"Em baiklah." Rey perlahan melangkah, meninggalkan Hanna dan menuju tempat kotak p3k berada.

Akhirnya, Rey hanya menjadi penonton. Memandangi Hanna yang begitu lihai menggunakan peralatan dapur. Dan entah mengapa, Rey tak dapat mengalihkan pandangannya dari wajah Hanna yang sedang tampak begitu serius.

Next >>>

1
Gemi Wong Lembah Pnrog
LAKI LAKI TERBODOH...MANA AUTORNYA JGAN BKIN SAYQ BANTING HP YA
Agustin Sugicharto
Luar biasa
Ndaa🐼
.
Any
ehemm ehemmm 🥰
Sufhardy Nyengkana
Luar biasa
Habibah
bagusss
Siti Aminah
sepertiny bagus ceritany...
Muri
banting aza nenek peot jg sama jahat dgn anaknya bukannya tuobat malah jd pejahat.
Muri
jd tambh kusut ni gara2 rey membantu yayank jahat ni semoga rey cpt sadar ada bahaya😇😇
Muri
kapan bahagianya hanna dan rey nya thor
Muri
ayo rafa buka hatimu utk yayank
Muri
pingin ninju muka rey radanya terlalu bodoh
Muri
mantap hanna pergi saja oleh kalian sama2 bisa dibodohin orng
Muri
CEO bodoh😇😇
Muri
coba ditinggal ja Rey tu biar tau rasa kehilangan.
Muri
ternyata menghilang karena hamil dgn pria lain mulai ada titik terangnya ni👍
nury
Luar biasa
Ameiyati
Biasa
Ameiyati
Buruk
Mulyanthie Agustin Rachmawatie
happy nya semoga kebaikan hati Hanna , meluluhkan hati Rosa....dan mengubur dalam2 dendam utk putrinya yg sdh tiada itu...😥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!