(MASIH DALAM PERBAIKAN, JADI JANGAN di BACA!)
Arcane seorang jenius revolusioner di bidang teknologi, di tahun 8101 ia adalah pencipta dan pencetus teknologi.
setiap karyanya telah menyebar di berbagai bidang baik di bidang pertanian, transportasi, ekonomi, bahkan militer.
namun karena kejeniusannya itu ia menjadi incaran berbagai pihak apalagi ia tidak memihak siapapun dan bekerja sendiri, hingga mereka yang menentang atau musuhnya menyatukan kekuatan dan menghapus keberadaannya.
namun takdir berkata lain.
keajaiban menuntunnya untuk bereinkarnasi, sebuah peristiwa yang menentang dengan apa yang di fikir kannya selama ini, dan ia bereinkarnasi ke dunia lain kedalam seorang pangeran.
ia kini hanya berkeinginan untuk menikmati hidup dan merubah jalan pikiran nya, namun apakah takdir akan berkata lain?
nb: maaf jika ada kesalahan penulisan dan kurang jelasnya novel ini dan kesamaan nama dan kejadian di dunia nyata hanya kebetulan dan bahan inspirasi semata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anugerah Sayekti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 29 ---
"Jadi Arcane... apa kau masih ingin bertindak ceroboh lagi?"
Elisabeth menatap Arcane dengan mata yang penuh dengan teror dan kemarahan, di depannya Arcane sedang duduk bersimpuh dengan kedua tangan yang terangkat ke atas dan memegang seember yang penuh dengan air.
di sisi lain Eliana yang sedang bermain dengan seorang maid istana melihat dengan penasaran. "kakak pelayan apakah kakak Arcane sedang mendapatkan hukuman lagi?"
"erm... putri, itu" maid istana tersebut bingung ingin membalas pertanyaan putri kecil di depannya, apalagi ia memanggilnya kakak.
kembali pada sisi Elisabeth. "jadi kau masih belum mengerti betapa bahayanya acara ini Arcane!?"
"tapi bu... buku kuno itu..-" Arcane ingin menjawab namun malah terpotong oleh ibunya. "hanya 3 buah buku!? apakah nyawamu sepadan dengan itu ha!?"
James yang berada tak jauh di sana merasa lucu dan ia pun ingin membantu anaknya itu. "ehem... sudahlah, lagipula ini adalah keinginan dirinya sendiri... kita juga tidak bisa membatalkan keputusannya begitu saja"
"kau diam James! setelah ini adalah giliran mu!" balas Elisabeth dengan mata yang mengerikan.
James sendiri langsung berkeringat dingin saat mendapatkan balasan tersebut, dengan hati berat ia hanya bisa melihat anaknya yang sedang di hukum oleh ibunya.
--- sebelumnya ----
"AKU IKUT" Arcane mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan mengejutkan semua orang yang ada di ruang perjamuan.
melihat keadaan itu Arcane duduk kembali di tempatnya. "ehem.... maksudnya itu buku tentang apa Ayah handa?"
James tersenyum menggeleng, "pertanyaan bagus! ketiga buku ini menjelaskan tentang sihir-sihir unik, lingkaran atau simbol sihir, dan peralatan sihir!.... "
mata Arcane berbinar-binar mendengar perkataan ayahnya itu, ketiga buku itu adalah sesuatu yang ia cari-cari selama ini.
meskipun ibunya memiliki 1 atau 2 buku tersebut entah kenapa Elisabeth tidak pernah mengijinkan Arcane untuk menyentuhnya sekalipun.
melihat anaknya itu yang sangat tertarik raja James tersenyum penuh kemenangan. "jadi apakah kau ingin berpartisipasi?".
Arcane mengangguk berdiri dan langsung mengangguk, sesaat setelahnya ia membungkuk hormat. "hamba bersedia ayah!"
--- sekarang ---
kini setelah mendapatkan tambahan waktu hukuman dan beberapa omelan Elisabeth ketiga orang itu menuju tempat perlombaan.
Lokasi perlombaan saat ini jaraknya cukup jauh, mereka harus menempuh 1 jam perjalanan dari gerbang kota, ketika sampai disana sudah ada banyak tenda-tenda yang sudah terpasang rapi.
ketika turun dari kereta Eliana sangat senang bukan main melihat pemandangan di depannya, ia berlarian kesana kemari tanpa mengenal lelah.
maklum saja karena ia baru pertama kalinya melihat tempat yang begitu luas dan banyaknya orang lalu lalang.
"Eliana! jangan terlalu jauh! kita harus menuju tenda kita terlebih dahulu!, " teriak Elisabeth.
Eliana berhenti kemudian menghampiri ibunya. "baik ibu"
sementara Arcane? kedua tangannya kini di borgol dengan sebuah rantai yang ujungnya di pegang oleh Elisabeth.
namun meskipun begitu Arcane masih saja penasaran dengan apapun yang ada di sana seperti bengkel pandai besi, tenda pengobatan darurat dan tempat penitipan hewan yang ternyata tidak hanya kuda yang berada di sana.
karena rasa penasaran itulah Arcane beberapa kali terjatuh, namun meskipun begitu Elisabeth tetap berjalan tanpa memperdulikan anaknya yang hampir tertutup lumpur di seluruh badannya.
akibatnya ketika di depan tenda milik mereka Arcane harus menerima semburan sihir air dari Elisabeth, bukan hanya itu karena Elisabeth tidak ingin mengotori tendanya yang bersih Arcane di suruh untuk tetap berdiri di depan tenda hingga badannya kering.
