Bacaan khusus dewasa (***)
Ameera, gadis polos yang pura-pura tegar. Sedangkan Awan pria mesum yang sangat terobsesi dengan Ameera.
Bagaimana cara Awan menghadapi Ameera yang teramat polos, segala cara ia gunakan agar berhasil memiliki gadis itu.
Apa setelah menjadi kekasih mereka akan berakhir bahagia? tentu saja belum, karena mereka harus berjuang mendapatkan restu dari kedua orangtua Awan.
Kisah cinta mereka begitu mengharukan, ada perjuangan dan penghianatan di dalamnya.
Yuk baca AMEERA sebuah cerita cinta yang di adaptasi dari kisah nyata yang tentunya di sisipi kehaluan ala Author.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan Awan
💥Tuhan menciptakan penyesalan biar kita tahu bahwa tidak semua hal bisa di ulang di dunia ini💥
Malam itu setelah menutup pintu kamarnya dengan keras, Ameera melangkah menuju kaca lemari yang ada di sebelah kasurnya
Dari pantulan cermin ia memandangi penampilannya yang nampak sangat berantakan, rambutnya acak-acakan serta matanya yang sembab.
"Hei gadis bodoh, perawanmu sudah hilang lalu apalagi yang kamu punyai dan siapa yang mau menikah denganmu kelak."
Bayangannya di cermin seakan sedang menghakimi hingga membuatnya langsung luruh ke lantai.
"Aku sudah tidak perawan, tubuhku kotor, aku seorang pendosa." rintihnya sembari memukuli tubuhnya sendiri.
Bayangan kekecewaan orang tuanya langsung memenuhi kepalanya hingga membuatnya terus menerus menangis sepanjang malam dan akhirnya ia tertidur di atas lantai yang dingin.
Beberapa saat kemudian pagi menjelang, Ameera nampak mengerjapkan matanya meski baru saja tertidur setelah semalaman menangis.
Kemudian ia segera beranjak meski bagian intinya masih terasa sangat perih, lalu ia melangkah menuju kamar mandi.
Setelah melepaskan pakaiannya di perhatikannya kulit tubuhnya yang nampak banyak sekali tanda kissmark di mana-mana bahkan puncak kedua gundukannya terasa perih mengingat Awan semalam menyesapnya dengan rakus.
Sementara itu Awan yang baru membuka pintu nampak mengendap-endap masuk ke dalam kamar Ameera, meski semalamam tidak tidur tapi ia sangat bersemangat menemui gadis itu.
Ia tahu wanita itu sedang tidak baik-baik saja, selain batinnya terluka bagian dari tubuhnya juga pasti masih sakit akibat ulahnya semalam.
Namun Awan tak melihat keberadaan gadis itu di kasurnya, kemudian ia bergegas ke kamar mandi saat mendengar seseorang sedang mengeluh kesakitan.
Awan langsung terkejut ketika melihat Ameera yang sedang buang air kecil nampak mendesis sakit saat bagian intinya terasa perih.
Ameera yang tidak bisa menahan rasa sakit nampak menangis nyaring, ia tiba-tiba merindukan ayahnya. Biasanya Ayahnya selalu melindunginya bahkan sang ayah tak pernah membiarkan semut bisa menggigitnya.
"Ayah bunda, maafkan aku." gumamnya di sela isak tangisnya, kemudian ia nampak terkejut saat tiba-tiba seseorang meraih tubuhnya lalu membawanya ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku." lirih Awan, matanya nampak berkaca-kaca saat melihat keadaan Ameera yang mengenaskan.
Seandainya waktu bisa di ulang, ia tidak akan melakukan perbuatan gilanya semalam.
"Maafkan aku Meera, maafkan aku." mohon Awan, ia sama sekali tak melepaskan pelukannya meski gadis itu meronta dan memukulinya.
"Pukul saja aku, aku rela asal kamu mau memaafkan ku." imbuhnya lagi sembari menatap Ameera yang secara membabi buta memukuli dada bidangnya.
"Aku benci kamu mas, aku benci. Lagipula jika aku memaafkan mu apa kesucian ku bisa kembali ?" sungut Ameera menatap nyalang Awan.
"Maafkan aku, aku akan bertanggung, kita menikah." Awan merasa sangat bersalah, bahkan air matanya yang sedari tadi ia tahan kini luruh membasahi pipinya.
Ameera yang melihat itu langsung membuang mukanya, ia tidak akan terpengaruh dengan sikap pria yang sudah merenggut kesuciannya tersebut.
"Aku akan membantumu mandi." ucap Awan kemudian, ia pikir Ameera pasti kesulitan untuk mandi.
"Aku tidak mau dan pergi dari sini." bentak Ameera mengusir Awan.
Sementara Awan tetap keukeh, ia segera mengambil sabun lalu mulai menggosok tubuh gadis itu.
Tak peduli Ameera memukulinya, baginya sakit akibat pukulan gadis itu tak seberapa di banding dengan kesakitan yang Ameera rasakan.
Setelah membilas tubuh Ameera, Awan segera mengambil handuk lalu mengeringkan tubuhnya dan bersamaan itu nampak seseorang membuka pintu kamarnya dengan kasar.
