Keisya bangun kembali ke masa lalu–tepat sebelum kecelakaan yang mengubah segalanya. Dulu, rasa iri dan provokasi membuatnya menyiksa Keyla yang merupakan anak kandung keluarga Jordan yang tlah lama hilang, hingga akhirnya ia mati dibunuh oleh keluarga yang membesarkannya itu..
Kini, ia kembali ke usia 15 tahun dengan ingatan penuh penyesalan, dan setiap ia mengingat masa dimana ia menyiksa Keyla, kepalanya akan terasa sangat sakit, oleh sebab itu, sekarang ia hanya punya satu tekad yaitu melindungi Keyla dari bahaya, menebus kesalahan, dan membiarkan gadis itu mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya di keluarga Jordan sebelum dirinya pergi dari keluarga itu agar bisa menjalani hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Keisya mengembuskan napas panjang setelah akhirnya mengutarakan garis besar tujuan hidup barunya. Kalimat yang baru saja ia ucapkan terasa sederhana, tetapi bagi dirinya, itu adalah sebuah janji. Janji yang lahir dari penyesalan bertahun-tahun, dari dosa yang terus menghantuinya bahkan setelah kematian.
Ingatan tentang masa lalu kembali berputar begitu jelas di benaknya.
Semuanya bermula dua hari sebelum acara kelulusan SMP.
Hari itu seluruh siswa yang menjadi panitia maupun pengisi acara berkumpul di aula sekolah untuk menjalani gladi resik. Suasana ramai dipenuhi suara guru, panitia dekorasi, hingga petugas tata panggung yang sibuk memastikan setiap persiapan berjalan lancar.
Namun tak ada seorang pun yang menyadari bahwa salah satu baut penyangga lampu panggung ternyata tidak terpasang dengan benar.
Kecelakaan itu terjadi begitu cepat.
Tiang besi yang menyangga lampu kehilangan keseimbangan dan roboh. Disusul patahan dekorasi kayu yang berhamburan ke segala arah. Kepanikan langsung memenuhi aula.
Saat itu Keisya sedang berjalan menuju bagian tengah panggung. Sebelum sempat menghindar, serpihan kayu besar menghantam lengannya hingga robek dan mengeluarkan banyak darah.
Di sisi lain, Keyla justru menerima benturan yang jauh lebih parah.
Papan gantung bertuliskan tema kelulusan sekolah jatuh tepat mengenai kepalanya. Tubuh remaja itu ambruk seketika, membuat seluruh aula berubah kacau.
Teriakan meminta bantuan bersahutan dari berbagai arah.
Keisya masih mengingat semuanya dengan sangat jelas.
Alex, yang sejak lama diam-diam selalu mengawasi putri bungsunya dari kejauhan, segera memerintahkan para pengawalnya membawa Keisya ke rumah sakit.
Melihat kondisi Keyla yang jauh lebih kritis, pria itu juga meminta agar gadis tersebut ikut dibawa untuk mendapatkan penanganan secepat mungkin.
Sesampainya di rumah sakit, keadaan justru semakin menegangkan.
Benturan keras di kepala Keyla menyebabkan luka terbuka yang cukup serius. Dokter menyatakan ia membutuhkan operasi kecil dan transfusi darah secepatnya. Sayangnya, stok darah dengan golongan yang sama sedang kosong.
Para perawat mulai mondar-mandir dengan wajah panik. Beberapa mencoba menghubungi rumah sakit lain, sementara yang lain mencari kemungkinan adanya pendonor.
Keributan itu akhirnya menarik perhatian Alex.
Pria itu menghampiri salah seorang dokter dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Setelah mengetahui kondisi Keyla beserta golongan darahnya, Alex hanya terdiam beberapa detik sebelum mengangkat lengan bajunya.
"Tolong ambil darah saya."
Keputusannya begitu cepat, tanpa sedikit pun keraguan.
Golongan darah mereka ternyata sama.
Keisya masih dapat mengingat setiap detik kejadian itu. Ia duduk sendirian di kursi koridor rumah sakit sambil memandangi pintu ruang donor yang tertutup rapat. Di balik pintu itulah Alex sedang mendonorkan darahnya demi menyelamatkan seorang anak yang bahkan belum mereka kenal.
Tak lama kemudian, langkah kaki seseorang terdengar tergesa dari ujung lorong.
Orang itu adalah Ivander Ryan Jordan.
Saat itu Ivan masih menjadi dokter muda yang sedang menjalani masa tugas di rumah sakit tersebut. Begitu melihat Keisya dengan lengan yang masih diperban, ia langsung menghampiri adik bungsunya sambil menanyakan apa yang telah terjadi.
Setelah mendengar penjelasan singkat, Ivan segera ikut membantu penanganan pasien.
Justru dari sanalah takdir keluarga Jordan berubah.
Ketika melihat wajah Keyla yang sedang terbaring tak sadarkan diri, Ivan dibuat terpaku.
Ada sesuatu yang terasa begitu familiar.
Bentuk mata, hidung, hingga garis wajah remaja itu sangat menyerupai kakak sulung mereka. Hanya saja rahangnya tampak lebih lembut, persis seperti mendiang ibu mereka.
Perasaan ganjil itu tak bisa ia abaikan.
Setelah semua keadaan mulai tenang, Ivan menyampaikan kecurigaannya kepada Alex.
Penyelidikan pun dilakukan secara diam-diam.
Dan hasilnya membuat seluruh keluarga Jordan terguncang.
Keyla adalah putri bungsu keluarga Jordan yang selama bertahun-tahun dinyatakan menghilang.
Sayangnya, kecelakaan hari itu meninggalkan dampak yang cukup besar.
Cedera di kepalanya menyebabkan gangguan pada penglihatannya. Sejak saat itu Keyla harus mengenakan kacamata agar dapat melihat dengan jelas.
Namun Keisya di kehidupan sebelumnya justru menjadikan kelemahan itu sebagai bahan permainan.
Ia berkali-kali merebut kacamata Keyla, menyembunyikannya, bahkan sengaja mematahkannya di depan teman-teman sekolah. Perbuatannya membuat Kendrick semakin sering menjadi sasaran perundungan siswa lain.
Mengingat semua itu, dada Keisya terasa sesak. Ia benar-benar membenci dirinya yang dulu.
Kini, setelah diberi kesempatan mengulang hidup, ia tak akan membiarkan semuanya terjadi lagi.
Sedikit demi sedikit, ia akan mengubah masa depan.
"Besok..."
Keisya mengepalkan kedua tangannya.
"H-2 sebelum acara kelulusan."
"Aku harus datang lebih awal. Apa pun yang terjadi, aku akan mencegah Keyla mengalami cedera separah dulu."
Tatapannya berubah semakin mantap.
"Inilah langkah pertama untuk menebus semua dosaku."
pasti lelah kmu
kok dikit amat siiihhhhh
satu dua tiga scroll abisssssa nunggu bab selanjutnya 😭😭😭😭
up banyak banyak yaa thorrrrr
semangattttttttttttt 💪💪💪💪
kesiannya keysia 😭😭
biar saja keluarga mu semua menyesal karena sudah mengabaikan mu keu