"haaah... kenapa juga aku yang terus di hukum" kata Arcane meratapi nasip, apalagi ketika melihat keatas langit hanya ada awan mendung.
tak seberapa lama kemudian seseorang menyapanya. "nak, sedang apa kau disini?"
Arcane menoleh ke asal suara dan mendapati 2 orang yang mengenakan pakaian dan jubah yang keseluruhannya terbuat dari kulit hewan, pakaian itu membuat mereka sangat gagah apalagi warna pakaian mereka yang serba hitam.
salah seorang dari mereka memiliki ciri fisik seorang pria sudah berumur karena rambut dan jenggotnya yang berwarna putih, entah itu uban atau warna rambutnya memang seperti itu.
sementara yang lain adalah pria yang umurnya sekitar 30 hingga 35 tahunan sedikit lebih tua dari ibunya yang memiliki rambut hitam bercampur dengan putih.
Arcane tidak mengetahui kenapa rambut pria yang lebih muda seperti itu, entah itu tren anehnya sendiri atau memang ada alasan tertentu kenapa rambutnya begitu aneh.
"kalian siapa?" kata Arcane penuh curiga.
pria tua melihat kearah tenda sesaat kemudian menjawab. "ini tenda milik ratu Elizabeth bukan?"
"bukan!" jawab Arcane cepat.
pria yang lebih muda berfikir sejenak kemudian bertanya. "lalu apa kau tau dimana tenda ratu Elizabeth berada?"
"tidak" kata Arcane dengan nada yang sama.
pria tua itu kini kembali bertanya. "lalu apa yang kau lakukan disini?"
"di hukum" kali ini Arcane menjawab dengan nada lesu.
pria muda yang mendengar jawaban Arcane hampir saja tertawa. "pft... maaf, tapi ini hukuman yang aneh"
"ha... ha... ha... tertawalah sepuasnya, kita lihat apakah kau bisa tertawa jika berada di posisi yang sama" kata Arcane lemas.
pria tua itu mengelus jenggotnya dan kini mulai sedikit tertarik dengan anak di depannya. "kau menarik... berapa lama waktu hukumanmu ini?"
Arcane melirik pria tua itu sejenak. "hingga baju ini kering"
pria tua itu mengangguk paham namun ada sedikit rasa mengganjal. "lalu kenapa kau tidak menggunakan sihir untuk mengeringkan bajumu? jika kau tidak bisa bukannya kau bisa meminta seseorang untuk melakukannya?"
Arcane melebarkan matanya kearah pria tua di depannya, ia baru ingat kalau ibunya juga melakukan hal serupa ketika membersihkan sepatunya ketika akan memasuki tenda.
"benar juga... kenapa aku tidak kepikiran hal itu!? " kata Arcane penuh sesal.
"hahaha... kau memang anak yang lucu" kata pria yang lebih muda.
Arcane langsung menyatukan kedua kepalan tangan di depannya seketika angin kuat muncul dari dalam tubuhnya yang membuat air di dalam pakaiannya terciprat kemana-mana.
seketika pakaian yang ia kenakan langsung kering seperti sedia kala, namun ketika ia melihat kedepan dan berterima kasih kepada dua pria asing tersebut Arcane membeku seketika.
"ap... tuan maaf! aku tidak sengaja!!" kata Arcane kencang sambil membungkukkan badannya.
bukan tanpa alasan, ini dikarenakan wajah kedua dan pakaian kedua orang asing tersebut sudah basah oleh air cipratan sihir Arcane.
namun tanpa di duga pria tua itu bukannya marah, namun ia malah memuji. "HAHAHAHA.... tidak masalah nak! aku suka sifatmu yang apa adanya... anak muda memang harus seperti dirimu ini"
namun bertolak belakang dengan pria di sampingnya yang kini memasang wajah kesal, bukan... bukan kepada Arcane melainkan pria tua do sebelahnya. "cih! tidak adil! aku saja dulu langsung di gantung terbalik jika melakukan hal serupa!"
pria tua itu menghentikan tawanya dan langsung melirik pria muda di sebelahnya dengan tatapan tajam. "apa!? kau mau protes!?"
pria muda itu langsung menggeleng cepat. "ti-tidak! tidak!... aku bahkan tidak mengatakan apapun"
"bhahaha... tuan kau sepertinya lebih parah dari pada aku di umur yang sama" kata Arcane yang tertawa lepas melihat tingkah keduanya.
namun ketika ia sedang tertawa dari dalam tenda muncul suara yang familiar untuk Arcane. "Arcane!! adikmu ingin tidur siang kenapa kau berisik sekali!?"
ketiga orang tersebut langsung menoleh dan mendapati seorang wanita yang memasang wajah dinginnya.
"hah! ibu!?"
"Elisabeth?"
"adik?"
"ayah? kakak?"
"ibu?/ibu!"
"kakek?, paman? "
tiba" langsung sekarat mau matii
pusing lahh
kok malah jadi aneh gini
Thor tolong dong dilengkapi 🤔😱