Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Kamar kost nomor 17. Pukul 20.30. Malam setelah Pati Geni selesai.
Lusi duduk bersila di atas kain putih yang masih terbentang di lantai. Sisa-sisa ritual Pati Geni masih berserakan di sekelilingnya genangan lilin yang sudah mengeras, bunga-bunga yang layu dan mengeluarkan bau anyir, abu dupa yang sudah dingin. Tapi ia tidak peduli. Ia tidak akan membersihkannya dulu. Tidak sebelum semuanya selesai.
Kitab Semar Mesem terbuka di pangkuannya. Halaman terakhir. Halaman yang paling penting.
Mantra Pengunci.
Lusi sudah membaca halaman ini puluhan kali selama tiga hari terakhir. Ia sudah menghafalnya di luar kepala. Tapi malam ini, ia membacanya sekali lagi. Pelan-pelan. Hati-hati. Memastikan tidak ada satu kata pun yang salah.
"Mantra Pengunci adalah pamungkas dari seluruh rangkaian ritual Semar Mesem. Dibaca pada malam pertama setelah Pati Geni selesai, tepat pada pergantian hari. Mantra ini akan mengunci ikatan antara pengirim dan target. Setelah mantra ini dibaca, ikatan tidak dapat diputuskan kecuali oleh pengirim sendiri atau oleh kematian."
"PERINGATAN: Begitu Mantra Pengunci diucapkan, jiwa target akan terikat sepenuhnya. Ia akan kehilangan kehendak bebasnya. Ia akan menjadi bayang-bayang pengirim. Ia akan mencintai tanpa syarat, mematuhi tanpa bertanya, dan menderita tanpa bisa mengeluh. Pastikan hatimu siap menanggung akibatnya."
Lusi menatap peringatan itu lama.
Pastikan hatimu siap menanggung akibatnya.
Apa akibatnya? Ia tidak tahu persis. Tapi ia sudah terlalu jauh untuk mundur. Ia sudah melewati puasa mutih tiga hari. Ia sudah melewati Pati Geni dua puluh empat jam. Ia sudah menatap bayangan leluhurnya, mendengar bisikan-bisikan dari dunia gaib, dan merasakan api warisan bangkit di dalam dirinya.
Tidak ada jalan kembali.
Ia menutup kitab. Meletakkannya di samping. Lalu ia menyalakan tujuh lilin merah yang baru, membakar dupa cendana, dan meletakkan foto Irawan di tengah lingkaran.
Foto itu sudah kusut parah. Wajah Irawan di dalamnya sudah terlipat-lipat, terdistorsi, seperti wajah seseorang yang sedang terjebak di antara dua dimensi. Tapi justru itu yang Lusi inginkan. Wajah yang terdistorsi untuk jiwa yang akan segera terdistorsi.
"Sun amatek adjiku semar mesem..."
Suaranya mengalun pelan. Bukan suara gadis dua puluh tahun yang lemah dan penakut. Tapi suara seorang perempuan yang sudah menyeberangi batas dan tidak bisa kembali. Suara yang mengandung energi energi yang selama ini tertidur di dalam darahnya, energi yang diwariskan oleh Ki Sarowang dan leluhur-leluhur sebelumnya.
"...tumancep kumanthil ono ing sanubariku yoiku si jabang bayine Irawan..."
Api lilin berkedip serempak. Asap dupa mengepul lebih tebal, membentuk spiral yang meliuk-liuk ke langit-langit. Suhu di dalam kamar turun drastis. Napas Lusi berubah jadi kabut putih.
Di kejauhan, lolongan anjing terdengar. Panjang. Melengking. Seperti peringatan dari dunia lain.
Lusi melanjutkan mantranya. Suaranya semakin dalam. Semakin berat.
"...SING SIRA ASIH, SIRA KADADEAN WONG ASIH..."
"...SING SIRA TRESNA, SIRA KADADEAN WONG TRESNA..."
"...TUMANCEP KUMANTHIL ONO ING ATI SI JABANG BAYI IRAWAN..."
Dan di suatu tempat di sudut kota yang sama, Irawan sedang duduk di kursi kamarnya ketika tiba-tiba…
"AAAAARGH!"
Ia menjerit. Bukan jeritan kesakitan fisik. Tapi jeritan seseorang yang merasakan sesuatu merobek masuk ke dalam jiwanya. Seperti ada tangan raksasa yang mencengkeram jantungnya dan meremasnya pelan-pelan.
"Wan? Wan, kamu kenapa?!"
Ibunya berlari dari lantai bawah, membuka pintu kamar, dan mendapati anaknya terjatuh dari kursi. Tubuhnya gemetar hebat. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit dengan pandangan kosong.
"Lusi..." bisiknya. "Lusi... Lusi..."
"Wan, bangun! Kamu kenapa?!"
Tapi Irawan tidak mendengarnya. Yang ia dengar hanyalah suara. Suara Lusi. Membaca mantra di dalam kepalanya. Mengisi setiap sudut pikirannya. Mencengkeram setiap serat kesadarannya.