"Siapa yang datang ?" lirih Ameera.
"Maaf, aku lupa mengunci pintu tadi." sahut Awan sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Sementara itu Viona yang baru masuk ke dalam kamar Ameera nampak celingukan saat melihat kamar yang kosong.
"Meera." panggilnya dan tak berapa lama kemudian Ameera membuka pintu kamar mandi dengan kimono handuk yang menutupi tubuhnya, serta rambutnya yang basah ia bungkus menggunakan handuk.
"Ada apa ?" tanya Ameera yang nampak berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Kamu baru selesai mandi ?" Viona berjalan mendekat dengan pandangan menelisik menatap Ameera dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kamu habis menangis ?" imbuhnya lagi saat melihat wajah sembab Ameera.
"Hm, aku hanya merindukan orang tuaku." sahut Ameera beralasan.
"Wajar sih kamu kan anak manja." tukas Viona dengan nada mengejek.
"Kamu ada perlu apa tiba-tiba masuk ke dalam kamarku ?" tanya Ameera kemudian, ia masih berdiri di depan pintu kamar mandi yang sengaja ia buka sedikit lebar.
Viona nampak curi-curi pandang menatap kamar mandi Ameera yang terlihat kosong.
"Aku tadi sepertinya melihat mas Awan masuk ke dalam kamarmu." sahut Viona yang langsung membuat Ameera menelan ludahnya.
"Kamu salah lihat kali, tidak ada orang di sini. Lagipula jangan menuduh sembarangan jika tidak mempunyai bukti." tukas Ameera.
"Terus kenapa pintu kamarmu tidak di kunci ?" telisik Viona, ia terus saja mencuri pandang kearah belakang Ameera.
"Aku habis dari luar tadi, lalu lupa menguncinya kembali." sahut Ameera meyakinkan.
"Oh, baiklah mungkin aku yang salah lihat." Viona nampak melirik lagi ke dalam kamar mandi Ameera, namun memang sepertinya tidak ada Awan di sana.
Kemudian ia segera berlalu keluar, mungkin tadi ia salah lihat pikirnya.
Setelah kepergian Viona, Ameera segera mengunci pintunya. "Dasar ceroboh." gerutunya dengan kesal dan bersamaan itu Awan yang tadinya bersembunyi di belakang pintu kamar mandi langsung keluar.
"Maafkan aku." ucapnya dengan wajah menyesal.
"Keluar dari kamarku." teriak Ameera.
"Kamu jangan bekerja dulu ya, kamu istirahat saja." mohon Awan.
"Aku bilang keluar dari kamarku." teriak Ameera lagi yang langsung membuat Awan akhirnya menyerah.
"Baiklah, tapi kamu makan ya. Aku akan membelikan mu makan dulu." ucap Awan, setelah itu ia berlalu keluar dari kamar kekasihnya tersebut.
Melihat Awan pergi, Ameera langsung luruh ke lantai. "Aku membencimu, aku membencimu." ucapnya dengan isakan tangisnya.
Seharian ini Awan nampak tidak tenang bekerja, sebentar-sebentar ia pulang ke mesnya untuk melihat keadaan Ameera.
Meski gadis itu tak pernah memakan makanan yang ia belikan tapi ia selalu membelikannya.
"Kenapa sarapannya tak di makan? aku suapi ya ?" mohon Awan saat melihat bungkusan makanan yang tadi pagi ia belikan masih utuh.
"Pergilah aku tidak sudi melihatmu." sungut Ameera.
Meski di usir Awan tetap bergeming ia justru sibuk membuka bungkusan makanan yang baru ia bawa tadi.
"Aaaaa." ucapnya menyuruh Ameera membuka mulutnya tapi sepertinya gadis itu enggan melakukannya.
"Ayo Meera makan sedikit." mohon Awan.
"Aku bilang nggak mau ya nggak mau." teriak Ameera menatap nyalang Awan.
"Sedikit saja ya biar kamu nggak sakit." mohon Awan lagi tak menyerah.
"Pergi dari sini." teriak Ameera lalu menjatuhkan piring yang di bawa oleh Awan hingga makanan tersebut berhamburan di atas lantai.
"Baiklah, tolong jangan marah." mohon Awan, kemudian ia nampak menggulung lengan kemejanya hingga siku lalu segera membersihkan makanan yang berceceran di lantai.
Bahkan ia juga menyapu dan mengepelnya, saat melihat tumpukan pakaian Ameera yang kotor, tanpa berpikir panjang ia langsung membawanya ke dalam kamar mandi lalu mulai merendamnya dan menyucinya.
Baru kali ini ia melakukan kegiatan yang tidak pernah ia lakukan seumur hidupnya. Karena biasanya ia selalu membayar ART untuk mencuci dan membersihkan messnya.
Ameera hanya menatap datar pria yang sedari tadi sibuk membersihkan kamarnya, apapun yang pria itu lakukan tetap saja tidak akan bisa mengembalikan kesuciannya.
"Aku membencimu, mas." rutuknya kemudian.
tinggal saja laki laki sampah itu merra
ganti nama saja Bimoli..bibir monyong lima centi /Facepalm/