Anna kira hidupnya akan hancur saat di bawa pergi oleh lelaki itu, awal pertemuan yang bisa di bilang tidak biasa, dan penuh drama.
Dia keras kepala, tidak suka dibantah, benci diabaikan dan setumpul hal buruk lainnya.
akankah hidup Anna baik-baik saja? atau malah sebaliknya. ikuti terus kisahnya dengan judul ~~ Mine
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park Zia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Yuhuyuhu kembali lagi, ada yang nunggu? Ada kah? Ahh angap aja ada wkwkw. Dan yaa semoga suka sama cerita ini ya guys, biasa cerita pertama jadi agak hancur. Bukan agak sih sebenernya, tapi emang hancur hehehe. Udah ah kebanyakkan bacot akunya, oke happy reading.
Author pov
Kalau ada yang bilang, sakit itu waktu ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Sepertinya Anna setuju dengan itu. sayangnya, dia malah lebih merasakan dari pada ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Masih mending malah kalau ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, setidaknya dia pernah dicintai walau hanya sesaat. Tapi bagaimana kalau kamu sama sekali tidak pernah dicintai dan merasa ditinggalkan.
Emm bagaimana ya cara menjelaskannya, Anna suka dengan Alfariel. Emm lebih tepatnya Cinta, Anna cinta dengan Alfariel. Tapi sayangnya, sebelum dia sempat merasakan dicintai dia malah ditinggalkan dulu. Dia malah sudah dicampakkan sebelum dia sempat merasakan disayang. Miris, memang. Hidupnya memang sudah miris semenjak dia dilahirkan bahkan sampai sekarang.
Anna masih bisa merasakan kalau Alfariel masih ada dibelakangnya, tapi Anna sama sekali tidak ada keinginan untuk membalikkan badan. Dia takut, takut kalau nanti dia akan makin terluka. Dia sudah sakit sekarang, dan dia sepertinya tidak akan sangup lagi kalau harus merasakan sakit yang lain lagi.
Ayolah sudah, dia baru saja sadar dan dia harua merasakan sakit lagi? Apakah kalian begitu tega padanya, setidaknya biarkan dia mengumpulkan tenaga dulu. Kalau boleh jujur, ini sakit. Hatinya sakit, sungguh.
"Baby, ada apa?" tanya Alfariel sambil menyentuh badan Anna dari samping.
"Pergilah Al, aku ingin sendiri," ucap Anna pelan. Hanya orang bodoh yang akan mengatakan kalau Anna baik-baik saja. Karena nyatanya, dia bahkan sedang menagis sekarang.
"Tapi kenapa? Tolong jangan bengini, Baby. Aku tidak suka," desis Alfariel geram. Dia sungguh benci Anna yang seperti ini padanya, dan demi Tuhan dia sangat membenci itu.
"Aku ingin sendiri, bukankah istrimu sudah datang? Pergilah, aku bisa mengurus diriku sendiri,"
Alfariel mengerutkan dahinya bingung, apa lagi sekarang. Kenapa Anna bilang kalau istrinya sudah datang, dan saat dia melihat kearah Bella yang masih berdiri sambil bersandar di dinding pintu. Otak cerdas Alfariel langsaung tau.
Senyum kecil terbit disudut bibirnya, aa sepertinya dia sudah tau apa yang terjadi. Uuh, manis sekali, apakah gadisnya tengah cemburu sekarang?
Dengan sekali sentakkan Alafriel langsung menarik badan Anna dan memeluknya erat. Membawa kepala gadis itu dan meletakkannya ke dada bindang Alfariel. Menengelamkan rasa khawatir yang dari tadi memuncak.
"Tenanglah, Baby. Tidak perlu menagis, aku selalu disini," ucap Alfariel sambil mengusap kepala Anna dengan sayang.
Anna yang awalnya ingin menolak mendadak terdiam, dia semakin ingin menagis saat mendengar ucapan Alfariel. Haruskah Alfariel kembali melakukan ini, kalau nyatanya nantinya dia akan meninggalkan Anna.
Suara pintu yang kembali ditutup membuat badan Anna menegang. Saat dia akan menarik wajahnya, tangan Alfariel menahannya membuat Anna tetap berada dikurungan badan Alfariel. Lelaki itu sama sekali tidak membiarkan Anna keluar dari kurungannya.
Setelah hampir lima belas menit menagis, akhirnya Anna berhenti menagis. Matanya terlihat bengkak, mukanya juga semakin pucat. Yang hal itu membuat Alfariel jadi khawatir. Ditambah lagi Anna hanya menatap Alfariel datar dengan mata bengkaknya.
"Pergilah Al," ucap Anna serak.
"Tidak," jawab Alfariel tegas, tangan Alfariel menangkup wajah Anna. Membuat gadis itu tidak bisa kemana-mana.
"Al," ujar Anna pelan, tangan gadis itu berusaha melepaskan tangan Alfariel dari wajahnya. Tapi, itu sama sekali tidak berubah. Tangan Alfariel masih saja berada di pipinya.
"Hmm, kenapa?" tanya Alfariel dengan senyum geli.
"Lepas," ujar Anna kesal. Kepala gadis itu dia buat ke kanan dan kiri, tapi tangan Alfariel itu sama sekali tidak lepas.