Ia tidak bisa lari. Ia tidak bisa sembunyi. Ia tidak bisa apa-apa.
Karena sekarang, ia sudah menjadi milik Lusi.
Sepenuhnya.
Kamar kost Lusi. Pukul 00.01.
Mantra selesai.
Lusi membuka matanya. Kamar itu sekarang terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih hening. Bahkan suara jangkrik di luar tiba-tiba berhenti, seolah alam pun tahu bahwa sesuatu yang besar baru saja terjadi.
Lilin-lilin masih menyala. Tapi warnanya sekarang biru semua. Biru tua, seperti laut di kedalaman yang tidak tersentuh cahaya matahari. Cahayanya redup, tapi stabil. Tidak berkedip. Tidak goyah.
Lusi menatap foto Irawan.
Foto itu sekarang terlihat... berbeda. Ada bayangan hitam di atasnya. Samar. Tapi jelas. Seperti siluet wajah yang menempel di permukaan kertas foto. Siluet yang menatap Lusi dengan mata yang tidak bisa melihat.
"Apa itu?" bisik Lusi pada dirinya sendiri.
Ia meraih foto itu, mendekatkannya ke mata. Bayangan itu masih di sana. Tidak bergerak. Tidak menghilang.
Itu jiwa Irawan, bisik sebuah suara di kepalanya. Suara yang bukan miliknya. Suara yang lebih tua. Lebih dalam. Suara yang ia dengar selama Pati Geni. Itu bagian dari jiwanya yang sudah terikat padamu. Sekarang, dia selalu bersamamu. Selalu melihatmu. Selalu merindukanmu.
Lusi meletakkan foto itu kembali. Tangannya sedikit bergetar. Bukan karena takut. Tapi karena euforia yang sulit dijelaskan.
Berhasil.
Ritualnya berhasil.
Irawan sekarang milikku.
Kampus Universitas Adiloka. Pukul 10.00.
Lusi melangkah melewati gerbang kampus dengan langkah yang tidak lagi ragu-ragu. Jilbab hitam membingkai wajahnya yang tirus bukan jilbab cokelat susu yang dulu selalu ia pakai. Dulu, cokelat susu adalah warna favoritnya. Warna yang lembut. Warna yang tidak mencolok. Warna yang membuatnya mudah dilupakan.
Tapi hari ini, ia memilih hitam.
Langkahnya pelan. Tapi setiap injakan kakinya terasa mantap. Seperti seseorang yang tahu persis ke mana ia akan pergi dan apa yang ia inginkan. Punggungnya tegak tidak lagi membungkuk seperti dulu, seperti seseorang yang selalu berusaha mengecilkan dirinya sendiri agar tidak terlihat.
Kepalanya mendongak. Matanya menatap lurus ke depan.
Mereka semua bisik-bisik, batinnya. Persis kayak dulu. Tapi sekarang... beda.
Dulu, bisikan itu berisi ejekan. "Cupu." "Kampungan." "Dasar anak baru." Tapi sekarang, bisikan yang terdengar di sepanjang koridor berbeda nadanya.
"Eh, lihat deh. Itu Lusi kan?"
Suara pertama datang dari dua mahasiswi yang berdiri di dekat tangga. Salah satunya yang memakai jaket almamater menyikut temannya pelan.
"Lusi? Yang... yang di video itu?" bisik temannya.
"Iya. Tapi... kok mukanya beda ya?"
"Bedanya gimana?"
"Nggak tau. Kayak... lebih tajam gitu. Lebih..."
"Mengerikan?"
"Mungkin."
Lusi mendengar semuanya. Telinganya menangkap setiap kata. Tapi ia tidak bereaksi. Hanya sudut bibirnya yang tertarik sedikit ke atas senyum tipis, nyaris tidak terlihat.
Tajam. Mengerikan. Bagus. Itu yang kuinginkan.
Ia terus berjalan. Melewati tangga yang sama, anak tangga ketiga di mana dulu Ratih meludahi sepatunya. Di mana Irawan muncul untuk pertama kalinya, membersihkan ludah itu dengan tisu, dan menanamkan benih harapan di hatinya yang kesepian.
"Lo jangan diam aja kalo digituin. Mereka tuh kayak anjing. Makin lo diem, makin digonggongin."
Kata-kata Irawan. Dulu terasa seperti penyelamatan. Sekarang terasa seperti lelucon yang pahit. Karena Irawan sendiri ternyata adalah anjing yang paling rakus di antara semuanya.
Lusi berhenti di anak tangga itu. Cuma sebentar. Jemarinya menyentuh pegangan tangga yang dingin, matanya menatap lantai yang dulu basah oleh ludah.
Di sinilah semuanya dimulai, batinnya. Dan di sinilah semuanya akan kuselesaikan.
Ia melanjutkan langkahnya.
[BERSAMBUNG…]
Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏
Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.
Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