"Diam dulu," ucap Alfariel pelan, karena kesal melihat Anna yang tidak mau menurutinya. Alfariel mendekatkan wajahnya kearah Anna, membuat gadis itu langsung diam menegang.
Jarak wajah mereka hanyalah berjarak sekitar 2 cm, kalau saja dia memajukan wajahnya sedikut saja, dia pasti akan dicap sebagai cewek agresif.
Anna menahan nafas karena sangat gugup, tanpa sadar gadis itu menutup matanya karena takut.
1 detik
2 detik
3 detik
4 detik
5 detik
Sial, dengan kesal Anna langsung membuka matanya. Dia bisa melihat wajah Alfariel yang tersenyum geli. Karena kesal, Anna langsung memukul badan Alfariel kuat. Membuat Alfariel langsung tertawa keras.
"Ha ha ha, kenapa Baby? Kamu ingin aku cium?" tanya Alfariel dengan nada suara mengoda, matanya menatap Anna geli.
"Sial, kamu mengodaku," desis Anna kesal, gadis itu memundurkan wajahnya dan bersandar ke dinding.
Nafasnya naik turun karena emosi, tangannya dibuat melipat di depan dada.
"Oke, oke aku minta maaf. Tapi kamu sangat lucu saat marah begini, Baby."
Ucapan Alfariel membuat pipi Anna bersemu merah, hal itu tentu saja membuat Anna malu. Tapi dengan kuat dia tahan semaksimal mungkin, dia tidak akan pernah menyerah lagi pada lelaki ini.
"Kamu salah paham, Baby. Aku dan Bella tidak ada apa-apa," ujar Alfariel tiba-tiba.
Tangan lelaki itu berusaha mengapai tangan Anna yang terus saja ditepis gadis itu. Wajah Anna masih terlihat kesal, gadis itu masih saja memajukan bibirnya kedepan.
"Hmm, aku tidak perduli. Entah kamu ada hubungan dengan Bella atau pun tidak, yang jelas itu bukan urusanku."
"Baby, plis." Alfariel menatap wajah Anna memelas. Tangannya berhasil menagkap tangan Anna yang sedari tadi menepis tangannya.
"Apa?" tanya Anna, nyaris malas-malasan.
"Percayalah, Baby. Dengarkan aku, aku dan Bella han..."
"Aku tidak perduli," potong Amaa cepat. Tangan gadis itu menyentak tangan Alfariel yang memegang tangannya. "Aku sama sekali tidak perduli, jadi terserah kalaupun kamu tidak ada hubungannya dengan Bella, aku tidak perduli. Kau dengar, aku tidak perduli."
Hufff
Alfariel membuang nafasnya kasar, ternyata Anna lebih keras kepala dari yang dia kira. Dia fikir Anna bisa dengan mudah dia taklukkan, tapi nyatanya. Gadis ini benar-benar keras kepala, benar-benar membuat susah.
"Dengar Anna, Bella itu adalah saudaraku. Jadi kamu cemburu dengan hal yang tidak jelas," ucap Alfariel tegas. Tidak ada nada suara yang lembut ataupun santai sekarang.
"Ak..."
"Kamu harus perduli," potong Alfariel tegas. "Kamu calon istriku, jadi kamu harus perduli. Dan jangan salah paham lagi, mengerti?" tanya Alfariel dengan menatap kedua mata Anna.
"Aku tidak tau," ujar Anna lelah.
"Tidak tau apa?"
"Apa yang membuatmu mau denganku Al? Aku bukan wanita yang bisa menurut ataupun tidak membuatmu kesal. Aku bukan gadis yang cantik, aku tidak bisa memasak, aku biasa saja. Aku tau, cepat ataupun lambat kau pasti akan meninggalkanku. Jadi ak..."
"Apakah kamu pikir aku mencintaimu karena kamu cantik, karena kamu bisa memasak?" tanya Alfariel pelan. "Jawabannya tidak, aku tidak mencintaimu karena itu. Tapi, aku mencintaimu karena itu kamu, Anna Tryfanny. Gadis yang dengan berani melawan dunia yang keras, gadis dengan sejuta senyuman yang dipandang sebelah mata. Aku mencintaimu bukan karena kamu cantik, tidak. Banyak gadis lain yang lebih cantik darimu, aku sudah melihat ribuan gadis cantik di belahan dunia ini. Tapi," Alfariel tampak menjeda ucapannya. Tangan lelaki itu mengengam tangan Anna kuat, seolah ingin menyalurkan kekuatannya pada gadis itu. "Tidak ada yang seperti kamu, Baby. Banyak gadis yang cantik, kaya, dan segala-galanya. Tapi tidak ada yang seperti kamu, kamu cuma satu. Dan aku cinta kamu," ucap Alfariel dan memeluk Anna erat. Menengelamkan kepala gadis itu di dadanya.
"Al, ak..."
"Aku bukan lelaki yang sempurna, seperti yang kamu kira. Tapi, aku akan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik buat kamu. Jadi Anna, maukah kamu menjalankan sisa hidup kamu bersama lelaki tidak sempurna sepeti aku?"
Dan ya, Anna harus bagaimana sekarang??
Next to part 29